World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】
Oh kalian masih di sini?
Bagaimana dengan cerita sebelumnya? Kalian suka?
Hah? Menggantung? Dasar kalian bodoh. Tentu saja karena ceritanya belum selesai kan? Kalian pikir itu akan selesai di sana?
Kalian ingin tahu kelanjutannya?
Tidak-tidak-tidak. Daku takkan melanjutkan cerita yang itu saat ini. Daku sedang tidak mood melanjutkan yang itu.
Bagaimana kalau yang satu ini? Judul ceritanya adalah Hero We Need but Not Deserved.
Kalian merasa pernah mendengarnya? Hmm… karena daku memang memberi judulnya karena terinspirasi kata-kata di suatu film, tentu saja.
Kalau begitu langsung saja!
****
Jauh di dunia yang penuh petualangan, seorang anak laki-laki berambut perak berniat untuk menjadi petualang yang akan menjelajah dunia. Hanya berbekal sebuah Short Sword dan Round Shield, ia pergi ke serikat petualang di kotanya untuk mendaftarkan diri.
“Selamat pagi semuanya!” ucap pemuda itu dengan lantang sambil membuka pintu dengan kedua tangannya.
….
Tak ada jawaban.
Ruang aula gedung serikat itu masih kosong dan tak ada siapapun di sana. Satu-satunya orang yang ada di sana ya cuma dia sendiri.
“Hmm… apa aku datang kepagian?” keluh pemuda itu sambil menggaruk rambut peraknya.
Tak berapa lama, seorang perempuan dewasa datang sambil dengan langkah terburu-buru dan di masing-masing tangannya ia terlihat memegang sebuah sapu dan pengki.
“Maaf, bisakah kamu tunggu dulu sebentar. Kami masih belum siap untuk melayani tamu!” ucap perempuan itu kemudian buru-buru menghilang lagi ke ruangan lain.
“O—oh, baiklah. Tidak masalah” sahut sang pemuda.
Pemuda berambut perak itu kemudian memutuskan untuk menunggu dan mencari tempatnya untuk bisa duduk. Ia pun menghampiri sebuah meja dan duduk di bangku yang menghadap meja tersebut.
“Kenapa tempat ini sepi sekali? Staff yang lainnya pada kemana?” gumam pemuda itu ketika memperhatikan ke sekitarnya.
Pemuda berambut perak itu terus menunggu dengan sabar hingga akhirnya ia mulai merasa bosan. Akhirnya ia pun mengeluarkan mainan baling-baling kertas dari sakunya dan tersenyum.
“Noel, apa kabarmu? Akhirnya kakakmu ini sampai di kota. Dan sebentar lagi kakak akan mendaftar menjadi seorang petualang. Kakak akan menjelajahi dunia ini. Dan sepulang nanti, kakak akan menceritakan kisah perjalanan kakak padamu. Kuharap kamu baik-baik saja di sana bersama ibu dan ayah” gumam pemuda itu sambil menatap baling-baling kertas di tangannya.
Baling-baling itu berputar seolah tertiup angin meski itu tak mungkin terjadi karena saat ini ia sedang berada di dalam ruangan. Ia duduk di ruang lobi bangunan serikat petualang sendirian karena tak ada seorang pun di sana.
Tak lama kemudian, dari pintu depan muncul seseorang yang tak biasa. Seorang gadis berambut panjang dengan warna sebelah putih dan sebelah hitam. Memakai pakaian Goth Loli dan membawa payung imut yang kemudian dilipatnya dan dijadikan tongkat jalan. Mata keemasannya tampak memindai seluruh bagian lobi sebelum akhirnya berhenti ketika melihat sang pemuda berambut perak dan berfokus hanya kepada pemuda itu.
Gadis muda itu tersenyum dan kemudian berjalan menghampiri sang pemuda.
Ketika telah sampai di depan pemuda itu, ia pun berhenti. Kini mereka berdua saling bertatapan satu sama lain dari jarak yang lebih dekat.
“Permisi~ maaf apabila daku mengganggu. Tapi apakah daku boleh bertanya?” tanya gadis itu yang bertingkah layaknya seorang bangsawan.
“Y—ya, silakan…” sahut sang pemuda terbata-bata.
