Posts

Showing posts from December, 2014

Memo, chapter 21 - Pemilihan Ketua Kelas

Pemilihan ketua kelas digelar di kelas X-1. Saat guru menanyakan siapa yang mengajukan jadi ketua kelas, seketika kelas langsung saja hening. Banyak orang disana tapi hanya jangkrik yang bersuara. "Ada apa dengan semua semangat kalian? Apa ini karena panas? Tidak mungkin. Seharusnya semangat kalian juga terbakar kalau karena panas. Tapi kalian begitu dingin." ujar guru tua di depan kelas. "Ia punya kemampuan berbicara yang bagus untuk orang yang sudah tua." ujar Digna dengan suara pelan. "Jangan remehkan orang tua. Mereka sudah hidup lebih lama daripada kita. Mereka tahu lebih banyak dari kita." sahut Arya. "Nama bapak adalah Ahmad Dahlan. Jika kalian tidak ada yang bersedia mengajukan diri, maka bapak yang akan menunjuk kalian secara acak." ujar pak tua didepan kelas sambil menegakkan badannya. "YSG dari Bleach kah?!" ucap Arya terkejut saat melihat ternyata badan kakek bernama Ahmad Dahlan itu masih tegak. "Siapapun yang te...

LINE Dragon Flight Story, chapter 22 - Putri Dari Kerajaan Yang Hilang

Kerajaan Helen adalah sebuah kerajaan besar yang berada jauh di ujung barat. Kerajaan yang damai nan indah tempat tinggal yang nyaman untuk para ksatria dan tempat singgahnya para pengelana yang hendak menyebrang lautan. Di kerajaan itu terdapat banyak ksatria naga yang mengabdi. Salah satunya adalah Moran, sang ksatria naga terhebat dibarat, salah satu alasan kerajaan Dargen ragu menyerang wilayah Helen. Kerajaan Helen kini telah runtuh, namun Duran dan Rikka entah kenapa bisa berada di kerajaan Helen yang masih berdiri tegak seperti dulu. "A-apa maksudmu?" tanya Rikka. "Ini adalah kerajaan tempatku tinggal. Ini kerajaan Helen." jawab Duran. Mendengar nama itu, Rikka sentak saja terkejut. Dia tidak percaya dengan apa yang telah di dengarnya. "Tapi kerajaan Helen sudah lama runtuh. Kenapa kita bisa sampai kemari? Apa kita kembali ke masa lalu?" ujar Rikka nampak kebingungan. "Kalian memang ke masa lalu. Tapi ke masa lalunya teman kalian tepatnya....

Memo, chapter 20 - Kelas Dan Panas

Matahari bersinar dengan teriknya siang itu. Membuat ruang kelas X-1 menjadi sebuah sauna dadakan. Telihat setiap buku mengepak bagaikan sayap burung, dan jumlahnya banyak sekali. "Panas banget, ampun dah! Kenapa sih kelas ini tidak pakai AC?" gerutu Fajar. "AC mahal bro. Lagipula beli listriknya juga pasti makin boros nantinya." sahut Arya terlihat keringatan. "Tapi setidaknya sediakan kipas angin buat disaat seperti ini." balas Digna. "Kipas angin berbahaya. Bagaimana kalau sampai jatuh dan terjadi final destination disini?" jawab Arya. "Kamu terlalu banyak nonton film." sahut Digna. "Iya ya, bagaimana kalau sampai itu terjadi." ujar Fajar tercengang dan tampak khawatir. "Dia mempercayainya? Dasar penggemar film." komentar Digna dalam hati. "Terlebih lagi, kenapa kamu bisa sesantai itu dicuaca sepanas ini?" tanya Digna pada Arya. Diantara mereka bertiga, cuma Arya saja yang tidak kipas-kipas deng...

