Memo, chapter 88 - Hantu & Uji Nyali 2
Persiapan untuk uji nyali pun disiapkan. Anggota ekskul jurnal terlihat memasang kamera di sebuah kelas paling ujung di bagian pojokan sekolah. Kelas itu tampak berada di gedung terpisah dan kini nampaknya dialih fungsikan sebagai gudang. Banyak kursi dan meja rusak yang ditumpuk disana.
"Kenapa diatara semua tempat kita malah memilih tempat ini?" tanya Fajar terlihat keberatan.
"Lah tentu saja kan buat mancing hantunya, kita harus berada di lokasi yang tepat." jawab Chelsea dengan penuh keyakinan.
"Tapi lokasi penampakannya kan bukan disini! Katanya kan hantunya muncul di gedung kelas 2 yang baru. Kenapa malah disini uji nyalinya? Meleset nya juh banget tahu!" protes Fajar.
"Tapi di gedung kelas 2 yang baru kan suasananya kurang serem. Tidak menarik buat direkam kamera. Kurang seru nantinya." ungkap Chelsea.
"Sudah kuduga itu ternyata cuma masalah selera saja." tukas Fajar.
"Lagipula di tempat ini aura negatifnya begitu terasa. Tidak salah lagi disinilah biasanya para hantunya nongkrong." ujar Chelsea bertingkah seperti paranormal handal.
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu!?" sahut Fajar tampak tak mempercayainya.
"Lihat ini, aku menemukan bungkus teh kotak dan makanan ringan. Ini adalah bukti kalau hantunya sering nongkrong disini, tidak salah lagi!" lanjut Chelsea yang kini malah seperti seorang detektif.
"Hantu mana mungkin meninggalkan bukti! Lagipula mana ada hantu makan snack dan minum teh kotak!" bantah Fajar.
"Positive thinking saja, mungkin saja kan hantunya sedang kabur dari rumah dan bermalam disini agar aman, makanya dia cuma minum teh kotak dan makan snack." ujar Chelsea.
"Bukan itu masalahnya! Mana ada hantu yang makan dan minum!? Lagipula ngapain kita mesti berpikir positif untuk hal negatif seperti ini." protes Fajar mulai jengkel.
"Oh benar juga, biar hantunya datang mungkin kita sebaiknya suguhkan sesajen yang lebih enak. Aku memang jenius. Mh." tambah Chelsea tidak menghiraukan Fajar.
"Woy, dengarkan aku!!" bentak Fajar merasa kesal.
"Aku akan memberitahu Sindy dulu!" ucap Chelsea lalu pergi meninggalkan Fajar.
"Senior!!??" ucap Fajar.
Fajar pun hanya bisa menahan kesalnya karena merasa telah dipermainkan oleh senior berkacamata itu.
"Padahal dia cuma cewek culun, kok bisa-bisanya bikin aku jengkel gini." gerutu Fajar.
"Harusnya itu kan peranku kalau buat bikin orang kesal!" lanjut Fajar.
Sementara itu Arya dan Digna tampak berjalan-jalan disekitar sekolah. Meskipun hari sudah gelap, tapi nampaknya mereka tak khawatir atau takut sedikitpun akan kegelapan.
"Berkeliling sekolah dimalam hari kesannya jadi lain ya?" tanya Arya.
"Mh." sahut Digna sambil mengangguk.
"Entah kenapa suasananya terkesan lebih horror karena seluruh tempat ini jadi sepi." lanjut Arya.
"Mh" balas Digna di sebelahnya.
"Ya.. mungkin karena kita terbiasa mengetahui kalau sekolah ini ramai kali ya. Makanya pas sepi jadi terkesan menyeramkan." sambung Arya.
"Mh." balas Digna.
"Daritadi balasnya gitu terus, kamu ngambek atau gimana?" tanya Arya karena kesal dengan balasan Digna yang terkesan setengah hati.
