VocaWorld, chapter 178 - Pertempuran Di Utapia
Pertempuran terjadi di pusat kota Utapia. Kelompok Miku dipimpin oleh Gumi berhasil menerjang dan menghabisi barisan pertahanan pasukan darksider yang sedang menghancurkan kota.
"Ini akan mudah." ucap Gumi dengan wajah yakin.
Sementara Miku dengan dance 'Rolling Girl' nya berhasil menghabisi banyak minor dalam waktu yang singkat. Begitu pula dengan kerjasama Rin dan Len yang mengagumkan.
"Daritadi kita hanya melawan pasukan ecek-ecek doang, pada kemana boss nya?" gerutu Len.
"Mana aku tahu! Jangan tanya aku!" sahut Rin.
Saat Gumi sedang melawan para minor, tiba-tiba ada bayangan dari atasnya. Gumi melihat keatas dan terkejut. Gumi melompat mundur dan tiba-tiba saja tanah didepannya hancur seketika.
"Oh.. akhirnya muncul juga." ujar Gumi.
"Dari nada bicaramu sepertinya kau sedang menungguku, Angin Senja." balas Dante yang sosoknya mulai nampak setelah asap debu bekas hancurnya tanah tadi menghilang.
Melihat kepercayaan diri di sorot mata Gumi membuat Dante sedikit terkejut.
"Oh.. kelihatannya kau sudah mendapatkan sesuatu yang baru. Apa itu perbuatan orang itu?" tanya Dante.
"Jika yang kamu maksud adalah Shiro-san, maka tebakanmu tepat." jawab Gumi.
"Ha! Menarik. Dia memang menakjubkan. Padahal dia sudah tidak bisa menggunakan kekuatannya lagi, tapi tetap saja dia sangat kuat. Bahkan dia bisa mengendalikan perempuan sesuka hatinya." tukas Dante dengan nada kesal.
"Mengendalikan?" sahut Gumi tidak mengerti.
"Tapi, biar kutunjukkan perbedaan kekuatan diantara kita. Aku takkan segan-segan lagi padamu sekarang, angin senja!" tambah Dante auranya mulai berubah.
Cahaya merah kehitaman mulai tampak menyelimuti tubuh Dante. Tanah tempat Miku, Gumi, Rin dan Len berpijak pun terasa mulai bergetar. Gumi mulai bersiap-siap dan memakai goggle miliknya.
"Dance: Brutal.." ucap Dante dan langsung melesat ke arah Gumi.
Dalam sekejap dia sudah bisa berada di depan Gumi dan kepalan tinjunya sudah tepat berada di depan wajah gadis berambut hijau tersebut. Tapi, tiba-tiba saja Gumi menghilang didepan mata Dante.
"Apa?!" ucap Dante terkejut.
Ternyata Gumi ada dibelakangnya.
"Dance: Happy Rabbit!" ucap Gumi yang sudah bersiap menendang Dante.
Punggung Dante terkena tendangan yang sangat keras hingga mementalkannya keatas sebuah gedung berlantai 5. Dante mengerem dengan tangannya dan berjungkir balik kedepan. Dante langsung berbalik dan mengeluarkan gitarnya.
"Rasakan ini! Devili-" belum selesai Dante berbalik dan berucap, tiba-tiba dia sudah ditendang lagi oleh Gumi.
Dante terpental menuju ke bangunan yang lebih rendah dari gedung tersebut. Bangunan itu hancur lebur saat dihantam oleh tubuh Dante layaknya wafer yang dipatahkan. Tak lama kemudian runtuhan bangunan itu meledak menyemburkan api hitam.
"Hebat sekali bisa membuatku tidak berdaya seperti ini. Kakimu memang menakjubkan, Angin Senja." puji Dante yang tampak berdiri ditengah-tengah kobaran api.
Dante melangkah dengan santai sambil terlihat mententeng gitarnya. Gitarnya menghilang lagi dan kini ia tampak membuka resleting jaket merahnya seperti merasa kegerahan.
"Ini akan jadi pertarungan yang panas." ujar Dante dengan senyuman diwajahnya.
