LINE Dragon Flight Story, chapter 20 - Ratu Di Dalam Menara
Di kerajaan Scarlet, para prajurit tampak membeku menjadi es merah. Dan seekor naga putih terbang mengitari istana menuju ke sebuah menara tertinggi di istana itu. Dengan berpijak pada atap istana, naga putih itu menjulurkan kepalanya melihat ke jendela di menara itu.
"Hei, bisakah kamu gunakan kepalaku untuk berpijak lalu masuk kedalam?" pinta naga putih pada Rikka.
"Memangnya ada apa didalam?" tanya Rikka bingung.
"Disana kamu akan menemukan sosok hangat yang bisa melelehkan dinginnya es." jawab naga putih.
Rikka masih bingung dengan jawaban naga putih itu. Namun untuk menghilangkan dahaga rasa penasarannya, ia pun menuruti kata-kata naga putih itu dan masuk ke dalam.
"Siapa itu?" tanya perempuan yang terlihat tiduran di ranjangnya dengan lemah.
Rikka terkejut mendengar suara lembut dan lemah itu. Rikka menghampiri perempuan tersebut untuk melihatnya dari dekat.
"Siapa kamu?" tanya perempuan yang tampak lemah dan tak berdaya itu pada Rikka.
"Namaku Rikka." jawab Rikka.
"Rikka? Ah.. aku pernah melihatmu dalam ingatannya." sahut perempuan itu kemudian bangun dan duduk di ranjangnya.
Ternyata itu adalah Lithiana.
"Lama tak berjumpa, Lithiana. Apa mereka memaksamu menyembuhkan orang yang membeku begitu banyak hingga kamu lemah seperti ini?" tanya naga putih dari luar.
"Apa itu kamu, Ruby?" sahut Lithiana ke pinggir ranjang hendak berdiri.
Namun Lithiana sangat lemah hingga kakinya tak sanggup menopang dan ia jatuh ke lantai.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rikka sambil membantu Lithiana berdiri.
"Siapa yang telah memanggilmu kemari, Ruby? Bukankah kamu mengatakan takkan kembali?" tanya Lithiana.
"Dia telah kembali. Anak laki-laki telah kembali. Dia memanggilku menggunakan mantramu." jawab naga putih yang disebut Ruby oleh Lithiana.
"Dia? Dia siapa!?" tanya Lithiana.
"Anak laki-laki dalam takdir kita." jawab Lithiana.
Seketika Lithiana pun terdiam. Dia teringat seorang laki-laki yang terjatuh kedalam danau es dan tubuhnya perlahan membeku. Lama kelamaan menyatu dengan lapisan es. Disaat itu Lithiana lewat dan memecahkan bongkahan es itu. Namun anak laki-laki itu tak bergerak sama sekali. Lithiana membawanya ke purinya. Berusaha menghagatkannya namun anak laki-laki itu tetap saja tak bergerak. Lalu Lithiana memanggil Ruby. Lithiana berbincang dengan Ruby. Dan Lithiana pun membawa anak laki-laki itu ke depan Ruby. Lithiana kemudian memeluk tubuh anak laki-laki itu. Dan Ruby menembakan cahaya merah dari kristal dikepalanya. Lithiana memeluknya sambil memejamkan matanya dan menangis. Setelah beberapa lama Lithiana melepaskan pelukannya. Anak laki-laki itu kembali sadar.
"Dia kembali? Apa dia ada disini?" tanya Lithiana.
"Ya. Tapi sekarang dia sedang bertarung dengan ksatria wyvern." jawab naga putih.
"Ngomong-ngomong, dimana Elli?" tanya Rikka.
"Temanmu yang seorang putri itu kan?" tanya balik Lithiana.
"Iya. Dimana dia?" jawab Rikka.
"Dia.." kata Lithiana dengan ragu.
Tapi Ruby menyadari sesuatu, dia menengok ke belakang dan melihat ada bola api besar melesat ke arahnya. Ruby pun terpaksa menahannya dengan tubuhnya, karena jika tidak, maka menara itulah yang akan kena.
"Takkan kubiarkan kalian melukai ibu!" bentak Elli yang sedang mengendarai Torn.
"E-Elli?!" ucap Rikka terkejut melihat siapa yang menyerang mereka.
Ditempat lain, Duran dan Eve berhasil menyusup ke istana sementara Moonlight menghadapi para ksatria wyvern untuk mengalihkan perhatian. Tampak diatas Duran, Moonlight mengeluarkan cakarnya dan membelah-belah para wyvern dengan mudah. Duran dan Eve menyusup ke penjara bawah tanah. Setelah melumpuhkan penjaga, mereka mencari ruang penyekapan Bonar dan Snow. Di belakang istana, mereka menemukan sebuah pintu besar ditanah.
"Mungkin ini tempatnya?" ujar Eve.
"Tempat apa?" tanya Duran.
"Tempat mereka memenjarakan naga lah!" bentak Eve.
"Oohh.. terus gimana kita menghancurkan gembok besar itu?" tanya Duran menunjuk ke arah gembok baja yang besar dan terlihat sangat kuat itu.
Eve pun bersiul-siul seperti memberi sebuah isyarat.
"Itu majikanku." ujar Snow yang mendengar suara itu dari dalam penjara.
"Ah, sepertinya kamu akan meninggalkanku disini sendirian." kata Bonar yang tampak masih lemah.
