Posts

Showing posts from 2015

Memo, chapter 69 - Memungut dan Mencari 5

Arya berjalan dengan malas karena tak menemukan tempat untuk bersantai. Sambil meminum es buahnya, Arya melihat ke sekitarnya memperhatikan siswa-siswa yang sibuk dengan kegiatan ekskul nya masing-masing. "Arya! Disini!" panggil Shinta dari kejauhan. Disampingnya juga ada Alice yang nampak sedang duduk beristirahat. Namun yang aneh adalah, tak jauh dari mereka ada Ani yang memperhatikan nona nya itu secara sembunyi-sembunyi. "Apa yang sedang dilakukan oleh maid itu? Kupikir tadinya dia sudah pulang." pikir Arya sambil berjalan menuju ke tempat Shinta dan Alice. Shinta pun berlari menyambut kedatangan Arya. "Apa kamu menemukan senior Sindy?" tanya Shinta. "Ya, dia ada di ruang OSIS katanya." jawab Arya dengan santai. "Kenapa tidak dijemput?" tanya Shinta lagi. "Tidak mungkin lah. Bisa saja kan senior kesana karena ada urusan OSIS. Jadi aku tidak mungkin mengganggu pekerjaan OSIS nya." jawab Arya. "Hmm.. iya juga s...

VocaWorld, chapter 179 - Sinkronisasi Perasaan

Miku dengan menggunakan dance 'Cherry Blossom Princess' nya mampu menghabisi seluruh darksider yang ada di pusat kota dengan mudahnya. Melihat seluruh pasukannya dihabisi, Leviathan yang ada di atap gedung tidak bisa tinggal diam. "Sialan! Perempuan macam apa dia ini, terlalu kuat. Pasukan darksider bahkan yang telah berevolusi sekalipun dilibas dengan mudahnya. Sepertinya aku perlu menggunakannya." gerutu Leviathan terlihat kesal. Leviathan kemudian mengangkat tongkat nya keatas. Ujung tongkat tersebut bersinar, dan bumi bergetar. "Ada apa ini?!" ucap Len. "Gempa bumi?!" tambah Rin. "Diatas!" kata Miku melihat cahaya dari atas gedung. Keberadaan Leviathan telah diketahui oleh Miku, Rin dan Len. Padangan mereka bertiga pun berpusat pada cahaya tersebut. "Sepertinya dia yang terakhir. Ayo kita serang!" ajak Rin. "Kenapa malah jadi kamu yang mimpin, Rin?" protes Len. "Mau bagaimana lagi, Gumi-neechan kan ti...

Memo, chapter 68 - Memungut dan Mencari 4

Arya pergi meninggalkan mesjid karena diceramahi oleh Ikhsan. Dia berjalan menuju ke kantin. Di kantin dia melihat ada seseorang yang tidak asing sedang makan disana. Dan itu adalah Rere yang tampak sedang makan dengan wajah sebal. "Jadi dia masih disini ternyata. Kupikir dia sudah pulang tadi tuh." gumam Arya sambil lewat dibelakang Rere. Tiba-tiba kerah baju bagian belakangnya ditarik oleh Rere. Arya pun terduduk di kursi di seberang tempat duduk Rere. "Aduh! Apaan sih.." gerutu Arya yang kesakitan didudukan secara paksa seperti itu. Rere duduk kembali dikursinya dan menatap Arya dengan tajam. "Gawat nih, sepertinya aku bakal di interogasi." ujar Arya dalam hati. Arya pun memalingkan wajahnya melihat ke arah lain. "Kau bilang mau memungut sampah kan? Lalu sedang apa kau disini?" tanya Rere dengan suara sangar. "Ah.. kalau itu sih.." sahut Arya sambil tersenyum aneh. Melihat senyum aneh diwajah Arya, Rere langsung menatap curi...