Kini sang pemuda bisa melihat lebih jelas mata sang gadis. Mata keemasan yang begitu indah yang seakan menghipnotis setiap orang yang melihatnya.
“Daku ingin memberikan misi, kira-kira apakah engkau tahu bagaimana daku bisa melakukannya?” tanya sang gadis.
Pemuda itu gugup dan menelan ludah. Ia sangat ingin memberikan jawabannya namun takut itu akan membuat sang gadis marah. Ia pun hanya bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Dan di arah lain itu, perempuan yang sebelumnya masuk ke dalam sebuah ruangan kini telah keluar dari ruangan tersebut. Ia memanggul sapu dan terlihat menjinjing sebuah pengki yang sudah penuh dengan sampah.
“Oh, daku mengerti. Jadi daku mesti bertanya kepadanya tentang itu. Terima kasih buat infonya, pemuda misterius” ujar gadis tadi.
Sang pemuda sedikit terkejut karena mendengar kesimpulan itu yang anehnya sangat kebetulan menjadi solusi dari permasalahan si gadis.
“Y—ya, sama-sama…” balas si pemuda.
Namun bukannya datang menghampiri perempuan yang memanggul sapu, gadis itu malah duduk di samping sang pemuda. Gadis itu pun malah menatap sang pemuda dengan senyuman yang sangat menawan dan penuh rasa penasaran.
“A—ada apa?” tanya si pemuda yang merasa semakin grogi.
“Engkau punya nama?” tanya si gadis.
“T—tentu saja! Setiap manusia memiliki nama. Mana ada yang tak punya nama?” jawab si pemuda.
“Kalau daku boleh tahu, siapa?” tanya si gadis itu lagi.
“N—namaku? Namaku S–Shirogane Kael” jawab pemuda itu.
“S’shirogane Kael?” ulang gadis itu memastikan.
“Shirogane! Tanpa jeda!” tegas Kael.
“Oh kupikir engkau adalah salah satu yang namanya mesti dibaca dengan jeda. Maaf jika daku salah paham. Kalau begitu, kenapa engkau menyebutkannya seperti itu tadi?” tanya gadis itu lagi.
“A—aku hanya sedikit gugup” jawab Kael.
“Kenapa mesti gugup? Daku tidak semenakutkan itu, kan?” tanya gadis itu lagi.
Ekspresi wajah Kael saat ini seolah ingin mengatakan, “siapa yang tidak gugup jika ditatap oleh gadis cantik dengan mata indah sepertimu! Menakutkan namun dalam artian lain!” sambil tangannya tampak mencengkeram bagian paha celananya dengan kuat.
“Oh benar juga, akan tidak sopan jika hanya daku yang tidak memperkenalkan diri saat orang lain memperkenalkan dirinya, kan? Nama daku adalah Shiori Novella. Seorang World Archiver” lanjut gadis itu memperkenalkan dirinya.
“World Archiver?” ulang Kael dengan nada bingung.
“Oh, engkau pasti pertama kalinya mendengar ini. Daku bisa maklum kebingungan itu. Biar daku jelaskan secara singkat, World Archiver adalah orang yang mengumpulkan kisah dan data penting. Untuk sederhananya engkau mungkin bisa menganggap daku penulis keliling?” jelas Shiori.
“Penulis keliling???” sahut Kael.
“Engkau juga tidak tahu itu???” balas Shiori.
“Tentu saja aku tahu pekerjaan penulis, tapi tak pernah kulihat yang berkeliling. Biasanya mereka lebih banyak mengurung diri dalam ruangan” jawab Kael.
“Itu kalau mereka sedang menulis. Biasanya mereka juga harus keluar kalau sedang buntu inspirasi. Lagipula engkau tidak tahu saja sebanyak apa waktu daku yang daku habiskan mengurung diri” ungkap Shiori sambil tersenyum dan menyentuh bibirnya dengan telunjuknya.
“B—begitu ya…” sahut Kael yang bingung harus menjawab apa lagi.
“Maaf telah membuat kalian menunggu! Kini serikat petualang ini sudah siap untuk melayani tamu!” ucap perempuan yang sebelumnya memanggul sapu itu kini berdiri di belakang meja resepsionis.
