Posts

Showing posts from May, 2014

VocaWorld, chapter 63 - Memori Musim Panas (Laki-Laki Itu Harus Kuat)

Sekitar 11 tahun yg lalu, Shion Kaito datang ke Voca Town bersama dengan ibunya. Lalu Kaito kecil dititipkan ke keluarganya Kamui dan tinggal bersama mereka. Namun Kaito sering merasa bosan, dia selalu tampak murung saat dirumahnya Kamui. "Kamui, coba ajak Kaito-dono untuk main keluar. Mungkin dia bosan dirumah terus." suruh seorang laki-laki berusia 30 tahunan dan berambut ungu dikuncir satu. "Baiklah, ayah. Tapi nanti ibunya Kaito-dono akan marah kalau sampai tahu Kaito-dono keluyuran diluar." sahut Kamui kecil. "Tenang saja, biar ayah yg tanggung jawab." ujar laki-laki yg ternyata ayah Kamui itu. "Baik, kalau begitu." ucap Kamui sambil bangun dari duduknya. Kemudian Kamui pun mengajak Kaito jalan-jalan di Voca Town. Kaito pun diajak ke sebuah taman. "Maaf Kaito-dono, saya mau pergi sebentar untuk beli minuman. Kaito-dono tunggu dulu disini." ucap Kamui. Kamui pun pergi meninggalkan Kaito sendirian ditaman. Saat Kamui kembali, ...

VocaWorld, chapter 62 - Musim Panas dan Masa Lalu

Di kediaman Megurine, di ruang baca terlihat Luka sedang mencari-cari sesuatu di internet melalui komputer di ruang baca itu. "Ternyata memang tidak ada." ucap Luka yg ternyata pencariaannya tidak membuahkan hasil. Luka pun berdiri lalu berjalan mendekat ke jendela. "Kenapa tidak ada satupun berita atau catatan mengenai kedua orang itu maupun kejadian di Voca Town saat itu. Papa tak mungkin berbohong kan?" ujar Luka yg kemudian menoleh melihat buku berjudul 'Diary of C' yg ada diatas meja. Hari pun sudah sore, dan Ray yg sedang memancing nampaknya hanya mendapatkan sedikit ikan hari itu. Rin yg duduk di depannya pun tampak kecewa. "Ray-niichan, dapatnya sedikit sekali." ucap Rin. "Ya mau bagaimana lagi, mungkin ekosistem sungai nya sudah sedikit berkurang." sahut Ray menarik tali pancingnya dari dalam air. "Hmm.. aku jadi tidak bisa minta deh." ujar Rin kecewa. "Kalau kamu mau, bawa aja. Aku cuma butuh 2 kok." ...

VocaWorld, chapter 61 - Kipas Angin Yang Berhenti Berputar

Siang hari di Voca Town. Cuaca tampak sangat panas, sinar matahari terlihat begitu terik dengan udara yg membuat gerah orang meski berada di dalam ruangan. "Kurang ajar kau global warming!" teriak Miku sambil tiduran dan menunjuk ke langit-langit ruang tengah itu. Walau saat itu Miku sedang dikipasi oleh kipas angin yg menyala sampai level maksimal, dia masih terlihat kegerahan. Kemudian ada yg memencet tombol putar nya. Dan kipas itu pun menoleh kiri dan kanan. "Panasnya.." ucap Len yg tiduran di samping kanan Miku. "Gerah.." sahut Rin yg tiduran di samping kiri Miku. "Iya.." balas Miku dengan lemas. "Eh, kalian kenapa ikutan tiduran disini?" tanya Miku yg baru sadar kehadiran Rin dan Len. "Ya.. kami juga mau dikipasin lah. Dikamar udaranya panas banget." jawab Len. "Buka jendela pun malah makin gerah." sambung Rin. "Tapi jangan seenaknya juga mencet tombol putarnya! Jadi aku kebagian anginnya cuma pas...

VocaWorld, chapter 60 - Hitam Atau Putih?

Di suatu tempat di selatan VocaTown, jauh di pegunungan disana ada sebuah villa. Tampak dihalaman villa itu Miku, Luka, Meiko, Kaito, Gumi, Kamui, Rin dan juga Len terlihat sedang bersiap-siap melakukan sesuatu. Kaito tampak membawa alat pemanggang ke halaman. Sementara Kamui membawa karung yg berisikan arang. Sementara Luka, Miku, Meiko dan Len sedang duduk dikursi dengan meja berpayung. "Ah.. terima kasih, Megurine-senpai. Setelah seminggu makan ikan terus, akhirnya bisa makan daging juga. Hehehe.." ucap Miku tampak bahagia. "Tapi Miku-nee, ikan juga kan daging." ujar Len. "Eh, iya kah?" sahut Miku agak bingung. Len pun nepuk jidat karenanya. "Tak usah berterima kasih, Miku-chan. Anggap ini sebagai permintaan maafku karena tak bisa melindungimu." jawab Luka. "Tapi, aku masih tak habis pikir. Kenapa Ray-kun malah tampak ramah pada Miku-chan?" ucap Luka dalam hatinya. "Luka-oneesama, pemanggangnya udah beres." lapor Gum...

