Memo, chapter 91 - Hantu & Uji Nyali 5
Acara uji nyali pun dimulai. Setelah semua persiapan dan diskusi yang panjang, kini telah ditentukan kalau urutan peserta dari 3 orang peserta adalah Arya yang pertama, lalu setelah itu Digna, dan yang terakhir adalah Fajar yang memang ngotot ingin giliran terakhir.
"Oke, karena Arya adalah urutan pertama, maka dipersilahkan untuk mengikutiku ke gedung kelas 2 yang lama." ajak Chelsea pada Arya.
"Baiklah, tapi sebelumnya bolehkah aku bertanya sesuatu?" ujar Arya.
"Apa itu?" sahut Chelsea.
"Senior tidak akan mengikatku di kursi lagi kan?" tanya Arya.
"Tenang saja, aku takkan melakukannya kok. Waktu itu kan aku cuma berusaha untuk mendapatkan informasi saja darimu." jawab Chelsea.
"Informasi? Begitukah cara senior mendapatkan informasi selama ini?" tanya Arya lagi.
"Tidak juga sih. Aku melakukannya hanya padamu saja kok." jawab Chelsea dengan polos.
"Eh, kenapa hanya padaku?" tanya Arya lagi tampak heran.
"Itu tak penting sekarang. Daripada menanyakan itu, bukannya lebih baik kita segera mulai acaranya." balas Chelsea.
"Hmm.. baiklah. Walau aku masih penasaran, tapi aku akan membiarkannya untuk sekarang." sahut Arya.
Arya dan Chelsea pun pergi meninggalkan ruang perpustakaan dan menuju ke gedung lama kelas 2 yang berada di bagian belakang lingkungan sekolah. Selain mereka berdua terlihat seorang anggota laki-laki dari ekskul jurnal mengikuti mereka dari belakang sambil membawa sebuah kamera. Arya merasakan sebuah tatapan tajam yang menusuk ke punggungnya. Dan hal tersebut membuatnya merasa terganggu lalu mencoba melihat kebelakangnya tanpa menolehkan kepalanya terlalu banyak.
"Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa aku melakukan kesalahan?" ucap Arya dalam hatinya sambil melirik ke arah laki-laki yang membawa kamera itu.
"Ada apa? Kamu penasaran dengan siapa yang ada dibelakangmu?" tanya Chelsea menyadari Arya sedang melihat ke arah anggota ekskul nya itu.
"Tidak juga. Aku hanya merasa aneh, kenapa dia terus menatapku seakan aku adalah seorang kriminal." jawab Arya.
"Oh itu, maafkan dia, dia memang sering seperti itu ketika melihat sesuatu yang membuatnya penasaran." jelas Chelsea.
"Be-begitukah. Aneh juga ya. Memangnya alisnya tidak pegal tuh ditekuk terus?" ujar Arya.
"Hahaha.. ya aku juga heran sih. Mungkin jika ada adu kuat otot jidat, bisa jadi dia yang akan jadi juaranya." balas Chelsea.
"Wah.. hebat.." sahut Arya dengan ekspresi kagum.
"Woy kalian berdua, aku bisa mendengarnya dengan jelas lho." tegur orang yang sedang dibicarakan itu.
"Apa!!?? Tidak mungkin??!!" ucap Arya dan Chelsea bersamaan dengan memasang wajah kaget.
"Kalian berdua, jangan bilang kalian memang sengaja ingin membuatku kesal ya." tukas orang tersebut.
"Dan juga kamu, Arya Sastrawardhana kan? Kamu harusnya lebih sopan padaku. Aku ini seniormu tahu." sambungnya kemudian menatap ke arah Arya.
"Be-begitukah. Maaf, kukira senior itu adalah anak kelas 1 sama sepertiku. Maafkan atas ketidaksopanan ku." balas Arya dengan nada hormat.
"Kenapa kamu bisa salah mengiraku anak kelas 1? Jangan bilang kalau kamu mau mengatakan kalau aku ini pendek. Iya kan? Kamu benar-benar tidak sopan banget ya.. kalau begitu tak aja jalan lain selain mengajarkan kesopanan padamu. Biar kuperkenalkan siapa diriku. Namaku adalah Andri Sadega, dari kelas XI IPS 2. Panggil aku kakak besar Andri! Ingat itu!" jawab Andri.
"Sa-salam kenal, kakak besar Andri." sahut Arya.
"Baiklah kita sudah sampai." ujar Chelsea.