Dengan langkah santai dia berjalan sambil memutar-mutarkan lengannya. Kemudian Dante membungkuk hendak melompat. Begitu pula dengan Gumi. Mereka melompat saling memburu. Gumi melancarkan sebuah tendangan sementara Dante melesakkan sebuah pukulan. Hantaman kedua serangan yang saling berhantaman itu menimbulkan efek gelombang kejut yang bisa mementalkan beberapa minor, meretakkan tanah, dan memecahkan kaca bangunan yang ada di sekitar mereka. Miku, Rin dan Len sampai kaget saat merasakan suara dentuman dari gelombang kejut tersebut.
Pertarungan sengit juga terjadi di tempat lain. Di sebelah utara pusat kota Utapia, kelompok Luka sedang menghadapi pasukan minor dan juga June Black. Yang berbeda di arena pertarungan tersebut adalah minor-minor di arena pertarungan disini berevolusi. Sehingga jadi lebih sulit untuk dikalahkan.
"Bagaimana ini? Mereka tidak ada habisnya." ucap Kaito merapat ke punggung Meiko.
"Tenang saja, aku masih punya rencana dari Shiro-san." sahut Meiko.
"Eh, jadi orang itu sudah menduga tentang hal ini juga? Yang benar saja." balas Kaito.
"Aku juga bingung. Tapi yang pasti masih sesuai dengan rencananya." jawab Meiko.
Mereka kembali berpisah dan melawan minor dihadapan mereka masing-masing. Luka menggunakan instrument nya dan menyebarkan pixie nya seperti biasa. Namun semua minor yang ia lawan sekeras batu dan sulit untuk dihancurkan. Sementara Kamui yang berada jauh di seberangnya melawan minor yang berbentuk cair, sehingga ditebas beberapa kalipun tidak mempan dan malah nembus.
"Bagaikan menulis diatas air. Sama sekali tak berbekas. Semuanya pun jadi sia-sia. Semuanya pun jadi tiada artinya." ujar Kamui dengan wajah keren.
"Disaat seperti ini masih saja sempat-sempatnya berpuisi." komentar Kaito menatap heran.
Kaito pun kewalahan menghadapi makhluk berzat air itu. Pasalnya elemen miliknya adalah api.
"Semuanya, ini rencana dari Shiro Ray. Kita berkumpul ke tengah." ujar Meiko.
"Tapi kalau gitu, kita bakalan terkepung kan?" sahut Kaito.
"'Tenang saja. Percaya padaku.', kata Shiro Ray." tegas Meiko.
"Barusan dia bilang begitu?" tanya Kaito.
"Tidak sih, sudah sejak sebelum kita sampai disini." jawab Meiko.
"Kau pasti bercanda!" ucap Kaito terkejut.
Akhirnya mereka pun menurut dan merapatkan formasi mereka ke tengah. Semuanya, kecuali Luka yang memainkan piano nya dengan tatapan kosong.
"Megurine-san! Kenapa diam saja disana? Cepat kemari!" panggil Meiko.
"Ah, iya. Ba-baiklah!" sahut Luka yang baru sadar yang lain sudah berkumpul di tengah.
Luka pun menyusul yang lainnya dan berkumpul bersama mereka. Dan terlihat semua minor mengepung mereka mengerubungi Luka dan kawan-kawan.
"Rotasi!" ucap Meiko.
Luka, Meiko, Kaito, dan Kamui berotasi bertukar posisi. Setelah berotasi semuanya pun sadar minor yang mereka lawan saat ini jenisnya telah bertukar. Luka dan Meiko melawan minor jenis air, sementara Kaito dan kamui melawna minor jenis batu.
"Begitu rupanya. Aku mengerti." ujar Kaito sambil tersenyum.
"Maju! Hajar mereka!" perintah Meiko.
Dan mereka pun menyerang para darksider yang berada dihadapan mereka masing-masing. Melaui scope snipernya, Ray memperhatikan pertarungan yang keadaannya mulai berbalik itu.
"Bagus, sekarang mari kita lihat sudah sampai dimana para pasukan pemerintah saat ini." ujar Ray kemudian mengarahkan snipernya ke arah barat laut nya.