VocaWorld, chapter 142 - Festival Budaya (Penentuan)

Auditorium akademi Voca tampak sudah selesai dihias. Para anggota OSIS yang dipimpin langsung oleh sang ketua OSIS terlihat berbaris dan dihadapannya ada para siswa kelas 1-B. "Kami sudah melakukan apa yang kalian minta. Sekarang kalian bisa melakukan acara kalian dengan tenang. Seperti yang tertulis dalam aturan, kalian akan menjadi pertahanan akhir event hari kedua. Jika kalian bisa menarik pengunjung melebihi setiap klub yang ada, kalian akan mendapatkan hak untuk pentas di Daylight Party. Tapi jika kalian gagal, maka kami pihak OSIS yang akan mengambil alih. Itu saja untuk saat ini. Selamat bekerja.." ujar ketua OSIS. Para anggota OSIS pun keluar dari auditorium. Para siswa kelas 1-B entah mau melakukan apa, tapi mereka saat itu sudah memegang alat-alat musik klasik. "Rasanya seperti kita berusaha menggapai sesuatu yang tak mungkin." ujar sang ketua kelas 1-B. "Ya. Apalagi saat ini Hatsune-san dan Megupo-san bintang kita tidak ada. Bagaimana kita bisa m...

Memo, chapter 19 - Siswa Dan Kantin

Arya melanjutkan langkah ke kantin. Hingga akhirnya dia sampai di kantin dan dikejutkan oleh seseorang melambaikan tangan ke arahnya. Lambayan tangan yang anggun dan halus. Arya menoleh kebelakang kalau-kalau ternyata bukan dia. Tapi dibelakangnya tidak ada orang lain. "Beneran melambai padaku ya? Lagipula ngapain dia melambai padaku?" pikir Arya. Ternyata orang yang melambai padanya adalah Sindy. Dia duduk sendirian dan tampak kursi dihadapannya kosong. "Apa aku pura-pura saja tidak melihatnya ya? Tapi itu malah seperti aku tidak sopan padanya. Dia kan senior ku." sambung Arya dalam hatinya tampak ragu. "Apapun yang terjadi selanjutnya, terserah lah. Yang pasti aku tak mungkin mengabaikan seniorku kan?" lanjut Arya sambil melangkah perlahan. Arya pun menghampiri Sindy. "Selamat pagi juniorku.." sapa Sindy dengan tersenyum lembut. "Selamat pagi, senior.." sahut Arya. "Ayo duduk, aku sudah memesankan makanan untukmu." u...

LINE Dragon Flight Story, chapter 21 - Putri Dan Ingatan Yang Hilang

Pertempuran di istana kerajaan Scarlet masih berlanjut, meskipun raja Redd telah tewas terkena panah D. Moonlight dan Torn sedang bertarung dengan sengit diatas langit. Sementara Elli terlihat berada di sebuah ruangan di dalam menara. "Ka-kalian mau apakan aku? Ibu apa maksudnya ini?" tanya Elli yang terlihat ketakutan. Lithiana dan Rikka mendekati Elli yang duduk dilantai dengan wajah yang tampak takut. "Kenapa dia terus-terusan memanggilmu ibu?" tanya Rikka pada Lithiana. "Itu karena aku yang pertama kali dilihatnya setelah ia pulih." jawab Lithiana. "Apa maksudmu?" tanya Rikka tidak mengerti. "Tak usah bingung, memang ini tak masuk akal. Tapi kemampuan Lithiana memang begitu. Mother's Embrace, kehangatan pelukan seorang ibu yang bisa membuat es abadi sekalipun mencair. Sebenarnya butuh gabungan kekuatan kami untuk melakukannya. Tapi saat ini dia sendiri pun sudah bisa." jelas Ruby dari jendela. "Mother's Embrace?!...

Memo, chapter 18 - Logika

Arya sedang berjalan menuju kantin. Tiba-tiba ada Rere menghentikannya. "Hei bocah! Kemari dulu sebentar!" panggil Rere. "Wah.. bahaya nih. Pasti masalah yang kemarin." ujar Arya dalam hatinya. "Kemarin kau mencoba menyerang Sindy, iya kan?" tanya Rere. "Ti-tidak kok.." jawab Arya dengan gugup. "Jangan bohong!" bentak Rere. "Ba-baiklah. Aku memang menyerang saat itu." tambah Arya. "Sudah kuduga!" sahut Rere. "Aku menyerang diriku sendiri supaya tidak terpancing suasana." sambung Arya. "Hah? Maksudnya?" tanya Rere. "Ya, sederhananya sih aku menahan diriku supaya tidak menyerang senior Sindy saat itu. Meskipun saat itu sangat mendukung sekali." jelas Arya. "Kau mencoba membuatku bingung, aku tidak akan percaya padamu." kata Rere. "Ketidak percayaan senior itu tidak beralasan." sahut Arya. "Aku punya alasan tidak percaya padamu. Saat itu Sindy duduk dia...