Arya pun menoleh kesampingnya, menengok ke arah Digna. Namun, Digna tak ada disana. Sosok Digna yang harusnya ada disampingnya saat ini ternyata tidak ada. Hal itu pun tentu saja membuat Arya kaget.
"Lho, terus daritadi siapa dong yang jawab?" ungkap Arya dengan wajah pucat.
Arya mulai berkeringat dingin dan jantungnya berdetak tak beraturan.
"Kabur!" ucap Arya langsung melarikan diri.
Ia berlari tanpa mencoba menoleh kebelakang. Ia berlari sekuat tenaga menuju kembali ke gedung perpustakaan.
"Woy! Kenapa ninggalin aku!? Senternya kan kamu yang bawa, entar aku jadi gelap!" panggil Digna yang ternyata sedang berjongkok membenarkan tali sepatu.
Tapi sayangnya Arya sudah jauh, jadi dia tak bisa mendengar panggilan Digna itu. Digna pun ditinggal di tempat gelap itu sendirian tanpa satupun sumber cahaya yang menerangi.
Di gedung perpustakaan, Sindy dan Rere sedang mengobrol serius. Rere tampak menatap tajam pada Sindy.
"Sindy! Kenapa kamu begitu ceroboh!?" bentak Rere.
"Sstt.. ini perpustakaan. Dimohon untuk jangan terlalu berisik." pinta Sindy dengan suara setengah berbisik.
"Ma-maaf." sahut Rere.
"Tunggu, bukan itu masalahnya!! Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan!" sambung Rere dengan kesal.
"Tch." Sindy mendecakkan lidahnya.
"'Tch'?? Barusan kamu bilang 'tch' kan? Apa kamu berharap bisa mengalihkan pembicaraan semudah itu? Haha.. aku sudah terbiasa dengan pengalihanmu itu, jadi itu takkan mempan lagi padaku!" tegas Rere.
"Begitukah.. lalu bagaimana dengan Arya?" tanya Sindy.
Bukannya menjawab, Rere malah menoleh ke belakang.
"Ah.. syukurlah dia tidak ada." ungkap Rere.
"Kenapa kamu malah menyangka dia ada dibelakangmu ketika aku menyebutkan namanya? Memangnya kamu kira dia ninja?" tanya Sindy tampak heran.
"Mau bagaimana lagi kan? Terakhir kali itu terjadi, dia benar-benar ada dibelakangku!" balas Rere dengan kesal.
"Tapi waktu itu kan kalimatnya bukan dalam bentuk tanya, iya kan, Arya?" sahut Sindy.
Mendengar itu, Rere lalu menoleh lagi kebelakang. Namun sekali lagi, ia tak menemukan sosok Arya dibelakangnya.
"Sudah kuduga kau memang sedang menggodaku saja, Sindy! Tolong hentikan itu!" bentak Rere.
"Huhuhu~ pantas saja Arya sering menggunakan teknik pengalihan ini. Selain bisa mengalihkan pembicaraan, juga bisa sebagai hiburan." pikir Sindy sambil tersenyum.
Tak berapa lama Chelsea datang ke dalam perpustakaan yang sepi itu. Gadis berkacamata itu tampak terengah-engah kelelahan akibat berlari dari gedung kelas 2 yang lama ke gedung perpustakaan.
"Aku datang.. dengan.. sebuah permintaan baru." ujar Chelsea yang kesulitan bernapas akibat kelelahan.
"Ambil napas panjang dulu. Atur napasmu. Baru setelah itu bicara lagi." pinta Sindy.
"Memangnya kenapa kamu bisa sampai kelelahan gitu, Chelsea? Perasaan gedung kelas 2 tak begitu jauh." tanya Rere yang heran dengan kelelahan tak jelas Chelsea itu.
"Kalau itu.. aku harus.. menjelaskannya kah.." balas Chelsea yang masih ngos-ngosan dan tampak berkeringat.
"Rere, jangan ajak bicara dia dulu." pinta Sindy pada kawannya itu.
