VocaWorld, chapter 35 - Menjatuhkan Sekelompok Burung Dengan Satu Batu

Ray dan Dante sedang berjalan pulang ke rumah. Gumi mengikuti mereka dari belakang dan mengawasi mereka dari kejauhan.
"Dante, di depan kita belok." ujar Ray saat berada di dekat pertigaan dekat rumah Miku.
"Hah? Kenapa? Bukankah itu lebih jauh karena harus memutar?" tanya Dante heran mendengarnya.
"Sudah, ikuti saja perintahku." suruh Ray.
Kemudian mereka berbelok menuju ke arah rumah Miku. Gumi pun mengikuti mereka.
"Bukankah ini jalan yg menuju ke rumahnya Miku? Apa tempat tinggal mereka di sekitar sini?" ucap Gumi dalam hatinya.
Sedangkan, saat itu Miku ada di kamarnya. Kemudian dia membuka jendela dan melihat seseorang yg tak asing lewat depan rumanya. Miku melihat Gumi yg sedang dalam bentuk perubahannya.
"Gumi-chan!" panggil Miku dari jendela.
"Sial!" ucap Gumi terkejut mendengar panggilan Miku.
Gumi langsung menoleh ke arah Ray dan Dante namun mereka sudah tak nampak lagi di pandangannya.
"Yah.. mereka sudah kabur. Kelihatannya mereka tahu aku mengikuti mereka. Dan mereka menjebakku dengan lewat rumahnya Miku." ujar Gumi dalam hatinya.
"Gumi-chan, kamu sedang apa disana? Kenapa kamu berubah?" tanya Miku dari jendela kamarnya.
"Ah, tak apa kok. Aku hanya sedang jalan-jalan sore saja." jawab Gumi.
"Kalau gitu bagaimana kalau kamu mampir dulu? Ada sesuatu yg ingin aku tunjukkan." pinta Miku.
"Ya, baiklah." terima Gumi.
Sementara Ray yg dalam bentuk berubah berjalan di atas pagar diantara 2 rumah sambil membawa Dante.
"Turunkan aku, Aniki!" pinta Dante.
"Baiklah." sahut Ray yg kemudian menurunkan Dante di jalan.
"Kenapa Aniki tiba-tiba berubah dan membawaku seperti itu? Aku bukan anak kucing tahu!" gerutu Dante.
"Oh maaf, akan kujelaskan." ujar Ray sambil melompat ke jalan.
"Barusan, kita diikuti oleh seseorang. Makanya aku membawamu pergi menjauh saat ada kesempatan." jelas Ray.
Memang beberapa saat tadi saat Gumi menoleh ke arah Miku karena dipanggil oleh Miku, Ray dengan sigap berubah dan menggunakan melody of silent lalu membawa Dante melarikan diri.
"Tapi tadi itu penempatan timing macam apa? Untuk melakukan hal itu, Aniki harus tahu masa depan." ujar Dante.
"Aku hanya manusia biasa, tak mungkin melihat masa depan." jawab Ray dengan santai.
"Dengan apa yg barusan terjadi, aku tak mungkin percaya padamu, Aniki." sahut Dante.
"Sudahlah, bisa dibilang aku hanya tahu Miku baru saja pulang sekolah dan akan mengganti pakaiannya lalu membuka jendela untuk menghirup udara segar. Lalu aku tahu Miku akan menunjukkan sesuatu yg menarik pada Gumi, dan karena Miku teman satu-satunya Gumi, maka ia takkan bisa menolaknya dan takkan mencari kita sampai kesini." jelas Ray sambil tersenyum.
"Aku masih tidak mengerti." sahut Dante.
"Kalau begitu jangan memaksakan diri, entar otakmu ngebul." balas Ray yg kemudian berjalan duluan.
Dante mengikutinya dari belakang.