“Oh kelihatannya mereka sudah buka sekarang. Bukankah engkau di sini juga karena ada urusan? Jadi silakan duluan” ujar Shiori.
“Tidak, perempuan lebih dulu” tolak Kael.
“Oh, sangat gentleman. Tapi bukankah engkau datang lebih dulu? Yang pertama datang, yang pertama dilayani. Silakan…” balas Shiori.
Kael tak bisa membalasnya. Jadi dia pun terpaksa berdiri dan mulai berjalan menghampiri meja resepsionis.
“P—permisi~” sapa Kael.
“Ya, katakan apa urusanmu, bocah?” tanya resepsionis itu.
“S—saya mau mendaftar menjadi petualang” jawab Kael.
“Sudah kuduga dari penampilanmu kamu memang berniat begitu. Tapi bukankah kamu terlalu muda? Menjadi petualang itu adalah sebuah pekerjaan berbahaya. Kamu bisa mati kapan saja. Apa kamu yakin mau mendaftar sekarang dan tidak menunggu hingga dewasa terlebih dahulu?” tegur resepsionis itu dengan nada sinis.
“Tapi usia saya susah 15 tahun. Saya sudah dewasa!” tegas Kael.
“15 tahun? Benarkah? Sama sekali tak terlihat begitu bagiku!” bentak resepsionis.
“Oh ini dia, tipikal karakter hero yang ditolak karena diremehkan” komentar Shiori sambil tersenyum memperhatikan dari tempat duduknya.
“Anda tidak percaya? Kalau begitu perlukah saya buka celana saya di sini dan menunjukkan kalau “punya” saya sudah berbulu lebat! Bukankah itu bukti autentik tak terbantahkan?” tegas Kael.
“Pffftthh” Shiori hampir saja tak bisa menahan tertawanya.
“Hah!!! Kamu ini ngomong apa, bocah? Akan kupanggil pasukan penjaga kalau kamu benar-benar melakukannya!” bentak resepsionis itu.
“M—maaf, tolong jangan panggil pasukan penjaga” pinta Kael.
Resepsionis itu pun menepuk jidat sambil geleng-geleng kepala dan menghela napasnya.
“Bocah, perlu kamu tahu, aku mengatakan semua itu karena aku khawatir padamu. Bukan satu dua kali, tapi aku sudah sangat sering melihat sendiri kasus para petualang muda yang hilang saat melakukan misi. Seperti yang aku bilang, petualang adalah pekerjaan yang berbahaya. Aku tidak ingin kalau sampai mendengar lagi berita kalau mayat seorang anak yang masih muda ditemukan dipasak di kemah goblin atau di meja makan pemukiman orc” ungkap resepsionis itu terlihat sangat murung dan suram ketika menceritakannya.
Mendengar hal itu membuat Kael menjadi murung dan mulai ragu.
“Apa daku boleh menyela?” ucap Shiori sambil mengangkat tangannya.
“Maaf, tapi nona siapa?” tanya resepsionis.
“Daku adalah seorang World Archiver, Shiori Novella. Kalau boleh memberi saran, bagaimana kalau sekiranya, nona ketua serikat memberikan semacam ujian kompetensi pada anak ini. Untuk menguji apakah dia memang layak dan mampu untuk menjadi seorang petualang” jawab Shiori memberikan saran.
“Itu adalah sebuah saran yang bagus, namun darimana nona bisa tahu kalau aku ini adalah ketua serikat di kota ini?” tanya resepsionis lagi kali ini menatap tajam penuh waspada.
“Hanya sebuah pengamatan sederhana. Nona memang mengambil peran resepsionis, namun nona sendirian di bangunan serikat ini. Dan kunci bangunan ini tidak mungkin dimiliki oleh orang yang sembarangan, dan nona adalah orang pertama dan satu-satunya yang datang ke bangunan ini. Tak ada yang lain hingga lewat waktunya untuk membuka pelayanan” jelas Shiori memberikan semacam deduksi layaknya detektif handal.
“Oh, jadi karena aku satu-satunya yang ada di sini, kamu jadi berpikir kalau aku adalah ketua serikat ini? Bagaimana kamu bisa yakin? Bisa saja kan aku ini hanya resepsionis yang datang lebih awal, atau bahkan pencuri yang menyamar jadi pegawai?” tukas resepsionis dengan nada mengintimidasi.