Sindy kemudian menyodorkan sebotol air minum pada Chelsea.
"Terima kasih, Sindy!" ucap Chelsea langsung meraih botol itu dan meminum isinya.
"Ah! Air minum dari mata air pegunungan memang paling menyegarkan." ungkap Chelsea merasa lebih segar setelah minum.
"Maaf, sebenarnya itu air yang kubawa dari rumah." ujar Sindy.
"Eh, be-begitu ya.." sahut Chelsea merasa sedikit malu ketika mengetahuinya.
"Lalu, apa hal yang membuatmu sampai kelelahan begitu, Chelsea? Kupikir dari jaraknya, gedung yang lama pun tak sejauh itu untuk dapat membuatmu kelelahan." tanya Rere.
"Ya.. kalau memang cuma lari dari gedung yang lama kemari pun takkan semelelahkan itu bagiku. Tapi bagaimana bilangnya, aku sebenarnya tadi berlari mengejar bayangan misterius ketika datang kemari." jelas Chelsea.
"Bayangan misterius?!" ulang Rere nampak sedikit pucat.
"Mh. Dan ketika aku mengejarnya, bayangan itu lari lebih cepat. Aku pun mempercepat lariku, tapi bayangan tersebut malah lari lebih cepat lagi. Sepertinya dia mengetahui kalau aku sedang mengikutinya." lanjut Chelsea.
Mendengar cerita Chelsea makin menyeramkan, Rere pun mulai berkeringat dingin.
"Seberapa cepat pun aku mengejarnya, bayangan itu selalu 1 langkah didepanku." sambung Chelsea.
Rere terlihat semakin ketakutan dan senyumannya terlihat semakin aneh.
"Terus mengejar bayangan itu, aku pun sampai disini. Seakan bayangan itu menuntunku untuk datang kemari untuk beberapa alasan." tambah Chelsea.
Rere mulai meneguk ludahnya sendiri karena merasa takut, namun penasaran juga.
"Dan saat sampai disini, aku pun sadar kalau ternyata yang kukejar selama ini adalah bayanganku sendiri. Tehe~" ungkap Chelsea dengan berlaga imut.
Rere pun dibuat terjungkal dari kursinya akibat terlalu terkejut.
"Kenapa diatara semua tempat kita malah memilih tempat ini?" tanya Fajar terlihat keberatan.
"Lah tentu saja kan buat mancing hantunya, kita harus berada di lokasi yang tepat." jawab Chelsea dengan penuh keyakinan.
"Tapi lokasi penampakannya kan bukan disini! Katanya kan hantunya muncul di gedung kelas 2 yang baru. Kenapa malah disini uji nyalinya? Meleset nya juh banget tahu!" protes Fajar.
"Tapi di gedung kelas 2 yang baru kan suasananya kurang serem. Tidak menarik buat direkam kamera. Kurang seru nantinya." ungkap Chelsea.
"Sudah kuduga itu ternyata cuma masalah selera saja." tukas Fajar.
"Lagipula di tempat ini aura negatifnya begitu terasa. Tidak salah lagi disinilah biasanya para hantunya nongkrong." ujar Chelsea bertingkah seperti paranormal handal.
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu!?" sahut Fajar tampak tak mempercayainya.
"Lihat ini, aku menemukan bungkus teh kotak dan makanan ringan. Ini adalah bukti kalau hantunya sering nongkrong disini, tidak salah lagi!" lanjut Chelsea yang kini malah seperti seorang detektif.
"Hantu mana mungkin meninggalkan bukti! Lagipula mana ada hantu makan snack dan minum teh kotak!" bantah Fajar.
"Positive thinking saja, mungkin saja kan hantunya sedang kabur dari rumah dan bermalam disini agar aman, makanya dia cuma minum teh kotak dan makan snack." ujar Chelsea.
"Bukan itu masalahnya! Mana ada hantu yang makan dan minum!? Lagipula ngapain kita mesti berpikir positif untuk hal negatif seperti ini." protes Fajar mulai jengkel.
