VocaWorld, chapter 56 - Senja Sebelum Gelap
Diatas sebuah jembatan di Voca Town, muncul api hitam yg menyala tinggi ke atas dan hembusan angin yg berwarna jingga. Dan terlihat Gumi dan Dante yg sudah berubah.
"Wow.. kamu tampak menganggumkan dengan pakaian itu." puji Dante dengan nada tenang.
"Diam!" bentak Gumi yg lalu melompat dan menendang ke arah Dante.
Dante pun menghindar dengan melompat ke atas. Namun Gumi lalu menghilang, dan muncul di samping Dante lalu menendang Dante hingga terpental ke arah sungai. Dante pun terpantul 2 kali dipermukaan sungai lalu tercebur dan tenggelam. Tidak lama kemudian Dante muncul kembali dengan berenang.
"Sial, aku lupa kalau aku bertarung diatas sungai." ucap Dante sambil berenang-renang biar tidak tenggelam.
Gumi melompat ke pinggir jembatan lalu melompat ke sungai dengan cepat.
"Dance: Happy Rabbit." ucap Gumi lalu melangkah di atas air.
"Whoa! Itu licik! Kau bisa berjalan diatas air!" kata Dante terkejut dan merasa tak terima.
"Instrument: Devil Bone Guitar!" teriak Dante memunculkan gitarnya.
Lalu dia memetik senar gitarnya dengan kuat, dalam sekali hentakan dia membuat air disekitarnya menyisih dan membuat permukaan disekitarnya tak berair lagi.
"Dan sekarang.. Devilish Gun!" ucap Dante membuat sebuah nada tunggal dan menembakam api hitam ke arah Gumi.
Gumi pun menghindar ke samping dengan kecepetan tinggi. Api itu mengarah ke jembatan dan lalu di tepis oleh Ray yg dalam keadaan berubah yg sedang duduk menonton di pinggir jembatan.
"Hati-hati kalau menembakan api hitammu itu, Dante. Kamu bisa mengenaiku." ucap Ray dengan santai. "Maaf Aniki!" sahut Dante.
Dia mendarat di tepian sungai lalu memakai goggle nya. Dan seketika dia menghilang, dan menendang kepala Dante dari belakang. Setelah itu Gumi muncul di depan dalam sekejap dan menendang perut Dante. Kemudian dia muncul di samping dan menendang kaki Dante sehingga sekarang Dante tampak melayang diudara. Gumi lalu menendang Dante ke atas lalu melompat dan melakukan tendangan salto. Dante pun terpental ke tepian sungai. Gumi lalu menghilang lagi dan muncul di tepian yg ada di seberang Dante.
"Wah.. yg tadi itu lumayan juga.." ujar Dante tampak sudah bangkit lagi.
Dante melihat ke seberang dan melihat Gumi sudah melakukan start jongkok.
"Apa ini? Lari 100 meter?" komentar Dante saat melihatnya.
Gumi pun melesat menghilang kearah Dante. Air sungai tampak hampir terbelah karenanya.
"Super Rabbit Kick!" teriak Gumi sambil menendang Dante dengan kedua kakinya sambil berbalik.
Karena kekuatan tendangan dan bantuan momentum dari lari cepat tadi, itu membuat Dante terpentul sangat jauh ke belakang hingga menghancurkan beberapa atap rumah dan mendarat di dekat hutan.
"Jangan terlalu banyak bermain-main, Dante." ujar Ray yg masih menonton dari jembatan.
"Dia itu, sejak kapan dia disana? Tadi aku berpijak tepat di sebelahnya sebelum melesat kemari. Tapi aku sama sekali tidak menyadarinya." ujar Gumi sambil melihat ke arah Ray.
Dari tempat Dante jatuh, terlihat Dante kembali bangkit sambil membersihkan rambutnya dari tanah.
"Ya ampun, Aniki pasti akan marah padaku. Saatnya untuk serius." ujar Dante.
Kemudian Dante pun melompat dan melesat kembali ke arah sungai. Dia melompat-lompat di atap rumah-rumah yg ia lewati. Kemudian api hitam mulai muncul dari kepala gitarnya.
"Hahahaha.. Devilish Slash!" teriak Dante melakukan melakukan slashing.
Api hitam berbentuk sabit itu pun mengarah ke arah Gumi. Gumi yg menyadari kedatangan api hitam itu pun segera melompat ke atas untuk menghindar.