“Nona ini bercanda ya?” ucap Shiori setengah tertawa.
“Hah?” sahut resepsionis.
“Serikat petualang takkan bisa berjalan tanpa adanya ketua yang mengawasi jalannya pelayanan di masing-masing cabangnya. Dan para ketua diwajibkan untuk tinggal di gedung serikat untuk menjaga “segala hal” yang ada di gedung serikat ini. Jadi tak mungkin ketua serikat pergi dari gedung serikat tanpa alasan penting atau sesuatu yang darurat” jelas Shiori.
“D—darimana kamu tahu tentang—” ucap resepsionis dengan wajah kaget.
“World Archiver, itulah daku. Daku punya segala data dan informasi tentang segala hal yang sudah terarsipkan” potong Shiori dengan senyuman yang mengintimidasi balik.
“…” Resepsionis itu pun terdiam.
Ia berpikir sejenak dan kemudian ia melirik ke arah Kael.
“Baiklah, bocah, aku akan memberikanmu sebuah ujian. Jika kamu lulus maka aku akan memberikanmu izin untuk mendaftar di serikat. Tapi, jika sampai kamu tidak lulus, berjanjilah padaku untuk menunggu sampai kamu setidaknya berusia 20-an baru kamu kembali ke sini untuk mendaftar. Mengerti?” ujar resepsionis itu.
“M—mengerti” jawab Kael.
“Bagus. Sekarang pergilah ke lapangan di belakang gedung serikat. Tunggulah aku di sana. Aku akan mempersiapkan ujiannya” pinta resepsionis itu.
“B—baik!” balas Kael lalu bergegas pergi ke lokasi.
Setelah Kael pergi, Shiori datang menghampiri resepsionis.
“Jadi, nona World Archiver, apa urusanmu datang kemari?” tanya resepsionis.
“Sekarang masih belum” jawab Shiori.
“Masih belum? Apa maksud—” tanya resepsionis lagi dengan nada bingung.
“Daripada itu, kenapa serikat ini sepi sekali? Kemana semua orang, ketua serikat?” potong Shiori.
Mendapat pertanyaan ini, cahaya di sorot mata resepsionis alias ketua serikat itu pun lenyap. Tatapannya jadi dingin dan seolah berkabut.
“Bukan urusanmu” jawab resepsionis dengan singkat.
****
Kael menunggu di lapangan yang ada di belakang gedung serikar. Sebuah lapangan dengan tempat duduk penonton di salah satu sisinya itu nampaknya sering digunakan untuk tempat duel sebelumnya. Karena di bagian tengah lapangan, rumputnya gundul sebagai tanda banyak terinjak-injak setelah cukup lama. Layaknya yang biasa terjadi di jalanan setapak.
“Kenapa lama sekali?” keluh Kael yang sudah tak sabar.
Daripada bosan, ia pun memutuskan untuk melatih ayunan pedangnya. Ia mengayunkan pedangnya beberapa kali dan melakukan beberapa jenis gerakan untuk bertarung melawan simulasi khayal dalam kepalanya.
“Gerakan macam apa itu? Kuda-kudamu lemah, posisi kakimu salah, dan ayunanmu tidak beraturan. Bahkan aku ragu kamu akan bisa mengalahkan seorang goblin dengan kemampuan itu” komentar ketua serikat yang tampak berjalan menghampiri Kael.
Ketua serikat itu terlihat memakai pertarungan standar untuk petualang pemula. Seperti, armor kulit, pedang pendek, dan perisai bundar kecil. Hampir mirip dengan yang dipakai oleh Kael.
“Kenapa wajahmu terlihat seperti kaget melihatku memakai perlengkapan bertarung? Bukankah kamu sudah mendengar apa yang dikatakan oleh nona berambut hitam putih itu? Ya, dia benar, aku adalah ketua serikat ini. Dan aku adalah mantan petualang tingkat S. Namaku ketika masih aktif menjadi petualang adalah, The Black Steel, Kurogane Armia” ujar ketua serikat.
“Apa!? The Black Steel!?? The Black Steel yang itu?” ucap Kael terkejut.
