Memo, chapter 96 - Kegiatan Akhir Pekan 1
Hari minggu Alice di kediaman keluarga Anastasia seperti biasa sangatlah berkelas. Dimulai dengan bangun pagi dari tempat tidurnya dibangunkan oleh seorang pelayan cantik. Mandi pagi dengan berendam di air hangat dengan bunga-bunga sebagai penambah aroma. Lalu kemudian menikmati matahari pagi di pondok di taman bunga sambil meminum teh hangat di gelas mewahnya.
"Nona muda, saya bawakan cemilan untuk anda. Silahkan dinikmati selagi hangat." ujar Ani sambil membawakan sepiring biskuit yang nampaknya baru saja keluar dari oven.
"Terima kasih, Ani." sahut Alice.
"Apa ada hal lain yang nona muda inginkan lagi?" tanya Ani.
"Tidak ada kok. Terima kasih ya Ani. Oh ya, maukah kamu menemaniku ngeteh disini?" jawab Alice lalu bertanya balik.
"Dengan senang hati, nona Alice." sahut Ani sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
Lalu Ani pun berdiri di samping agak kebelakang sedikit dari tempat duduk Alice. Alice menatap heran pada Ani.
"Kenapa malah berdiri disana? Sini duduklah di kursi ini." ujar Alice sambil menunjuk sebuah kursi yang ada didekatnya.
"Terima kasih atas tawarannya, nona Alice. Tapi aku tak bisa. Sebagai seorang pelayan aku tak bisa dengan begitu lancang memposisikan diriku setara dengan nona Alice. Jadi maafkan saya." ungkap Ani.
"Be-begitukah." sahut Alice sambil meletakan gelasnya diatas meja dengan murung.
Ani hanya menundukkan kepalanya menyembunyikan raut wajahnya saat melihat majikannya murung begitu.
Beberapa saat kemudian terdengarlah suara notifikasi pesan masuk aplikasi LINE. Mendengar suara itu, Alice mengeluarkan ponselnya dan melihat tampilan yang muncul di jendela notifikasi LINE tersebut. Dan ia pun mendapati kalau pesan itu ternyata dari Arya.
"Ah, ini Arya." ucap Alice terlihat senang.
Ani terkejut mendengar Alice menyebut nama itu.
"Kenapa laki-laki itu mengirim pesan pada nona Alice? Jangan bilang si brengsek itu mau menggoda nona Alice untuk PDKT?" tukas Ani dalam hatinya.
Alice tampak membalas pesan dari Arya sambil senyum-senyum penuh keriangan. Ani dibuat penasaran oleh tingkah Alice ketika itu, dan dia mencoba untuk mengintip isi obrolan LINE majikannya itu namun sayang karena tulisannya terlalu kecil jadi Ani tak bisa melihatnya dengan jelas.
Alice terus berbalas pesan dengan Arya. Kemurungan diwajahnya telah hilang sepenuhnya.
"Aku tak tahu apa yang sebenarnya membuat nona Alice begitu tertarik pada laki-laki kurang ajar itu. Mungkinkah dia memakai semacam pelet pada nona Alice? Benar-benar berengsek. Sepertinya aku harus segera mencari cara untuk melepas peletnya." gerutu Ani dalam hatinya.
Saat Ani sibuk dalam kekesalannya, Alice tampak selesai mengobrol dengan Arya dan kemudian meletakan ponselnya diatas meja. Lalu Alice pun menoleh ke arah Ani.
"Ani, kamu tolong bungkus semua kue kering ini ya." pinta Alice pada pelayannya itu.
"Dibungkus? Memangnya kenapa mesti dibungkus?" tanya Ani karena bingung.
"Tentu saja untuk dibawa ke rumah Arya sebagai hadiah kan." jawab Alice dengan senyuman diwajahnya.
"Eehhh??!!! No-nona mau apa memangnya ke rumah Arya Sastrawardhana?" tanya Ani lagi terkejut dengan jawaban Alice itu.
"Tadi dia bilang kalau dia bingung dengan jawaban soal PR matematikanya. Jadi.. aku mau kesana untuk membantunya." jelas Alice.
"Tapi kalau masalah PR kan bisa lewat pesan juga kan?" tukas Ani.
"Tadi dia juga bilang gitu sih. Tapi kan.. a-aku mau main ke rumah Arya. Soalnya sekarang kan hari libur, jadinya.. aku tak bisa melihatnya. Aku ingin melihat wajahnya lagi." jawab Alice sambil malu-malu.
"Padahal baru kemarin kan bertemu di ruang ekskul!? Beneran dipelet nih kayaknya. Sialan tuh bocah Arya berengsek!" gerutu Ani dalam hatinya tampak menahan kesal.
"Jadi tolong bungkuskan ya, Ani." sambung Alice memohon pada Ani dengan mata yang berkilauan.
Melihat tatapan memelas seperti itu, Ani pun tidak bisa menolaknya. Apalagi Alice memang majikannya. Jadi Ani hanya bisa menurutinya dan menahan rasa kesalnya pada Arya dalam hatinya saja.