VocaWorld, chapter 178 - Pertempuran Di Utapia

Pertempuran terjadi di pusat kota Utapia. Kelompok Miku dipimpin oleh Gumi berhasil menerjang dan menghabisi barisan pertahanan pasukan darksider yang sedang menghancurkan kota. "Ini akan mudah." ucap Gumi dengan wajah yakin. Sementara Miku dengan dance 'Rolling Girl' nya berhasil menghabisi banyak minor dalam waktu yang singkat. Begitu pula dengan kerjasama Rin dan Len yang mengagumkan. "Daritadi kita hanya melawan pasukan ecek-ecek doang, pada kemana boss nya?" gerutu Len. "Mana aku tahu! Jangan tanya aku!" sahut Rin. Saat Gumi sedang melawan para minor, tiba-tiba ada bayangan dari atasnya. Gumi melihat keatas dan terkejut. Gumi melompat mundur dan tiba-tiba saja tanah didepannya hancur seketika. "Oh.. akhirnya muncul juga." ujar Gumi. "Dari nada bicaramu sepertinya kau sedang menungguku, Angin Senja." balas Dante yang sosoknya mulai nampak setelah asap debu bekas hancurnya tanah tadi menghilang. Melihat kepercayaan di...

Memo, chapter 67 - Memungut dan Mencari 3

Sindy tiba-tiba saja menghilang. Arya, Shinta dan Alice tampak terkejut dengan menghilangnya Sindy saat ini. "Kak Sindy pergi kemana?" ucap Alice. "Hmm.. mana aku tahu. Aku saja baru datang." sahut Arya. "Jangan-jangan dia diculik?!" tukas Shinta. "Tidak mungkin lah. Kalau dia diculik, orang-orang pasti pada lihat. Lagipula di gerbang depan kan ada satpam." ujar Arya. "Hmm.. benar juga." sahut Shinta tampak berpikir keras. "Kalau begitu bagaimana kalau kita cari saja?" usul Alice. "Lalu bagaimana dengan mengumpulkan sampahnya?" tanya Arya. "Sekarang bukan saatnya memikirkan hal itu! Kak Sindy hilang! Bisakah kamu lebih khawatir sedikit!" bentak Alice tampak marah dengan wajah imutnya. "Y-ya.. kurasa kamu benar." sahut Arya sambil garuk kepala. Mereka bertiga pun terdiam untuk berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kita berpencar? Dengan begitu kita bisa mendapatkan petunjuk tentang ke...

Memo, chapter 66 - Memungut dan Mencari 2

Arya berganti pakaian di dalam toilet. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. "Ada orangnya." ucap Arya memberitahukan pada yang mengetuk itu kalau dia sedang ada didalam. Tapi ternyata dia mengetuk pintu lagi. "Sudah kubilang kan ada orangnya." ujar Arya mulai risih. Tapi orang tersebut terus mengetuk pintunya. "Yang benar saja, kamu itu anaknya haji Bolot atau siapa. Sudah kubilang kan ada orangnya!" bentak Arya karena kesal. "Maaf, tapi ini bukan lagi ngetuk pintu kok. Cuma lagi masang tanda kalau toiletnya sedang rusak." jawab seseorang dari luar. "Eh???" ucap Arya malu karena salah sangka. "Kenapa tidak bilang dari awal!!!" bentak Arya. Tapi tak ada yang menjawab, nampaknya orang tersebut sudah pergi setelah menjawab Arya tadi. Wajah Arya memerah karena masih malu akan hal barusan. "Sebaiknya aku cepat-cepat dah keluar dari sini." gerutu Arya sambil mempercepat ganti pakaiannya. Setelah selesai berganti p...

VocaWorld, chapter 177 - Tanpa Diketahui

Kota Utapia adalah kota yang paling dekat dengan Voca Town. Kota itu kini dijadikan markas dari pasukan militer pemerintah dan banyak warga Voca Town yang diungsikan kesana. Namun tanpa mereka ketahui, saat ini sebuah pasukan besar dari arah pantai hendak menyerbu kota tersebut. "Kita sudah sampai." ucap Leviathan. "Ya, aku sudah tahu." sahut Dante. "Lalu apa selanjutnya?" tanya June. "Mari kita beri kejutan dengan perayaan kembang api." jawab Dante mengeluarkan gitarnya. Dante kemudian memainkan gitarnya hingga tercipta api hitam yang semakin membesar di ujung gitarnya. Lalu ia mengendalikan api itu dengan tangannya dan membelahnya menjadi 5 api berukuran lebih kecil. "Mini Armageddon!" ucap Dante sambil mengayunkan tangannya ke depan. Kelima bola api itu melesat ke arah kota. Di tengah kota, para pengungsi dan warga kota Utapia sama sekali tidak mengetahui bahaya mengancam mereka. Mereka tetap melakukan aktifitas seperti biasan...