“Ya, itu aku. Kenapa, kamu takut sekarang? Kamu bisa mengundurkan jika kamu takut. Ini masih belum terlambat untuk mundur” ungkap ketua serikat.
“T—tidak! Aku tidak takut! Untuk menjadi petualang, aku harus lulus ujian ini! Aku harus bertarung!” tegas Kael semakin membulatkan tekadnya.
“Baiklah kalau begitu. Tapi perlu kamu tahu, aku akan bertarung dengan serius. Karena petualang bukan pekerjaan yang main-main. Karena itu, persiapkan dirimu. Sebab mungkin beberapa tulangmu akan patah pada pertarungan ini” balas Armia dengan tatapan dingin.
Aura membunuh keluar dari tubuhnya seolah membuat sekitarnya menjadi dingin. Tubuh Kael menggigil meski itu adalah hari yang cerah dan bukan pula sedang musim dingin.
“A—a—aku siap!” ucap Kael dengan kaki gemetar.
Posisinya sudah siap bertarung, tapi wajahnya mengeluarkan keringat dingin, dan tubuhnya gemetar.
“Ayo kita mulai…” ucap Armia.
Sosok Armia seolah berkedip dan menghilang lalu muncul kembali di belakang Kael. Tangannya sudah terangkat dan siap menebas leher Kael.
Kael yang terkejut tak mampu bereaksi karena responnya tertunda oleh rasa terkejutnya.
“Hanya segini saja kah—” duga Armia mulai mengayunkan pedangnya.
Pedangnya mengayun dengan sangat cepat mengarah ke leher Kael. Kael hanya bisa pasrah sambil memejamkan matanya menerima nasibnya yang mungkin akan mati di sini saat ini juga.
Namun ayunan itu berhenti beberapa milimeter dari kulit lehernya.
“—mengecewakan. Kamu menyerah begitu saja ketika ada pedang yang mengarah ke lehermu?” lanjut Armia dengan nada kecewa.
Lalu ia menarik pedangnya dari leher Kael dan menurunkannya ke samping kembali ke posisi santai.
Menyadari dirinya baru saja lolos dari kematian, Kael hanya bisa jatuh berlutut di tanah dengan lemas sambil setengah bersujud menyentuh tanah. Ia menatap tanah dan keringat dingin menetes ke tanah menciptakan titik-titik basah.
“Kamu harus ingat, monster-monster dan musuhmu di luar sana, tidak akan menahan serangannya seperti yang kulakukan tadi. Jadi anggaplah kamu sudah mati saat ini. Kamu gagal” ujar Armia dengan nada dingin dan tanpa emosi.
Mendengar hal itu, air lain menetes dari wajahnya. Dan itu adalah air matanya. Kael menangis tak bisa menahan rasa kecewa dan rasa pedihnya kekalahan dan kelemahan dirinya.
“Menangis? Kamu pikir kamu bisa hidup lagi dengan menangis? Kamu pikir bisa selamat dari musuhmu dengan menangis? Kamu pikir bisa menyelamatkan orang lain dengan menangis? Menangis itu tidak berguna!!!” bentak Armia.
“T—ta—tapi kan?” sahut Kael.
“Tapi kan? Tapi kan? Tapi kan apa!? Kamu hanya buang-buang air mata! Kamu hanya buang-buang waktu dan tenaga! Daripada kamu gunakan waktumu untuk menangis kenapa tidak bangkit dan hadapi kelemahanmu! Jadilah lebih kuat!!!” tegas Armia.
Sebuah tendangan pun mendarat di perut Kael dari Armia, dan mementalkan tubuh pemuda itu sejauh 3 meter hingga terguling-guling di permukaan tanah.
Kael meringkuk kesakitan. Ia menoleh dan melihat ke arah Armia yang menendangnya itu dengan hanya sebelah matanya.
Terlihat Armia berjalan menghampiri Kael.
“Masih mau menangis? Ayo, cobalah menangis. Mari kita lihat, apa yang lebih cepat? Air matamu atau tendanganku?” ujar Armia.
“T—tolong ampuni a—aku” pinta Kael.
“Sekarang memohon ampunan? Dasar bodoh—!!!” pekik Armia menendang tubuh Kael lagi dengan kuat.
Kini tubuh pemuda itu terpental dan membentur pagar arena.