"Oh benar juga, biar hantunya datang mungkin kita sebaiknya suguhkan sesajen yang lebih enak. Aku memang jenius. Mh." tambah Chelsea tidak menghiraukan Fajar.
"Woy, dengarkan aku!!" bentak Fajar merasa kesal.
"Aku akan memberitahu Sindy dulu!" ucap Chelsea lalu pergi meninggalkan Fajar.
"Senior!!??" ucap Fajar.
Fajar pun hanya bisa menahan kesalnya karena merasa telah dipermainkan oleh senior berkacamata itu.
"Padahal dia cuma cewek culun, kok bisa-bisanya bikin aku jengkel gini." gerutu Fajar.
"Harusnya itu kan peranku kalau buat bikin orang kesal!" lanjut Fajar.
Sementara itu Arya dan Digna tampak berjalan-jalan disekitar sekolah. Meskipun hari sudah gelap, tapi nampaknya mereka tak khawatir atau takut sedikitpun akan kegelapan.
"Berkeliling sekolah dimalam hari kesannya jadi lain ya?" tanya Arya.
"Mh." sahut Digna sambil mengangguk.
"Entah kenapa suasananya terkesan lebih horror karena seluruh tempat ini jadi sepi." lanjut Arya.
"Mh" balas Digna di sebelahnya.
"Ya.. mungkin karena kita terbiasa mengetahui kalau sekolah ini ramai kali ya. Makanya pas sepi jadi terkesan menyeramkan." sambung Arya.
"Mh." balas Digna.
"Daritadi balasnya gitu terus, kamu ngambek atau gimana?" tanya Arya karena kesal dengan balasan Digna yang terkesan setengah hati.
Arya pun menoleh kesampingnya, menengok ke arah Digna. Namun, Digna tak ada disana. Sosok Digna yang harusnya ada disampingnya saat ini ternyata tidak ada. Hal itu pun tentu saja membuat Arya kaget.
"Lho, terus daritadi siapa dong yang jawab?" ungkap Arya dengan wajah pucat.
Arya mulai berkeringat dingin dan jantungnya berdetak tak beraturan.
"Kabur!" ucap Arya langsung melarikan diri.
Ia berlari tanpa mencoba menoleh kebelakang. Ia berlari sekuat tenaga menuju kembali ke gedung perpustakaan.
"Woy! Kenapa ninggalin aku!? Senternya kan kamu yang bawa, entar aku jadi gelap!" panggil Digna yang ternyata sedang berjongkok membenarkan tali sepatu.
Tapi sayangnya Arya sudah jauh, jadi dia tak bisa mendengar panggilan Digna itu. Digna pun ditinggal di tempat gelap itu sendirian tanpa satupun sumber cahaya yang menerangi.
Di gedung perpustakaan, Sindy dan Rere sedang mengobrol serius. Rere tampak menatap tajam pada Sindy.
"Sindy! Kenapa kamu begitu ceroboh!?" bentak Rere.
"Sstt.. ini perpustakaan. Dimohon untuk jangan terlalu berisik." pinta Sindy dengan suara setengah berbisik.
"Ma-maaf." sahut Rere.
"Tunggu, bukan itu masalahnya!! Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan!" sambung Rere dengan kesal.
"Tch." Sindy mendecakkan lidahnya.
"'Tch'?? Barusan kamu bilang 'tch' kan? Apa kamu berharap bisa mengalihkan pembicaraan semudah itu? Haha.. aku sudah terbiasa dengan pengalihanmu itu, jadi itu takkan mempan lagi padaku!" tegas Rere.
"Begitukah.. lalu bagaimana dengan Arya?" tanya Sindy.
Bukannya menjawab, Rere malah menoleh ke belakang.
"Ah.. syukurlah dia tidak ada." ungkap Rere.
"Kenapa kamu malah menyangka dia ada dibelakangmu ketika aku menyebutkan namanya? Memangnya kamu kira dia ninja?" tanya Sindy tampak heran.
