Posts

Showing posts from May, 2015

Memo, chapter 57 - Menyelamatkan Puteri

Sindy dan Arya sedang ada di dekat pintu gerbang sekolah. Mereka duduk-duduk di pos satpam sambil mengobrol melihat mobil yang lewat. "Menurut senior antara sepeda motor dan mobil lebih baik mana?" tanya Arya. "Hmm.. aku tidak tahu yang mana yang baik dan yang mana yang jahat. Aku belum pernah membuat cerita tentang mobil ataupun sepeda motor." jawab Sindy. "Hah? Maksudku bukan itu!" bentak Arya. "Lho, emang Arya juga belum pernah menulis cerita tenang mobil dan sepeda motor?" tanya Sindy. "Ya, aku juga belum pernah. Hei tunggu sebentar! Sudah kubilang bukan itu yang aku maksud!" jawab Arya. "Kalau begitu nanti kita menulis cerita tentang mobil dan sepeda motor yuk!" ajak Sindy sambil tersenyum. "Sudah kukatakan maksud pertanyaanku tadi bukan itu!!!" teriak Arya karena kesal. Tiba-tiba ponsel Arya berbunyi sepertinya ada pesan LINE yang masuk. Jadi Arya mengeluarkan ponselnya dan membalas pesan itu. "Dari siapa?...

VocaWorld, chapter 170 - Harmonia Masa Lalu

Dante, Rin dan Len mulai memainkan musik mereka bersama-sama. Sebuah permainan musik rock yang begitu keras dan kasar. "Tidak terjadi apa-apa?" komentar Luka. "Perhatikanlah baik-baik." suruh Ray. Perlahan dari belakang Dante, Rin dan Len muncul sosok tinggi besar dan tampak menyeramkan. "A-apa itu?!" ucap Kamui tampak terkejut. "Raging Golem Iron Maiden!" ucap Dante. Dan benar saja, sosok itu mulai membentuk raksasa golem yang berwarna gelap dan menyeramkan. "Tak kusangka mereka juga bisa menggunakan itu." komentar Ray. "Menggunakan itu? Itu apa?" tanya Luka. "Materize. Menciptakan sebuah makhluk menggunakan melodi." jawab Ray. "Menciptakan makhluk menggunakan melodi? Sama seperti perempuan itu?" tanya Luka mengingat pertarungan melawan Leviathan. "Ya, nama perempuan itu adalah Leviathan. Salah satu dari 4 komandan satanism. Jadi tidak aneh kalau dia menguasai Materize." jelas Ray. Ra...

Memo, chapter 56 - Lari Pagi

Shinta sedang jogging pagi itu. Tak lama kemudian dia melihat sebuah tulisan aneh di belakang truk. "Semakin digoyang semakin mantap, apalagi kalau digoyang oleh janda." baca Shinta pada tulisan bagian belakang truk itu. Shinta pun memiringkan kepalanya karena tidak mengerti maksud dari tulisan tersebut. Kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik pesan LINE. "Baiklah kalau begitu aku akan meneruskan jogging ku." kata Shinta meneruskan lari nya. Shinta berlari menelusuri jalanan sepi ke pedalaman. Dia melewati desa-desa kecil. Tak lama kemudian dia mendapatkan balasan dari pesan LINE yang ia kirim. "Maksudnya digoyang dengan musik dangdut. Dan maksudnya janda disana itu adalah 'jarang ada'. Jadi sebuah lagu baru atau lagu yang bagus tapi orang lain belum tahu." baca Shinta di pesan LINE yang diterimanya. Shinta pun meneruskan lari paginya dan akhirnya sampai di sebuah warung dan beristirahat disana. "Bi ada mizone gak?" tanya S...

VocaWorld, chapter 169 - Band Of Darkness

Ray, Miku, Luka, dan yang lainnya terlihat sedang bertarung dengan Kagamine bersaudara. Namun tampak kelompok Miku mengalami kesulitan. Miku terpaksa menggunakan dance baru nya. Namun pada akhirnya mereka hanya berimbang dan tak ada yang memenangkan ataupun mengalahkan. "Kelihatannya kita takkan bisa menang melawan mereka." ujar Luka. Ray yang duduk disebelah Luka yang sedang berdiri, malah terdiam saja. "Ray-kun, kenapa malah diam aja. Setidaknya berikanlah komentar." protes Luka. "Tak ada yang perlu dikomentari. Mereka semua melakukan yang terbaik yang mereka lakukan. Yang perlu kita lakukan hanya menunggu." jawab Ray. "Ah.. ini bukan saatnya untuk berkata-kata sok keren seperti itu, Ray-kun." komentar Luka. "Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan oleh Ray-kun. Kami dibuat bertarung dengan si kembar terus menerus walau pada akhirnya tidak ada yang menang. Selalu berakhir dengan mundurnya salah satu pihak." pikir Luka sambil memperhatik...

Memo, chapter 55 - Kemurungan

Arya di interogasi oleh Shindy di ruang ekskul sastra. Disana juga ada Alice dan Ani yang dijadikan saksi. Kini ruangan itu bagaikan ruang sidang. Suasana disana begitu tegang. Arya berkeringat begitu banyak. "Jadi apa yang bisa kamu jelaskan? Cepat katakan!" suruh Shindy menatap tajam pada Arya. "Ah.. disini panas banget ya. Nyalakan AC nya dong." ujar Arya. "Sudah jangan alihkan topik pembicaraan. Cepat jelaskan apa yang telah terjadi sebenarnya!" bentak Shindy. "Eeehh.. hmm.. itu.." kata Arya terlihat takut untuk menjelaskannya. "Arya.." ucap Shindy memaksa Arya. "A-apa?" tanya Arya. "Jangan menghindar lagi. Jadilah laki-laki sejati dan jelaskan semuanya!" suruh Shindy dengan tatapan serius. Melihat sorot mata Shindy, Arya pun mengambil napas panjang untuk menenangkan dirinya. "Baiklah. Sepertinya tidak ada gunanya juga aku terus menyembunyikannya dari senior. Tapi kalau aku berkata jujur apa senior akan memp...

VocaWorld, chapter 168 - Masa Lalu Dan Kehilangan

Di rumah Miku, terlihat keadaan begitu suram. Miku dan Luka sedang makan bersama. Namun kursi Meiko, Rin dan Len tampak kosong. "Kita belum bisa menemukan solusi terbaik untuk mengembalikan Rin-chan dan Len-kun. Bahkan Meiko-chan pun tidak mau keluar dari kamarnya." ujar Luka. "Meiko-san pasti sangat terpukul sekali karena Rin-chan dan Len-chan jadi seperti itu." kata Miku. "Ya, pastinya. Tidak ada yang tidak sedih melihat adiknya yang sudah di urus sejak kecil tapi sekarang berubah menjadi orang jahat." sahut Luka. "Apa Shiro Ray juga merasakan hal yang sama ya? Tapi kelihatannya dia biasa-biasa saja meskipun adiknya menyerangnya dan menjadi jahat lagi." kata Miku. "Kurasa dia juga merasakan hal yang sama, namun dia menyembunyikan perasaannya dengan baik. Mau bagaimanapun dia itu selalu menunjukkan tampang poker face nya." kata Luka sambil tersenyum. "Shiro Ray harusnya bersyukur memiliki seseorang yang selalu mengerti seperti Luk...