VocaWorld, chapter 42 - Sebuah Pertanyaan Yang Belum Terjawab

Di tengah kota terlihat Ray dan Dante berjalan dengan santai dalam bentuk perubahan. Semua keadaan disana terlihat hitam putih.
"Bukankah ini mudah?" ujar Ray.
"Ah, terlalu mudah." sahut Dante yg berjalan di sebelahnya.
Terlihat 2 major terbelah dan terbakar di belakang mereka.
"Oh ya, kapan festival musik metalmu itu?" tanya Ray.
"Akhir musim semi ini." jawab Dante.
"Oohh.. jadi sebulan lagi. Bukankah itu masih lama." balas Ray.
"Ya, lumayan lama. Tapi aku dan senpai-senpaiku harus terus berlatih." sahut Dante.
"Hmm.. tapi kemungkinan itu adalah terakhir kali kamu akan bisa bersama senpai-mu, Dante. Karena kemungkinan waktu kita semakin sempit." jelas Ray.
Dante terlihat terkejut mendengar hal itu.
"Ah, padahal sedang seru-serunya aku bersama mereka." ujar Dante.
"Nampaknya dia lupa janjinya padaku." kata Dante dalam hatinya.
Di saat itu Ray melirik ke belakang dengan sedikit menoleh. Terlihat di belakangnya ada Kamui yg sedang bersembunyi dibalik pinggiran gedung.
"Sepertinya dia hanya memperhatikanku saja." ucap Ray dalam hatinya.
"Dante, segera berubah ke wujud semula." suruh Ray pada Dante.
"Baiklah. Memang ada apa tiba-tiba gini?" tanya Dante yg heran.
Kemudian Dante kembaki ke wujud semula.
"Dia ternyata bisa berubah juga. Oh ya, siapa yg disebelahnya itu?" kata Kamui melihat ke arah Ray kemudian ke arah Dante.
"Kelihatannya dia mengikutiku hanya sejak beberapa saat tadi. Dia tidak meihat saat kami melawan major." ujar Ray dalam hatinya.
"Tunggu saja kau Ray, akan ku bongkar siapa dirimu nanti. Takkan kubiarkan kau mendekati Luka-tan lagi." kata Kamui dengan suara pelan.
Lalu Ray menggunakan melody of silent, dan memegang kerah baju bagian belakang Dante dan membawanya melompat pergi.
"Aniki, ada apa ini?!! Kenapa Aniki membawaku seperti ini? Aku bukan anak kucing tahu!! Woy.. turunin aku Aniki!" suruh Dante tapi tak dihiraukan Ray.
"Kemana dia? Dia menghilang? Tidak mungkin. Bagaimana dia bisa secepat Megu?" ucap Kamui saat menyadari Ray sudah tak ada disana lagi.
Kamui terkejut mengetahui kalau orang yg diikutinya bisa menghilang begitu saja. Sementara Ray mendarat di suatu tempat di pinggir sungai.
"Aniki! Ada apa? Kenapa Aniki tiba-tiba membawaku?" tanya Dante setelah diturunkan oleh Ray.
"Ada seseorang yg mengikuti kita. Waktu kita makin sempit Dante. Setelah kamu selesai dengan konser mu itu, kita akan mulai rencana selanjutnya." jawab Ray.
"Tapi bukankah ini terlalu cepat. Kita baru 2 bulan disini." balas Dante.
"Tenang saja, percayakan semuanya padaku." sahut Ray tampak yakin.