"Api hitam itu?! Dia masih bisa bertahan dengan serangan terkuatku?!" ujar Gumi melihat ke arah api hitam dibawahnya.
Api hitam itu pun mengenai dua sisi pematang sungai beserta sungainya. Sungai itu tampak terbelah dua dan rerumputan di pematang itu tampak terbakar. Sementara ujung apinya mengarah kelangit akibat terhalang pematang yg miring.
"Itu terlalu kuat kan? Dasar Dante itu, sama sekali tidak punya perkiraan." komentar Ray.
Gumi yg masih melayang di udara pun dikejutkan dengan Dante yg muncul tepat di depannya.
"Haha.. Dance: Brutal!" kata Dante lalu mencengkeram pundak belakang kepala Gumi dan mendorongnya ke bawah.
Gumi pun menghantam tanah dengan cukup keras.
"Masih belum, aku masih bisa.." ucap Gumi berusaha berdiri lagi.
"Ha!" ucap Dante yg mendarat di depan Gumi lalu menyundul kepalanya sehingga Gumi jatuh kembali.
"Aduh! Sakit.." rintih Gumi memegangi kepalanya sambil terkapar di tanah.
"Sebaiknya kau berhenti disini. Kau yg saat ini takkan pernah bisa mengalahkanku. Jadi menyerahlah.." ucap Dante.
"Jangan bercanda! Aku takkan menyerah padamu!" bentak Gumi sambil menatap tajam ke arah Dante.
"Baiklah kalau begitu." sahut Dante mulai memetik gitarnya lagi memunculkan api hitamnya.
"Cukup!" larang Ray sambil memegang pundak Dante.
Terlihat ada efek air menciprat di sungai.
"Dia.. cepat sekali?!" ucap Gumi terkejut.
"Takkan menyenangkan jika menghabisinya saat dia masih seperti ini." ujar Ray.
"Baiklah.." sahut Dante menghentikan suara gitarnya dan api hitam di gitarnya pun menghilang.
Kemudian Ray dan Dante pun berjalan menjauh dari Gumi. Gumi tampak kesal karena sudah dipermalukan seperti itu.
Gumi pun sampai di kontrakan nya. Dia tampak kesusahan membuka pintu. Dia merintih kesakitan sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Kemudian dia pun menjatuhkan dirinya di kasur saat sampai ke kamarnya.
"Aku harus menjadi lebih kuat lagi, menjadi lebih hebat lagi. Aku tak boleh kalah darinya. Aku tak boleh kalah.." ujar Gumi yg lalu kembali ke wujud semula.
Kemudian HP Gumi pun berbunyi. Gumi dengan kesusahan mencoba mengambil HPnya yg saat itu berada diatas meja.
"Ternyata dari Miku-chan.." ucap Gumi dengan lemah melihat layar HPnya sambil tiduran terlentang.
Kemudian dia menerima panggilan dari Miku itu.
"Ah.. Miku-chan ada apa?" kata Gumi melalui HPnya.
"Gumi-chan! Kamu lagi ngapain?" tanya Miku.
"Lagi tiduran aja." jawab Gumi.
"Eh, kenapa kamu terdengar lemah gitu? Kamu sakit?" tanya Miku lagi.
"Tidak kok. Aku tidak apa-apa." jawab Gumi.
"Beneran? Kalau kamu sakit sebaiknya istirahat aja di rumah. Entar aku kesana deh jenguk kamu. Aku masakin sop bawang daun spesial." ujar Miku.
"Ti-tidak, terima kasih. Aku beneran kok tidak apa-apa." sahut Gumi.
"Lagipula apaan tuh sop bawang daun spesial? Jangan-jangan isinya cuma bawang daun doang. Tak mau dah, entar aku jadi bau bawang." komentar Gumi dalam hatinya.
"Oh ya, besok Gumi-chan ada kegiatan tidak?" tanya Miku.
"Tak ada kok. Memang kenapa?" jawab Gumi.
"Nanti aku main ke kontrakan kamu boleh kan?" tanya Miku.
"Boleh kok. Emang kamu tahu kontrakanku dimana?" jawab Gumi lalu balik bertanya.
"Tidak." jawab Miku dengan singkat.
Gumi pun langsung nepuk jidat saat mendengarnya.
"Ya udah, nanti aku tungguin di rumahnya Gaku-Gaku." ujar Gumi.
"Gaku-Gaku? Siapa itu?" tanya Miku tidak kenal.
