Posts

Showing posts from 2016

VocaWorld, chapter 184 - Dendam Yang Masih Menyala

Dante mendorong tubuh Kamui yang terlempar tepat ke arah Gumi. Dante mendorongnya sehingga keluar dari jalurnya dan tercebur ke sungai. Gumi melihat ke arah sungai untuk melihat mereka selamat atau tidak. Namun ketika melihat ke sungai, yang muncul lagi ke permukaan cuma Kamui saja. Sementara Dante tidak diketahui keberadaannya. Gumi langsung menatap Kamui dengan kesalnya. Dia mengambil sebuah batu ditanah kemudian melemparnya kepada Kamui. "Apa yang sedang kau lakukan, samurai bodoh! Kenapa kau bertarung dengannya tanpa memberi tahuku?" protes Gumi dari atas jembatan dengan kesal. "Ha-hampir saja! Kenapa malah nimpuk hah!?" ucap Kamui sambil menghindari batu yang dilemparkan Gumi. "Katakan padaku sekarang dia ada dimana, Gaku-Gaku?" tanya Gumi berteriak pada Kamui. "Kenapa malah marah? Tadi kau aku selamatkan lho!" protes Kamui yang keberatan karena ditimpuk Gumi. "Sudahlah jawab saja atau kulempar pakai ini." ancam Gumi sa...

Memo, chapter 73 - Sindy Side 1

Sindy keluar dari ruang OSIS. Wajahnya terlihat sedikit kesal karena mulutnya yang nampak cemberut saat itu. Dia pun menutup pintu ruang OSIS dengan cukup kasar dan kemudian berjalan meninggalkan ruang OSIS dengan langkah cepat. "Padahal sudah kubilang untuk tidak memanggilku dalam setiap rapat, tapi tetap saja dia melakukannya." gerutu Sindy. Sindy bergerak menuju ke perpustakaan. Tapi di tengah perjalanan dia berpapasan dengan Rere yang juga nampak sedang kesal. "Wah.. Rere rupanya. Ada apa kok kamu kayak yang lagi kesal gitu?" sapa Sindy menunjukkan senyum anggun nya. "Si-Sindy!? Sejak kapan kau ada disana?" ucap Rere terkejut ketika melihat Sindy. "Hmm.. baru saja kok. Kalau dari reaksimu, sepertinya kau sedang terganggu akan sesuatu. Ada apa?" tanya Sindy sambil memiringkan kepalanya. "A-.. aku tidak tidak sedang merasa terganggu apapun kok, beneran." jawab Rere dengan sedikit panik. "Eeehh.. benarkah? Apa jangan...

VocaWorld, chapter 183 - Cahaya Senter

Jika damai artinya tidak terjadi apa-apa atau tak ada satupun kejadian, maka saat ini Voca Town adalah kota paling damai di dunia. Tanpa adanya penduduk kota itu menjadi sunyi seperti kota hantu. Dan di tengah kesunyian itu, Dante berjalan di sebuah trotoar. Tatapan mata kosong menemani langkahnya yang tak pasti arah tujuannya itu. "Mungkin inilah hukumanku. Kehidupan yang hampa dan tak punya tujuan. Karena aku yang memusnahkan segalanya, kini aku sudah tak bisa kembali kesana. Tak ada rumah untukku bernaung ataupun berlindung. Aku tak punya tempat untuk pulang." gumam Dante sembari melangkah pelan dengan kepala yang senantiasa tertunduk kebawah. Dante terus berjalan hingga akhirnya ia tiba disebuah sungai. Dia memandangi sungai itu dari ujung barat hingga ujung timur yang mampu ia lihat. "Sepertinya dia tidak memancing hari ini." ujarnya. Kembali Dante melangkah dan menyeberangi jembatan. Hingga sampai didepan jembatan dia menyadari ada sosok yang tak asing baginya...

Memo, chapter 72 - Memungut dan Mencari 8

Karena tak kunjung menemukan Sindy, akhirnya Arya dan yang lainnya memutuskan untuk kembali ke ruang ekskul sastra. "Daripada didepan ruang OSIS sepertinya memang lebih baik menunggu di ruang ekskul sastra." ujar Arya pada yang lainnya. "Ya, duduk diteras dingin membuat pantatku pegal." sahut Shinta. "Tapi gimana kalau nanti kak Sindy nyariin kita ke halaman depan?" tanya Alice. "Hmm.. benar juga. Dia kan tidak tahu kita menunggunya di ruang ekskul." balas Arya sambil berpikir. "Atau gini aja. Salah satu dari kita menunggu di halaman depan. Biar kalau nanti salah satu dari kita ketemu kak Sindy, bisa langsung kasih tahu lewat SMS." usul Shinta. "Wah.. ide bagus tuh! Shinta memang pintar!" ujar Alice yang setuju dengan usulan Shinta. "Tapi.. siapa dari kita yang akan panas-panasan nungguin di halaman?" tanya Arya. Kedua gadis itu pun bengong. Mereka kemudian berpikir sejenak dan lalu menoleh ke arah Arya. ...

VocaWorld, chapter 182 - Yang Sebenarnya Terjadi Adalah..

