LINE Dragon Flight Story, chapter 14 - Jalan Masuk Fajar
Duran membungkus tubuh Elli dengan salju. Malam itu cukup dingin, tapi Duran merasa hangat tidur dipelukan Moonlight. Sementara Torn terjaga diluar didekat tubuh Elli yang membeku.
"Torn, kamu yakin tak mau tidur?" tanya Moonlight.
"Aku tak akan tidur dan membiarkan tuan putri tanpa penjagaan. Karena untuk melindungi beliaulah aku hidup. Aku tak punya alasan lain lagi selain melindunginya dan setia padanya." jelas Torn.
"Jadi royal dragon memang merepotkan." ujar Moonlight.
"Jika kau mengenal tuan putri, aku yakin kau pun pasti bersedia melindungi tuan putri dan mengabdi pada beliau." balas Torn.
"Tapi sayang, aku lebih dulu mengenal nona Duran daripada tuan putrimu itu. Dan bagiku, nona Duran lah yang paling cocok menjadi tuan ku." ujar Moonlight.
Di saat yang sama, Rikka bermalam bersama D. D mendirikan sebuah tenda lalu menyalakan api unggun.
"Aku tak menyangka ada tempat hijau dan hangat seperti ini di dalam tundra." ujar Rikka.
"Tempat ini memang unik. Tapi mustahil bagi manusia biasa menemukan tempat ini dari atas. Dan kecil kemungkinan bagi para pendaki menemukannya, karena kebanyakan mereka hanya melewatinya begitu saja." jelas D.
"Bagaimana bisa? Kamu saja menemukannya dengan mudah." tanya Rikka.
"Tundra ini seperti labirin, dimana jalan keluar yang lain adalah keluar dari tundra dan hanya satu jalan yang menuju ke tempat ini." jawab D.
"Jadi hanya orang yang tahu jalannya sepertimu yang bisa kemari?" tanya Rikka lagi.
"Ya, tepat sekali." sahut D.
D berdiri dan menghampiri tas nya yang ada di dalam tenda. Rikka menatap heran. Namun tidak lama kemudian D kembali sambil membawa sesuatu.
"Ini untukmu." ucap D sambil memberikan sesuatu yang dibawanya pada Rikka.
"Ini.." ucap Rikka sambil menerimanya.
"Itu roti pengelana. Ya setidaknya itulah sebutannya." ujar D.
"Ini biskuit, bukan roti." kata Rikka saat memperhatikan roti yang keras itu.
"Haha.. benar juga. Ini memang pertama kalinya aku membagi roti ini dengan orang luar." ujar D.
D tampak membungkus roti itu dengan daun dan melemparnya ke api unggun. Rikka bingung dengan yang dilakukan D. Tak lama terdengar seperti suara letupan dan D mengambil sebuah anak panah nya dan menusukkannya ke api unggun.
"Sedang apa kamu?" tanya Rikka yang bingung.
D menarik anak panahnya dan terlihatlah bungkusan daun yang saat ini tampak membesar.
"Apa itu?" tanya Rikka lagi.
"Roti pengelana." jawab D sambil membuka bungkusan daun.
Dan terciumlah aroma roti yang harum seperti yang baru keluar dari panggangan. Rikka berpikir sejenak, dan tampak ia mengerti sesuatu. Rikka pun melakukan hal yang sama dengan D.
"Dia mengerti dengan cepat. Seorang alchemist memang hebat." ucap D dalam hati sambil tersenyum.
"Oh ya, jadi kapan kita akan melanjutkan perjalanan? Kita harus cepat-cepat kan?" tanya Rikka sambil memakan roti itu.
"Aku juga mau cepat, tapi mau bagaimana lagi. Jalan masuknya hanya bisa kita lihat disaat fajar." jawab D.
"Jika, kita harus menunggu sampai pagi tiba." ujar Rikka terlihat sedih.
"Tenang saja. Kita akan berlari supaya cepat sampai. Banyak yang bilang lari pagi bagus untuk kesehatan." ujar D dengan semangat berusaha menenangkan Rikka.
"Y-ya. Kita akan berlari. Aku harus berlari sekuat tenaga besok!" ucap Rikka berusaha menyemangati dirinya.
"Karena itu, kamu sebaiknya tidur duluan. Kamu harus menyimpan tenagamu untuk lari besok." ujar D.
"Lalu kamu bagaimana?" tanya Rikka.
"Aku kan laki-laki, tugasku adalah menjaga perempuan. Jadi.. kamu tenang saja, aku ini kuat. Aku pengelana. Aku biasa berjalan kaki ribuan kilometer. Hanya berlari beberapa kilometer tak masalah buatku." jelas D sambil menyentuh kepaka Rikka.
Wajah Rikka memerah dan akhirnya ia pun bersedia tidur duluan. Rikka masuk ke dalam tenda sementara D tetap diluar di depan api unggun.
Saat pagi menjelang, di langit sebelah timur tampak semakin terang menandakan sang fajar hendak muncul.
"Nona alchemist, saatnya bangun! Ini sudah hampir waktunya. Ayo bangun!" suruh D dari luar.
Suara D membuat Rikka terbangun. Rikka memakai kacamatanya dan membereskan barang-barangnya.
Saat Rikka keluar D langsung melemparkan roti pengelana lagi padanya, kali ini sudah dimasak terlebih dahulu.
"Panas-panas.." ucap Rikka yang tangannya kepanasan saat menangkap roti itu.
D berjalan melewati Rikka dengan roti dimulutnya. Dia membereskan tenda dan mengambil ranselnya. Dan disimpan tendangnya itu diikat di tas ranselnya.
"Mana? Aku belum melihat jalan yang kamu maksud itu?" tanya Rikka.
