LINE Dragon Flight Story, chapter 22 - Putri Dari Kerajaan Yang Hilang
Kerajaan Helen adalah sebuah kerajaan besar yang berada jauh di ujung barat. Kerajaan yang damai nan indah tempat tinggal yang nyaman untuk para ksatria dan tempat singgahnya para pengelana yang hendak menyebrang lautan. Di kerajaan itu terdapat banyak ksatria naga yang mengabdi. Salah satunya adalah Moran, sang ksatria naga terhebat dibarat, salah satu alasan kerajaan Dargen ragu menyerang wilayah Helen. Kerajaan Helen kini telah runtuh, namun Duran dan Rikka entah kenapa bisa berada di kerajaan Helen yang masih berdiri tegak seperti dulu.
"A-apa maksudmu?" tanya Rikka.
"Ini adalah kerajaan tempatku tinggal. Ini kerajaan Helen." jawab Duran.
Mendengar nama itu, Rikka sentak saja terkejut. Dia tidak percaya dengan apa yang telah di dengarnya.
"Tapi kerajaan Helen sudah lama runtuh. Kenapa kita bisa sampai kemari? Apa kita kembali ke masa lalu?" ujar Rikka nampak kebingungan.
"Kalian memang ke masa lalu. Tapi ke masa lalunya teman kalian tepatnya." terdengar suara Ruby.
"I-itu suara si naga putih." ujar Duran.
"Dimana kamu?" tanya Rikka.
"Aku ada di dekat kalian, namun saat ini kalian takkan bisa melihatku. Karena kalian telah masuk ke dalam ingatan milik teman kalian." jawab Ruby yang hanya ada suaranya saja.
"Jadi ini ingatan Elli?" tanya Rikka.
"Iya." jawab Ruby.
"Jadi Elli juga pernah ada di kerajaan Helen." ujar Duran.
"Sepertinya memang begitu." sahut Ruby.
"Apa jangan-jangan dia adalah putri dari kerajaan.." ucap Rikka.
Lalu ada seorang gadis kecil yang lewat diantara mereka ke pinggir beranda.
"..Helen." lanjut Rikka terhenti sejenak karena terkejut.
"Ti-tidak mungkin." ucap Duran.
Gadis kecil itu tak lain adalah Elli yang saat itu masih berumur sekitar 9 tahun.
"Elli!" panggil Rikka.
Namun Elli kecil itu tak mendengarnya. Duran juga mencoba menyentuhnya namun malah menembusnya.
"Kalian takkan bisa menyentuhnya ataupun berbicara padanya. Ini hanyalah sebuah refleksi ingatan. Kalian hanya bisa menonton saja tanpa bisa mengganggu." ujar Ruby.
"Begitu ya." kata Rikka dengan kecewa.
"Jadi kenapa kami bisa disini?" tanya Duran.
"Karena kalian menanggung beban sakit dan penderitaan dari memori milik teman kalian, maka kalian punya akses ke memorinya. Kalian bisa memasukinya dan melihat apa yang teman kalian ingat." jelas Ruby.
"Lalu sampai kapan kami akan ada disini?" tanya Rikka.
"Sampai pada titik saat teman kalian melupakan memori ini. Memori ini muncul ke permukaan karena memori inilah yang paling kuat dan yang paling diingatnya." jawab Ruby.
"Begitu ya. Jadi dia selalu mengingat masa lalunya saat dia masih menjadi seorang putri kerajaan." ujar Rikka sambil tersenyum.
Elli terlihat tersenyum sambil melihat pemandangan indah dihadapannya. Tak lama datang seorang laki-laki mendekatinya. Tampak pakaian kebesaran yang menandakan kalau ia seorang raja. Dikepalanya pun terdapat sebuah mahkota. Laki-laki itu berhenti disamping Elli.
"Putriku, besok adalah harinya. Apa kamu sudah siap?" tanya laki-laki itu.
"Tidak! Aku tidak akan siap! Aku tidak akan pernah siap!" bentak Elli.
"Tapi, siapa lagi yang akan menggantikanku selain dirimu, putriku satu-satunya." jawab laki-laki itu dengan senyuman diwajahnya.
"Sudah kubilang aku tidak mau!" sahut Elli sambil pergi dari ruangan itu.
Saat Elli keluar ruangan, ruangan itu tampak semakin gelap.
