VocaWorld, chapter 49 - Angin, Cahaya dan Kegelapan
Siang yg tenang di akademi Voca, saat itu Gumi sedang duduk di tempat duduknya. Walau yg lain sudah keluar untuk istirahat, namun Gumi memilih untuk tetap duduk dan memperhatikan Dante yg sedang berada di kelas 1-B dan mengobrol dengan Ray. Dia memperhatikan Dante dengan sedikit khawatir.
"Setelah tahu dia itu pangeran kegelapan, entah kenapa aku selalu gemetaran kalau dia kesini." ujar Gumi dalam hati.
Dari arah pintu depan kelas, terlihat Kamui sedang memberi kode. Dari kode itu, Gumi tahu kalau Kamui hendak menyampaikan sesuatu dan menyuruhnya mendekat.
"Ada apa, Gaku-Gaku?" tanya Gumi setelah mendekati Kamui.
"Sudah kubilang jangan panggil aku dengan nama itu, Megu. Oh ya, aku kesini mau membahas rencana kita. Kita harus melakukannya sebelum mereka menyadari pergerakan kita." jawab Kamui.
"Ya, kita akan lakukan sepulang sekolah nanti. Sebelum semuanya terlambat. Karena orang bernama Shiro Ray itu bukan orang sembarangan." ujar Gumi.
"Memangnya seberapa hebat orang itu?" tanya Kamui.
"Gerakannya sangat cepat. Tapi jika aku kembali ke form originalku, aku pasti bisa mengalahkannya. Tenang saja. Gaku-Gaku, tangani pangeran kegelapan karena hanya kamu yg terakhir kali bisa mengalahkannya." jawab Gumi.
"Hmm.. baiklah." sahut Kamui.
Setelah itu Gumi pun kembali ke bangkunya dan kembali memperhatikan Dante.
"Aniki kenapa tiba-tiba tersenyum gitu?" tanya Dante.
"Tak apa, hanya saja nampaknya sesuatu yg menarik akan terjadi." jawab Ray yg saat itu membelakangi Gumi.
"Yami Dante adalah pangeran kegelapan yg menghilang. Tapi kenapa dia ada disini? Kenapa bersekolah disini? Apa yg sebenarnya ia rencanakan? Dan dia juga membawa seseorang yg hebat. Apa dia memang berencana membawa orang bernama Shiro Ray itu untuk bisa mengatasi kecepatanku?" gumam Gumi dalam hatinya.
Sewaktu pulang, Ray dan Dante terlihat berjalan berdua saja. Dari kejauhan, Gumi mengikuti mereka.
"Inilah kesempatanku. Aku akan menghadapi Shiro Ray dan membawanya menjauh dari pangeran kegelapan." ujar Gumi yg terlihat sudah dalam keadaan berubah dan memakai goggle nya.
"Dante, segeralah pakai earophoid mu dan berubah!" suruh Ray tiba-tiba.
"Kenapa Aniki?" tanya Dante heran tiba-tiba Ray menyuruhnya berubah.
"Sudah, jangan banyak tanya. Lakukan saja!" jawab Ray.
"Baiklah.." sahut Dante.
"Dance: Happy Rabbit!" ucap Gumi bersiap-siap menyerang Ray.
"Sekarang berdiri di belakangku dan berbalik!" suruh Ray lagi.
Dante pun mematuhinya, sementara Ray berjongkok di depan. Lalu Dante pun kena tendang Gumi tepat di wajahnya. Ray yg sedang berjongkok pun terlewati oleh Gumi dan tubuh Dante yg terpental oleh tendangan Gumi.
"Whooaa.. kenapa yg kena malah dia?!!" ucap Gumi terkejut kalau yg kena tendang oleh dia adalah Dante.
"Aduh.. siapa barusan yg menendang wajahku? Sakit bener dah.." ujar Dante sambil bangkit lagi.
"Wah-wah.. kalian nampaknya akrab sekali." ujar Ray dari belakang Gumi.
"Bagaimana kamu.. eh.." ucap Gumi berbalik, namun Ray sudah tak ada disana.
