Posts

Showing posts from 2017

Memo, chapter 100 - Festival Olahraga, bagian 1

Pekan raya olahraga sekolah SMA Negeri Parahyangan telah dimulai. Arya dan kawan-kawan telah siap di lapangan sepak bola yang telah disulap menjadi sebuah arena festival olahraga tersebut.  Tampak seluruh murid sekolah mulai yang dari kelas 10 sampai yang kelas 12 semuanya mengenakan seragam olahraga mereka masing-masing. Berbeda dengan kelas 10, kelas 11 dan kelas 12 memiliki seragam olahraga khas kelas mereka masing-masing yang berbeda satu sama lain. Sehingga seragam olahraga mereka juga bisa berfungsi sebagai seragam tim juga. "Sepertinya hanya kelas kita saja yang seragamnya biasa banget ya." keluh Fajar. "Ya bukan hanya kita saja sih. Seluruh anak kelas 10 juga kan memang seragam olahraga nya sama. Karena ini memang seragam olahraga khas sekolah." ungkap Digna. "Iya, katanya kita baru diperbolehkan memiliki seragam khas kelas pas sudah naik ke kelas 11 kan. Jadi mau bagaimana lagi kita cuma bisa memakai yang ini saja." ujar Arya menambahkan. ...

Memo, chapter 99 - Obrolan Dalam Kelas 2

Arya dan kedua temannya seperti biasa sedang mengobrol didalam kelas saat waktu istirahat. Kelas saat ini tampak lebih ramai dari biasanya karena hampir semua murid kelas itu juga sedang mengobrol didalam kelas sambil makan makanan yang dibawa dari kantin. "Kalian berdua, sudahkah kalian menonton video uji nyali kita? Katanya sudah di upload lho." ujar Fajar. "Aku tidak tertarik. Lagipula aku tak mau membuang pulsaku untuk hal tak berguna seperti itu." jawab Digna. "Kalau aku sih sudah. Memangnya kenapa tiba-tiba nanya itu?" tanya balik Arya. "Hmm.. sebenarnya.." sahut Fajar. "Sebenarnya?" ulang Arya dan Digna. "Sebenarnya.. aku berniat untuk memulai berjualan merchandise ku sendiri." tegas Fajar. "Hah?!" sahut Arya dan Digna kaget dengan jawaban Fajar tersebut. "Aku lihat viewer video nya semakin lama semakin banyak. Kalau terus begini aku akan makin terkenal nih." ujar Fajar dengan penuh keyakinan. "...

Memo, chapter 98 - Melihat Tapi Tak Menyadari

Arya sedang membaca buku di perpustakaan. Perpustakaan yang sepi itu menjadi tempat membaca yang begitu tenang bagi Arya. Dia membalik satu halaman ke halaman lain membaca buku didepannya dengan seksama. Ketika sedang asik membaca, ia merasakan ada sesuatu yang mengusiknya. Meski tak ada apapun didekatnya selain meja, kursi dan buku, namun perasaannya terasa sangat jelas kalau ada hal yang seperti ditodongkan ke arahnya. Arya menoleh ke sekitarnya mencari darimana arahnya datang perasaan tersebut. Namun tak ada siapapun disana selain dirinya dan penjaga perpus yang sedang membereskan buku-buku. "Mungkinkah hanya perasaanku?" pikir Arya. Arya pun menghela napasnya mencoba menenangkan dirinya. "Sepertinya aku kelelahan dengan semua masalah yang terjadi padaku akhir-akhir ini." lanjutnya. Merasa lelah, Arya menutup bukunya kemudian mengembalikan buku itu kembali ke rak nya. "Pulang saja kali ya." pikir Arya kemudian berjalan menuju ke ruang ekskul sastra untu...