Dari scope nya terlihat banyak pasukan yang berkonvoi menggunakan kendaraan perang sedang menuju ke tempat pertarungan. Sementara beberapa prajurit hendak menaiki pesawat tempur yang berhasil mengalahkan pesawat Dante waktu itu. Meskipun saat itu mereka hanya terlihat seperti semut karena jaraknya yang jauh, meskipun menggunakan scope.
"Oke, sepertinya waktu kita sempit. Semuanya segera lakukan rencana selanjutnya." suruh Ray melalui laptopnya ke earophoid Gumi dan Meiko.
"Baik!" sahut Gumi dan Meiko bersamaan dari tempat yang berbeda.
Gumi mementalkan Dante, kemudian ia menghilang dan sampai di tempat Miku dan si kembar.
"Miku-chan, segera gunakan dance kedua mu. Rin-chan, Len-chan, gunakan instrument kalian." kata Gumi memberi arahan pada Miku dan Kagamine bersaudara.
"Eh maksudnya.." sahut Miku yang malah bingung.
"Siap kapten!" balas Rin dan Len.
Gumi menghilang lagi meninggalkan mereka, meskipun Miku tampak belum mengerti sepenuhnya.
"Padahal aku mau tanya dance kedua itu maksudnya apa." ujar Miku dengan tampang bego.
Rin dan Len hanya menghela napas menanggapi kebodohan kakak perempuan mereka itu.
Kelompok Meiko berhasil menghabisi seluruh pasukan darksider di tempat mereka. Pergantian formasi itu terbukti sangat ampuh. Tembakan api dan pixie milik Luka mampu meledakan minor jenis air, sementara semburan api dari harmonika Kaito dan tebasan Kamui efektif melelehkan dan membelah minor jenis batu.
"Sekarang tinggal dia." ucap Meiko setelah semua minor telah habis.
Meiko, Luka, Kaito dan Kamui menoleh ke arah sosok laki-laki yang sedang berdiri sambil bersandar di dinding dengan santainya. Pandangan mereka saat ini terpusat pada June Black yang malah menguap karena bosan.
"Hooaammm.. kalian lama sekali. Sudah selesai kah? Sepertinya saat ini giliranku." ujar June sambil menundukkan badannya.
"Dari kata-katamu nampaknya kau meremehkan kami." tukas Kaito.
"Hmm.. aku tak membantahnya." sahut June menaikan kepalanya memandang tajam pada Kaito sambil tersenyum.
Melihat senyuman licik mengesalkan itu membuat Kaito naik darah, Kaito berputar dan memainkan harmonika miliknya. Cambukan api hitam keluar dari harmonika tersebut mengarah ke arah June. Dinding tempat June bersandar tampak hancur terkena cambukan api biru tersebut. Namun sosok June tidak terlihat ada disana saat api itu mengenai dinding tersebut. Tiba-tiba semuanya berwarna negatif dan semua bergerak lambat, June sudah berada di depan Kaito dan berhasil menendangnya. Kaito sadar ada yang aneh saat merasa dirinya terdorong kebelakang.
"Dasar bodoh! Jatuh dalam jebakanku semudah itu!" kata June dalam hatinya.
Namun ada yang membuat June terkejut, Meiko sudah berada diatasnya bersiap dalam posisi menyerangnya.
"Di-dia?! Sejak kapan dia ada disana?! Harusnya semua nya bergerak lambat, kenapa kau bisa ada disana!?" gerutu June dalam hati terkejut melihat Meiko.
June segera loncat menjauh, warna negatif lenyap dan semua kecepatan gerak kembali seperti semula. Pukulan Meiko pun hanya mengenai jalanan dan meledakkannya. Sementara Kaito terpental kebelakang akibat tendangan June tadi.
"Sepertinya kamu terkejut karena tak menyangka aku bisa mengikuti gerakanmu." tukas Meiko.
"Cih, bagaimana bisa kau.." sahut June.
