VocaWorld, chapter 142 - Festival Budaya (Penentuan)

Auditorium akademi Voca tampak sudah selesai dihias. Para anggota OSIS yang dipimpin langsung oleh sang ketua OSIS terlihat berbaris dan dihadapannya ada para siswa kelas 1-B.
"Kami sudah melakukan apa yang kalian minta. Sekarang kalian bisa melakukan acara kalian dengan tenang. Seperti yang tertulis dalam aturan, kalian akan menjadi pertahanan akhir event hari kedua. Jika kalian bisa menarik pengunjung melebihi setiap klub yang ada, kalian akan mendapatkan hak untuk pentas di Daylight Party. Tapi jika kalian gagal, maka kami pihak OSIS yang akan mengambil alih. Itu saja untuk saat ini. Selamat bekerja.." ujar ketua OSIS.
Para anggota OSIS pun keluar dari auditorium. Para siswa kelas 1-B entah mau melakukan apa, tapi mereka saat itu sudah memegang alat-alat musik klasik.
"Rasanya seperti kita berusaha menggapai sesuatu yang tak mungkin." ujar sang ketua kelas 1-B.
"Ya. Apalagi saat ini Hatsune-san dan Megupo-san bintang kita tidak ada. Bagaimana kita bisa mengalahkan para klub?" sahut yang disebelahnya.
"Harusnya tadi aku memilih membela klub saja." ujar yang ada dibelakang.
"Mereka kehilangan semangat mereka? Apa yang akan kamu lakukan, Ray-kun?" tanya Luka pada Ray.
Luka dan Ray terlihat memperhatikan dari tempat gelap dibelakang panggung.
"Kenapa kamu bertanya padaku, Megurine-san? Aku mana tahu apa yang harus aku lakukan." jawab Ray.
"Tidak biasanya Ray-kun berkata begitu. Bukankah Ray-kun selalu punya rencana untuk segala hal?" ujar Luka menoleh ke arah Ray.
"Aku tak butuh rencana baru kalau yang lama saja masih berjalan. Ayo kita ke tempat selanjutnya." sahut Ray kemudian pergi.
Luka pun mengikutinya keluar.
"Rencana seperti apa yang sebenarnya kamu gunakan untuk mereka?" tanya Luka.
"Maukah kamu menyanyi untukku, my queen?" sahut Ray tampak membawa sebuah violin ditangannya.
"Darimana kamu mendapatkan violin itu?" tanya Luka.
"Oohh.. aku secara tidak sengaja mengambilnya tadi. Aku juga secara tidak sengaja memindahkan beberapa yang lainnya keluar." jawab Ray.
Luka menoleh kebelakang dan melihat ada beberapa alat musik yang sudah ada di luar auditorium. Tepatnya disamping pintu belakang bagian luar.
"Begitu rupanya. Aku mengerti maksudmu sekarang." ujar Luka melihat ke depan lagi.
Dari pintu belakang auditorium, Ray dan Luka menuju ke ruang klub-klub musik. Sementara itu di lobi, Miku dan Gumi dikerumuni oleh para pengunjung.
"Mi-Mku-chan, bagaimana ini? Aku terlalu gugup kalau terlalu dekat gini." ujar Gumi dengan suara pelan.
Para pengunjung itu tampak meminta mereka berdua untuk bernyanyi untuk mereka.
"Miku-chan, jangan diam terus dong. Bantu aku.." pinta Gumi yang merasa semakin gugup.
Karena tak kunjung dijawab, Gumi akhirnya melihat ke arah Miku. Dan ia mendapati Miku tampak keringatan dan wajahnya memerah dengan mata yang berputar-putar.
"Miku-chan?!" ucap Gumi dalam hati tampak terkejut.
"Dia malah lebih gugup dariku. Padahal biasanya dia yang paling percaya diri. Terus aku harus bagaimana sekarang? Ayo berpikir.." gumam Gumi sambil berusaha memutar otak dan memikirkan jalan keluar.