Sekarang dihadapan profesor Kei ada dua benda bulat berbungkus kain yang tampak mencurigakan. Dengan sedikit menelan ludahnya, profesor Kei memberanikan diri membuka bungkusan mencurigakan itu. Keringat mengucur deras ketika ia membuka satu persatu simpul yang mengikat bungkusan tersebut. "I-ini kan?!" ucap profesor Kei ketika bungkusan itu terbuka. Benda bulat seperti bola kini menunjukkan wujud aslinya. Dan itu adalah benda sebesar kepala. Sebuah perangkat berbentuk helm dengan nama yang tercetak di helm tersebut. "Synconector 0.0" baca profesor Kei pada tulisan nama di helm tersebut. "Mindy kah? Dan juga prototype lagi. Darimana dia mendapatkannya?" sambung profesor Kei sambil meletakannya kembali diatas mejanya. Profesor Kei berjalan menuju ke meja komputernya dan membuka laptopnya kemudian membuka beberapa berkasnya. "Kalau tidak salah, pemilik Mindy prototype ini adalah kelinci percobaan pertama proyek synconector. Mereka adalah musisi dan kompo...

Memo, chapter 71 - Memungut dan Mencari 7

Arya tampak sedang duduk dan berpikir keras. Saat ini dia dan 3 orang perempuan yang terus mengikutinya sedang berada di kantin yang kebetulan sedang sepi. Shinta dan Alice tampak memperhatikan Arya menunggu keputusan Arya yang masih terdiam meletakan telunjuknya di sebelah kanan kepalanya. Suasana tampak begitu serius. "Jadi mau pesan apa?" tanya pelayan kantin. "Setelah kupikirkan baik-baik dan menelaah setiap kemungkinan yang akan terjadi, aku pilih ini!" jawab Arya dengan tegas sambil menunjuk gambar di menu. Dan gambar yang ditunjuk Arya adalah segelas air putih dengar harga nol rupiah alias gratis. "Baiklah, akan segera kuantarkan pesanan kalian." sahut pelayan. "Mikirnya lama banget milihnya cuma air doang." gerutu Shinta. "Tapi kenapa cuma air putih. Kita baru saja selesai berkeliling sekolah memungut sampah sambil mencari kak Sindy lho. Kenapa tidak pesan es buah atau semacamnya?" tanya Alice. "Yah.. gimana ya. Aku sedang ...

VocaWorld, chapter 181 - Yang Sebenarnya Terjadi

Luka berjalan mendaki bukit. Dia menyusuri jalan setapak menembus hutan dan akhirnya sampai di sebuah bukit dengan tebing yang menghadap langsung ke Voca Town. Seluruh pemandangan Voca Town dapat terlihat dari tempat Luka berdiri saat ini. "Seperti biasanya pemandangan disini selalu terasa luar biasa." ujar Luka terkagum melihat pemandangan kota yang ditinggalkan penghuninya itu. Luka meneruskan perjalanannya dengan menyusuri jalan setapak yang membawanya menuju ke sebuah rumah. Rumah sederhana  yang berdekatan dengan tebing yang menghadap ke arah kota. "Kuharap mereka ada dirumah." gumam Luka sambil berjalan mendekati rumah tersebut. Luka melangkahkan kakinya mendekati pintu. Kemudian ia mengetuk pintu kayu tua itu dengan perlahan. "Permisi.." ucap Luka sambil mengetuk pintu itu. Namun sama sekali tak ada jawaban dari dalam rumah tua itu. "Harusnya aku tahu, mereka sudah pasti sudah mengungsi kan. Bodohnya aku. Mungkin sebaiknya aku ke kota Ut...

Memo, chapter 70 - Memungut dan Mencari 6

Arya dan 3 orang perempuan yang mengikutinya akhirnya sampai didepan ruang OSIS. Dihadapan mereka kini berdiri 2 belah pintu besar yang mesti mereka buka. Sebuah pintu kayu dengan ukiran indah berbentuk naga. "Apa kita sedang berada didepan gerbang last boss?" ujar Arya. "Last boss apanya? Kau pikir kita ini karakter RPG?" komentar Shinta. "Terus apa yang akan kita lakukan saat ini?" tanya Alice. "Kalau itu serahkan saja padaku!" ucap Shinta sambil mendekat ke pintu itu. Shinta kemudian membuka pintu itu dengan seluruh tenaganya. "Hey para anggota OSIS!" ucap Shinta ketika membuka pintu itu dengan penuh semangat. Dan ketika pintu itu terbuka terlihatlah apa yang ada didalam ruangan OSIS itu. Tampak beberapa orang sedang duduk di kursi yang tersusun di sekeliling meja panjang. "Sepertinya mereka sedang melakukan rapat." kata Alice. Orang-orang didalam ruang OSIS itu tampak memperhatikan Shinta dengan tatapan tajam. Wajah Shinta...

VocaWorld, chapter 180 - Pemimpin Yang Menghilang

Shiro Ray menggunakan melody of silent tanpa sepengetahuan Miku dan yang lainnya. Mereka disembunyikan oleh Ray dari pandangan pasukan pemerintah. Pesawat tempur canggih pemerintah pun lewat diatas Miku dan kawan-kawan. "Eagle 1 kepada Eagle 2. Eagle 1 kepada Eagle 2. Ada sesuatu yang aneh disini, ganti!" ucap pilot pesawat tempur nomor 1. "Diterima, Eagle 1. Disini juga sama. Tidak terlihat adanya musuh. Bahkan tak terlihat adanya kehidupan. Ganti!" balas pilot pesawat tempur nomor 2. "Disini Eagle 3, disini juga tidak terlihat apapun. Ini seperti kota mati. Apa kalian yakin disini tempat terjadinya pertempuran? Ganti!" tanya pilot pesawat tempur nomor 3. "Menurut informasi yang kita dapat dari komandan, pertempuran memang terjadi di pusat kota. Ganti." jawab pilot pesawat nomor 1. "Lalu kenapa disini sangat sepi, ganti?" tanya pilot pesawat nomor 3 lagi. "Tidak tahu, ganti." balas pilot pesawat nomor 1. ...