Memo, chapter 97 - Masalah Baru

Di ruang ekskul sastra, Arya sedang duduk sendirian. Sindy yang biasanya selalu stand by disana pun hari ini nampaknya tidak datang ke ruangan ekskulnya itu. Begitu pula dengan Shinta dan Alice yang harusnya ada disana karena mereka adalah anggota ekskul sastra namun hari ini mereka juga tidak datang. "Hmm.. hari ini nampaknya aku bakalan sendirian nih seharian." ungkap Arya dalam hatinya. Arya kemudian melihat ke arah ponselnya, dan jam diponselnya tampak menunjukkan kalau saat ini baru saja lewat tengah hari. Dan keadaan ruangan terasa sangat panas saat ini sehingga membuat Arya keringatan. "Karena ruangan ini tidak memiliki AC ataupun kipas angin, jadi sepertinya aku harus bersabar dengan rasa panas ini. Lagipula aku sudah terbiasa dengan semua hal ini ketika dirumah." ujar Arya sambil mengetikan sesuatu di ponselnya. "Mungkin seharusnya aku ngadem saja kali ya di perpustakaan." lanjut Arya lalu berhenti mengetik dan memasukan ponselnya ke sakunya. ...

Memo, chapter 96 - Kegiatan Akhir Pekan 1

Hari minggu Alice di kediaman keluarga Anastasia seperti biasa sangatlah berkelas. Dimulai dengan bangun pagi dari tempat tidurnya dibangunkan oleh seorang pelayan cantik. Mandi pagi dengan berendam di air hangat dengan bunga-bunga sebagai penambah aroma. Lalu kemudian menikmati matahari pagi di pondok di taman bunga sambil meminum teh hangat di gelas mewahnya. "Nona muda, saya bawakan cemilan untuk anda. Silahkan dinikmati selagi hangat." ujar Ani sambil membawakan sepiring biskuit yang nampaknya baru saja keluar dari oven. "Terima kasih, Ani." sahut Alice. "Apa ada hal lain yang nona muda inginkan lagi?" tanya Ani. "Tidak ada kok. Terima kasih ya Ani. Oh ya, maukah kamu menemaniku ngeteh disini?" jawab Alice lalu bertanya balik. "Dengan senang hati, nona Alice." sahut Ani sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat. Lalu Ani pun berdiri di samping agak kebelakang sedikit dari tempat duduk Alice. Alice menatap heran pada Ani. "Ke...

Memo, chapter 95 - Reaksi Sang "Hantu"

Diana, sang maestra ekskul paduan suara yang terkenal dengan nyanyian merdunya saat ini sedang menonton video-video di youtube. Gadis berparas anggun itu tampak mendengarkan lagu-lagu instrumental yang menyejukan hati dan menghangatkan jiwa. "Aahh~ tidak ada yang mengalahkan keindahan sebuah musik yang harmoni." ucap Diana. Mendapati sebuah lagu yang bagus, ia pun men-share nya ke facebook miliknya. Lalu ia menuliskan mention, "Sebuah lagu yang bisa memberi kesan hangat di minggu pagi ini.". "Hmm.. akhir pekan cuma berdiam diri di rumah rasanya hidupku flat bener ya." keluh Diana lalu menekan tombol kirim. Diana mulai menggulirkan scroll mouse ditangannya dan melihat update-an status teman-teman facebook nya. Ia membaca mereka satu-persatu namun nampaknya tidak ada yang mampu menghilangkan ekspresi bosan diwajahnya. Ia pun kecewa karenanya. Hingga suatu tautan video akhirnya menyita sebuah perhatiannya. Bukan hanya karena thumbnail-nya, tapi juga k...