"Ini semua berkat rencana Shiro Ray. Dia berkata kalau saat kami melawanmu, kamu akan mencoba memprovokasi salah satu dari kami sehingga menyerangmu. Dan kamu akan menggunakan kemampuanmu untuk membuat semua gerak melambat untuk menyerang orang tersebut. Semuanya sudah di prediksi olehnya." jelas Meiko.
"Apa?!" ucap June kaget.
"Entah kenapa saya bersyukur The White Light-dono ada dipihak kita. Jika sampai dia jadi penjahat, maka selesai sudah." ujar Kamui.
"Ray-kun.." ucap Luka.
"Orang itu benar-benar nyeremin dah." komentar Kaito sambil bangkit.
"Tapi walau begitu, tidak mungkin dia memprediksi semuanya. Karena aku sudah tahu rencana kalian, maka aku akan melakukan sesuatu yang diluar rencana tersebut. Hahahaha.." ujar June.
"Bagaimana ini? Seharusnya kita tidak membocorkan hal ini tadi." tanya Kaito mendekat ke Meiko.
"Tenang saja, Shiro-san sudah menduga jika dia akan melakukan hal itu. Dan Shiro-san bilang bahwa jika musuh melakukan hal diluar rencana, maka kita hanya perlu mengalahkannya tanpa rencana." jelas Meiko.
"Jadi dengan kata lain dia menyuruh kita berimproviasasi? Lalu bagaimana cara kita mengalahkannya?" tanya Kaito.
"Kalau itu sih aku tidak tahu." jawab Meiko dengan wajah yang juga terlihat bingung.
Kaito hanya membuat ekspresi aneh saat melihat Meiko juga kebingungan.
"Bukankah dari hal yang barusan juga sudah jelas kan?" potong Luka.
"Apa maksudnya?" tanya Kaito.
"Megurine-san?" ucap Meiko.
"Hal tadi sudah menunjukkan semuanya. Ray-kun sudah memberikan semua petunjuknya. Mengalahkannya bukanlah sesuatu yang sulit sama sekali." balas Luka sambil tersenyum.
Melihat senyuman diwajah Luka. Meiko dan yang lainnya terkejut. Shiro Ray hanya tersenyum ditempatnya saat ini berada, meskipun dari scope nya tak nampak bisa melihat wajah Luka dengan jelas saat itu.
To be continued..
"Ini akan mudah." ucap Gumi dengan wajah yakin.
Sementara Miku dengan dance 'Rolling Girl' nya berhasil menghabisi banyak minor dalam waktu yang singkat. Begitu pula dengan kerjasama Rin dan Len yang mengagumkan.
"Daritadi kita hanya melawan pasukan ecek-ecek doang, pada kemana boss nya?" gerutu Len.
"Mana aku tahu! Jangan tanya aku!" sahut Rin.
Saat Gumi sedang melawan para minor, tiba-tiba ada bayangan dari atasnya. Gumi melihat keatas dan terkejut. Gumi melompat mundur dan tiba-tiba saja tanah didepannya hancur seketika.
"Oh.. akhirnya muncul juga." ujar Gumi.
"Dari nada bicaramu sepertinya kau sedang menungguku, Angin Senja." balas Dante yang sosoknya mulai nampak setelah asap debu bekas hancurnya tanah tadi menghilang.
Melihat kepercayaan diri di sorot mata Gumi membuat Dante sedikit terkejut.
"Oh.. kelihatannya kau sudah mendapatkan sesuatu yang baru. Apa itu perbuatan orang itu?" tanya Dante.
"Jika yang kamu maksud adalah Shiro-san, maka tebakanmu tepat." jawab Gumi.
"Ha! Menarik. Dia memang menakjubkan. Padahal dia sudah tidak bisa menggunakan kekuatannya lagi, tapi tetap saja dia sangat kuat. Bahkan dia bisa mengendalikan perempuan sesuka hatinya." tukas Dante dengan nada kesal.
"Mengendalikan?" sahut Gumi tidak mengerti.
"Tapi, biar kutunjukkan perbedaan kekuatan diantara kita. Aku takkan segan-segan lagi padamu sekarang, angin senja!" tambah Dante auranya mulai berubah.
