Memo, chapter 92 - Hantu & Uji Nyali 6
Di perpustakaan yang kini dijadikan sebagai ruang monitor, Sindy dan yang lainnya sedang mononton uji nyali dari sebuah monitor besar yang dipasang oleh para anggota ekskul jurnal sebelumnya.
"Tunggu sebentar, kenapa kita malah jadi nonton youtube!?" protes Fajar.
"Eh, tapi ini bener kan acara uji nyali?" tanya Sindy sambil menunjuk ke arah monitor.
"Iya sih, tapi bukan acara yang di TV juga kali. Kita kan disini mestinya mengawasi Arya yang sedang berada di lokasi uji nyali!" jawab Fajar.
"Tepat sekali, karena itu kita harusnya mengawasi Arya.." sahut Sindy.
"Nah itu tahu." ujar Fajar.
"..dengan hati yang hangat." lanjut Sindy.
"Dengan hati yang hangat? Apa maksudnya dengan hati yang hangat!? Maksudnya kita tak perlu melihatnya langsung gitu! Kalau begitu apa gunanya ruang monitor ini!? Harusnya kita memonitoring apa saja yang terjadi pada Arya. Kan kasihan kalau terjadi sesuatu padanya. Bisa saja dia takut gelap." gerutu Fajar.
"Kalau itu tenang saja. Dia takkan kenapa-napa." ungkap Sindy.
"Kenapa senior bisa seyakin itu?" tanya Fajar.
Sementara itu di lokasi uji nyali, Arya sedang duduk ditemani nyala lilin dengan sesajen berupa makanan dan minuman ringan yang tersaji dihadapannya.
"Setelah mereka pergi, aku baru sadar kalau tempat ini benar-benar.. mirip dengan rumahku ketika pulsa listriknya sedang habis." pikir Arya ketika duduk di lokasi uji nyali yang mestinya menyeramkan.
Namun Arya begitu tenang dan tampak biasa-biasa saja. Ia terlihat sudah sangat terbiasa dengan situasi gelap seperti ini. Malahan dia seperti sangat nyaman dengan kegelapan itu hingga ia bukan lagi duduk dan malah tiduran diatas tikar yang sudah disediakan untuknya duduk itu.
"Entah kenapa ini malah membuatku bosan dan mengantuk." gerutu Arya sambil menguap.
Kembali ke ruang monitor, Sindy dan yang lainnya kini benar-benar menonton siaran langsung lokasi uji nyali Arya. Mereka tampak menonton dengan serius.
"Sepertinya peserta kita saat ini sangat santai sekali ya." komentar Rere.
"Ya, dia sepertinya terbiasa dengan kegelapan. Entah kenapa." tambah Ikhsan.
"Woy harusnya bukan itu kan yang kalian bahas!" protes Fajar.
"Mungkin karena dia biasa tidur didalam kegelapan." ujar Sindy.
"Ooh.. jadi dia itu tipe orang yang mematikan lampu dulu sebelum tidur ya." sahut Rere.
"Ya, memang ada orang yang seperti itu." tambah Ikhsan.
"Para senior ini, seriuslah sedikit! Kok jadi kemana-mana sih bahasannya!" tegur Fajar.
Ketiga orang senior itu bertingkah seperti komentator yang biasa ada di acara uji nyali di TV. Namun sepertinya, mereka malah membahas sesuatu yang jauh melenceng dari tema uji nyali.
"Kenapa daritadi diam saja? Bukannya dia harusnya melaporkan segala hal yang ia lihat selama uji nyali berlangsung." tanya Rere yang bingung karena melihat Arya hanya diam sambil tiduran.
"Hmm.. benar juga. Kenapa daritadi dia diam saja? Jangan-jangan.." tukas Sindy.
"Mungkin saja. Tidak, tapi tidak salah lagi. Seperti dugaanmu Sindy, dia kesurupan!" ujar Ikhsan dengan nada serius.
"Beneran kah!?" ucap Fajar kaget lalu menoleh ke arah monitor.
Dan ia pun mendapati Arya saat itu sedang duduk bersila dan memakan makanan ringan yang sedang dijadikan sesajen.
"Seperti yang sedang kita lihat, dia kesurupan penunggu gedung tersebut dan memakan sesajen itu karena hantunya merasa kelaparan." jelas Ikhsan dengan kesan sungguh-sungguh.
"Nampaknya memang begitu, saudara Ikhsan." sahut Sindy.