Bekas gedung kelas 2 yang kini dialih fungsikan sebagai gudang itu sudah didepan mata mereka. Gedung itu benar-benar mirip sebuah rumah hantu ketika malam. Ruangan yang gelap, banyak rongsokan dan kotor oleh debu, dan juga suasana yang begitu sepi semakin menambah kesan horror tempat itu.
"Mungkin sebaiknya lain kali kita ubah saja tempat ini jadi rumah hantu komersial. Pasti kita akan untung banyak nih." komentar Arya ketika melihat gedung itu untuk pertama kalinya.
"Tolong jangan mengatakan hal semacam itu. Ini properti sekolah lho." tegur Andri.
"Arya!" panggil Chelsea.
"Hayo lho, kena bentak ketua." ujar Andri.
"Tak kusangka ternyata idemu bagus juga. Seperti yang diharapkan dari anggota ekskul sastra." sambung Chelsea sambil mengacungkan jempolnya.
"Eehh!!?? Kok malah didukung!!?? Harusnya ketua memperingatkan dia kalau gedung ini adalah properti milik sekolah. Jadi tidak bisa pergunakan seenaknya!" bentak Andri.
"Benar juga. Kita harus minta ijin dulu sebelum bisa menghasilkan uang dengan tempat ini. Hmm.. mungkin nanti aku harus mengajukan proposal ke kepala sekolah." ujar Chelsea.
"Lah beneran mau diseriusin nih!? Kalian cuma bercanda kan!? Iya kan!!?" pekik Andri.
"Andri, kamu berisik banget sih daritadi. Harusnya kamu segera nyalakan kameramu untuk merekam wawancara peserta pertama kita ini kan." balas Chelsea sambil menatap serius pada Andri.
"Eehh.. kenapa malah jadi aku yang diomeli?" gerutu Andri.
Andri pun akhirnya menuruti perintah dari ketuanya itu dan segera menyalakan kameranya lalu bersiap untuk merekam Arya dan Chelsea.
"Oke, camera rolling.. and.. action!" ucap Andri.
"Selamat datang diacara Unyal Emet, alias Uji Nyali Extended Version Ultimate." ujar Chelsea memberi kata pembukaan.
"Penamaan macam apa itu? Terlalu lebay." komentar Andri dalam hatinya sambil tersenyum aneh.
"Malam ini, yang jadi lokasi uji nyalinya adalah gedung lama kelas 2 yang kini dijadikan gudang barang tak terpakai di sekolah. Seperti yang kita ketahui, ada cerita yang beredar kalau disekitar sini telah muncul penampakan hantu yang sebelumnya dimulai dengan terdengarnya sebuah nyanyian merdu perempuan. Dan ketika nyanyian tersebut berhenti, sosok sang hantu pun langsung muncul dibelakangnya. Benar-benar cerita yang mengerikan. Karena itulah saat ini kami akan memulai sebuah uji nyali disini untuk membuktikan kalau cerita itu benar atau salah." ujar Chelsea berbicara seperti seorang host yang handal.
"Kita beruntung malam ini kita punya 3 seperta pemberani yang bersedia untuk mengikuti acara ini dengan sukarela. Dan saat ini, aku sedang bersama peserta pertama yang akan segera melakukan uji nyali sekarang." sambung Chelsea.
Kamera pun kini tidak lagi fokus terhadap Chelsea, dan beralih ke Arya.
"H-halo semuanya. Apa kabar? Bagaimana kabar kalian?" sapa Arya dengan sedikit grogi disorot kamera.
"Kenapa dia tiba-tiba gugup gitu? Padahal tadi tampak biasa-biasa saja." komentar Andri dalam hatinya ketika melihat perubahan ekspresi Arya.
Kamera sekarang di zoom out untuk menyorot pada Arya dan Chelsea.
"Jadi siapa nama kamu dan dari kelas mana?" tanya Chelsea pada Arya.
"N-namaku Arya, dari kelas X - 1. Salam kenal." jawab Arya dengan tegang.
"Hmm.. belum dimulai saja kamu sepertinya sudah ketakutan ya. Apa kamu yakin masih mau melanjutkan untuk mengikuti uji nyali ini?" tanya Chelsea.
"Ke-ketakutan?? Siapa yang ketakutan? Aku berani kok. Lihat saja tinjuku ini." jawab Arya dengan gemetaran.
"Kamu jelas-jelas gemetaran gitu. Lagipula, keberanian tidak ada hubungannya dengan tinjumu itu tahu." sanggah Chelsea.
