Posts

Showing posts from April, 2014

VocaWorld, chapter 48 - Mirror And Harmony

Diatas sebuah gedung, Ray dan Dante terlihat melihat ke arah sebuah sekolah. Tepatnya ke arah sebuah kelas tempat Rin dan Len berada. "Aku tak menyangka kalau ternyata tempatnya adalah sebuah sekolah." ucap Dante. Ray hanya diam saja saat itu. "Oh iya, aku baru ingat kalau Aniki menyebut tentang murid. Harus nya aku sudah menduga kalau tempatnya berhubungan dengan sekolah." sambung Dante. Ray masih diam saja. "Hmm.. jadi, kita mau apa selanjutnya?" tanya Dante. "Kamu tak perlu melakukan apa-apa. Mereka mampu mengatasinya. Jadi, kamu diam saja disini." jawab Ray yg kemudian melompat turun dan berubah. "Mau kemana Aniki itu?" ucap Dante. Ray menyusup ke dalam gedung sekolah. Sementara di dalam kelas, Rin dan Len terlihat ketakutan. Mereka berdua berdiri dan terus mundur ke belakang. "Len, bagaimana ini? Kelihatannya sensei marah banget ama kita." ujar Rin. "Aku juga tidak tahu. Jangan tanya aku." sahut Len. ...

VocaWorld, chapter 47 - Nada Hitam Penuh Dosa

Akademi Voca sore itu tampak begitu tenang. Murid-murid terlihat sedang berjalan pulang. Sementara ada juga yg masih melakukan kegiatan klub. Di depan kelas 1-B terlihat Luka sedang berbicara dengan Ray. Saat itu Ray sedang membawa tas dan mengenakan jaket hitamnya bersiap untuk segera pulang. "Hmm.. oh ya, apa Ray-kun punya acara saat liburan musim panas nanti?" tanya Luka mencoba bersikap biasa walau sedikit malu. "Bagaimana ya? Nampaknya sih bakalan sedikit sibuk." jawab Ray. "Sibuk? Emang kamu ada kerja apa musim panas nanti?" tanya Luka lagi dengan sedikit cemberut. "Hmm.. aku tak tahu apa ini bisa disebut pekerjaan tapi.. kemungkinan kita ada di sisi yg berseberangan musim panas nanti." jelas Ray. "Hah?" ucap Luka tak mengerti. Lalu Ray menyadari sesuatu. Ternyata ada sesosok bayangan menuju ke arah mereka. Dengan kecepatan tinggi mencoba masuk melalui jendela yg terbuka. "Awas!" ucap Ray sambil menarik Luka ke sa...

VocaWorld, chapter 46 - Cahaya Di Masa Lalu

Siang hari itu terlihat agak mendung, Kamui yg sedang duduk di depan dojo melihat ke arah langit. Dia pun melihat awan yg gelap menyelimuti langit. "Gaku-Gaku." panggil Gumi dari depan rumah Kamui. Kamui pun menoleh ke arah suara itu. "Megu?!" ucap Kamui terlihat terkejut melihat beberapa bagian tubuh Gumi diperban. Kamui berdiri dan lalu menghampiri Gumi. "Megu, kau tak apa?" tanya Kamui. "Tak apa kok. Aku baik-baik saja." jawab Gumi wajahnya memerah melihat Kamui begitu perhatian padanya. "Makanya kalau nyebrang tuh hati-hati." ujar Kamui sambil menepuk kepala Gumi. "Eh?" ucap Gumi bingung. "Kita gak tahu kan kapan kita jadi korban tabrak lari. Sekarang kan marak banget tuh kasus tabrak lari. Jangankan yg lagi nyebrang jalan, yg jalan di trotoar aja di tabrak." sambung Kamui. "Dasar bego!!! Aku itu habis diserang seseorang tahu! Kalau aku ditabrak mobil mah udah mati kali. Sebenarnya sampai dimana si...

VocaWorld, chapter 45 - Badai Di Malam Hari

Sekitar 5 tahun yg lalu, saat peperangan besar di bumi tengah terjadi. Perang antara aliansi musik melawan musik hitam satanism yg disebut perang nada hitam. Pasukan pangeran kegelapan berhasil dipojokkan oleh pasukan barisan terdepan aliansi musik. Pangeran kegepalan mengeluarkan api hitamnya dalam amarah dia membakar seluruh kota. Ditengah kobaran api, terlihat pangeran kegelapan berdiri tegak dan pasukannya habis dibantai oleh pasukan aliansi. Namun pasukan aliansi juga habis terhempas oleh ledakan api hitamnya. Rambut keperakannya terlihat terangkat terkena hembusan angin. Mata nya merah menyala melihat kebawah dengan kepala tertunduk. Diantara mayat para pasukan aliansi terlihat seorang gadis berambut hijau hendak bangun. Pangeran kegelapan pun menyadarinya. Dia melirik ke arah gadis itu dengan tatapan menyeramkan. Pangeran kegelapan pun menghampiri gadis itu. Dia berjalan diantara api yg berkobar namun ia tak terbakar sedikitpun. Saat gadis itu berdiri tegak lagi, pangeran kegela...