Memo, chapter 65 - Memungut dan Mencari

Sore harinya sepulang sekolah, Arya dan anggota ekskul Sastra yang lainnya berkumpul di halaman depan sekolah. Mereka duduk-duduk di kursi menunggu kedatangan Sindy yang masih belum datang. "Kemana perginya senior Sindy? Kok belum datang juga." tanya Shinta yang tampak sudah tidak sabar. "Mungkin ada urusan dengan OSIS sebentar. Makanya agak lama." jawab Arya. "Mmhh.." Shinta tampak mengerti. "A-Arya.. bolehkah aku bertanya?" ujar Alice dengan gugup. "Mau nanya apa?" sahut Arya sambil menoleh ke arah Alice. "Sebenarnya seperti apa hubunganmu dengan kak Sindy?" tanya Alice. "Hubunganku dengan senior ya. Hmm.. mungkin hanya sebatas senior dan junior. Atau teman se-ekskul juga bisa." jawab Arya. "Kenapa gak jelas banget jawabnya? Mencurigakan.." komentar Shinta sambil menatap curiga pada Arya. Tak lama kemudian datanglah Sindy. Tampak Sindy mengenakan pakaian olahraga dan dia juga membawa sebuah keran...

Memo, chapter 64 - Menyampaikan 2

Waktu istirahat sudah hampir selesai, Arya masih belum menyampaikan pesan dari seniornya pada Alice dan Shinta. Arya pun tampak depresi duduk dikantin. "Aku harus memikirkan cara menyampaikan pesan tanpa harus mengatakannya langsung. Tapi bagaimana?" gumam Arya sambil menempelkan pipinya di meja kantin. "Woy Arya! Tumben kamu ada dikantin. Ada apa?" sapa Fajar. "Tolong jangan ganggu aku dulu. Aku sedang berpikir." sahut Arya. "Eh, memangnya kamu lagi mikirin apa sih? Tidak biasanya kamu kelihatan bingung banget." tanya Fajar. "Bukan urusanmu." jawab Arya dengan malas. "A-.. kenapa hari ini kau dingin banget padaku. Apa kau membenciku atau semacamnya?" tanya Fajar. "Tidak juga." jawab Arya sambil memegang dagu. "Dari jawabanmu yang singkat-singkat itu. Jelas banget kau membenciku." tukas Fajar. "Kalau kamu terus menggangguku seperti itu sudah pasti aku akan membencimu." sahut Arya dengan p...

VocaWorld, chapter 176 - Rencana dan Keterpaksaan

Di dalam dojo Gakupo, Miku dan yang lainnya sudah berkumpul. Tampak semuanya sudah hadir kecuali Ray dan Luka. "Mana nih orang yang ngumpulin kita? Dia yang nyuruh kita ngumpul, tapi dia sendiri malah telat." gerutu Miku yang tampak tidak sabar. "Sudahlah, tunggu dulu sebentar. Mungkin dia sedang mempersiapkan sesuatu dulu." sahut Meiko. "Mmm.. kenapa Meiko-san malah belain dia!" protes Miku sambil cemberut menggembungkan pipinya. "Ti-tidak kok. Aku tidak sedang membela siapapun." sanggah Meiko. "Oh ya, ngomong-ngomong Luka-oneesama kemana?" tanya Gumi. "Megurine-san tadi dia katanya mau pulang dulu ke rumahnya sebentar. Tapi kok aneh ya, dia belum datang juga." jawab Meiko. "Jangan-jangan sudah terjadi sesuatu dengan Luka-tan. Biarkan saya pergi untuk menjemputnya." ujar Kamui langsung berdiri dan hendak keluar. "Tidak perlu. Sebentar lagi dia juga akan datang." ujar Ray yang ternyata sudah berada ...