"Tapi aku bisa menggunakan tinjuku untuk memukul setiap hantu yang menampakkan dirinya." ujar Arya yang bertingkah seperti seorang petinju handal.
"Saudara Arya, apa kamu lupa kalau hantu itu tak bisa dipukul?" ujar Chelsea.
Mendengarnya Arya pun berhenti bertinju dan diam terpaku.
"Be-be-benar juga??!! Kenapa aku bisa lupa!!??" ucap Arya yang terlihat sangat syok.
"Woy, ini bukan acara komedi. Kalian berdua serius lah." ujar Andri dalam hatinya.
"Oke, para pemirsa sekalian, sepertinya peserta kita ini sudah siap untuk memulai uji nyalinya." ungkap Chelsea sambil tersenyum.
Chelsea kemudian mengantarkan Arya ke dalam ruangan yang akan digunakan sebagai lokasi uji nyalinya.
"Baiklah saudara Arya, disinilah kamu akan melakukan uji nyali. Dimohon untuk tidak keluar dari ruangan ini selama kegiatan uji nyali. Dan ketika disini, kamu diminta untuk terus melaporkan setiap hal yang kamu lihat pada kami melalui microphone dari kamera kami. Apabila kamu sudah tidak kuat dan ingin menyerah silahkan lambaikan kaki ke kamera." ujar Chelsea menjelaskan peraturan dari acara tersebut.
"Siap, laksanakan!" sahut Arya bertingkah layaknya seorang prajurit.
"Tunggu sebentar, dia beneran tidak menyadarinya atau hanya berpura-pura tak menyadarinya keanehan dari aturan yang barusan?" pikir Andri.
"Kalau begitu kami akan meninggalkan kamu disini, dan penghitungan waktu akan dimulai setelah kami sampai ke ruang monitor. Semoga berhasil." ungkap Chelsea kemudian pergi dari ruangan tersebut bersama dengan Andri.
Arya ditinggalkan sendirian di ruangan itu hanya ditemani sebuah kamera, sebuah lilin, sebuah obat nyamuk bakar, dan beberapa makanan dan minuman ringan yang dijadikan sesajen.
"Setelah mereka pergi, aku baru sadar kalau tempat ini benar-benar.." gumam Arya terkejut dengan suasana disekitarnya saat ini.
Catatan hari ini:
Mungkin yang sering kita lihat dari seseorang adalah kelebihannya, namun di suatu saat nanti kita juga akan melihat kekurangannya yang akan diperlihatkan secara sengaja atau tak sengaja.
"Oke, karena Arya adalah urutan pertama, maka dipersilahkan untuk mengikutiku ke gedung kelas 2 yang lama." ajak Chelsea pada Arya.
"Baiklah, tapi sebelumnya bolehkah aku bertanya sesuatu?" ujar Arya.
"Apa itu?" sahut Chelsea.
"Senior tidak akan mengikatku di kursi lagi kan?" tanya Arya.
"Tenang saja, aku takkan melakukannya kok. Waktu itu kan aku cuma berusaha untuk mendapatkan informasi saja darimu." jawab Chelsea.
"Informasi? Begitukah cara senior mendapatkan informasi selama ini?" tanya Arya lagi.
"Tidak juga sih. Aku melakukannya hanya padamu saja kok." jawab Chelsea dengan polos.
"Eh, kenapa hanya padaku?" tanya Arya lagi tampak heran.
"Itu tak penting sekarang. Daripada menanyakan itu, bukannya lebih baik kita segera mulai acaranya." balas Chelsea.
"Hmm.. baiklah. Walau aku masih penasaran, tapi aku akan membiarkannya untuk sekarang." sahut Arya.
Arya dan Chelsea pun pergi meninggalkan ruang perpustakaan dan menuju ke gedung lama kelas 2 yang berada di bagian belakang lingkungan sekolah. Selain mereka berdua terlihat seorang anggota laki-laki dari ekskul jurnal mengikuti mereka dari belakang sambil membawa sebuah kamera. Arya merasakan sebuah tatapan tajam yang menusuk ke punggungnya. Dan hal tersebut membuatnya merasa terganggu lalu mencoba melihat kebelakangnya tanpa menolehkan kepalanya terlalu banyak.
"Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa aku melakukan kesalahan?" ucap Arya dalam hatinya sambil melirik ke arah laki-laki yang membawa kamera itu.
"Ada apa? Kamu penasaran dengan siapa yang ada dibelakangmu?" tanya Chelsea menyadari Arya sedang melihat ke arah anggota ekskul nya itu.