Memo, chapter 94 - Hantu & Uji Nyali 8

Akhirnya sekarang giliran Fajar yang merupakan peserta terakhir untuk melakukan uji nyali. Ia duduk sendirian didalam kegelapan dengan lilin yang tinggal sedikit lagi dan sampah-sampah bekas makanan ringan dan minuman kaleng yang telah dihabiskan oleh Arya. "Beneran nih? Aku beneran ditinggal sendirian disini saat orang lain makan nasi goreng yang enak?" gerutu Fajar dalam benaknya. "Sialan!! Kenapa pula aku mesti giliran terakhir!!! Oh iya juga, kan yang minta giliran terakhir itu aku??!!" keluh Fajar dalam hatinya. "Lagipula apa-apaan dengan aturan uji nyali yang disampaikan senior berkacamata itu!?" lanjut Fajar kemudian mengingat perkataan Chelsea sebelum uji nyalinya dimulai. "Jika kamu merasa sudah tidak sanggup untuk melanjutkan uji nyali ini, maka silahkan melompat dan kemudian bersalto 3 kali diudara sebelum mendarat lagi ditanah." ujar Chelsea dalam ingatan Fajar. "Itu tidak mungkin lah! Aku mana mungkin bisa bersalto 3 k...

Memo, chapter 93 - Hantu & Uji Nyali 7

Peserta kedua adalah Digna, dan ia saat ini sedang berada di depan gedung lama kelas 2 yang menjadi lokasi uji nyali. Ia sedang diwawancara oleh Chelsea. Sementara Fajar dan Arya menontonnya di ruang monitor saat ini. "Menurutmu dia bakalan gimana, jar?" tanya Arya pada Fajar. "Bakalan gimana gimana maksudnya?" tanya balik Fajar. "Ya uji nyalinya lah. memangnya apa lagi?" sahut Arya. "Ya setidaknya dia mungkin bakalan lebih serius darimu, Arya." balas Fajar. "Hah? Apa maksudmu barusan? Aku juga serius tahu!" tegas Arya dengan serius. "Ya, serius main-mainnya. Apa-apaan coba dengan akting kesurupanmu itu. Enak banget makan makanan ringan yang harusnya jadi sesajen." gerutu Fajar. "Eh, emang tadi aku kesurupan ya?" sahut Arya terlihat terkejut. "Katanya sih gitu! Tapi aku tak yakin, karena aku tahu kau cuma berpura-pura kan? Ya kan?" tukas Fajar. "Jadi begitu ya. Pantas saja aku merasa ...

Memo, chapter 92 - Hantu & Uji Nyali 6

Di perpustakaan yang kini dijadikan sebagai ruang monitor, Sindy dan yang lainnya sedang mononton uji nyali dari sebuah monitor besar yang dipasang oleh para anggota ekskul jurnal sebelumnya. "Tunggu sebentar, kenapa kita malah jadi nonton youtube!?" protes Fajar. "Eh, tapi ini bener kan acara uji nyali?" tanya Sindy sambil menunjuk ke arah monitor. "Iya sih, tapi bukan acara yang di TV juga kali. Kita kan disini mestinya mengawasi Arya yang sedang berada di lokasi uji nyali!" jawab Fajar. "Tepat sekali, karena itu kita harusnya mengawasi Arya.." sahut Sindy. "Nah itu tahu." ujar Fajar. "..dengan hati yang hangat." lanjut Sindy. "Dengan hati yang hangat? Apa maksudnya dengan hati yang hangat!? Maksudnya kita tak perlu melihatnya langsung gitu! Kalau begitu apa gunanya ruang monitor ini!? Harusnya kita memonitoring apa saja yang terjadi pada Arya. Kan kasihan kalau terjadi sesuatu padanya. Bisa saja dia takut...

Memo, chapter 91 - Hantu & Uji Nyali 5

Acara uji nyali pun dimulai. Setelah semua persiapan dan diskusi yang panjang, kini telah ditentukan kalau urutan peserta dari 3 orang peserta adalah Arya yang pertama, lalu setelah itu Digna, dan yang terakhir adalah Fajar yang memang ngotot ingin giliran terakhir. "Oke, karena Arya adalah urutan pertama, maka dipersilahkan untuk mengikutiku ke gedung kelas 2 yang lama." ajak Chelsea pada Arya. "Baiklah, tapi sebelumnya bolehkah aku bertanya sesuatu?" ujar Arya. "Apa itu?" sahut Chelsea. "Senior tidak akan mengikatku di kursi lagi kan?" tanya Arya. "Tenang saja, aku takkan melakukannya kok. Waktu itu kan aku cuma berusaha untuk mendapatkan informasi saja darimu." jawab Chelsea. "Informasi? Begitukah cara senior mendapatkan informasi selama ini?" tanya Arya lagi. "Tidak juga sih. Aku melakukannya hanya padamu saja kok." jawab Chelsea dengan polos. "Eh, kenapa hanya padaku?" tanya Arya lagi t...