Di rumahnya Miku, Gumi saat itu dibawa oleh Miku masuk ke dalam kamarnya. Kemudian Miku berubah.
"Yeah! Gumi-chan, apa kamu sudah siap mendengar lagu baruku?" tanya Miku saat selesai berubah.
"Lagu baru?" sahut Gumi terlihat terkejut.
Gumi saat itu duduk di ranjangnya Miku, sementara Miku berdiri dihadapannya.
"Inilah lagu baruku!" ujar Miku dengan semangat yg lalu menekan tombol di PC nya dan mulailah sebuah musik.
Miku pun mulai berdiri dengan sebuah pose. Dan kemudian dia menyanyikan lagunya yg berjudul 'Ievan Polkka' sambil melakukan dance.
"Miku-nee lagi nyanyi apaan tuh?" ujar Len yg mendengarnya dari ruang keluarga saat main game.
"Tak tahu dah, aku juga tidak mengerti bahasa apa itu?" sahut Rin.
Tidak lama setelah itu Miku tampak selesai bernyanyi. Gumi memberi tepuk tangan.
"Wah.. musik dan lagunya bagus. Tapi, tadi itu bahasa apa ya?" ujar Gumi yg terlihat tidak mengerti liriknya.
"Haha.. sebenarnya tadi aku hanya asal sebut aja. Aku juga tidak ngerti. Tehe~.." jawab Miku sambil melet.
"Sudah kuduga.." sahut Gumi sambil menundukkan kepalanya.
"Oh ya Miku-chan, bagaimana kalau kamu bikin lagu tentang dance mu yg Rolling Girl juga?" saran Gumi.
"Eh, aku belum kepikiran sampai sana. Soalnya aku kurang pandai menulis lirik lagu." ujar Miku.
"Hah? Lalu lagumu yg World Is Mine waktu itu kamu yg buat kan?" tanya Gumi yg terkejut mendengar pernyataan Miku barusan.
"Aku juga tidak tahu. Aku tidak ingat. Tahu-tahu aku sudah hafal aja." jawab Miku.
"Hmm.. aneh. Kenapa bisa tidak ingat? Kalau ciptaan sendiri atau diciptakan orang lain pastinya ingat kan kapan dan bagaimana menciptakannya." gumam Gumi dalam hatinya.
"Miku-chan, apa kamu ingat kejadian 10 tahun yg lalu?" tanya Gumi.
"10 tahun yg lalu? Hmm.. emang ada kejadian apa?" jawab Miku berbalik nanya nampak tak ingat apapun.
"Tidak mungkin, ia tak ingat kejadian 10 tahun yg lalu? Ini bohong kan?" ucap Gumi dalam hatinya tak percaya.

Sementara itu di rumah danau, Ray dan Dante baru sampai disana.
"Ya ampun Aniki, karena memakai jalan memutar sekarang aku cape banget." gerutu Dante yg terlihat lemas sambil menaruh tas dikamarnya.
"Tak apa kan? Itung-itung jalan-jalan." sahut Ray dari kamarnya sendiri.
Kemudian mereka pun keluar sambil membawa pancingan dan berjalan menuju ke pinggir danau.
"Ikan lagi? Kapan kita akan makan yg lain?" tanya Dante.
"Oh.. kamu mau sesuatu yg lain? Bentar ya.." ujar Ray.
"Oh ya Aniki, aku tak menyangka kamu begitu baik pada wakil ketua OSIS hanya untuk uang." ujar Dante sambil duduk.
"Ah, apa benar begitu?" sahut Ray sambil melempar-lempar sebuah batu di tangan kanannya.
"Tentu saja, bukankah kamu sendiri yg mengatakannya waktu itu!" jawab Dante dengan yakin.
"Oh kalau aku memang bilang begitu, mungkin saja itu yg terjadi. Tapi apa kamu yakin?" balas Ray sambil berdiri.
Dante hanya diam dan melirik ke arah Ray.
"Kalau kamu belum yakin, maka perhatikan! Kamu akan mengetahui jawabannya kalau kamu benar-benar memperhatikan sekitarmu." ujar Ray sambil melemparkan batu pada sekelompok burung yg lewat.
Batu itu mengenai salah satu burung dan terpental ke burung yg lain. Burung-burung yg terkena batu itu saling bertabrakan dengan burung yg lainnya yg tak terkena lemparan batu. Dan sekelompok burung itu pun terjatuh ke danau.
"Dante, malam ini kita makan burung." ujar Ray.
Dante hanya bisa terkejut dengan mulut menganga melihat hal itu.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】