Cahaya merah kehitaman mulai tampak menyelimuti tubuh Dante. Tanah tempat Miku, Gumi, Rin dan Len berpijak pun terasa mulai bergetar. Gumi mulai bersiap-siap dan memakai goggle miliknya.
"Dance: Brutal.." ucap Dante dan langsung melesat ke arah Gumi.
Dalam sekejap dia sudah bisa berada di depan Gumi dan kepalan tinjunya sudah tepat berada di depan wajah gadis berambut hijau tersebut. Tapi, tiba-tiba saja Gumi menghilang didepan mata Dante.
"Apa?!" ucap Dante terkejut.
Ternyata Gumi ada dibelakangnya.
"Dance: Happy Rabbit!" ucap Gumi yang sudah bersiap menendang Dante.
Punggung Dante terkena tendangan yang sangat keras hingga mementalkannya keatas sebuah gedung berlantai 5. Dante mengerem dengan tangannya dan berjungkir balik kedepan. Dante langsung berbalik dan mengeluarkan gitarnya.
"Rasakan ini! Devili-" belum selesai Dante berbalik dan berucap, tiba-tiba dia sudah ditendang lagi oleh Gumi.
Dante terpental menuju ke bangunan yang lebih rendah dari gedung tersebut. Bangunan itu hancur lebur saat dihantam oleh tubuh Dante layaknya wafer yang dipatahkan. Tak lama kemudian runtuhan bangunan itu meledak menyemburkan api hitam.
"Hebat sekali bisa membuatku tidak berdaya seperti ini. Kakimu memang menakjubkan, Angin Senja." puji Dante yang tampak berdiri ditengah-tengah kobaran api.
Dante melangkah dengan santai sambil terlihat mententeng gitarnya. Gitarnya menghilang lagi dan kini ia tampak membuka resleting jaket merahnya seperti merasa kegerahan.
"Ini akan jadi pertarungan yang panas." ujar Dante dengan senyuman diwajahnya.
Dengan langkah santai dia berjalan sambil memutar-mutarkan lengannya. Kemudian Dante membungkuk hendak melompat. Begitu pula dengan Gumi. Mereka melompat saling memburu. Gumi melancarkan sebuah tendangan sementara Dante melesakkan sebuah pukulan. Hantaman kedua serangan yang saling berhantaman itu menimbulkan efek gelombang kejut yang bisa mementalkan beberapa minor, meretakkan tanah, dan memecahkan kaca bangunan yang ada di sekitar mereka. Miku, Rin dan Len sampai kaget saat merasakan suara dentuman dari gelombang kejut tersebut.
Pertarungan sengit juga terjadi di tempat lain. Di sebelah utara pusat kota Utapia, kelompok Luka sedang menghadapi pasukan minor dan juga June Black. Yang berbeda di arena pertarungan tersebut adalah minor-minor di arena pertarungan disini berevolusi. Sehingga jadi lebih sulit untuk dikalahkan.
"Bagaimana ini? Mereka tidak ada habisnya." ucap Kaito merapat ke punggung Meiko.
"Tenang saja, aku masih punya rencana dari Shiro-san." sahut Meiko.
"Eh, jadi orang itu sudah menduga tentang hal ini juga? Yang benar saja." balas Kaito.
"Aku juga bingung. Tapi yang pasti masih sesuai dengan rencananya." jawab Meiko.
Mereka kembali berpisah dan melawan minor dihadapan mereka masing-masing. Luka menggunakan instrument nya dan menyebarkan pixie nya seperti biasa. Namun semua minor yang ia lawan sekeras batu dan sulit untuk dihancurkan. Sementara Kamui yang berada jauh di seberangnya melawan minor yang berbentuk cair, sehingga ditebas beberapa kalipun tidak mempan dan malah nembus.
"Bagaikan menulis diatas air. Sama sekali tak berbekas. Semuanya pun jadi sia-sia. Semuanya pun jadi tiada artinya." ujar Kamui dengan wajah keren.
"Disaat seperti ini masih saja sempat-sempatnya berpuisi." komentar Kaito menatap heran.
Kaito pun kewalahan menghadapi makhluk berzat air itu. Pasalnya elemen miliknya adalah api.