"Kalau sudah dibungkus, tolong siapkan kendaraan. Nanti antarkan aku ke rumah Arya. Aku tunggu di depan." tambah Alice lalu berlari ke dalam rumah.
Ia melupakan ponselnya diatas meja. Ani pun mengambilnya dan berniat mengembalikan ponsel majikannya itu. Namun tiba-tiba ia terhenti karen terpikirkan sesuatu dalam benaknya. Pelayan itu lalu membuka kunci sandi pola ponsel tersebut dan kemudian membuka aplikasi LINE. Di riwayat obrolan teratas tampak nama Arya terpampang karena memang dialah yang terakhir diajak mengobrol oleh Alice.
"Aku akan beri dia pelajaran." ungkap Ani dalam hatinya sambil mengetikan sesuatu.
Sementara itu di rumah Arya, Arya sedang kebingungan mengerjakan PR matematikanya. Dia terdiam memikirkan sebuah soal yang berada di luar jangkauan otaknya itu.
"Harus bagaimana ini? Padahal aku maunya dia memberikan petunjuk lewat LINE saja. Tapi kok malah mau kemari." gerutu Arya dalam hatinya sambil menggaruki kepalanya.
Tiba-tiba sebuah pesan LINE datang. Arya membuka pesan tersebut dan disana tertulis,
'Aku tidak jadi kesana, kamu saja yang datang kesini.'
"Hah? Apa maksudnya ini? Tadi bukannya dia bilang kalau dia yang mau kemari?" ujar Arya bertanya-tanya.
'Sebaiknya cepat!'
"Hah?" ucap Arya.
'Atau kalau tidak aku akan kirim seorang assassin kesana.'
"Assassin?! Pembunuh bayaran?! Ini serius kah!?" ucap Arya kaget.
'Cepetan! ASAP!'
"Jadi disana kebakaran!!??" ujar Arya semakin terkejut.
Arya tidak tahu kalau ASAP disana adalah singkatan dari As Soon As Possible yang artinya 'sesegera mungkin'.
Beberapa saat kemudian dikediaman keluarga Anastasia, tampak banyak mobil pemadam kebakaran berkumpul dengan para petugas pemadam kebakaran yang tampak kebingungan apa yang mesti dipadamkan karena disana sama sekali tak ada tanda-tanda kebakaran. Para pelayan yang ada dirumah pun tampak memberi penjelasan pada petugas, sementara Ani berdiri mematung sambil menatapi layar ponsel Alice ditangannya.
"Jangan bilang ini kerjaannya!!??" tukas Ani dalam hatinya.
Catatan hari ini:
Jangan mencoba membuat sebuah kesalah pahaman karena bisa jadi itu memicu kesalah pahaman yang lain.
"Nona muda, saya bawakan cemilan untuk anda. Silahkan dinikmati selagi hangat." ujar Ani sambil membawakan sepiring biskuit yang nampaknya baru saja keluar dari oven.
"Terima kasih, Ani." sahut Alice.
"Apa ada hal lain yang nona muda inginkan lagi?" tanya Ani.
"Tidak ada kok. Terima kasih ya Ani. Oh ya, maukah kamu menemaniku ngeteh disini?" jawab Alice lalu bertanya balik.
"Dengan senang hati, nona Alice." sahut Ani sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat.
Lalu Ani pun berdiri di samping agak kebelakang sedikit dari tempat duduk Alice. Alice menatap heran pada Ani.
"Kenapa malah berdiri disana? Sini duduklah di kursi ini." ujar Alice sambil menunjuk sebuah kursi yang ada didekatnya.
"Terima kasih atas tawarannya, nona Alice. Tapi aku tak bisa. Sebagai seorang pelayan aku tak bisa dengan begitu lancang memposisikan diriku setara dengan nona Alice. Jadi maafkan saya." ungkap Ani.
"Be-begitukah." sahut Alice sambil meletakan gelasnya diatas meja dengan murung.
Ani hanya menundukkan kepalanya menyembunyikan raut wajahnya saat melihat majikannya murung begitu.
Beberapa saat kemudian terdengarlah suara notifikasi pesan masuk aplikasi LINE. Mendengar suara itu, Alice mengeluarkan ponselnya dan melihat tampilan yang muncul di jendela notifikasi LINE tersebut. Dan ia pun mendapati kalau pesan itu ternyata dari Arya.
"Ah, ini Arya." ucap Alice terlihat senang.
Ani terkejut mendengar Alice menyebut nama itu.
"Kenapa laki-laki itu mengirim pesan pada nona Alice? Jangan bilang si brengsek itu mau menggoda nona Alice untuk PDKT?" tukas Ani dalam hatinya.
Alice tampak membalas pesan dari Arya sambil senyum-senyum penuh keriangan. Ani dibuat penasaran oleh tingkah Alice ketika itu, dan dia mencoba untuk mengintip isi obrolan LINE majikannya itu namun sayang karena tulisannya terlalu kecil jadi Ani tak bisa melihatnya dengan jelas.