"Memang begitu dari hongkong! Dia tidak nampak seperti sedang kesurupan sama sekali! Lihat saja wajah bosannya itu, dia jelas-jelas hanya ingin menghabiskan waktu saja dengan ngemil." protes Fajar yang tak sepaham.
Tak berapa lama setelah makanannya habis, Arya pun meminum minuman ringan kalengan yang juga tersaji dihadapannya.
"Ach.. tak ada yang bisa mengalahkan kesegaran minuman bersoda." ungkap Arya setelah meminumnya.
"Tuh dengar sendiri kan! Dia benar-benar sadar!" tegas Fajar sambil menunjuk ke arah monitor.
"Eeehhh???!!! Kenapa aku memegang kaleng ini!?" ucap Arya dengan nada terkejut.
"Tak usah pura-pura deh! Jelas-jelas kamu tadi tuh sadar kok!" bentak Fajar dengan kesal.
"Tunggu sebentar, siapa yang telah menghabiskan sesajennya!?" lanjut Arya kembali terkejut dengan berserakannya bungkus makanan ringan didepannya.
"Masih saja pura-pura bego, kan tadi kamu yang makan!" sanggah Fajar semakin kesal.
"Itu pasti kamu ya, Fajar! Kamu pasti menyelinap kemari dan memakannya kan!" tukas Arya sambil menunjuk ke arah kamera.
"Lah kok jadi nyalahin aku!?" sahut Fajar.
"Sepertinya peserta kita yang pertama ini telah gagal karena telah kesurupan dan malah mengobrol dengan peserta lain melalui kamera. Mari sekarang kita jemput yang bersangkutan ke lokasi." ujar Chelsea ke arah kamera yang sedang meliput kejadian di ruang monitor.
Chelsea dan Andri pun kemudian pergi meninggalkan ruang perpustakaan untuk menjemput Arya yang sedang berada di gedung lama kelas 2 yang dijadikan lokasi uji nyali.
"Serius nih, alasan gagal macam apa itu mengobrol dengan peserta lain dari jarak jauh dengan kamera? Memangnya itu bisa dilakukan ya? Lagipula mereka beneran percaya nih kalau Arya barusan tuh kesurupan?" pikir Fajar sambil tersenyum heran.
Catatan hari ini:
Menggunakan makanan untuk sesajian makhluk gaib itu adalah sesuatu yang mubazir, apalagi kalau diluar sana ada orang yang sedang kelaparan yang lebih membutuhkan makanan daripada makhluk gaib yang belum tentu memakan makanan fisik.
"Tunggu sebentar, kenapa kita malah jadi nonton youtube!?" protes Fajar.
"Eh, tapi ini bener kan acara uji nyali?" tanya Sindy sambil menunjuk ke arah monitor.
"Iya sih, tapi bukan acara yang di TV juga kali. Kita kan disini mestinya mengawasi Arya yang sedang berada di lokasi uji nyali!" jawab Fajar.
"Tepat sekali, karena itu kita harusnya mengawasi Arya.." sahut Sindy.
"Nah itu tahu." ujar Fajar.
"..dengan hati yang hangat." lanjut Sindy.
"Dengan hati yang hangat? Apa maksudnya dengan hati yang hangat!? Maksudnya kita tak perlu melihatnya langsung gitu! Kalau begitu apa gunanya ruang monitor ini!? Harusnya kita memonitoring apa saja yang terjadi pada Arya. Kan kasihan kalau terjadi sesuatu padanya. Bisa saja dia takut gelap." gerutu Fajar.
"Kalau itu tenang saja. Dia takkan kenapa-napa." ungkap Sindy.
"Kenapa senior bisa seyakin itu?" tanya Fajar.
Sementara itu di lokasi uji nyali, Arya sedang duduk ditemani nyala lilin dengan sesajen berupa makanan dan minuman ringan yang tersaji dihadapannya.
"Setelah mereka pergi, aku baru sadar kalau tempat ini benar-benar.. mirip dengan rumahku ketika pulsa listriknya sedang habis." pikir Arya ketika duduk di lokasi uji nyali yang mestinya menyeramkan.
Namun Arya begitu tenang dan tampak biasa-biasa saja. Ia terlihat sudah sangat terbiasa dengan situasi gelap seperti ini. Malahan dia seperti sangat nyaman dengan kegelapan itu hingga ia bukan lagi duduk dan malah tiduran diatas tikar yang sudah disediakan untuknya duduk itu.
"Entah kenapa ini malah membuatku bosan dan mengantuk." gerutu Arya sambil menguap.
Kembali ke ruang monitor, Sindy dan yang lainnya kini benar-benar menonton siaran langsung lokasi uji nyali Arya. Mereka tampak menonton dengan serius.