Tubuh Kael terkapar terlentang di tanah dan ia terlihat meringis dan merintih kesakitan. Matanya terbuka, dan ia samar-samar mampu melihat sosok seorang gadis berambut hitam putih yang memakai payung terlihat sedang duduk di bangku penonton menontoninya.
“Ada apa? Engkau perlu masukan? Kalau begitu dak—” ujar Shiori.
“Diam!” teriak Armia sambil melempar pedangnya ke arah Shiori.
“Ah celaka, aku kelepasan!” lanjut Armia baru menyadarinya.
Namun pedang yang dilemparnya itu terhenti. Dua jari lentik dan ramping tangan kanan Shiori tampak menjepit bilah pedang itu dan menahannya di udara. Armia terkejut melihatnya.
“Alama~ melempar senjata ke penonton itu, bukankah itu sebuah pelanggaran berat, ketua serikat?” komentar Shiori dengan sarkas.
Lalu dengan santainya ia melempar balik pedang Armia kembali ke pemiliknya. Armia menangkapnya dengan mudah.
Ekspresi Armia menunjukkan rasa bingung, heran, dan juga tak percaya.
“N—nona Shi—” ucap Kael.
“Diam! Jangan sebut nama daku apabila engkau hanya seorang pengecut. Daku juga tak sudi membantu orang yang sudah menyerah. Jadi, bangkitlah dengan kekuatan sendiri, pemegang nama Shirogane” potong Shiori sambil memandang rendah Kael dengan tatapan dinginnya.
“T—tapi—” ucap Kael.
“Masih juga dengan kata “tapi”!? Engkau tak sadar engkau hanya membatasi diri dengan kata itu. Lord of Wisdom pernah berkata, “apabila ada dinding pembatas yang tak bisa engkau hancurkan, maka itu adalah pembatas yang engkau sendiri ciptakan”. Halauan orang lain engkau akan bisa hancurkan, tapi tidak dengan halauan atau penghalang yang engkau sendiri ciptakan. Engkau tak sebodoh itu menciptakan dinding tak terhancurkan untuk dirimu sendiri, kan?” ujar Shiori panjang lebar dengan nada kecewa.
Namun ekspresinya ketika menyebut nama Lord of Wisdom terlihat sangat bangga.
“A—aku menciptakan penghalang untuk diriku sendiri?” ucap Kael sambil menatap kedua telapak tangannya.
“Ya. Memangnya engkau pikir apa yang sedang engkau lakukan saat ini?” sahut Shiori lalu menghela napas lelah.
Kael mengusap air matanya. Dan kemudian membulatkan tekadnya sambil mengepalkan tangannya dengan kuat. Kael bangkit kembali dan menghadap ke arah Armia. Kini sorot mata pemuda itu berubah. Tekad dan rasa yakin yang kuat mengisi kekosongan di tatapannya.
“Oh, kamu mau mencoba menantangku lagi?” ucap Armia.
“Ya! Kali ini akan berbeda!” tegas Kael.
“Oh, apa yang berbeda memangnya?” balas Armia.
“Kali ini aku takkan menahan diri lagi! Aku takkan menciptakan penghalang untuk diriku lagi untuk bisa melangkah maju! Aku akan membebaskan diri dari belenggu yang kupasang sendiri pada diriku! Aku adalah kemerdekaan! Aku adalah Shirogane Kael!” ujar Kael dengan penuh kepercayaan.
Tiba-tiba udara yang tadinya tenang, kini mulai bergerak dan berubah menjadi angin. Hembusan angin menerpa dedaunan menciptakan suara yang terdengar mendesis. Dedaunan yang mengering tercabut dari pepohonan dan terbawa angin. Pemandangan itu membuat Armia terkejut dan bingung.
“A—apa yang terjadi? Ada apa ini?” ucap Armia.
Angin yang bertiup kuat menciptakan suara mirip siulan karena saking kuatnya tiupan angin itu. Dan semua angin itu berkumpul menciptakan pusaran angin dengan Kael sebagai pusatnya. Hal itu dapat terlihat jelas karena dedaunan yang bergerak bersama angin karena terbawa oleh sang angin.
“A—anginnya, melindunginya!? I—ini, 《Blessing of Nature》!!??” ucap Armia.
****
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.