Memo, chapter 63 - Menyampaikan

Saat istirahat, Arya pergi ke kelas X-3 untuk menemui Alice. Namun saat sampai di depan kelas X-3 Arya malah jadi ragu. Ia terlalu malu untuk masuk ke dalam kelas. "Ba-bagaimana ini? Aku tiba-tiba jadi gugup gini. Aku cuma perlu masuk kelas dan memberi tahu tuan puteri itu tentang kegiatan ekskul selanjutnya. Tapi.. kok rasanya berat banget.." ujar Arya dalam hati. Arya berdiri terdiam di depan pintu kelas X-3. Hal itu menarik perhatian semua murid kelas X-3 yang kebetulan ada didalam kelas. "Hei, laki-laki itu sedang apa ya berdiri di depan pintu sejak tadi?" ujar salah seorang siswi pada temannya. "Ja-jangan bilang dia sedang menunggu orang lewat buat malakin mereka." tukas teman siswi tadi. "Eh, jadi dia itu preman?" tanya siswi tadi. "Lah emang kamu tidak tahu. Dia kan yang waktu itu jahatin ketua OSIS." jawab temannya tersebut. "Eh, yang benar?" sahut siswi tadi. "Entah kenapa aku merasakan hawa dingin hendak...

VocaWorld, chapter 175 - Orang Yang Menghilang

Di dalam kamar yang tersoroti cahaya matahari senja, Gumi membaca buku yang ia temukan di pesawat Dante. Sambil bersandar ke ranjang, Gumi membaca buku tersebut dengan serius dan tampak sorot matanya memancarkan suatu kesedihan. "Aku tak menyangkanya sama sekali. Dia melalui banyak kesulitan sendirian." gumam Gumi saat membaca buku tersebut. Gumi terus membaca buku itu hingga ia dikejutkan dengan suara dari arah pintu kamar. Seseorang mengetuk pintu kamar tersebut. "Gumi-chan, segeralah turun. Makan malamnya sudah jadi nih." ujar Meiko. "Ya, sebentar.." sahut Gumi menutup buku yang dibacanya kemudian meletakannya di atas kasur. Gumi pun lekas keluar dari kamar, dan menuju ke arah ruang tengah untuk makan bersama yang lain. "Shiro-san belum kembali?" tanya Gumi yang tak melihat Ray di ruang tengah tersebut. "Benar juga, dia pergi kemana lagi?" ucap Meiko. "Sudahlah biarkan saja dia. Paling-paling besok juga dia balik lagi....

Memo, chapter 62 - Senior Junior 5

Saat istirahat, Arya dan teman-temannya berbincang-bincang di dalam kelas. Seperti biasanya Arya tidak keluar kelas saat istirahat dan malah membuka internet melalui ponsel pintarnya. "Sekarang lagi jamannya batu akik. Dimana-mana aku selalu melihat ada orang mengasah batu. Bahkan ayahku sendiri pun beberapa hari ini tidak bekerja karena sibuk menghampelas batu. Bagaimana menurut pendapat kalian tentang hal ini?" ujar Fajar. "Peduli amat." sahut Digna. "Bukan urusanku." balas Arya yang sibuk dengan ponselnya. "Kejam banget! Apa begitu cara kalian memperlakukan teman kalian?" gerutu Fajar. "Tentu saja." sahut Digna. "Ya." balas Arya. Fajar pun tampak shock mendengarnya. "Kalian jahat! Uwaaa..." ucap Fajar keluar dari kelas dengan berlinang air mati. "Apa menurutmu kita terlalu kejam padanya?" tanya Digna. "Tidak kok. Sudah sejak pagi kita bahas batu akik terus. Apa tidak bosan coba? Padahal ki...

VocaWorld, chapter 174 - Perasaan Terpendam

Kamui melihat Luka yang sedang duduk di teras pinggir rumah. Kamui pun berjalan menghampiri Luka dengan berjinjit. "Hayo!!!" ucap Kamui mencoba mengejutkan Luka dari belakang. Luka pun terkejut dan kemudian merasa kesal. "Tuan samurai.. apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Luka sambil tersenyum kesal. "Haha.. emang apaan lagi? Tentu saja ngagetin Luka-tan biar kita makin akrab." jawab Kamui. "Makin akrab dari hongkong! Mana mungkin makin akrab kalau kerjaannya ngeselin terus!" gerutu Luka tampak kesal. "Tapi ada yang bilang jika dari benci itu bisa jadi cinta kan? Semakin ngeselin maka semakin berkesan." jelas Kamui dengan bergaya keren. "Ya, semakin berkesan bencinya." sahut Luka memalingkan wajahnya karena kesal. "Ray-kun, setidaknya katakanlah sesuatu untuk samurai bodoh ini." ujar Luka menoleh ke arah Ray. Tapi ternyata Ray sudah tidak ada ditempatnya. "Eh, kemana dia?" ucap Luka heran. ...