"Maaf-maaf.. biarkan kami kedepan.." ucap Rin yang berusaha menyelusup di dalam kerumunan.
"Awas air panas nih air panas!" ucap Len.
Mendengar itu orang-orang yang berkerumun pun membukakan jalan.
"Eh, mana air panas nya?" tanya salah seorang yang membuka jalan.
"Ini." jawab Len menunjukan minuman dalam botol bertuliskan HOT water.
Jika dilihat lebih jelas, dibawahnya ada penjelasannya. HOT, Honestly Obviously Tasty.
"Itu bukan air panas!" bentak orang itu.
"Lho, hot kan artinya panas?" ujar Len.
"Iya, tapi hot disana bukan panas. Tapi singkatan." jelas orang itu.
"Tapi nii yang disana berpikiran lain." ujar Len menunjuk ke arah mesin penjual minuman.
Terlihat ada Kamui yang nampak sedang marah-marah sambil menelpon.
"Ini kenapa yang hot disimpan di tempat penyimpanan yang dingin. Harusnya disimpan diluar. Masa yang mestinya hot di dinginkan. Entar pendinginnya rusak!" bentak Kamui pada seseorang ditelpon.
"Dek, jangan dekat-dekat dengan dia." ujar orang yang berbicara pada Len sebelumnya sambil memegang pundak Len.
"Ada apa itu dibelakang tadi? Kok ada ribut-ribut?" ujar Gumi dalam hati.
Rin terlihat berhasil sampai ke depan.
"Ah leganya. Aku akhirnya sampai di depan juga. Ini ada apa sih sebenarnya ya?" ucap Rin saat sampai dibarisan terdepan.
Rin terkejut melihat ada Miku dan disebelahnya ada seseorang dengan dandanan yang agak seram.
"Rin-chan." panggil Gumi.
"Iihhh.. kenapa dia bisa tahu namaku? Siapa dia?" ucap Rin dalam hati tampak sedikit ketakutan.
"Ini aku Gumi." sambung Gumi sambil mendekat.
Namun Rin terlihat ketakutan dan tak mendengar perkataan Gumi.
"Dia sepertinya ketakutan. Pasti karena dandananku." pikir Gumi.
Gumi mulai menyanyikan sebuah lagu dengan suaranya yang indah. Dia naik ke atas bangku dan menari dengan elegan bagaikan peri. Namun kemudian dia melompat. Gumi merubah ekspresinya dan berubah menjadi seperti seekor kelinci jahat. Dia mengajak Miku untuk ikut bernyanyi dan mereka pun menyanyi berdua.
"Suara itu? Dia.. Gumi-neechan." ujar Rin dengan rasa takut yang perlahan memudar.
Diantara para pengunjung ada beberapa yang menatap kosong ke arah mereka kemudian pergi dari kerumunan tanpa alasan. Gumi menyadari itu dan kemudian mengitari para pengunjung yang menonton mereka. Miku mengikuti dan memutar ke arah yang berlainan sehingga para penonton bekumpul ditengah dan pengunjung yang hendak pergi terjebak diantara kerumunan orang. Gumi dan Miku melanjutkan nyanyian mereka.

Di ruang klub light music, Meiko dan Kaito menerima beberapa pengunjung. Tapi lebih seperti Kaito sendirian yang menerima pengunjung. Meiko hanya duduk dan melihat Kaito bernyanyi dengan beberapa gadis yang datang ke situ.
"Dasar Kaitobego playboy es tungtung! Malah enak-enakan nyanyi bareng mbak-mbak cantik. Lupa apa kita harus mencari mata-mata musuh diantara mereka." gerutu Meiko dalam hati tampak kesal melihat wajah Kaito yang terlihat bahagia.
"Makin lama makin panas aja disini? Bisa-bisa saat acara selesai aku kena pukulan maut nih." ujar Kaito dalam hati melihat Meiko menatap tajam kearahnya.
Karena tidak tahan, akhirnya Meiko pun keluar dari ruang klub.