VocaWorld, chapter 141 - Festival Budaya (Penyerangan)

Hari kedua festival budaya akademi Voca dimulai. Dante terlihat berjalan dengan semangat menuju ke kelas 1-B untuk menemui Ray. "Aniki!" ucap Dante sambil membuka pintu belakang. Namun tidak ada siapa-siapa disana. "Lah Aniki pagi-pagi begini pergi kemana? Kok tidak ada. Oh iya, aku lupa saat ini saatnya Club Strike!" ujar Dante sambil menutup pintu. Dante berjalan kembali ke arah kelasnya. "Tunggu sebentar, Aniki kan tidak ikut klub mana pun. Terus kemana aku harus mencarinya." gumam Dante baru menyadarinya sambil garuk kepala. Sementara itu di ruang klub light music, Miku, Meiko dan Kaito sudah dalam mode perubahan. Namun mereka men-set power nya pada 0% supaya aman. Dan diantara mereka hanya Gumi yang pakaiannya berbeda dengan biasanya. Dia memakai customization mirip dengan dandanan kemarin. "Gumi-chan kok pakaiannya serem gitu?" tanya Miku kaget. "Ini karena kemarin ada yang berhasil menemukan secret path dan menyelesaikan semua ...

Memo, chapter 17 - Senior Junior 3

Arya kembali ke ruang ekskul sastra. Sindy tetlihat sedang duduk di tempat duduknya sambil menulis sesuatu di laptopnya. "Oh kamu kembali." sapa Sindy saat melihat Arya kembali. "Ah, rasanya napasku hampir habis. Tenggorokan kering. Bibir pecah-pecah." ujar Arya sambil mendekati dispenser. Arya langsung saja mengambil air dan saat dia menekan yang dingin. "Lho kok tidak keluar?!" ucap Arya kaget ternyata airnya tidak mau keluar. "Senior! Ini kenapa? Kok airnya tidak mau keluar?" tanya Arya pada Sindy. "Tentu saja tidak keluar. Soalnya yang dingin itu rusak. Adanya cuma yang panas." jawab Sindy. "Eeeehh?!! Cuma yang panas?!! Di cuaca panas begini!!?" ujar Arya dengan wajah shock. "Kamu mau yang dingin?" tanya Sindy. "Eh, emangnya ada?" sahut Arya. Sindy kemudian mengambil air yang panas. Lalu dia membawanya ke meja. "Katanya yang dingin, tapi kok ngambilnya malah yang panas?" tanya Arya ...

LINE Dragon Flight Story, chapter 20 - Ratu Di Dalam Menara

Di kerajaan Scarlet, para prajurit tampak membeku menjadi es merah. Dan seekor naga putih terbang mengitari istana menuju ke sebuah menara tertinggi di istana itu. Dengan berpijak pada atap istana, naga putih itu menjulurkan kepalanya melihat ke jendela di menara itu. "Hei, bisakah kamu gunakan kepalaku untuk berpijak lalu masuk kedalam?" pinta naga putih pada Rikka. "Memangnya ada apa didalam?" tanya Rikka bingung. "Disana kamu akan menemukan sosok hangat yang bisa melelehkan dinginnya es." jawab naga putih. Rikka masih bingung dengan jawaban naga putih itu. Namun untuk menghilangkan dahaga rasa penasarannya, ia pun menuruti kata-kata naga putih itu dan masuk ke dalam. "Siapa itu?" tanya perempuan yang terlihat tiduran di ranjangnya dengan lemah. Rikka terkejut mendengar suara lembut dan lemah itu. Rikka menghampiri perempuan tersebut untuk melihatnya dari dekat. "Siapa kamu?" tanya perempuan yang tampak lemah dan tak berdaya it...

Memo, chapter 16 - Senior Junior 2

Arya dengan tampak lesu masuk ke ruang ekskul sastra. Dia merasa ngantuk sekali dan tak bisa menahannya lagi. Dan sesampainya di tempat duduk dia langsung duduk lesu. "Selamat siang juniorku.." sapa Sindy. "Selamat siang.." sahut Arya dengan malas. "Kamu kenapa malas gitu? Yang semangat dong." ujar Sindy. "Haha.. aku juga mau sih semangat, tapi aku ngantuk baget." jawab Arya dengan lesu. "Kalau begitu kenapa kamu tidak tiduran disana?" tawar Sindy menunjuk ke arah kasur di dekat rak buku. Kasur gulung atau kalau yang jepang disebut futon itu tampak sudah terpajang dan siap dipakai. "Eh, sejak kapan ada kasur disana? Kemarin tidak ada!" tanya Arya kaget. "Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba ada disana." jawab Sindy. "Hah? Senior pikir itu kasur ajaib yang muncul tiba-tiba pada saat dibutuhkan?" kata Arya tidak percaya. "Bercanda kok bercanda.. sebenarnya aku yang menyiapkannya untukmu.." jelas...