"Kemana dia? Dia belum berubah, tak mungkin dia bergerak dengan cepat." ujar Gumi tak percaya.
"Aniki jahat banget menggunakanku sebagai tameng." gerutu Dante.
"Tak apa kan? Kan sudah dalam keadaan berubah ini." jawab Ray dengan tenang berdiri di belakang Dante.
"Tapi, kenapa dia mau menyerangmu? Apa Aniki pernah melakukan sesuatu yg buruk padanya?" tanya Dante.
"Tidak. Alasannya adalah kamu." jawab Ray.
"Apa? Maksud Aniki dia cemburu karena Aniki selalu dekat denganku, jadi karena itu dia menyerang Aniki." ujar Dante.
"Dante, perkataanmu itu bisa membuat orang salah paham. Maksudku itu, yg jadi incaran mereka itu adalah kamu." ujar Ray.
"Apa?! Apa maksud Aniki dengan 'mereka'?" sahut Dante yg tak mengerti.
"Kita akan menghadapi para pahlawan yg berpikir telah mengalahkanmu di perang nada hitam." jelas Ray.
"Pahlawan? Tidak mungkin. Aku belum pernah melihat ada gadis berpakaian serba hijau di perang itu." ujar Dante tak percaya.
"Aku menyuruhmu untuk memperhatikannya, tapi kamu masih belum menyadarinya juga? Ya ampun.." ucap Ray sambil memegang jidatnya.
"Setelah melakukan pertarungan dengannya satu lawan satu, kamu pasti akan mengenalnya." sambung Ray.
"Yg harus ku serang adalah Ray." ujar Gumi yg berusaha lewat di samping Dante dan menyerang Ray.
"Takkan kubiarkan kau menyentuh Aniki." ujar Dante yg lalu mencegat Gumi.
Dante pun menendang perut Gumi dengan menggunakan lututnya. Tendangan itu cukup kuat, dan membuat Gumi terlempar jauh ke belakang menabrak bagian atap gedung dan mendarat di gedung yg ada di belakangnya.
"Aku tak tahu apa maksudmu, Aniki. Tapi nampaknya melawannya akan jadi sebuah pertarungan yg menarik." ujar Dante yg kemudian melompat mengejar Gumi.
Ray hanya tersenyum dan lalu memakai earophoidnya.
Di atap gedung, Dante berhadapan dengan Gumi satu lawan satu. Gumi menggunakan dancing nya lagi, dan dengan kecepatan tinggi dia menyerang Dante. Gerakan Gumi saat itu sangat cepat, dan Dante tidak bisa mengimbanginya. Dante menerima serangan dari depan, belakang, dan samping tanpa sempat bereaksi.
"Cih, sialan.. dia cepat sekali. Tapi, sepertinya aku pernah di serang seperti ini juga sebelumnya." ujar Dante sambil menerima serangan-serangan Gumi.
Kemudian Dante mengingat saat peperangan dulu ada gadis berambut hijau sebahu yg menyerangnya bertubi-tubi dengan gerakan yg sangat cepat. Dan mirip sekali dengan yg sekarang, setelah menyerang dari depan, dia menghilang dan menendang di belakang lalu hilang lagi dan menyiku kepalanya dari samping kiri lalu menghilang dan menendang kakinya dari samping kanan. Lalu mengakhiri dengan tendangan keras dari depan, tepat seperti yg dilakukan Gumi sekarang. Dante terpental ke belakang hingga menabrak pembatas atap gedung itu. Pembatas itu jatuh, tapi tubuh Dante berhenti. Dan untungnya, dibawah juga sedang sepi, sehingga tak ada yg tertimpa pembatas yg jatuh.
"Tak kusangka akan bertemu denganmu lagi, Angin senja." ujar Dante yg bangkit lagi.
"Oh.. kamu mengenaliku rupanya, Pangeran kegelapan." balas Gumi.
"Sepertinya tak ada gunanya lagi bagiku menyembunyikan jati diriku. Aku akan kembali ke form asliku." ujar Gumi yg kemudian melepas bagian pakaiannya yg berwarna hijau itu dan melemparnya ke belakang.