VocaWorld, chapter 44 - Malam Tak Berangin

Dante dan anggota klub visual kei mulai menaiki panggung. Mereka mulai memperkenalkan diri mereka masing-masing. "Perkenalkan, kami adalah Magatama." ucap ketua botak lewat microphone. "Drummer, Goliath." sambung ketua botak. "Bassist, Kiyoshi." ujar Kiyoshi. "Gitarist, Hydra." ucap Hydra. "Keyboardist, Range." tambah Range. "Gitar dan Vocal, Lucifer." ucap Dante sambil tersenyum jahat. Mereka semua berpose dengan gaya mereka masing-masing. "Lu-Lucifer?!" ucap Gumi terlihat terkejut saat mendengarnya. "Ini bahaya, dia malah menggunakan nama nya yg dulu." ujar Ray yg juga mendengar ucapan Dante. Ray melihat ke arah Gumi, dan terlihat Gumi berubah jadi kesal dan marah. Itu terlihat dari ekspresinya. Gumi pun memakai earophoid nya dan kemudian melompat sambil berubah. Saat melompat tiba-tiba suasan sekitar jadi hitam putih. Dan muncul Ray yg melompat menghalanginya. Ray mencengkeram baju Gumi lalu me...

VocaWorld, chapter 43 - Kabut Mulai Menghilang

Luka bertemu dengan kakek Taka dan nenek Toko di rumah mereka. Saat itu langit berwarna kemerahan karena cahaya matahari senja. Luka terlihat serius, itu terlihat dari tatapan matanya saat itu. "Apa yg ingin kamu tanyakan, Luka-chan?" tanya nenek Toko. "Yg ingin kutanyakan adalah, siapa sebenarnya Ray-kun itu?" sahut Luka. Kakek Taka dan nenek Toko terlihat sedikit terkejut mendengarnya. "Ada apa? Apa kalian menyembunyikan sesuatu?" tanya Luka lagi mulai curiga. "Tidak, hanya saja Shiro-kun pasti tak ingin kami memberitahukan padamu sekarang." jawab nenek Toko. "Nenek, kenapa kamu malah menjawabnya?" ujar kakek Taka. "Sudah, tak apa. Shiro-kun takkan keberatan kalau kita memberinya sedikit petunjuk." sahut nenek Toko. "Sudah kuduga kalian tahu siapa sebenarnya dia itu. Katakan saja padaku, kenapa kalian begitu takut padanya?" kata Luka yg terlihat semakin serius setelah mendengar pernyataan nenek Toko. ...

VocaWorld, chapter 42 - Sebuah Pertanyaan Yang Belum Terjawab

Di tengah kota terlihat Ray dan Dante berjalan dengan santai dalam bentuk perubahan. Semua keadaan disana terlihat hitam putih. "Bukankah ini mudah?" ujar Ray. "Ah, terlalu mudah." sahut Dante yg berjalan di sebelahnya. Terlihat 2 major terbelah dan terbakar di belakang mereka. "Oh ya, kapan festival musik metalmu itu?" tanya Ray. "Akhir musim semi ini." jawab Dante. "Oohh.. jadi sebulan lagi. Bukankah itu masih lama." balas Ray. "Ya, lumayan lama. Tapi aku dan senpai-senpaiku harus terus berlatih." sahut Dante. "Hmm.. tapi kemungkinan itu adalah terakhir kali kamu akan bisa bersama senpai-mu, Dante. Karena kemungkinan waktu kita semakin sempit." jelas Ray. Dante terlihat terkejut mendengar hal itu. "Ah, padahal sedang seru-serunya aku bersama mereka." ujar Dante. "Nampaknya dia lupa janjinya padaku." kata Dante dalam hatinya. Di saat itu Ray melirik ke belakang dengan sedikit menoleh....

VocaWorld, chapter 41 - Hanya Mengambil Hanya Apa Yang Dibutuhkan

Siang hari itu di akademi Voca, Luka sedang berjalan di lorong kelas 1. Seperti biasa terjadi kehebohan diantara murid-murid kelas 1 yg melihat keanggunan Luka. Dari kejauhan terlihat Ray sedang bersandar dekat jendela. Dia kemudian memberi isyarat pada Luka supaya mengikutinya dengan menggerakan kepalanya. Luka yg menyadari isyarat dari Ray itu kemudian mengikutinya. Ray terlihat berhenti dibelakang gedung sekolah. "Ada apa Ray-kun?" tanya Luka. "Aku ingin mengembalikan ini." ujar Ray sambil mengeluarkan amplop dari sakunya. Luka pun membuka amplop itu dan ternyata isinya adalah uang. "Kenapa kamu mengembalikannya? Bukankah Ray-kun dulu benar-benar menginginkan uang ini?" tanya Luka tampak heran. "Aku bukan ingin, aku hanya butuh. Aku takkan mengambil sesuatu lebih dari yg aku butuhkan. Jadi, saat ini aku kembalikan sisanya. Untuk kebutuhan lain, aku juga sudah menyisihkan sedikit." jelas Ray. "Padahal kamu kan bisa pergunakan untuk k...