"Meiko!" panggil Kaito.
Tapi saat hendak keluar, para mbak cantik itu langsung mengerubuni Kaito dan menghalangi jalan keluar. Saat sedang berjalan, Meiko berpapasan dengan Ray dan Luka.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Ray.
"Kamu selalu tahu kalau sesuatu terjadi ya?" sahut Meiko.
"Aku tidak tahu. Tapi dari jawabanmu sepertinya sesuatu memang telah terjadi." balas Ray.
"Apa ini tentang Kaito-kun lagi?" tanya Luka.
"Bukan. Aku hanya ingin berkeliling dan patroli. Bukankah aku harus meringkus mata-mata musuh?" jawab Meiko sambil mencoba melewati Ray dan Luka.
"Tidak." ucap Ray.
"Kami takkan memberimu jalan." sambung Luka.
Mereka berdua dengan bersamaan menutup ruang langkah Meiko.
"Kenapa?" tanya Meiko.
"Jelaskan padanya, Megurine-san. Sesama perempuan, aku yakin kalian pasti lebih saling mengerti." ujar Ray sambil pergi.
"Meiko-chan.. lari bukanlah jawaban." jawab Luka pada pertanyaan Meiko.
"Lagipula, menjadikan tugas sebagai alasan lari dari kenyataan tidaklah baik. Kamu harus belajar untuk menghadapi." tambah Luka.
"Aku tidak sedang beralasan. Aku juga tidak sedang lari." bantah Meiko.
"Ya, sekarang memang tidak 'sedang' melakukannya. Karena kamu barusaja 'sudah' selesai dengan itu." sahut Luka sambil tersenyum.
"Jangan membuatku bingung, Megurine-san." ujar Meiko.
Kemudian Luka langsung meraih lengan Meiko dan menariknya. Meiko tampak terkejut Luka tiba-tiba saja menarik lengannya dan membawa dirinya pergi.
"Mau kemana kita?" tanya Meiko.
"Kembali ke ruang klub mu." jawab Luka.
"Hah? Aku tidak mau!" tolak Meiko.
Tapi kemudian dia melihat Ray berdiri di depan pintu ruang klub light music.
"Sedang apa dia disana?" gumam Meiko.
"Kalian para perempuan sudah selesai bicaranya?" tanya Ray.
"Sedang apa kamu disini?" tanya balik Meiko dengan kesal.
"Sedang berjaga. Aku sedikit khawatir dengan Shion-san kalau sendirian." jawab Ray.
"Dia tak perlu kamu khawatirkan. Saat ini dia sedang bersenang-senang didalam." sahut Meiko.
"Apa kamu yakin?" tanya Ray.
"Tentu, aku lihat sendiri wajah bahagianya." jawab Meiko.
"Bukan itu maksudku, apa kamu yakin yang bersama Shion-san bukan mata-mata musuh?" jelas Ray pada pertanyaannya.
"Hah?" sahut Meiko.
"Kaito-kun itu bukan orang yang peka. Meiko-chan pasti sudah menyadarinya. Meninggalkan dia sendiri adalah hal yang berbahaya." jelas Luka.
"Dia belum tentu tahu dan mungkin saja dia diserang oleh mata-mata tersebut saat lengah." sambung Ray.
Meiko baru memikirkan itu dan menyadari kalau itu ada benarnya juga.
"Baiklah, aku mengerti." sahut Meiko.
"Sakine-san.. fight-o!" tambah Ray.
Ucapan Ray mengingatkan Meiko akan dirinya yang selalu mengatakan itu dengan semangat saat berubah. Semangat untuk melindungi Miku, Rin dan Len. Hati Meiko perlahan merasa hangat kembali, dan ia pun tersenyum.
"Terima kasih, Shiro-san." sahut Meiko sambil tersenyum.
Meiko masuk kembali ke dalam ruang klub light music.
"Apa yang barusan tadi?" tanya Luka menatap curiga pada Ray.