"Kalian berdua, tetap ikuti dia." perintah Ruby.
Duran dan Rikka pun mengikuti Elli keluar. Hingga akhirnya mereka sampai di halaman belakang istana.
"Ayo nak! Keluarkan seluruh kekuatanmu!" ujar seekor naga tua berwarna merah.
Naga tua itu tampak sedang adu dorong dengan seekor naga muda yang sejenis dengannya.
"Aku takkan kalah!" ucap naga muda berusaha memberikan dorongan namun naga tua tidak goyah sedikitpun.
"Ayo kerahkan seluruh tenagamu, nak! Jangan malas-malasan begitu." ujar naga tua dengan santai.
"Siapa memangnya yang sedang bermalas-malasan. Saat ini aku sudah menggunakan seluruh tenagaku. Tapi ayah terlalu kuat untukku." jawab naga muda.
Naga muda itu berusaha terus mendorong hingga tampak kakinya seperti berjalan ditempat tanpa bergerak sedikitpun.
"Torn, sudah dulu istirahat." ujar Elli.
"Eh, itu Torn?!!" ucap Duran terkejut melihat ke arah naga tua.
"Ini masa lalu kan? Kenapa dia terlihat tua!!?" ujar Rikka yang juga terkejut.
Namun Elli ternyata mendekati naga yang muda.
"Oh ternyata yang itu." ujar Rikka dan Duran dengan tatapan bodoh.
Duran dan Rikka mengikuti Elli yang berjalan-jalan dengan Torn ke hutan.
"Tuan putri, kenapa anda tiba-tiba mengajak saya kemari?" tanya Torn.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin jalan-jalan saja." jawab Elli sambil tersenyum menoleh ke arah Torn.
"Anda selalu saja begitu. Menyimpan semuanya untuk diri sendiri. Ceritakanlah pada saya. Saya adalah naga penjaga tuan putri. Saya akan menerima walau sebanyak apapun rasa sakit yang tuan putri alami." ujar Torn.
"Apa gunanya? Satu-satunya hal yang ingin kubagi dengan orang lain adalah kebahagiaan. Jika itu adalah sesuatu hal yang hanya membuat rasa sakit dan penderitaan, maka tak perlu aku membaginya dengan orang lain." jelas Elli.
"Elli.." ucap Rikka dengan tatapan sedih.
Di tengah hutan, dia bertemu dengan seorang ksatria yang sedang berlatih pedang. Ksatria yang memakai pakaian jirah tua itu tampak mengayunkan pedangnya dengan gerakan menusuk mendominasi.
"A-ayah?!" ucap Duran saat melihat orang yang berlatih pedang itu.
"Ayah katamu? Dia ayahmu?" tanya Rikka.
"Tuan putri, apa yang sedang anda lakukan disini?" tanya laki-laki berambut merah muda itu pada Elli.
Laki-laki tersebut menyarungkan pedangnya saat melihat Elli mendekat ke arahnya bersama Torn.
"Wah.. Moran!" ucap Elli berlari ke arah laki-laki itu dan memeluknya.
"Tuan putri, jika anda memeluk saya seperti ini pasti anda sedang ada masalah. Apa ini tentang ayah anda lagi?" tanya Moran.
"Moran, kenapa kamu menolak menggantikan ayah menjadi raja? Aku tidak siap menjadi ratu." ujar Elli.
"Saya tidak pantas menjadi raja, tuan putri. Saya hanya seorang pelayan. Saya tak pernah memiliki darah bangsawan dari garis keturunan manapun." jawab Moran.
"Tapi jadi raja tak perlu dari bangsawan. Kamu punya wibawa seorang pemimpin. Kamu lebih pantas dibanding aku." balas Elli.
"Saya lebih memilih tetap menjadi ksatria kerajaan Helen dan melayani anda, tuan putri. Jadi saya akan menolak menjadi raja." jawab Moran.
"Ta-tapi.. aku. Aku takkan bisa menjadi ratu." sahut Elli.
"Anda tenang saja tuan putri, saya akan selalu ada disisi anda dan mendukung anda." ujar Moran.
"Benarkah itu, Moran?" tanya Elli dengan wajah memerah.
"Ya. Anda bisa pegang kata-kata saya." sahut Moran.
"Jangan bilang Elli suka pada ayahmu." ujar Rikka.
"Tidak mungkin. Ayahku bukan seorang lolicon." sahut Duran.