Dan terlihatlah pakaian aslinya yg berwarna jingga. Penutup hijau yg di lemparkan Gumi ke belakang nampaknya jatuh ke bawah. Saat menyentuh tanah, benda itu membuat sebuah gempa yg cukup kuat.
"Sekarang, aku bisa bergerak lebih bebas." sambung Gumi.
"Tatapan matamu memang menunjukkan keberanian, tapi nampaknya kakimu berkata lain." ucap Dante melihat ke arah kaki Gumi yg gemetaran.
"Diam!" bentak Gumi sedikit malu.
"Aku tak mungkin bisa mengalahkannya sendirian. Tapi, setelah mengalahkan Shiro Ray, Gaku-Gaku pasti akan datang kesini membantuku kesini. Jadi sampai saat itu aku akan bertahan sebisa mungkin." ujar Gumi dalam hatinya.
"Dance: Brutal!" ucap Dante.
Dante melesat ke arah Gumi dan seperti hendak menyeruduknya. Gumi menghindar ke samping, namun Dante kembali melancarkan pukulannya. Gumi menahan pukulan Dante dengan kedua tangannya. Tapi Dante maju dan mengadu kepalanya dengan kepala Gumi. Kemudian Dante menendang Gumi hingga terpental jauh, namun Gumi bisa kembali berdiri meski terseret ke belakang.
"Sial, dance macam apa itu. Gerakannya benar-benar acak. Selain itu dia juga lumayan cepat." ujar Gumi.
Sementara, Ray saat itu sedang berdiri dalam keadaan sudah berubah. Dan dihadapannya ada Kamui menatap dengan tatapan dingin.
"Ada apa ini? Seharusnya saya menghadapi pangeran kegelapan." ujar Kamui.
"Maaf mengecewakanmu, tapi nampaknya yg akan menjadi lawanmu adalah aku." sahut Ray.
"Saya sama sekali tak kecewa karena bisa berhadapan dengan anda, pahlawan legendaris yg mampu mengalahkan 10.000 pasukan sendirian, alias The White Light. Maaf kalau dulu saya tidak sopan pada anda." ujar Kamui sambil mencabut pedang katananya.
Sewaktu sore saat Ray meninggalkan Kamui berdua dengan Luka waktu itu, Kamui mengobrol dengan Luka.
"Sebaiknya jangan dekati dia lagi. Kamu tak ada apa-apanya dibandingkannya." ujar Luka.
"Hah? Memangnya dia siapa?" tanya Kamui.
"Bukankah kamu ada dalam perang nada hitam juga? Kamu pasti mengenalnya." jawab Luka.
"Darimana kamu tahu aku ada dalam perang itu?" tanya Kamui lagi.
"Aku punya sumber informasi terpercaya." jawab Luka.
"Begitu ya, Luka-tan.." ucap Kamui.
Kamui pun langsung kena pukul tepat di wajah oleh Luka.
"Sudah ku bilang jangan panggil aku begitu!" bentak Luka.
"Maaf.. oh ya, lalu siapa sebenarnya dia itu?" tanya Kamui setelah itu.
"Dia adalah The White Light." jawab Luka.
Kamui pun terkejut mendengar nama yg tak asing lagi di telinganya.
Kembali ke masa sekarang, Kamui sudah bersiap-siap menyerang Ray.
"Bersiaplah, The White Light!" ucap Kamui.
Ray hanya tersenyum saja saat itu. Kamui pun berlari ke arah Ray lalu berusaha menebasnya, namun Ray melompat ke belakang ke atas tiang listrik. Kamui pun melompat dan melakukan tebasan diagonal ke kanan atas, namun Ray melompat ke depan ke atap sebuah gedung. Dengan berpijak pada tiang listrik, Kamui melompat mengikuti Ray dan menebas ke arah bawah. Bagian pinggir gedung tampak hancur terkena tebasan Kamui, namun Ray masih bisa menghindar dengan melompat mundur.