Memo, chapter 90 - Hantu & Uji Nyali 4

Fajar kembali ke perpustakaan sambil membawa sekantong plastik 'sesajen' yang telah ia beli dari toko swalayan. Ia lalu meletakan kantong plastik itu diatas meja. "Ini, aku sudah membelinya." ujar Fajar. "Tunggu sebentar, kenapa plastiknya seperti dari ind*maret?" tanya Arya. "Ya tentu saja karena aku belinya memang dari ind*maret kan." jawab Fajar. "Lah, memangnya kini ind*maret menyediakan sesajian juga?" tanya Sindy. "Tidak sih, makanya aku beli apa saja yang bisa kubeli disana. Lagipula aku tak mungkin masuk ke sana tanpa membeli apapun kan." jelas Fajar. "Ya kalau gitu kenapa pergi ke ind*maret?" protes Rere. "Mau bagaimana lagi!? Warung sudah pada tutup kalau jam segini mah! Cuma ind*maret saja yang masih buka!" ungkap Fajar. "Ya kalau tutup tinggal dibuka saja kan." ujar Chelsea. "Kau ingin aku mendobrak masuk! Kau ingin aku menerobos properti orang lain!? Nanti aku dia...

Memo, chapter 89 - Hantu & Uji Nyali 3

Arya datang ke gedung perpustakaan dengan terengah-engah kelelahan. Ia berjalan sambil mengambil napas lalu mengusap keringat di wajahnya. "Fiuh.. olahraga malam hari memang melelahkan." ucap Arya. Arya berjalan mendekat ke tempat Sindy, Rere dan Chelsea berada. "Kamu juga? Jangan bilang kamu juga mengejar bayangan misterius dan akhirnya sampai disini." tukas Rere sambil menatap curiga. "Eh, darimana senior tahu!?" sahut Arya dengan ekspresi terkejut. "Beneran kah?! Uwaahh.. kenapa sekolah ini dipenuhi oleh orang bodoh??" keluh Rere terkejut mendengar jawaban Arya itu. "Tenang saja senior, tadi itu aku cuma bercanda kok." ungkap Arya. "Begitukah. Syukurlah.. kupikir sekolah ini sudah tak ada harapan lagi dengan siswa-siswa yang tidak masuk akal tahun ini." balas Rere. "Sebenarnya, tadi aku bukan mengejar bayangan, melainkan dikejar olehnya. Aku berlari sekuat tenaga tapi dia selalu bisa mengejarku. Aku lar...

Memo, chapter 88 - Hantu & Uji Nyali 2

Persiapan untuk uji nyali pun disiapkan. Anggota ekskul jurnal terlihat memasang kamera di sebuah kelas paling ujung di bagian pojokan sekolah. Kelas itu tampak berada di gedung terpisah dan kini nampaknya dialih fungsikan sebagai gudang. Banyak kursi dan meja rusak yang ditumpuk disana. "Kenapa diatara semua tempat kita malah memilih tempat ini?" tanya Fajar terlihat keberatan. "Lah tentu saja kan buat mancing hantunya, kita harus berada di lokasi yang tepat." jawab Chelsea dengan penuh keyakinan. "Tapi lokasi penampakannya kan bukan disini! Katanya kan hantunya muncul di gedung kelas 2 yang baru. Kenapa malah disini uji nyalinya? Meleset nya juh banget tahu!" protes Fajar. "Tapi di gedung kelas 2 yang baru kan suasananya kurang serem. Tidak menarik buat direkam kamera. Kurang seru nantinya." ungkap Chelsea. "Sudah kuduga itu ternyata cuma masalah selera saja." tukas Fajar. "Lagipula di tempat ini aura negatifnya begitu terasa. Ti...