"Mau bagaimana lagi kan? Terakhir kali itu terjadi, dia benar-benar ada dibelakangku!" balas Rere dengan kesal.
"Tapi waktu itu kan kalimatnya bukan dalam bentuk tanya, iya kan, Arya?" sahut Sindy.
Mendengar itu, Rere lalu menoleh lagi kebelakang. Namun sekali lagi, ia tak menemukan sosok Arya dibelakangnya.
"Sudah kuduga kau memang sedang menggodaku saja, Sindy! Tolong hentikan itu!" bentak Rere.
"Huhuhu~ pantas saja Arya sering menggunakan teknik pengalihan ini. Selain bisa mengalihkan pembicaraan, juga bisa sebagai hiburan." pikir Sindy sambil tersenyum.
Tak berapa lama Chelsea datang ke dalam perpustakaan yang sepi itu. Gadis berkacamata itu tampak terengah-engah kelelahan akibat berlari dari gedung kelas 2 yang lama ke gedung perpustakaan.
"Aku datang.. dengan.. sebuah permintaan baru." ujar Chelsea yang kesulitan bernapas akibat kelelahan.
"Ambil napas panjang dulu. Atur napasmu. Baru setelah itu bicara lagi." pinta Sindy.
"Memangnya kenapa kamu bisa sampai kelelahan gitu, Chelsea? Perasaan gedung kelas 2 tak begitu jauh." tanya Rere yang heran dengan kelelahan tak jelas Chelsea itu.
"Kalau itu.. aku harus.. menjelaskannya kah.." balas Chelsea yang masih ngos-ngosan dan tampak berkeringat.
"Rere, jangan ajak bicara dia dulu." pinta Sindy pada kawannya itu.
Sindy kemudian menyodorkan sebotol air minum pada Chelsea.
"Terima kasih, Sindy!" ucap Chelsea langsung meraih botol itu dan meminum isinya.
"Ah! Air minum dari mata air pegunungan memang paling menyegarkan." ungkap Chelsea merasa lebih segar setelah minum.
"Maaf, sebenarnya itu air yang kubawa dari rumah." ujar Sindy.
"Eh, be-begitu ya.." sahut Chelsea merasa sedikit malu ketika mengetahuinya.
"Lalu, apa hal yang membuatmu sampai kelelahan begitu, Chelsea? Kupikir dari jaraknya, gedung yang lama pun tak sejauh itu untuk dapat membuatmu kelelahan." tanya Rere.
"Ya.. kalau memang cuma lari dari gedung yang lama kemari pun takkan semelelahkan itu bagiku. Tapi bagaimana bilangnya, aku sebenarnya tadi berlari mengejar bayangan misterius ketika datang kemari." jelas Chelsea.
"Bayangan misterius?!" ulang Rere nampak sedikit pucat.
"Mh. Dan ketika aku mengejarnya, bayangan itu lari lebih cepat. Aku pun mempercepat lariku, tapi bayangan tersebut malah lari lebih cepat lagi. Sepertinya dia mengetahui kalau aku sedang mengikutinya." lanjut Chelsea.
Mendengar cerita Chelsea makin menyeramkan, Rere pun mulai berkeringat dingin.
"Seberapa cepat pun aku mengejarnya, bayangan itu selalu 1 langkah didepanku." sambung Chelsea.
Rere terlihat semakin ketakutan dan senyumannya terlihat semakin aneh.
"Terus mengejar bayangan itu, aku pun sampai disini. Seakan bayangan itu menuntunku untuk datang kemari untuk beberapa alasan." tambah Chelsea.
Rere mulai meneguk ludahnya sendiri karena merasa takut, namun penasaran juga.
"Dan saat sampai disini, aku pun sadar kalau ternyata yang kukejar selama ini adalah bayanganku sendiri. Tehe~" ungkap Chelsea dengan berlaga imut.
Rere pun dibuat terjungkal dari kursinya akibat terlalu terkejut.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.