"Ikuti aku, Angin Fajar." ujar Ray melompat sambil menghindari tebasan Kamui.
Kamui melompat mengikuti Ray dan terus melakukan tebasan menghancurkan bagian atas tiang, atap gedung, dan atap rumah tempat Ray berpijak sebelum melompat mundur.
"Sial, dia mempermainkanku." ucap Kamui dalam hatinya.
Saat itu, Gumi dan Dante masih dalam pertarungan yg sengit. Namun Gumi semakin lama semakin cepat dan menyulitkan Dante.
"Masih belum.." ucap Gumi yg kemudian menghilang dari pandangan Dante.
"Dia cepat sekali, mataku sudah tak bisa lagi mengikuti kecepatannya." ujar Dante.
Gumi muncul di depan Dante memukul perutnya, kemudian menghilang dan muncul di atas menyiku kepala Dante hingga tertunduk kemudian menghilang dan muncul lagi di belalang menendang kaki Dante hingga terjatuh. Tidak sampai di situ, Gumi muncul lagi di atas Dante dan menginjak Dante. Bagian lantai atap gedung itu terlihat hancur karena serangan Gumi itu. Gumi melompat ke belakang dan mendarat di pinggir gedung.
"Kelihatannya aku yg sekarang sudah pasti bisa mengalahkanmu, pangeran kegelapan." ujar Gumi tampak yakin.
"Benarkah begitu?" ucap Dante dari balik pekatnya asap debu.
Terlihat bayangan seseorang kembali berdiri dari balik asap debu.
"Selain indah, ternyata kakimu itu cukup kuat juga ya, Angin Senja." sambung Dante matanya yg merah menyala mulai terlihat.
"Cih.." ucap Gumi kesal.
Sementara, Ray dan Kamui terus saling kejar-kejaran. Tidak lama mereka pun sampai di pinggir sungai, Ray mendarat dan berhenti disana. Kamui mendarat tak jauh dari tempat Ray.
"Kenapa dia bisa menghindari seranganku dengan begitu mudah? Gerakanku memang tak secepat Gumi, tapi menghindari tebasanku itu hampir mustahil. Kecuali dia sudah tahu arah tebasan pedangku sejak awal." ujar Kamui dalam hati terlihat bingung.
"The White Light-dono, bolehkah saya bertanya?" pinta Kamui.
"Ya silahkan.." sahut Ray sambil tersenyum.
"Kenapa anda berpihak pada pangeran kegelapan? Anda adalah seorang pahlawan." tanya Kamui.
"Memangnya salah ya kalau aku berteman dengannya?" jawab Ray.
"Tentu saja salah! Dia adalah orang jahat." sahut Kamui.
"Bagiku, tidak ada manusia yg jahat. Yg jahat adalah perbuatannya." balas Ray.
"Sial, nampaknya dia sudah diperalat oleh pangeran kegelapan. Aku tak punya pilihan lain selain melenyapkannya." kata Kamui dalam hatinya.
Kamui pun kembali maju dan menyerang Ray. Kamui menebas diagonal ke kiri bawah, Ray menghindarinya hanya dengan memiringkan tubuhnya ke arah kirinya. Melihat hal itu Kamui merespon dengan tebasan ke kanan bawah, namun Ray bergerak kanan sebelumnya dan saat tebasan itu Ray hanya mencondongkan tubuh ke arah kanannya. Kamui pun maju satu langkah dan melakukan tebasan horisontal ke kiri. Ray hanya melompat kebelakang dan menghindari dengan mudahnya.
"Tidak mungkin, dia menghindarinya hanya dengan gerakan sederhana seperti itu." ujar Kamui terkejut melihat Ray yg mampu menghindari semua tebasannya.
"Haaaaaa...!!!" teriak Kamui melakukan serang lagi.