Duran dan Rikka saat ini ada di kamar Elli. Kamar yang terlihat cantik dan megah itu membuat Duran dan Rikka takjub.
"Jadi selama ini dia tinggal ditempat semegah ini?" ucap Rikka.
"Mengejutkan dia bisa tahan berkelana hanya bersama Torn padahal ia terbiasa tinggal di istana." ujar Duran.
Elli saat itu sedang duduk di depan meja belajarnya. Ia terlihat sedang menulis di secarik kertas dengan pena nya.
"Dia menulis surat? Untuk siapa?" kata Duran mengintip apa yang sedang ditulis Elli saat itu.
"Sepertinya dia punya sahabat pena dengan nama pena 'Prince of Dragon'." ujar Rikka melihat kepala suratnya.
"Dia berkirim surat dengan naga?" tanya Duran.
"Mungkin itu hanya sekedar nama pena saja. Bukan naga beneran." jawab Rikka.
Setelah selesai menulis surat, Elli menuju ke arah jendela. Dia meniup sebuah peluit unik, dan seekor burung merpati nampak terbang mendekatinya. Elli memasukan surat tersebut ke kotak yang ada di punggung burung merpati itu.
"Tolong sampaikan padanya ya.." pinta Elli pada burung itu.
Burung merpati berwarna hitam itu terbang menjauh dari Elli dan kemudian tak nampak lagi karena warnanya yang semu dengan warna langit malam itu. Elli keluar dari kamar nya dan menuju ke dapur istana. Duran dan Rikka kembali mengikutinya.
"Dia menuju ke dapur sendiri? Dia kan seorang putri. Kenapa tidak memanggil pelayan istana?" ujar Duran.
"Mungkin dia bukan tipe orang yang suka merepotkan orang lain." sahut Rikka.
"Ah, tuan putri.. kenapa anda kemari? Kalau anda ingin makanan anda kan tinggal memanggil kami?" tanya juru masak kerajaan saat melihat Elli.
"Aku ingin memasak sendiri." jawab Elli dengan polos.
"Tapi kan, anda masih kecil. Lagipula kalau sampai nona kenapa-napa gimana? Disini banyak barang berbahaya nona." ujar juru masak kerajaan menghalangi jalan Elli.
"Kalau begitu naga juga sama. Mereka adalah makhluk berbahaya. Kenapa aku malah mendapat penjaga seekor naga?" tanya Elli sambil menyelusuk di celah ketiak juru masak.
"Tapi walau naga itu berbahaya, jika mereka digunakan semestinya mereka takkan berbahaya." jawab juru masak.
"Kalau begitu sama kan?" sahut Elli sambil tersenyum.
Elli sudah ada di depan sebuah panci dan mengangkatnya sendiri.
"Sini biar saya saja yang bawa, tuan putri." pinta juru masak.
"Ti-tidak usah. Aku saja sendiri.." sahut Elli tampak kesusahan membawa panci besar itu.
"Hei apa kau dengar kalau raja sebenarnya saat ini sudah sekarat?" ujar seorang juru masak masuk ke dapur.
"Ya, berita itu sudah tersebar kemana-mana. Tapi raja menegaskan kalau tuan putri Elli tidak boleh tahu." sahut prajurit yang berjalan bersama juru masak itu.
"Aku kasihan pada tuan putri. Dia masih kecil tapi harus kehilangan ayahnya. Ibunya pun harus meninggal saat melahirkan beliau." ujar sang juru masak yang sepertinya adalah teman si prajurit.
Mendengar hal itu Elli langsung menjatuhkan panci yang sedang ia bawa. Sorot matanya menadakan dia sangat shock. Elli langsung berlari keluar dari dapur.
"Tuan putri!" panggil sang juru masak yang bersama Elii.
"Itu tuan putri Elli!?" ucap si juru masak teman prajurit terlihat kaget.
"Celaka!" ucap si prajurit.
Duran dan Rikka mengikuti Elli. Mereka berlari dan ternyata mereka sampai disebuah ruangan megah yang lebih luas daripada kamar Elli. Disana Elli berdiri dekat pintu sementara Duran dan Rikka melihat dari ambang pintu. Di tempat tidur, tergeletak seorang laki-laki yang tadi siang tampak sangat gagah, tapi saat ini tergeletak tak berdaya sambil mendapat perawatan dari tabib.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.