VocaWorld, chapter 54 - Ignorance

Di sebuah restoran makanan cepat saji, ada Miku dan Meiko yg kelihatannya sedang berbicara. Tidak lama, ada beberapa orang laki-laki masuk. Dengan dandanan anak hip-hop, mereka masuk sambil bawa radio tape dan menyetel musik hip-hop.
"Yo Meiko kumaha kabar anjeun. Abdi kadieu bade meser emameun. Tah nu ieu 5 rebu yen-eun. Tong hilap kejuna di lobakeun. Yeah!" ujar orang yg tampaknya sudah tak asing itu dengan gaya nge-rapp di sesuaikan dengan musik.
"Bahasa apaan tuh? Aku tidak ngerti sama sekali. Lagipula mesan makanan dengan nge-rapp itu tidak biasa." ucap Miku dalam hatinya merasa aneh.
"Oh baiklah, pesanannya akan segera diantar. Silahkan duduk dan tunggu sebentar.." sahut Meiko sambil tersenyum.
"Eh, Meiko-san mengerti yg mereka katakan?" ucap Miku yg terkejut.
"Ya. Mereka itu pelanggan tetap disini, jadi mau tidak mau aku harus mengerti bahasa mereka." jawab Meiko.
"Emang bahasa apa sih itu?" tanya Miku.
"Itu bahasa sunda." jawab Meiko lagi.
"Oohh.. rasanya aku pernah bertemu dengannya tapi dimana ya?.." ujar Miku mengingat-ngingat.
"Pasti waktu sekolah. Dia kan anak akademi Voca juga. Namanya Ebiet Beat B kalau gak salah." sahut Meiko.
"Oh iya, yg waktu itu dimarahi oleh Megurine-senpai karena memakai aksesoris berlebihan. Haha.." ucap Miku yg teringat saat itu.
"Jadi Miku-chan mau pesan apa nih?" tanya Meiko lagi.
"Ah kalau gitu aku pesan.." jawab Miku.
Namun sebelum selesai mengatakan pesanannya, tiba-tiba saja tanah sedikit berguncang.
"Apa ini?! Gempa?" ucap Meiko dalam hati.
Namun guncangan itu hanya satu kali dan tidak terlalu kuat. Namun Meiko, Miku dan para pelanggan terkejut dengan guncangan yg terjadi secara tiba-tiba itu.
"Ah aku pesan burger kejunya aja satu. Minumnya cola aja. Dan juga kentang gorengnya." sambung Miku.
"Oke." sahut Meiko yg lalu menuju ke arah dapur dan meletakan catatan pesanan lalu kembali lagi ke tempatnya.
Sementara Miku duduk dan menunggu pesanan di meja yg dekat dengan jendela.
"Hari ini Kaito-senpai yg bekerja di dapur kan? Jadi penasaran, kira-kira seperti apa ya rasanya masakan Kaito-senpai. Hehehe.." ujar Miku terlihat senang.
Ditempat lain, ada major yg jatuh dengan ukuran yg besar.
"Wah.. wah.. ternyata memang lebih besar dari yg sebelumnya." ucap Ray melihat dari atas gedung.
"Semuanya! Cepat tinggalkan tempat ini! Disini berbahaya!!!" teriak Luka dari bawah berusaha mengevakuasi orang-orang di sekitar situ.
Ray yg mendengar suara itu kemudian berjalan mendekat ke pinggir dan menengok ke bawah.
"Apa yg sedang kamu lakukan disini, my queen?" ucap Ray saat melihat Luka teriak sambil lari-lari dibawah.
Major yg juga mendengar teriakan itu, kemudian mulai mengarah ke Luka.
"Takkan kubiarkan kamu menyentuhnya." ujar Ray sambil memakai earophoidnya ean berubah.
Kemudian Ray menggunakan melody of silent dan membuat dirinya dan major itu menjadi hitam putih. Major itu tampak kebingungan dan dia hanya melirik ke kiri dan ke kanan.
"Kamu pasti tidak akan bisa menyadari mereka. Yg bisa kamu lihat saat ini hanyalah aku. Saat ini kita jadi, Ignorer.." ujar Ray sambil tersenyum menedekat ke arah Major itu.
"Hey, aku disini!" teriak Ray pada major itu.
Major itu pun melihat Ray yg berdiri tepat di depan matanya.
"Sekarang aku disini!" teriak Ray yg dalam sekejap sudah turun ke bawah.
Major pun berbalik ke arah suara Ray dan menemukan Ray sedang berjalan mundur dengan santai sambil melambaikan tangannya.
"Itu bukannya.. Ray-kun? Kenapa dia, major, dan sekelilingnya jadi hitam putih?" ucap Luka saat melihat Ray memancing major itu.
Saat itu wilayah sekitar Ray dan major itu memang sama-sama berwarna hitam putih dalam radius tertentu disesuaikan dengan keberadaan major tersebut. Major itu tampak mengikutinya menjauh dari Luka.
"Ini pertama kalinya aku membalikkan efek melody of silent. Ternyata tidak buruk juga." ujar Ray sambil melompat-lompat santai membimbing major ke tempat lain.
"Tunggu, mau kemana mereka?" tanya Luka yg lalu berlari mengikuti Ray.
"Sekarang!" ucap Ray tepat saat melewati sebuah bangunan yg cukup tinggi untuk menutupi tubuh major itu.
"Kemana mereka?!" ucap Luka yg terkejut saat kehilangan keberadaan Ray dan major itu.
Luka mengecek mendekat ke arah gedung tinggi tempat major menghilang namun mereka tak ada disana.
"Ini tidak mungkin. Makhluk sebesar itu tak mungkin menghilang begitu saja." ucap Luka tampak sedang berpikir.
"Kenapa kamu tampak bingung, my queen." ucap Ray yg tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Luka.
Luka kaget dan berbalik, dia pun melihat Ray hanya tersenyum dan berdiri dengan santai.
"Kenapa kamu ada disini? Kemana major itu?" tanya Luka sambil menyipitkan matanya.
Ray langsung menjitak Luka saat itu juga.
"Aduh! Kenapa kamu menjitak kepalaku?" ucap Luka kesakitan.
"Aku kesini untuk melakukan itu. Kalau masalah major, tenang saja. Dia sudah aku lenyapkan." jawab Ray sambil menyipitkan matanya.
Kemudian Ray pun berbalik dan melompat pergi.
"Apa maksudnya tadi itu?" ujar Luka yg tak mengerti.