"Sebentar lagi.." jawab D berdiri di sebelah Rikka menatap ke arah danau kecil di depannya.
Tak lama sang fajar pun muncul di ufuk timur. Sinar matahari yang masuk melalui celah pohon di tundra itu membuat efek pelangi yang indah di tempat Rikka dan D berada.
"Pelangi dari pembiasan cahaya karena celah kecil dan perbedaan suhu kah?" ucap Rikka saat melihat cahaya warna-warni menyelimuti mereka.
"Lihat disana. Itu jalan masuk kita." ujar D sambil menunjuk ke arah kolam.
Terlihat danau kecil itu memantulkan cahaya pelangi. Tapi ada satu cahaya yang terang berwarna putih.
"Jangan bilang kita akan berenang?" kata Rikka melirik ke arah D.
"Ya, untuk menuju jalan masuknya kita harus masuk ke dalam air." jawab D.
"Tapi kau bilang kita akan berlari!" bentak Rikka dengan wajah memerah.
"Tapi ada yang bilang, berenang adalah berlari di air." kata D menoleh ke arah Rikka.
"Siapa yang bilangnya?" tanya Rikka.
"Aku." jawab D.
Rikka pun menendang D hingga tercebur ke air danau itu.
"Hei ayo kemari! Masa aku sendirian yang nyebur!" panggil D yang muncul lagi ke permukaan air.
"Tidak mau! Dingin tahu!" tolak Rikka.
"Tapi kamu mau menolong temanmu itu kan?" tanya D.
Rikka pun terdiam sejenak.
"Ayolah, ini satu-satunya jalan masuknya." bujuk D.
"Ta-tapi bagaimana dengan permenku? Kalau terkena air nanti akan mencair." sahut Rikka.
"Masukan saja ke dalam tempat menyimpan airmu." balas D.
"Kalau gitu nanti yang ada akan mencair kena air di tempat airku." kata Rikka.
"Ya keluarkan dulu lah airnya." ujar D.
"Nanti kalau rembes pas menyelam gimana?" tanya Rikka.
"Kalau rembes tak mungkin bisa menyimpan air kan?" tanya balik D.
"Benar juga." sahut Rikka.
"Dia ternyata orangnya khawatiran ya." komentar D dalam hatinya.
Rikka mengeluarkan air di tempat airnya dan memasukan seluruh permennya ke tempat air itu.
"Tidak cukup!" ucap Rikka yang masih ada 2 kantung permen lagi yang belum dimasukan tapi tempat airnya sudah penuh.
"Ini pakai punyaku!" sahut D melempar tempat airnya yang berukuran lebih besar.
Rikka pun berhasil memasukan 2 kantung sisanya ke dalam tempat air D. Lalu setelah itu Rikka pun melepaskan pakaiannya.
"He-hei.. apa yang kamu lakukan!" ujar D tampak kaget lalu berbalik membelakangi Rikka.
"Tentu saja melepaskan pakaianku. Aku tak mungkin berenang dengan pakaian lengkap. Nanti berat." jawab Rikka.
"Ya ampun, aku saja berenang pakai baju serta membawa tas begini." ujar D dalam hatinya.
"Bagaimana dia bisa berenang dengan santai begitu padahal membawa tas ransel besar begitu dan memakai pakaian lengkap." kata Rikka dalam hati sambil memperhatikan D.
Rikka ternyata sudah melepas pakaiannya. Dan dia saat ini mengenakan bikini berwarna kuning. Setelah memasukan pakaiannya ke tas, dia melompat ke dalam air.
"Kamu melepaskan kacamatamu?" tanya D saat Rikka berenang ke sampingnya.
"Iya. Tapi kamu akan memanduku kan nanti?" jawab Rikka dengan wajah memerah.
"Ya. Ayo.." sahut D kemudian memeluk pinggang Rikka.
"Tarik napas yang panjang. Kita akan berada di dalam air cukup lama." suruh D.
Kemudian Rikka pun mengambil napas panjang. Setelah itu mereka pun menyelam ke dalam danau. Di dalam danau Rikka terpukau. Ada cahaya yang bersinar di dalam danau. Dasar danau tampak jelas. Banyak ikan di dalam danau itu. Mereka berenang meunuju sumber cahaya itu.
"Kristal?" ucap Rikka dalam hati setelah cukup dekat dengan sumber cahaya itu.
D memberi isyarat kalau di balik kristal itu lah jalan masuknya. Mereka berdua berenang berdua, D tampak masih memeluk pinggang Rikka. Saat sampai di belakang kristal, D melepaskan pelukannya dan menyuruh Rikka masuk lebih dulu.
Rikka mengikuti cahaya di lorong sempit itu dan lalu berbelok ke atas itu. Dan tak lama, Rikka sampai di permukaan.
"Ini kah jalan keluarnya. Tapi ini.. seperti berada di dalam gua." ujar Rikka.
Beberapa saat kemudian setelah Rikka beranjak ke tanah. Tas ransel D mengapung ke permukaan. Dan tak lama setelah itu D juga muncul.
"Ah.. akhirnya aku bisa bernapas lagi." ujar D sambil berenang ke tepian.
"Apa ini tempat yang kamu maksud?" tanya Rikka saat D sudah berada di depannya.
"Ini baru jalan masuknya. Nah dari sinilah kita akan berlari." jawab D sambil mengenakan tas ranselnya.
"Hah?" ucap Rikka terkejut.
Tampak kristal-kristal disana bercahaya saling memantulkan cahaya putih satu sama lain.
"Ayo, kita harus cepat. Sebelum disini jadi gelap total." kata D.
Rikka dan D pun melanjutkan perjalanan mereka.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.