"Semuanya, ini rencana dari Shiro Ray. Kita berkumpul ke tengah." ujar Meiko.
"Tapi kalau gitu, kita bakalan terkepung kan?" sahut Kaito.
"'Tenang saja. Percaya padaku.', kata Shiro Ray." tegas Meiko.
"Barusan dia bilang begitu?" tanya Kaito.
"Tidak sih, sudah sejak sebelum kita sampai disini." jawab Meiko.
"Kau pasti bercanda!" ucap Kaito terkejut.
Akhirnya mereka pun menurut dan merapatkan formasi mereka ke tengah. Semuanya, kecuali Luka yang memainkan piano nya dengan tatapan kosong.
"Megurine-san! Kenapa diam saja disana? Cepat kemari!" panggil Meiko.
"Ah, iya. Ba-baiklah!" sahut Luka yang baru sadar yang lain sudah berkumpul di tengah.
Luka pun menyusul yang lainnya dan berkumpul bersama mereka. Dan terlihat semua minor mengepung mereka mengerubungi Luka dan kawan-kawan.
"Rotasi!" ucap Meiko.
Luka, Meiko, Kaito, dan Kamui berotasi bertukar posisi. Setelah berotasi semuanya pun sadar minor yang mereka lawan saat ini jenisnya telah bertukar. Luka dan Meiko melawan minor jenis air, sementara Kaito dan kamui melawna minor jenis batu.
"Begitu rupanya. Aku mengerti." ujar Kaito sambil tersenyum.
"Maju! Hajar mereka!" perintah Meiko.
Dan mereka pun menyerang para darksider yang berada dihadapan mereka masing-masing. Melaui scope snipernya, Ray memperhatikan pertarungan yang keadaannya mulai berbalik itu.
"Bagus, sekarang mari kita lihat sudah sampai dimana para pasukan pemerintah saat ini." ujar Ray kemudian mengarahkan snipernya ke arah barat laut nya.
Dari scope nya terlihat banyak pasukan yang berkonvoi menggunakan kendaraan perang sedang menuju ke tempat pertarungan. Sementara beberapa prajurit hendak menaiki pesawat tempur yang berhasil mengalahkan pesawat Dante waktu itu. Meskipun saat itu mereka hanya terlihat seperti semut karena jaraknya yang jauh, meskipun menggunakan scope.
"Oke, sepertinya waktu kita sempit. Semuanya segera lakukan rencana selanjutnya." suruh Ray melalui laptopnya ke earophoid Gumi dan Meiko.
"Baik!" sahut Gumi dan Meiko bersamaan dari tempat yang berbeda.
Gumi mementalkan Dante, kemudian ia menghilang dan sampai di tempat Miku dan si kembar.
"Miku-chan, segera gunakan dance kedua mu. Rin-chan, Len-chan, gunakan instrument kalian." kata Gumi memberi arahan pada Miku dan Kagamine bersaudara.
"Eh maksudnya.." sahut Miku yang malah bingung.
"Siap kapten!" balas Rin dan Len.
Gumi menghilang lagi meninggalkan mereka, meskipun Miku tampak belum mengerti sepenuhnya.
"Padahal aku mau tanya dance kedua itu maksudnya apa." ujar Miku dengan tampang bego.
Rin dan Len hanya menghela napas menanggapi kebodohan kakak perempuan mereka itu.
Kelompok Meiko berhasil menghabisi seluruh pasukan darksider di tempat mereka. Pergantian formasi itu terbukti sangat ampuh. Tembakan api dan pixie milik Luka mampu meledakan minor jenis air, sementara semburan api dari harmonika Kaito dan tebasan Kamui efektif melelehkan dan membelah minor jenis batu.
"Sekarang tinggal dia." ucap Meiko setelah semua minor telah habis.
Meiko, Luka, Kaito dan Kamui menoleh ke arah sosok laki-laki yang sedang berdiri sambil bersandar di dinding dengan santainya. Pandangan mereka saat ini terpusat pada June Black yang malah menguap karena bosan.