"Siapa bilang? Aku tak mungkin meninggalkan orang yang telah menemaniku disini. Aku akan membawamu keluar!" jawab Snow.
Lalu terdengar suara siulan lagi dari luar.
"Baiklah.. itu artinya aku harus memberi dukungan dari sini!" kata Snow.
Snow menembakan sebuah uap dingin dan membuat pintu itu membeku seketika.
"Pintunya membeku?!" ucap Duran terkejut.
"Baiklah ayo sekarang kita melompat ke atas pintu." ujar Eve lalu melompat bersama Duran.
Pintu itu pun jebol kebawah karena engselnya hancur tidak tahan menahan beban dan hentakan secara tiba-tiba.
"Snow! Kau tidak apa-apa?" ucap Eve menghampiri Snow.
"Ya, aku tidak apa-apa. Hanya saja, kekuatanku nampaknya sudah benar-benar habis saat ini." jawab Snow.
"Bonar? Apakah itu kamu?" tanya Duran.
"Oh nona Duran, senang melihat anda. Apa nona Rikka sudah kembali?" sahut Bonar.
"Belum. Aku belum bertemu dengannya lagi." jawab Duran.
"Begitukah.." sahut Bonar lagi tampak lesu.
Diluar, Moonlight sudah selesai melawan para wyvern. Namun dia melihat seekor naga putih besar sedang bertarung melawan Torn.
"Na-naga itu?!" ucap Moonlight terkejut melihat naga putih yang sedang bertarung dengan Torn.
Moonlight kemudian terbang ke arah mereka dan berusaha melerai mereka. Melihat ada Moonlight diantara mereka, Torn dan naga putih itu berhenti bertarung.
"Stop! Kalian jangan bertarung lagi! Kalian bisa memicu badai disini." kata Moonlight.
"Moonlight!" panggil Rikka yang menyadari kedatangannya.
"Nona Rikka!?" ucap Moonlight.
"Tolong tangkapkan Elli! Cuma itu cara satu-satunya menyadarkan dirinya!" suruh Rikka.
"Apa maksudnya barusan?" ucap Moonlight yang malah bingung.
"Kilat emas, patuhilah saja dia." kata Ruby si naga putih.
Dihalaman belakang istana, Snow memapah Bonar dan membawanya keluar. Namun ternyata ada wyvern berkepala dua di hadapan mereka. Seorang ksatria gagah berpakaian serba merah tampak mengendarai wyvern tersebut sambil memehang dua tombak trisula merah.
"Kalian pikir aku akan membiarkan kalian kabur? Aku adalah Redd Scarlet. Salah satu dari 6 jendral terkuat di Arkanesia! Belum ada yang bisa kabur dari tombakku selama ini!" ucap ksatria itu yang tak lain adalah raja Redd.
"Sial, disaat seperti ini kekuatanku malah habis. Bagaimana ini?" gerutu Snow dalam hatinya.
Eve melompat dan menyerang raja Redd dengan pisaunya, namun dengan tenang raja Redd menahannya dengan salah satu tombaknya. Dan tombak yang satu lagi tampak hendak menyerang Eve. Namun ditahan dengan pisau oleh Duran.
"Oh ternyata kamu punya teman sekarang." ujar raja Redd sambil tersenyum.
Raja Redd menghempaskan mereka berdua hingga menubruk tanah. Raja Redd terbang lebih tinggi saat itu supaya mereka berdua tidak bisa menggapai dirinya.
"Mau melawanku hanya dengan kekuatan seperti itu? Kalian pasti bercanda. Aku dijuluki sebagai 'Scarlet Skyterror' bukan tanpa alasan. Akulah penguasa langit di seluruh wilayah Arkanesia. Saat ada dilangit aku tak terkalahkan!" ujar raja Redd dengan penuh kebanggaan.
"Bersiaplah untuk mati!!!" pekik raja Redd dengan menyeringai.
Ujung kedua tombaknya diselimuti aura merah gelap.
"Habislah kita!" ucap Eve.
Tiba-tiba terdengar seperti suara siulan, dan sebuah panah menancap di ulu hati wyvern yang ditunggangi raja Redd.
"Siapa itu?!" ucap raja Redd melihat ke arah datangnya panah.
Namun pada saat menoleh, raja Redd terkena oleh panah yang tepat menancap di bagian matanya. Dan beberapa panah lain yang mengenai bagian-bagian vital lain, namun tidak mempan karena jirah yang dipakai oleh raja Redd. Hujan panah itu tidak berhenti hingga akhirnya wyvern yang ditunggangi raja Redd jatuh bersama dengannya. Tubuh bagian kanan wyvern itu penuh dengan panah yang menancap.
"Siapa yang memanahnya? Darimana dia melakukannya?" tanya Duran yang kebingungan.
"Aku tak melihat siapapun di dekat sini." sahut Snow.
Dari balik rimbunnya hutan, D tampak sedang memegang busur panah.
"Sangat mudah menyerang orang yang sedang lengah." ujar D.
"Sialan! Aku tak menyangka kau sehebat itu. Siapa sebenarnya kau?" tanya Rath yang tergeletak tak berdaya ditanah.
"Harusnya kamu sudah menyadarinya saat melihat punggungku." jawab D yang tampak membelakangi Rath saat itu.
Terlihat ada sebuah lambang dengan huruf H tersamar ditengahnya. Lambang itu terukir diatas sebuah perisai yang menempel ditas ransel dipunggung D. Menyadari lambang itu, Rath terlihat sangat terkejut.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.