"Itu lho samurai yg otaknya agak sengklek itu." jawab Gumi.
"Eh? Aku tidak mengerti. Maksudnya siapa sih?" tanya Miku lagi masih tidak mengerti.
"Ya udah, kamu tinggal belok kanan pas dijalan dekat sungai itu. Rumahnya diujung banget dekat hutan yg dikaki gunung." jelas Gumi.
"Oohh.. baiklah.." sahut Miku.
"Jadi mau jam berapa kita ketemuannya?" tanya Gumi.
"Pagi-pagi aja, soalnya kalau siang panas. Jam setengah 8 pagi gimana?" jawab Miku.
"Oke. Aku tunggu jam 8 pagi ya." sahut Gumi.
"Kalau gitu sampai jumpa besok.." ujar Miku yg lalu menutup panggilan itu.
Gumi pun meletakan HP itu di sampingnya.
"Besok kah.. semoga saja aku tak bertemu dengan mereka berdua lagi.." ujar Gumi sambil memejamkan matanya.
Di kediaman Luka, terlihat Luka masih membaca buku hingga hampir habis.
"Sore ini aku, istriku dan Luka kecil kami menghabiskan liburan dihari terakhir musim panas kami dengan melihat matahari terbenam. Matahari itu terlihat indah sekali. Namun Luka kecil kami terlihat lebih indah saat terpesona melihat keindahan matahari saat terbenam. 'Papa, apa matahali selalu seindah itu? Kenapa kalau siang aku tak bisa melihat matahali seindah ini?' tanyanya. Rasa ingin tahunya terlihat imut sekali. Aku pun tidak tahan untuk menjawabnya. Akhirnya aku jawab, 'Tidak begitu kok. Matahari itu sama saja dari pagi siang sore sampai malam pun. Hanya saja kalau siang mereka berada lebih dekat diatas kita, makanya tampak menyilaukan dan tak terlihat indah. Sama seperti seorang bintang, mereka akan terlalu menyilaukan saat kita melihat dari dekat. Mereka terlalu jauh untuk dijangkau.'. Namun dia hanya memiringkan kepalanya dan berkata, 'Eh, aku tidak mengerti, papa.'. Ibunya saat itu hanya cermberut dan menatap tajam ke arahku." baca Luka di buku itu.
"Tentu saja mama cermberut, papa sih ngajarin yg tidak akan dimengerti oleh anak kecil." komentar Luka sambil tertawa kecil.
Luka kemudian meminum minuman dinginnya yg tersisa sedikit itu hingga habis. Dia melanjutkan membaca buku 'Diary of A' itu hingga halaman terakhir.
"Mungkin aku harus membaca lanjutannya." ucap Luka tampak senang sambil menutup bukunya kemudian masuk ke dalam rumah.
Luka pun pergi ke ruang baca dan lalu meletakan 'Diary of A' dan mengambil 'Diary of B' yg berada disebelahnya. Lalu Luka duduk di meja baca dan kemudian membaca buku itu.
"Liburan musim panas ku telah berakhir. Aku sangat senang bisa menghabiskan liburanku yg mungkin untuk yg terakhir ini bersama istri dan anakku. Sekarang aku harus kembali ke pekerjaanku. Pekerjaan yg menyakitkan hati." baca Luka dalam buku itu.
"Apa ini? Apa ada sesuatu yg aku lewatkan? Memangnya pekerjaan papa itu apa? Bukankah dia hanya seorang pengusaha?" ujar Luka tampak terkejut saat membacanya.
Kemudian Luka meneruskan membacanya karena penasaran.
"Harusnya aku tak menerima pekerjaan ini. Namun aku tak punya pilihan lain karena ini keputusan bersama yg diambil oleh perserikatan perusahaan dan pemerintahan di Voca Town. Kota ini hanyalah sebuah kedok cantik untuk tempat kematian anak-anak berbakat." baca Luka lagi merasa semakin terkejut.
Luka pun menutup buku itu dan mendekati rak buku.
"Tunggu.. rasanya ada yg aneh. Apakah aku salah mengurutkannya?" ujar Luka sambil berpikir dan melihat ke bagian paling bawah.
Luka tampak memperhatikan abjad yg tertera pada buku-buku di rak itu dengan buku ditangannya. Tidak lama kemudian dia seperti mengingat sesuatu.
"Begitu rupanya.." ucap Luka sudah mengerti.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.