"Sepertinya peserta kita saat ini sangat santai sekali ya." komentar Rere.
"Ya, dia sepertinya terbiasa dengan kegelapan. Entah kenapa." tambah Ikhsan.
"Woy harusnya bukan itu kan yang kalian bahas!" protes Fajar.
"Mungkin karena dia biasa tidur didalam kegelapan." ujar Sindy.
"Ooh.. jadi dia itu tipe orang yang mematikan lampu dulu sebelum tidur ya." sahut Rere.
"Ya, memang ada orang yang seperti itu." tambah Ikhsan.
"Para senior ini, seriuslah sedikit! Kok jadi kemana-mana sih bahasannya!" tegur Fajar.
Ketiga orang senior itu bertingkah seperti komentator yang biasa ada di acara uji nyali di TV. Namun sepertinya, mereka malah membahas sesuatu yang jauh melenceng dari tema uji nyali.
"Kenapa daritadi diam saja? Bukannya dia harusnya melaporkan segala hal yang ia lihat selama uji nyali berlangsung." tanya Rere yang bingung karena melihat Arya hanya diam sambil tiduran.
"Hmm.. benar juga. Kenapa daritadi dia diam saja? Jangan-jangan.." tukas Sindy.
"Mungkin saja. Tidak, tapi tidak salah lagi. Seperti dugaanmu Sindy, dia kesurupan!" ujar Ikhsan dengan nada serius.
"Beneran kah!?" ucap Fajar kaget lalu menoleh ke arah monitor.
Dan ia pun mendapati Arya saat itu sedang duduk bersila dan memakan makanan ringan yang sedang dijadikan sesajen.
"Seperti yang sedang kita lihat, dia kesurupan penunggu gedung tersebut dan memakan sesajen itu karena hantunya merasa kelaparan." jelas Ikhsan dengan kesan sungguh-sungguh.
"Nampaknya memang begitu, saudara Ikhsan." sahut Sindy.
"Memang begitu dari hongkong! Dia tidak nampak seperti sedang kesurupan sama sekali! Lihat saja wajah bosannya itu, dia jelas-jelas hanya ingin menghabiskan waktu saja dengan ngemil." protes Fajar yang tak sepaham.
Tak berapa lama setelah makanannya habis, Arya pun meminum minuman ringan kalengan yang juga tersaji dihadapannya.
"Ach.. tak ada yang bisa mengalahkan kesegaran minuman bersoda." ungkap Arya setelah meminumnya.
"Tuh dengar sendiri kan! Dia benar-benar sadar!" tegas Fajar sambil menunjuk ke arah monitor.
"Eeehhh???!!! Kenapa aku memegang kaleng ini!?" ucap Arya dengan nada terkejut.
"Tak usah pura-pura deh! Jelas-jelas kamu tadi tuh sadar kok!" bentak Fajar dengan kesal.
"Tunggu sebentar, siapa yang telah menghabiskan sesajennya!?" lanjut Arya kembali terkejut dengan berserakannya bungkus makanan ringan didepannya.
"Masih saja pura-pura bego, kan tadi kamu yang makan!" sanggah Fajar semakin kesal.
"Itu pasti kamu ya, Fajar! Kamu pasti menyelinap kemari dan memakannya kan!" tukas Arya sambil menunjuk ke arah kamera.
"Lah kok jadi nyalahin aku!?" sahut Fajar.
"Sepertinya peserta kita yang pertama ini telah gagal karena telah kesurupan dan malah mengobrol dengan peserta lain melalui kamera. Mari sekarang kita jemput yang bersangkutan ke lokasi." ujar Chelsea ke arah kamera yang sedang meliput kejadian di ruang monitor.
Chelsea dan Andri pun kemudian pergi meninggalkan ruang perpustakaan untuk menjemput Arya yang sedang berada di gedung lama kelas 2 yang dijadikan lokasi uji nyali.
"Serius nih, alasan gagal macam apa itu mengobrol dengan peserta lain dari jarak jauh dengan kamera? Memangnya itu bisa dilakukan ya? Lagipula mereka beneran percaya nih kalau Arya barusan tuh kesurupan?" pikir Fajar sambil tersenyum heran.
Catatan hari ini:
Menggunakan makanan untuk sesajian makhluk gaib itu adalah sesuatu yang mubazir, apalagi kalau diluar sana ada orang yang sedang kelaparan yang lebih membutuhkan makanan daripada makhluk gaib yang belum tentu memakan makanan fisik.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.