Ray dan Dante kembali ke sekolah tepat sebelum bel. Mereka masuk ke kelas mereka masing-masing. Saat itu Gumi memperhatikan Ray yg baru duduk di tempat duduknya.
"Habis darimana dia? Kenapa menggunakan jaket hitam itu? Terlihat mencurigakan." kata Gumi dalam hati saat melihat Ray.
"Gumi-chan, kenapa? Kok lihat-lihat ke arah kanan terus?" tanya Miku yg ternyata memperhatikan Gumi dari belakang.
"Ah tidak, aku hanya mau melihat apa semua murid kelas 1-B sudah masuk kelas semua." jawab Gumi sambil menoleh ke belakang.
"Oh begitu ya. Oh ya Gumi-chan, sekarang aku akan menyanyikan lagu baruku yg Ievan Polkka di praktek nyanyi hari ini kalau misalkan terpilih untuk maju ke depan lagi." ujar Miku tampak semangat.
"Wah.. benarkah? Emang Miku-chan udah siap malu?" tanya Gumi.
"Malu? Kenapa harus malu?" sahut Miku tampak tidak mengerti.
"Itu lho, lagu yg itu kan tidak jelas gitu liriknya. Itu bahasa apa sih? Bahasa Rusia atau apa?" tanya Gumi lagi setelah menjelaskan maksudnya.
"Ya.. gak tahu deh. Hehehe.. asal bikin aja itu mah." jawab Miku sambil ketawa bego.
Gumi hanya bisa tersenyum sinis saat mendengarnya.
"Dia punya lagu baru ya? Baguslah kalau begitu." ujar Ray dengan suara pelan sambil melihat ke arah Miku sambil tersenyum.
Lalu Ray melihat ke arah atas. Di kelas 2-C terlihat Luka sedang melamun sambil melihat ke arah jendela. Ekspresi sedih diwajahnya menunjukkan hatinya yg sedang bingung.
"Ray-kun, aku benar-benar tak mengerti apapun tentangmu. Bagaimana caranya aku bisa mengerti jalan pikirmu itu?" gumam Luka.
"Hey Kaito, apa menurutmu Luka benar-benar sedang.." bisik Meiko pada Kaito.
"Ya, sepertinya begitu." sahut Kaito dengan berbisik juga.
"Hei, kalian sedang berbisik-bisik apa?" tanya Luka menatap tajam ke arah Meiko dan Kaito.
"Tidak kok, bukan apa-apa. Hehe.." jawab Meiko.
"Ini hanya masalah klub kami saja." sambung Kaito.
"Dilihat dari manapun, mereka terlihat mencurigakan. Ya walau begitu, aku tak bisa menuduh mereka begitu saja bahwa mereka itu sedang membicarakanku." ucap Luka dalam hatinya.
Tidak lama setelah itu guru pun datang dan mereka pun mulai belajar.

Sore harinya, di lereng gunung tempat kediaman kakek Taka dan nenek Toko. Terlihat mereka berdua sedang duduk di bangku melihat kota Voca di sore hari. Pemandangan itu terlihat indah, apalagi melihat sebuah gedung tinggi yg memantulkan cahaya matahari senja.
"Kakek, sejak kapan ya kita selalu melihat kota ini seperti sekarang ini?" tanya nenek Toko.
"Aku tidak begitu ingat. Mungkin sejak kota ini masih belum ada bangunan-bangunan mirip tiang itu." jawab kakek Taka.
"Ya, dulu hanya ada beberapa saja. Tapi sekarang ada banyak ya. Aku jadi ingat, waktu Shiro-kun pertama bertemu dengan kita. Dia terlihat begitu pendiam." ujar nenek Toko.
"Walau sekarang dia lebih banyak bicara pun, tetap saja aku tidak mengerti jalan pikirannya sama sekali." sahut kakek Taka.
"Kakek Taka, nenek Toko, selamat sore.." ujar seorang gadis pada mereka.
Kakek Taka dan nenek Toko pun menoleh ke arah suara itu. Ternyata itu Luka yg tampak sedang tersenyum ramah pada mereka.
"Maya Es******!" ujar kakek Taka terlihat terkejut.
"Salah, dia itu bukan personel duo yg udah bubar itu. Dia itu ratunya Shiro-kun." balas nenek Toko.
"Oh iya, maaf neng, aku benar-benar lupa. Hehehe.. ada apa ya kemari?" tanya kakek Taka pada Luka.
"Ada sesuatu yg ingin aku tanyakan pada kalian." jawab Luka yg kemudian terlihat serius.
Kakek Taka dan nenek Toko pun agak bingung mendengarnya. Mereka tak tahu apa yg akan ditanyakan Luka pada mereka.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】