Alice terus berbalas pesan dengan Arya. Kemurungan diwajahnya telah hilang sepenuhnya.
"Aku tak tahu apa yang sebenarnya membuat nona Alice begitu tertarik pada laki-laki kurang ajar itu. Mungkinkah dia memakai semacam pelet pada nona Alice? Benar-benar berengsek. Sepertinya aku harus segera mencari cara untuk melepas peletnya." gerutu Ani dalam hatinya.
Saat Ani sibuk dalam kekesalannya, Alice tampak selesai mengobrol dengan Arya dan kemudian meletakan ponselnya diatas meja. Lalu Alice pun menoleh ke arah Ani.
"Ani, kamu tolong bungkus semua kue kering ini ya." pinta Alice pada pelayannya itu.
"Dibungkus? Memangnya kenapa mesti dibungkus?" tanya Ani karena bingung.
"Tentu saja untuk dibawa ke rumah Arya sebagai hadiah kan." jawab Alice dengan senyuman diwajahnya.
"Eehhh??!!! No-nona mau apa memangnya ke rumah Arya Sastrawardhana?" tanya Ani lagi terkejut dengan jawaban Alice itu.
"Tadi dia bilang kalau dia bingung dengan jawaban soal PR matematikanya. Jadi.. aku mau kesana untuk membantunya." jelas Alice.
"Tapi kalau masalah PR kan bisa lewat pesan juga kan?" tukas Ani.
"Tadi dia juga bilang gitu sih. Tapi kan.. a-aku mau main ke rumah Arya. Soalnya sekarang kan hari libur, jadinya.. aku tak bisa melihatnya. Aku ingin melihat wajahnya lagi." jawab Alice sambil malu-malu.
"Padahal baru kemarin kan bertemu di ruang ekskul!? Beneran dipelet nih kayaknya. Sialan tuh bocah Arya berengsek!" gerutu Ani dalam hatinya tampak menahan kesal.
"Jadi tolong bungkuskan ya, Ani." sambung Alice memohon pada Ani dengan mata yang berkilauan.
Melihat tatapan memelas seperti itu, Ani pun tidak bisa menolaknya. Apalagi Alice memang majikannya. Jadi Ani hanya bisa menurutinya dan menahan rasa kesalnya pada Arya dalam hatinya saja.
"Kalau sudah dibungkus, tolong siapkan kendaraan. Nanti antarkan aku ke rumah Arya. Aku tunggu di depan." tambah Alice lalu berlari ke dalam rumah.
Ia melupakan ponselnya diatas meja. Ani pun mengambilnya dan berniat mengembalikan ponsel majikannya itu. Namun tiba-tiba ia terhenti karen terpikirkan sesuatu dalam benaknya. Pelayan itu lalu membuka kunci sandi pola ponsel tersebut dan kemudian membuka aplikasi LINE. Di riwayat obrolan teratas tampak nama Arya terpampang karena memang dialah yang terakhir diajak mengobrol oleh Alice.
"Aku akan beri dia pelajaran." ungkap Ani dalam hatinya sambil mengetikan sesuatu.
Sementara itu di rumah Arya, Arya sedang kebingungan mengerjakan PR matematikanya. Dia terdiam memikirkan sebuah soal yang berada di luar jangkauan otaknya itu.
"Harus bagaimana ini? Padahal aku maunya dia memberikan petunjuk lewat LINE saja. Tapi kok malah mau kemari." gerutu Arya dalam hatinya sambil menggaruki kepalanya.
Tiba-tiba sebuah pesan LINE datang. Arya membuka pesan tersebut dan disana tertulis,
'Aku tidak jadi kesana, kamu saja yang datang kesini.'
"Hah? Apa maksudnya ini? Tadi bukannya dia bilang kalau dia yang mau kemari?" ujar Arya bertanya-tanya.
'Sebaiknya cepat!'
"Hah?" ucap Arya.
'Atau kalau tidak aku akan kirim seorang assassin kesana.'
"Assassin?! Pembunuh bayaran?! Ini serius kah!?" ucap Arya kaget.
'Cepetan! ASAP!'
"Jadi disana kebakaran!!??" ujar Arya semakin terkejut.
Arya tidak tahu kalau ASAP disana adalah singkatan dari As Soon As Possible yang artinya 'sesegera mungkin'.
Beberapa saat kemudian dikediaman keluarga Anastasia, tampak banyak mobil pemadam kebakaran berkumpul dengan para petugas pemadam kebakaran yang tampak kebingungan apa yang mesti dipadamkan karena disana sama sekali tak ada tanda-tanda kebakaran. Para pelayan yang ada dirumah pun tampak memberi penjelasan pada petugas, sementara Ani berdiri mematung sambil menatapi layar ponsel Alice ditangannya.
"Jangan bilang ini kerjaannya!!??" tukas Ani dalam hatinya.
Catatan hari ini:
Jangan mencoba membuat sebuah kesalah pahaman karena bisa jadi itu memicu kesalah pahaman yang lain.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.