VocaWorld, chapter 140 - Festival Budaya (Angin Senja Yang Tertidur)

Miku istirahat dan keluar dari rumah hantu. Dia nampak menggunakan kostum perawat. Namun wajahnya memakai make up seram. "Cape banget dah, seharian harus ngesot terus. Kenapa juga aku mesti pilih jadi suster ngesot? Pegel nih kaki nekuk terus." gerutu Miku sambil berjalan menuju ke kelas 2. Miku menaiki tangga ka koridor kelas 2. "Kaito-senpai kira-kira jadi apa ya? Aku jadi penasaran." ucap Miku sambil tersenyum. Miku akhirnya sampai di kelasnya Kaito. Disana dia bertemu Meiko. "Meiko-san.." sapa Miku berlari mendekati Meiko. "Ha-hantu!"  ucap Meiko saat melihat Miku. "Eh? Ini aku, masa Meiko-san tidak kenal?" ujar Miku sambil menunjuk mukanya sendiri. "Ka-kamu suster ngesot itu kan? Kok bisa lari?" sahut Meiko tampak pucat. "Bukan!" tolak Miku. "Lho terus siapa? Jangan bilang kamu kuntilanak yang nyamar jadi suster ngesot." tambah Meiko. "Bukan lah! Ini aku Miku!" bentak Miku. "...

Memo, chapter 15 - Pagi Ini

Pagi-pagi sekali di kelas X-1 yang terlihat masih sepi, tampak Arya tertidur di mejanya.  Sekolah pun sebenarnya masih sepi karena saat itu baru jam setengah 6. Yang ada hanya penjaga sekolah yang sedang sapu-sapu dilapangan tengah, dan satpam penjaga gerbang yang sedang ngopi sambil baca koran Lampu Pelangi di dalam posnya. Keheningan yang menyelimuti sekolah pun menemani tidur Arya. "Sial! Aku telat!" ucap seorang gadis masuk kedalam kelas dengan tergesa-gesa. "Lho kok masih sepi." sambung gadis itu saat menyadari kelas masih sepi. Gadis itu pun menghampiri tempat duduknya yang ada di pojok belakang kelas. Gadis itu adalah Shinta yang terlihat terengah-engah seperti habis berlari. "Dia tidur? Dasar pemalas, pagi-pagi kok tidur lagi." ujar Shinta yang melihat Arya sudah datang. Setelah meletakan tas nya, Shinta datang menghampiri Arya. "Hei bangun! Jangan tidur! Ini sudah pagi! Sudah sampai sekolah kok malah tidur?" gerutu Shinta sambil me...

LINE Dragon Flight Story, chapter 19 - Teman Sementara

Duran dan Moonlight terbang mengitari istana dari jarak yang sangat jauh. Namun berkat kemampuan penglihatan Moonlight, mereka mampu mengawasi keadaan istana kerajaan Scarlet. "Mereka menahan Bonar. Torn menyeret tubuh Bonar." jelas Monnlight tentang apa yang dilihatnya. "Lalu bagaimana dengan Elli?" tanya Duran. "Dia ada di beranda, tapi ada yang aneh dengannya. Dia terlihat akrab dengan raja dari kerajaan Scarlet itu." jawab Moonlight. "Mungkinkah mereka saling kenal?" tanya Duran lagi. "Saya rasa tidak mungkin. Tempat asal Torn jauh dari tempat ini. Tidak mungkin mereka saling kenal." jawab Moonlight. "Kenapa kamu bisa seyakin itu?" ucap Duran tak percaya. "Ya, karena kerajaan tempat asal Torn sudah lama runtuh. Aku kenal orang-orang kerajaan itu dengan baik mulai dari raja hingga sanak saudara dan kerabat lalu kenalan mereka. Dan tidak ada yang berasal dari Arkanesia." jelas Moonlight. "Kenapa kau bi...