VocaWorld, chapter 40 - Nyala Api Membara

Muncul 2 ledakan api menjulang tinggi yg berwarna merah dan biru. Major mundur beberapa langkah kebelakang saat terkena hempasan api tersebut. "Meiko-san, Kaito-senpai, kenapa kalian juga memiliki kekuatan dengan earophoid kalian?" tanya Miku terkejut melihat orang yg menciptakan api itu adalah Meiko dan Kaito. "Kalau masalah itu, sebenarnya Megurine yg memberi tahu password kami." jawab Kaito. "Dan dia juga memberi tahu cara membuka power lock dengan password itu." sambung Meiko. "Dia memberi tahu kami semuanya." ujar Meiko dan Kaito bersamaan dengan senyuman penuh percaya diri. "Mereka berdua entah kenapa begitu kompak. Padahal kukira mereka tidak begitu akrab karena sering bertengkar." ujar Miku dalam hatinya. "Meiko, apa kau yakin bisa menanganinya?" tanya Kaito. "Ya, tenang saja. Malah sebaliknya aku khawatir kamu dihajar habis-habisan oleh monster itu karena kamu bodoh, Kaito bego." jawab Meiko. "A...

VocaWorld, chapter 39 - Api Telah Menyala

Miku dikepung oleh 2 major. Miku yg sudah dalam keadaan berubah pun mencoba untuk menyerang major-major itu. "Dance: Rolling Girl" ucap Miku yg lalu melompat berputar ke arah salah satu major. Miku menendang perut major itu namun tidak mempan, Miku kembali terpental. "Sial, ternyata memang benar tak mempan." ujar Miku. Major yg ada dibelakangnya pun hendak menyerangnya. Namun Miku berhasil menghindar dengan melompat menjauh dari area serangan. "Hahaha.. biar aku saja yg menghadapinya." ucap Dante yg muncul melesat ke arah salah satu major. Dante melesat dari atas melalui gedung tinggi. Namun Ray tiba-tiba menghentikan nya lalu menggunakan melody of silent. Ray pun membawa Dante kembali ke atas gedung tinggi sebelum disadari oleh Miku. "Kenapa Aniki menghentikanku?" tanya Dante. "Sebaiknya kita menghindari pertarungan kalau ada mereka. Aku takut, mereka tahu identitasmu." jawab Ray. "Mereka? Apa maksudnya?" ucap Dante ...

VocaWorld, chapter 38 - Kegelapan Tersembunyi

Di sebuah kota, terlihat seluruh bangunan di kota itu terbakar oleh api. Seorang anak laki-laki berambut ungu tergeletak di jalanan kota itu, terlihat sebuah katana tertancap di sebelahnya. Tidak jauh dari situ ada gadis kecil berambut hijau terduduk dengan sorot mata terlihat ketakutan. Dia melihat sosok anak laki-laki berjalan mendekatinya dari balik api. Matanya merah menyala dan ia punya senyum yg menakutkan. "Matilah, gadis kelinci.." ucap laki-laki itu sambil hendak menggapai gadis berambut hijau itu. Terlihatlah rambut keperakan laki-laki itu. Dan Gumi pun terbangun dari tidurnya. "Kenapa? Kenapa aku memimpikan kejadian 5 tahun yg lalu?" ujar Gumi sambil terengah-engah karena habis bermimpi buruk. "Tapi, tidak salah lagi. Rambut perak itu memang miliknya. Orang yg memimpin perang 10 tahun yg lalu.." sambung Gumi sambil meminggirkan kakinya ke pinggir ranjang. "Pangeran Kegelapan. Lucifer." tambah Gumi. Di kediaman Gakupo, terlihat Ka...

VocaWorld, chapter 37 - Motivasi Negatif

Ray berlari dikejar Kamui yg terlihat sangat marah karena Ray yg menabrak Luka saat lari. Ray berlari masuk ke gedung sekolah lalu menaiki tangga dan terus ke atas. Tidak berapa lama mereka pun sampai diatap. Ray berlari melewati seorang murid laki-laki yg terlihat aneh. Tatapan matanya kosong dan ia terlihat tanpa ekspresi. Dan ia pun tampak tak menghiraukan Ray. Dan Kamui pun sampai diatap. "Gakupo Kamui, orang yg menjadi salah satu lulusan terbaik akademi Voca. Aku benci orang sepertimu. Akan kubunuh kau!" ucap murid itu dengan menatap Kamui dengan tatapan yg menyeramkan. "Hah? Ada apa ini?" ucap Kamui merasa bingung. "Yg ini bisa berbicara? Nampaknya yg satu ini diberi kecerdasan untuk mengendalikan secara psikis. Tidak, mungkin lebih bisa dibilang mendorong sifat negatif dan memberi kekuasaan pada inang untuk mengeluarkan sifat negatif itu." pikir Ray. Murid yg dikendalikan minor itu pun mulai menyerang Kamui, namun Kamui berhasil menghindarinya. ...