"Bukan apa-apa." jawab Ray sambil berjalan duluan.
Luka pun mengikutinya sambil tetap menatap curiga.
"Sepertinya di klub yang lain tak ada masalah." ujar Ray memperhatikan beberapa klub yang membuat acara di ruang klub nya.
"Bagaimana kalau mata-mata itu mengarah ke mereka? Sementara orang yang kita tunjuk untuk mengatasi mereka cuma dari klub light music." tanya Luka.
"Tenang saja. Karena sebagian besar dari mereka akan ditarik keatas secara paksa." jawab Ray.
Di ruang klub light music, Meiko duduk kembali di tempat duduknya. Kemudian dia melihat secarik kertas dilantai. Meiko mengambilnya kemudian melihat ada tulisan diatasnya.
"Treasure Key: Moonlight Opera." baca Meiko pada tulisan di kertas itu.
Meiko kemudian membalikan kertas itu dan ia menemukan 'sister'.
"Apa maksudnya ini? Kerjaan Shiro-san kah? Aku tidak tahu maksudnya. Tapi akan kusimpan saja. Siapa tahu ada gunanya." gumam Meiko sambil memasukannya ke saku.
Para pengunjung keluar dari ruangan dan Kaito duduk membelakangi Meiko.
"Ah.. akhirnya selesai juga. Mungkin aku harus beristirahat sebentar." ujar Kaito sambil mencoba bersantai.
"Selamat atas kerja 'keras' nya, Kaitobego." ucap Meiko.
"Apa maksudnya barusan itu?" sahut Kaito sambil tersenyum lesu.
"Apa itu menempel di punggungmu?" tanya Meiko melihat ada kertas menempel di punggung Kaito.
"Mana?" sahut Kaito berusaha melihat ke punggungnya.
Meiko pun mengambil kertas yang menempel di punggung Kaito dan meletakannya di meja. Kaito pun berbalik dan melihat apa yang tertulis di kertas itu. Dan ternyata mirip dengan milik Meiko. Cuma dibagian belakangnya tertulis Prince.

Dunia yang tampak tenang diguncangkan oleh suara petikan gitar listrik. Dante yang mengadakan konser diatas atap sekolah menyebarkan musik rock ke setiap penjuru sekolah. Suaranya yang khas membuat setiap pengunjung naik ke atap untuk melihat asal suara tersebut. Mereka semua penasaran akan pemilik suara itu. Ray dan Luka yang sedang menuju ke atap berpapasan dengan Rin dan Len.
"Ray-niichan!" sapa Rin sambil memeluk Ray.
"Oh.. kalian datang lagi.." sahut Ray.
"Acara kemarin seru banget. Jadi kami datang lagi karena penasaran acara apa lagi yang akan muncul." jawab Len.
"Ya, kami ingin lihat kejutan apalagi yang akan Ray-niichan buat." ujar Rin.
"Oohh.. bukannya kamu kemari buat lihat Ray-nii doang." goda Len.
"Len!!" bentak Rin berbalik ke arah Len sambil tampak malu.
"Hahaha.. kabur!" ucap Len langsung melarikan diri.
"Awas kau ya!" ujar Rin sambil mengejar Len.
"Apa tidak apa-apa membiarkan mereka sendiri?" tanya Luka.
"Kupikir tidak apa-apa. Mereka tidak sendirian." jawab Ray.
Luka melihat ke arah tangga, Len dan Rin naik keatas. Sekilas terlihat orang memakai kimono.
"Apa ini seperti yang kupikirkan?" ujar Luka.
"Kalau pikiran kita sama, itu artinya kita semakin dekat bukan?" sahut Ray.
Wajah Luka memerah saat mendengarnya. Tak lama setelah itu, tampak banyak orang berkumpul diatap. Dante memainkan beberapa melodi dengan gitar listriknya. Hawa kegelapan dari beberapa pengunjung yang punya tatapan mata kosong pun terhisap ke gitar Dante. Namun orang lain tampak tak melihat hawa kegelapan itu. Dan orang-orang yang kegelapannya terhisap kembali normal.