"Hooaammm.. kalian lama sekali. Sudah selesai kah? Sepertinya saat ini giliranku." ujar June sambil menundukkan badannya.
"Dari kata-katamu nampaknya kau meremehkan kami." tukas Kaito.
"Hmm.. aku tak membantahnya." sahut June menaikan kepalanya memandang tajam pada Kaito sambil tersenyum.
Melihat senyuman licik mengesalkan itu membuat Kaito naik darah, Kaito berputar dan memainkan harmonika miliknya. Cambukan api hitam keluar dari harmonika tersebut mengarah ke arah June. Dinding tempat June bersandar tampak hancur terkena cambukan api biru tersebut. Namun sosok June tidak terlihat ada disana saat api itu mengenai dinding tersebut. Tiba-tiba semuanya berwarna negatif dan semua bergerak lambat, June sudah berada di depan Kaito dan berhasil menendangnya. Kaito sadar ada yang aneh saat merasa dirinya terdorong kebelakang.
"Dasar bodoh! Jatuh dalam jebakanku semudah itu!" kata June dalam hatinya.
Namun ada yang membuat June terkejut, Meiko sudah berada diatasnya bersiap dalam posisi menyerangnya.
"Di-dia?! Sejak kapan dia ada disana?! Harusnya semua nya bergerak lambat, kenapa kau bisa ada disana!?" gerutu June dalam hati terkejut melihat Meiko.
June segera loncat menjauh, warna negatif lenyap dan semua kecepatan gerak kembali seperti semula. Pukulan Meiko pun hanya mengenai jalanan dan meledakkannya. Sementara Kaito terpental kebelakang akibat tendangan June tadi.
"Sepertinya kamu terkejut karena tak menyangka aku bisa mengikuti gerakanmu." tukas Meiko.
"Cih, bagaimana bisa kau.." sahut June.
"Ini semua berkat rencana Shiro Ray. Dia berkata kalau saat kami melawanmu, kamu akan mencoba memprovokasi salah satu dari kami sehingga menyerangmu. Dan kamu akan menggunakan kemampuanmu untuk membuat semua gerak melambat untuk menyerang orang tersebut. Semuanya sudah di prediksi olehnya." jelas Meiko.
"Apa?!" ucap June kaget.
"Entah kenapa saya bersyukur The White Light-dono ada dipihak kita. Jika sampai dia jadi penjahat, maka selesai sudah." ujar Kamui.
"Ray-kun.." ucap Luka.
"Orang itu benar-benar nyeremin dah." komentar Kaito sambil bangkit.
"Tapi walau begitu, tidak mungkin dia memprediksi semuanya. Karena aku sudah tahu rencana kalian, maka aku akan melakukan sesuatu yang diluar rencana tersebut. Hahahaha.." ujar June.
"Bagaimana ini? Seharusnya kita tidak membocorkan hal ini tadi." tanya Kaito mendekat ke Meiko.
"Tenang saja, Shiro-san sudah menduga jika dia akan melakukan hal itu. Dan Shiro-san bilang bahwa jika musuh melakukan hal diluar rencana, maka kita hanya perlu mengalahkannya tanpa rencana." jelas Meiko.
"Jadi dengan kata lain dia menyuruh kita berimproviasasi? Lalu bagaimana cara kita mengalahkannya?" tanya Kaito.
"Kalau itu sih aku tidak tahu." jawab Meiko dengan wajah yang juga terlihat bingung.
Kaito hanya membuat ekspresi aneh saat melihat Meiko juga kebingungan.
"Bukankah dari hal yang barusan juga sudah jelas kan?" potong Luka.
"Apa maksudnya?" tanya Kaito.
"Megurine-san?" ucap Meiko.
"Hal tadi sudah menunjukkan semuanya. Ray-kun sudah memberikan semua petunjuknya. Mengalahkannya bukanlah sesuatu yang sulit sama sekali." balas Luka sambil tersenyum.
Melihat senyuman diwajah Luka. Meiko dan yang lainnya terkejut. Shiro Ray hanya tersenyum ditempatnya saat ini berada, meskipun dari scope nya tak nampak bisa melihat wajah Luka dengan jelas saat itu.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.