"Tidak juga. Aku hanya merasa aneh, kenapa dia terus menatapku seakan aku adalah seorang kriminal." jawab Arya.
"Oh itu, maafkan dia, dia memang sering seperti itu ketika melihat sesuatu yang membuatnya penasaran." jelas Chelsea.
"Be-begitukah. Aneh juga ya. Memangnya alisnya tidak pegal tuh ditekuk terus?" ujar Arya.
"Hahaha.. ya aku juga heran sih. Mungkin jika ada adu kuat otot jidat, bisa jadi dia yang akan jadi juaranya." balas Chelsea.
"Wah.. hebat.." sahut Arya dengan ekspresi kagum.
"Woy kalian berdua, aku bisa mendengarnya dengan jelas lho." tegur orang yang sedang dibicarakan itu.
"Apa!!?? Tidak mungkin??!!" ucap Arya dan Chelsea bersamaan dengan memasang wajah kaget.
"Kalian berdua, jangan bilang kalian memang sengaja ingin membuatku kesal ya." tukas orang tersebut.
"Dan juga kamu, Arya Sastrawardhana kan? Kamu harusnya lebih sopan padaku. Aku ini seniormu tahu." sambungnya kemudian menatap ke arah Arya.
"Be-begitukah. Maaf, kukira senior itu adalah anak kelas 1 sama sepertiku. Maafkan atas ketidaksopanan ku." balas Arya dengan nada hormat.
"Kenapa kamu bisa salah mengiraku anak kelas 1? Jangan bilang kalau kamu mau mengatakan kalau aku ini pendek. Iya kan? Kamu benar-benar tidak sopan banget ya.. kalau begitu tak aja jalan lain selain mengajarkan kesopanan padamu. Biar kuperkenalkan siapa diriku. Namaku adalah Andri Sadega, dari kelas XI IPS 2. Panggil aku kakak besar Andri! Ingat itu!" jawab Andri.
"Sa-salam kenal, kakak besar Andri." sahut Arya.
"Baiklah kita sudah sampai." ujar Chelsea.
Bekas gedung kelas 2 yang kini dialih fungsikan sebagai gudang itu sudah didepan mata mereka. Gedung itu benar-benar mirip sebuah rumah hantu ketika malam. Ruangan yang gelap, banyak rongsokan dan kotor oleh debu, dan juga suasana yang begitu sepi semakin menambah kesan horror tempat itu.
"Mungkin sebaiknya lain kali kita ubah saja tempat ini jadi rumah hantu komersial. Pasti kita akan untung banyak nih." komentar Arya ketika melihat gedung itu untuk pertama kalinya.
"Tolong jangan mengatakan hal semacam itu. Ini properti sekolah lho." tegur Andri.
"Arya!" panggil Chelsea.
"Hayo lho, kena bentak ketua." ujar Andri.
"Tak kusangka ternyata idemu bagus juga. Seperti yang diharapkan dari anggota ekskul sastra." sambung Chelsea sambil mengacungkan jempolnya.
"Eehh!!?? Kok malah didukung!!?? Harusnya ketua memperingatkan dia kalau gedung ini adalah properti milik sekolah. Jadi tidak bisa pergunakan seenaknya!" bentak Andri.
"Benar juga. Kita harus minta ijin dulu sebelum bisa menghasilkan uang dengan tempat ini. Hmm.. mungkin nanti aku harus mengajukan proposal ke kepala sekolah." ujar Chelsea.
"Lah beneran mau diseriusin nih!? Kalian cuma bercanda kan!? Iya kan!!?" pekik Andri.
"Andri, kamu berisik banget sih daritadi. Harusnya kamu segera nyalakan kameramu untuk merekam wawancara peserta pertama kita ini kan." balas Chelsea sambil menatap serius pada Andri.
"Eehh.. kenapa malah jadi aku yang diomeli?" gerutu Andri.
Andri pun akhirnya menuruti perintah dari ketuanya itu dan segera menyalakan kameranya lalu bersiap untuk merekam Arya dan Chelsea.
"Oke, camera rolling.. and.. action!" ucap Andri.
"Selamat datang diacara Unyal Emet, alias Uji Nyali Extended Version Ultimate." ujar Chelsea memberi kata pembukaan.
"Penamaan macam apa itu? Terlalu lebay." komentar Andri dalam hatinya sambil tersenyum aneh.