Kemudian Luka pun berjalan dan lewat di sebuah restoran makanan cepar saji. Dia berjalan sambil tertunduk memegang dagunya dan berpikir.
"Aku masih tidak mengerti. Kenapa Ray-kun membawa major menjauh? Lagipula bagaimana bisa dia menghilang bersama dengan makhkuk sebesar itu dalam sekejap? Teleportasi kah?" ujar Luka dalam hati.
"Megurine-senpai?" ucap Miku yg melihat Luka lewat.
Seperti mendengar suara orang memanggil namanya, Luka pun menoleh ke arah restoran cepat saji. Disana dia melihat Miku duduk dekat jendela dan melambaikan tangannya.
"Miku-chan?!" kata Luka yg sedikit terkejut melihat Miku ada disana.
Miku pun memberi tanda dengan tangannya mengajaknya masuk. Luka pun masuk kedalam, menghampiri Miku lalu duduk dengannya.
"Megurine-senpai habis dari mana?" tanya Miku.
"Hmm.. tidak dari mana-mana kok. Hanya jalan-jalan saja." jawab Luka.
"Maaf, bisa tolong dimatikan dulu musiknya." pinta Meiko pada Ebiet Beat B dan kawan-kawannya.
"Yo, emangna kunaon, yo?" tanya Ebiet Beat B.
"Anda mengganggu pelanggan yg lainnya." jawab Meiko.
"Naha kaganggu, abdi mah teu rumaos ganggu. Mun teu hayang kaganggu, kaditu weh jeung nu gagu." balas Ebiet Beat B.
"Tuan pelanggan, sebaiknya anda benar-benar mematikan musiknya. Karena kalau tidak.." ancam Meiko yg lalu meremas lengannya dan menciptakan suara otot yg menyeramkan.
Ebiet Beat B dan kawan-kawan pun melihat Meiko dengan wajah shock.
"Buru paehan, buru!" ucap Ebiet Beat B sambil memencet-mencet tombol di radio tape itu.
"Teu paeh-paeh. Kunaon teu paeh-paeh? Mun kieu mah bisa-bisa urang nu paeh." sambung Ebiet Beat B tampak panik.
"Kamu salah mencet tombol bro. Itu tombol rekam." sahut temannya.
Setelah sekian lama barulah tape itu benar-benar berhasil dimatikan.
"Terima kasih atas kerjasamanya, tuan pelanggan." ucap Meiko yg kemudian meninggalkan mereka.
"Menyeramkan.." komentar Miku saat melihat kejadian itu.

Di kediaman Gakupo, tampak Kamui sedang berlatih. Dia mengayunkan Enka nya berkali-kali. Walau sudah berkeringat cukup banyak, namun dia tidak berhenti mengayunkan katana itu.
"901.. 902.." ucap Kamui sambil mengayunkan katananya.
"Kamu yakin tidak cape mengayunkan pedang sampai ratusan kali seperti itu?" ujar Gumi yg duduk di samping dojo sambil ngeteh dan makan biskuit.
"Untuk latihan.. tidak ada.. kata cape. 908.. 909.." sahut Kamui sambil tetap mengayunkan katananya.
"Terserahlah.. saat ini aku lebih suka diam dan menenangkan diri daripada latihan. Aku takkan bisa latihan dengan hati yg ragu.." sambung Gumi lalu mencelupkan biskuitnya ke teh dan memakannya.
Gumi meminum tehnya di temani biskuit kelapa dan disinari cahaya mentari senja. Sementara Kamui tetap berlatih mengayunkan katana. Di kediaman Luka, terlihat Luka sedang membaca buku di ruang baca. Dia duduk di jendela dan tersorot sinar matahari yg kemerahan.
"Hari ini saat aku pergi ke rumah dan bertemu putriku, aku merasa begitu lega. Melihat senyuman dan tawa cerianya membuat lelahku lenyap. Pekerjaan ku terasa begitu melelahkan fisik, walau yg kerja hanyalah otakku saja. Tapi hati yg bahagia saat melihat putriku bisa memulihkan energiku." baca Luka di dalam buku yg sedang ia baca.
Luka tampak tersenyum saat membaca buku itu.
"Luka-sama.. mau mandi sekarang atau nanti malam?" tanya seorang maid dari luar pintu.
"Ah.. nanti malam saja. Sekarang kita makan malamnya apa?" tanya Luka.
"Sop ikan tuna, steak dan salad, Luka-sama." jawab maid itu.
"Wah.. nampaknya enak." ucap Luka tampak senang.
"Kalau begitu saya mau menyiapkannya dulu ya, Luka-sama." ujar maid itu lalu pergi.
"Ada apa dengan Luka-sama. Dari nada bicaranya dia tampak senang sekali." ujar maid itu dalam hati.
"Time for dinner." ucap Luka menutup bukunya dan meletakannya di meja.
Luka kemudian menutup jendela dan keluar dari ruangan itu. Terlihat buku yg ia letakan di meja itu bertuliskan, 'Diary of A'.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】