Kamui melakukan tusukan ke arah ulu hati Ray, Ray hanya melekukan tubuhnya dan menghindari tusukan tersebut. Lalu Kamui, menebas ke kanan atas, Ray mencondongkan badannya ke belakang dan mampu menghindar. Kamui maju satu langkah dan melakukan tebasan bulan sabit dari kiri atas ke kiri bawah. Ray hanya menunduk lalu berputar ke samping Kamui menghindari tebasan Kamui dan menangkap lengan atas Kamui dengan tangan kanannya.
"Seperti yg diharapkan dari angin fajar." ujar Ray sambil menatap mata Kamui dan tersenyum.
Ray pun melepaskan lengan Kamui, dan Kamui pun langsung berusaha menebasnya, Ray pun langsung berjongkok menghindar. Kamui kembali melakukan tebasan melengkung mirip bulan sabit dari kanan atas ke kiri atas, namun Ray bersalto ke belakang. Tidak sampai disitu, Kamui kembali melakukan tusukan. Ray menghindarinya dengan bergerak ke samping. Kamui pun melakukan tebasan beruntun, namun Ray selalu bisa menghindarinya. Kamui mengejar Ray yg bergerak ke samping atau kebelakang untuk menghindari serangannya.
"Sial! Sial.. sial.. sial! Kenapa dia bisa menghindarinya terus? Dia seperti bisa membaca gerakanku." kata Kamui dalam hati terlihat kesal dan berhenti sejenak.
Kamui terlihat kelelahan. Sementara Ray hanya berdiri dengan santai.
"Saya mengerti sekarang, anda membaca serangan saya dari sikap pedang saya sebelum menebas. Iya kan?" ujar Kamui.
"Kalau kamu berpikir begitu, maka mungkin saja benar." sahut Ray.
"Kalau begitu, ijinkan saya menggunakan teknik ini.." ucap Kamui sambil menyarungkan kembali pedangnya.
"Iai technique: Batto jutsu!" sambung Kamui sambil melangkah maju.
Dalam sekejap dia sudah berada di hadapan Ray. Ray melompat kebelakang untuk menghindari.
"Naga terbang di atas cahaya fajar!!!" teriak Kamui.
Ternyata itu bukan hanya sekedar tebasan kilat. Tebasan itu juga menciptakan gelombang angin yg kemudian menghantam Ray dan membuatnya terpental jauh. Saat itu Ray membelakangi sungai, dan dia terpental ke sisi lain sungai tersebut dan menghantam pematang sungai itu.
"Dan sebagai penghabisan, terimalah ini!" ucap Kamui mengambil sikap meletakan gagang pedang di depan keningnya dan menjulang ke atas.
"Enka!" ucap Kamui dan seluruh tubuhnya dibalut cahaya ungu.
Dari pedangnya ke luar cahaya menuju ke langit. Dante yg sedang berhadapan dengan Gumi pun menyadari cahaya itu.
"Itu.. jangan-jangan.." ucap Dante tampak terkejut.
"Haaaaa...!!" teriak Kamui dan muncul angin yg berhembus cukup kuat di sekitar Kamui dan cahaya ungu itu semakin terang.
"Itukah teknik yg membuat Dante mundur? Menarik.." ujar Ray yg belum bangun dan masih terduduk di pematang sambil tersenyum.
"Hyaaa..!" ucap Kamui menebaskan ke depan ke arah Ray.
Cahaya ungu yg menjulang ke langit itu pun mengarah ke Ray.
"Kamikaze!!!" teriak Kamui yg melakukan tebasan berputar ke kanan saat cahaya itu mengenai Ray.
Lalu muncul lah angin tornado besar berwarna ke unguan.
"Kelihatannya dia sudah berakhir. Takkan ada yg selamat dari teknik milik Gaku-Gaku itu." ujar Gumi.
Dante terlihay shock melihat angin tornado itu. Bahkan angin itu masih cukup kuat terasa ke tempat Dante dan Gumi bertarung.
"Aniki.. tidak mungkin.." ucap Dante tak percaya.
Dante pun melesat melewati Gumi dengan sangat cepat, dan Gumi pun tampak terkejut.
"Aniki!!!" teriak Dante melompat ke arah angin itu.
Tangannya menjulur ke depan seakan hendak meraih sesuatu.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.