"Malam ini, yang jadi lokasi uji nyalinya adalah gedung lama kelas 2 yang kini dijadikan gudang barang tak terpakai di sekolah. Seperti yang kita ketahui, ada cerita yang beredar kalau disekitar sini telah muncul penampakan hantu yang sebelumnya dimulai dengan terdengarnya sebuah nyanyian merdu perempuan. Dan ketika nyanyian tersebut berhenti, sosok sang hantu pun langsung muncul dibelakangnya. Benar-benar cerita yang mengerikan. Karena itulah saat ini kami akan memulai sebuah uji nyali disini untuk membuktikan kalau cerita itu benar atau salah." ujar Chelsea berbicara seperti seorang host yang handal.
"Kita beruntung malam ini kita punya 3 seperta pemberani yang bersedia untuk mengikuti acara ini dengan sukarela. Dan saat ini, aku sedang bersama peserta pertama yang akan segera melakukan uji nyali sekarang." sambung Chelsea.
Kamera pun kini tidak lagi fokus terhadap Chelsea, dan beralih ke Arya.
"H-halo semuanya. Apa kabar? Bagaimana kabar kalian?" sapa Arya dengan sedikit grogi disorot kamera.
"Kenapa dia tiba-tiba gugup gitu? Padahal tadi tampak biasa-biasa saja." komentar Andri dalam hatinya ketika melihat perubahan ekspresi Arya.
Kamera sekarang di zoom out untuk menyorot pada Arya dan Chelsea.
"Jadi siapa nama kamu dan dari kelas mana?" tanya Chelsea pada Arya.
"N-namaku Arya, dari kelas X - 1. Salam kenal." jawab Arya dengan tegang.
"Hmm.. belum dimulai saja kamu sepertinya sudah ketakutan ya. Apa kamu yakin masih mau melanjutkan untuk mengikuti uji nyali ini?" tanya Chelsea.
"Ke-ketakutan?? Siapa yang ketakutan? Aku berani kok. Lihat saja tinjuku ini." jawab Arya dengan gemetaran.
"Kamu jelas-jelas gemetaran gitu. Lagipula, keberanian tidak ada hubungannya dengan tinjumu itu tahu." sanggah Chelsea.
"Tapi aku bisa menggunakan tinjuku untuk memukul setiap hantu yang menampakkan dirinya." ujar Arya yang bertingkah seperti seorang petinju handal.
"Saudara Arya, apa kamu lupa kalau hantu itu tak bisa dipukul?" ujar Chelsea.
Mendengarnya Arya pun berhenti bertinju dan diam terpaku.
"Be-be-benar juga??!! Kenapa aku bisa lupa!!??" ucap Arya yang terlihat sangat syok.
"Woy, ini bukan acara komedi. Kalian berdua serius lah." ujar Andri dalam hatinya.
"Oke, para pemirsa sekalian, sepertinya peserta kita ini sudah siap untuk memulai uji nyalinya." ungkap Chelsea sambil tersenyum.
Chelsea kemudian mengantarkan Arya ke dalam ruangan yang akan digunakan sebagai lokasi uji nyalinya.
"Baiklah saudara Arya, disinilah kamu akan melakukan uji nyali. Dimohon untuk tidak keluar dari ruangan ini selama kegiatan uji nyali. Dan ketika disini, kamu diminta untuk terus melaporkan setiap hal yang kamu lihat pada kami melalui microphone dari kamera kami. Apabila kamu sudah tidak kuat dan ingin menyerah silahkan lambaikan kaki ke kamera." ujar Chelsea menjelaskan peraturan dari acara tersebut.
"Siap, laksanakan!" sahut Arya bertingkah layaknya seorang prajurit.
"Tunggu sebentar, dia beneran tidak menyadarinya atau hanya berpura-pura tak menyadarinya keanehan dari aturan yang barusan?" pikir Andri.
"Kalau begitu kami akan meninggalkan kamu disini, dan penghitungan waktu akan dimulai setelah kami sampai ke ruang monitor. Semoga berhasil." ungkap Chelsea kemudian pergi dari ruangan tersebut bersama dengan Andri.
Arya ditinggalkan sendirian di ruangan itu hanya ditemani sebuah kamera, sebuah lilin, sebuah obat nyamuk bakar, dan beberapa makanan dan minuman ringan yang dijadikan sesajen.
"Setelah mereka pergi, aku baru sadar kalau tempat ini benar-benar.." gumam Arya terkejut dengan suasana disekitarnya saat ini.
Catatan hari ini:
Mungkin yang sering kita lihat dari seseorang adalah kelebihannya, namun di suatu saat nanti kita juga akan melihat kekurangannya yang akan diperlihatkan secara sengaja atau tak sengaja.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.