VocaWorld, chapter 59 - Angin Berhembus Semakin Kencang

Ray berjalan dengan santai masuk ke dalam pondok persembunyian Miku dan Luka. "Menaruh 2 knight di depan untuk menghadang salah seorang dari kami. Kemudian menggunakan 2 bishop untuk pertahanan kedua. Dan queen yg punya area serangan terluas bertugas menjaga target. Sebenarnya itu rencana yg bagus, namun jika melawanku itu takkan berguna. Kamu menyuruh 2 knight yg punya keahlian pertarungan jarak dekat sebagai cara menghentikan pergerakan kami, atau paling tidak salah satu dari kami. Lalu jika memang salah satu dari kami yg lolos itu artinya adalah yg punya keahlian pertarungan jarak dekat melebihi 2 knight itu atau punya keahlian pertarungan jarak jauh yg pintar. Karena itu ditunjuk lah 2 bishop yg punya keahlian pertarungan jarak jauh sekaligus jarak dekat seperti Meiko dan Kaito. Dengan teknik serangan mereka, kalian pasti berpikir bisa menjebak salah satu dari kami itu dan mengelahkannya. Atau setidaknya memberi kalian waktu untuk melarikan diri lewat belakang. Atau jika sala...

VocaWorld, chapter 58 - Checkmate!

Hari itu cuaca tidak seperti biasanya. Langit sedikit mendung, walaupun saat itu musim panas. Voca Town pun terlihat teduh saat itu. Jauh di dalam hutan, ada sebuah pondok. Rumah kecil sederhana terbuat dari kayu. Di dalam rumah itu, Miku, Meiko dan Kaito terlihat sedang gelisah. Pintu depan pun terbuka, dan Luka pun masuk ke dalam pondok. "Apa kalian sudah siap?" tanya Luka menatap ke arah Meiko dan Kaito. Meiko dan Kaito mengangguk. "Bagaimana denganku?" tanya Miku. "Miku-chan adalah targetnya. Maka kamu lah yg harus kami lindungi. Kalau sampai kamu kenapa-napa. Maka itu artinya kita sudah kalah." jelas Luka. "Miku-chan diam saja ya. Percayakan semuanya pada kami." ujar Meiko. "Kau tenang saja Hatsune, aku akan melindungimu." tambah Kaito. "Meiko-san, Kaito-senpai.." ucap Miku. "Kita tetap pada rencana. Kalian mengerti kan?" ujar Luka pada Meiko dan Kaito. "Ya." sahut Meiko dan Kaito. Luka pun k...

Catatan Penjelajah Mimpi - World of Madness

Aku tak tahu apa yg terjadi, aku sepertinya sedang naik sepeda motor. Tapi hanya satu tangan yg memegang stang. Dan tangan itu hanya tangan kananku. Sementara tangan kiriku menjulur ke bawah dan tubuhku sedikit membungkuk. Aku tidak mengerti, di dunia nyata aku tidak bisa mengendarai sepeda motor kan? Tapi saat itu aku memang tak mempermasalahkan hal itu. Aku pun masuk ke jalur bebas hambatan alias jalan tol. Saat itu aku mencoba menaikan kecepatan untuk menyamakan kecepatanku dengan yg lainnya. Namun anehnya aku tak bisa menaikan kecepatanku. Motor dan mobil seperti hendak menabrakku karena kecepatanku yg lebih rendah, namun aku menghindar ke tengah diantara jalur 2 arah itu. Aku pun merasa aman. "Eh, itu orang sengklek." kataku dengan keras sambil melihat pengendara sepeda motor lain yg terlihat seperti orang gila. Kenapa aku mengatakan hal itu? Aku tidak tahu, mulutku mengucap dengan sendirinya. Lalu kulihat pengendara sepeda motor lainnya, ternyata semuanya orang gila. Ka...

VocaWorld, chapter 57 - Jangan Menilai Buku Dari Sampulnya

Luka melihat ke arah rak paling bawah di ruang baca itu. Dia tampak memikirkan sesuatu dan memegang dagunya. "Semua buku ada 7 buku jika yg sedang aku pegang ini dihitung juga. Abjad yg ada setelah kata 'Diary of' semuanya disusun secara berurutan dari A sampai G. Jadi kalau kita ingin antara angka 7 dan abjad ABCDEFG, maka kita akan mendapat.." ujar Luka yg lalu meletakan kembali 'Diary of B' yg sedang ia pegang. "7 susunan nada, yg pastinya dimulai dari C sebagai nada Do." sambung Luka yg mengambil buku 'Diary of C' yg berada tepat disebelah tempat 'Diary of B'. Kemudian Luka pun membuka-buka halaman buku itu sambil berjalan ke arah meja baca. "Sudah kuduga.." ucap Luka saat membaca kalimat awal di buku itu. Disana tertulis, "Hari ini adalah hari pertamaku menulis ini sebagai catatan penting dalam pekerjaanku yg baru. Namaku Meguzan Ranpo, namun orang-orang memanggilku, Megupo.". Luka terkejut mendengar nama...

VocaWorld, chapter 56 - Senja Sebelum Gelap

Diatas sebuah jembatan di Voca Town, muncul api hitam yg menyala tinggi ke atas dan hembusan angin yg berwarna jingga. Dan terlihat Gumi dan Dante yg sudah berubah. "Wow.. kamu tampak menganggumkan dengan pakaian itu." puji Dante dengan nada tenang. "Diam!" bentak Gumi yg lalu melompat dan menendang ke arah Dante. Dante pun menghindar dengan melompat ke atas. Namun Gumi lalu menghilang, dan muncul di samping Dante lalu menendang Dante hingga terpental ke arah sungai. Dante pun terpantul 2 kali dipermukaan sungai lalu tercebur dan tenggelam. Tidak lama kemudian Dante muncul kembali dengan berenang. "Sial, aku lupa kalau aku bertarung diatas sungai." ucap Dante sambil berenang-renang biar tidak tenggelam. Gumi melompat ke pinggir jembatan lalu melompat ke sungai dengan cepat. "Dance: Happy Rabbit." ucap Gumi lalu melangkah di atas air. "Whoa! Itu licik! Kau bisa berjalan diatas air!" kata Dante terkejut dan merasa tak terima. ...