"Lho, kok aku ada disini?" ucap salah seorang dari mereka.
Luka dan Ray sudah ada diatap dan melihat kejadian itu dari kejauhan.
"Yang disini tampaknya tidak perlu kita khawatirkan." ujar Luka.
"Ya." sahut Ray.
"Jadi kita harus berkeliling lagi?" tanya Luka.
"Ya." sahut Ray sambil berjalan duluan.
Miku dan Gumi sedang ada didalam toilet. Ada beberapa orang yang tak sadarkan diri disekitar mereka.
"Tak kusangka mata-mata yang dimaksud ternyata orang yang dirasuki minor." ujar Gumi.
"Tapi bukannya sudah tak ada lagi minor dikota ini?" tanya Miku.
"Aku tidak tahu. Kita tanyakan saja pada orang yang mengetahui hal ini." jawab Gumi.
Mereka keluar dari toilet yang ternyata toilet perempuan.
"Untung saja Gumi-chan pakai tipe khusus ya. Jadi tak perlu set power dulu." ujar Miku saat keluar.
"Ya. Untung saja. Sepertinya ini salah satu rencananya." sahut Gumi.
"Haha.. mana mungkin lah. Ini kan karena aku yang mengajak Gumi keluar." balas Miku.
Gumi hanya ikut tertawa dengan malas mendengar itu. Miku dan Gumi berjalan menaiki tangga menuju ke ruang klub lagi. Namun saat Miku memegang pegangan dipinggir tangga, dia merasakan sesuatu.
"Ada apa Miku-chan? Kenapa berhenti?" tanya Gumi.
"Ini apa?" tanya Miku yang melihat sebuah kertas tertempel dengan selotip dipegangan tangga.
Miku melepaskan selotip dan mengambil kertas yang terbungkus plastik itu.
"Teazure Kei.. Monlighet Opera.." baca Miku.
"Apaan tuh? Sini coba.." pinta Gumi sambil mengambil kertas dari tangan Miku.
"Treasure Key: Moonlight Opera." ucap Gumi sambil memberikan kertas itu lagi ke Miku setelah membacanya.
"Oohh.. terus yang dibelakangnya apa?" tanya Miku sambil membalikan kertas itu.
Gumi pergi kebelakang Miku untuk melihatnya juga.
"Cinderella." jawab Gumi.
"Apa maksudnya ini?" tanya Miku lagi.
"Aku tidak tahu. Simpan saja dulu." jawab Gumi.
Mereka pun melanjutkan jalan ke ruang klub. Saat mereka sampai, mereka mendapati beberapa orang tak sadarkan diri di dalam.
"Jadi disini juga?" ujar Gumi.
"Ya, begitulah." sahut Kaito.
Sore hari tiba, June menunggu kembalinya orang-orang yang diutusnya.
"Kenapa mereka lama kembalinya. Ini sudah hampir berakhir kan festivalnya." gerutu June yang tak sabar menunggu.
Tiba-tiba dia mendapatkan telpon dari seseorang.
"Ya, halo.." ujar June menerima panggilan.
"Hah? Apa? Jadi semua rencanaku digagalkan oleh The White Light sejak awal!? Tidak mungkin dah! Aku yakin sekali rencanaku sudah sempurna. Jangan membentakku! Eh, maaf-maaf.. aku terbawa emosi. Ya mungkin aku harusnya mengawasi lebih dekat kalau tahu begitu jadinya. Maafkan aku.. ya besok adalah batas terakhirnya. Aku juga tahu." ujar June berbicara dengan seseorang ditelpon.
June memasukan ponselnya kembali ke saku. Wajahnya terlihat kesal sekali saat itu.
"Sialan.." geram June.
Miku dan Gumi sedang berjalan pulang setelah festival selesai. Tampak sosok berjubah memperhatikan dari kejauhan.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】