VocaWorld, chapter 136 - Kegelapan Di Telan Cahaya

"Kenapa kau begitu terkejut, JB? Baru melihat aku menggunakan elemen petir?" ujar Dante yang berdiri diatas sebuah tower telepon.
Dante melihat ke arah June yang berada dibawah tower telepon. June menatap Dante seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dante lompat kebawah kesamping June.
"Lain kali kamu harus siapkan 1000 rencana cadangan. Karena satu rencana takkan cukup untuk mengalahkan Aniki meskipun Aniki sudah tak punya kekuatan lagi." ujar Dante sambil memegang pundak June.
Dante pun berjalan meninggalkan June. June hanya terbengong saja saat itu. Di atap gedung akademi Voca, Meiko berdiri tampak sedih. Kepalanya tertunduk dan tatapan matanya lesu.
"Kenapa kamu tampak sedih begitu? Harusnya kamu bahagia sekolah ini selamat." ujar Ray yang tampak sudah ada di atap.
"Meiko-chan.." ucap Luka.
"Apa ini semua salahku? Aku yang memunculkannya!?" tanya Meiko melihat ke arah Ray dan Luka.
"Bukan, tentu saja bukan." jawab Ray.
"Tidak! Kau pasti bohong! Karena aku merasa.. aku.." ujar Meiko.
"Ray-kun, apa maksudnya ini? Apa yang dimaksud Meiko-chan dengan memunculkan? Bisakah kamu jelaskan padaku?" tanya Luka.
"Kamu takkan menyadarinya, Luka. Begitu pula Meiko setelah beberapa saat yang lalu. Aku menyuruh Dante mengeksekusinya di tempat lain." jawab Ray.
"Maksudmu?" tanya Luka lagi.
"Nampaknya aku harus menjelaskan dari awal. Major dan minor berasal dari kegelapan yang berkumpul diudara. Kegelapan dari perasaan negatif dihati manusia. Saat ini udara sudah bersih dari kegelapan. Namun barusan kegelapan yang cukup pekat muncul." jelas Ray.
"Dan itu berasal dari Meiko-chan?" tanya Luka.
"Ya." jawab Ray.
Luka menghampiri Meiko yang menangis saat itu.
"Meiko-chan.. sudah jangan terlalu dipikirkan. Ini bukan salah Meiko-chan." kata Luka sambil memegang pundak Meiko.
"Tidak! Jangan katakan itu bukan salahku lagi! Aku tak mungkin percaya! Kamu hanya ingin menghiburku saja!" bentak Meiko.
"Bukan kok, Meiko-chan. Aku berkata jujur." sahut Luka.
"Aku tidak percaya!" ucap Meiko.
"Kalau dia memang mau disalahkan, biarkan saja." kata Ray berjalan mendekati Luka.
"Apa maksudmu, Ray-kun?" tanya Luka.
"Dia sepertinya sangat ingin disalahkan. Sebaiknya kita biarkan saja kalau memang keinginannya begitu, Megurine-san." jawab Ray.
"Kenapa kamu malah berkata begitu, Ray-kun?" tanya Luka berpaling pada Ray.
"Aku tak akan memberikan sesuatu pada seseorang yang tak menginginkan sesuatu tersebut. Jadi, jika dia memang tak mau dibela, aku takkan membelanya lagi." ujar Ray.
"Kamu kenapa jadi kasar begitu, Ray-kun? Aku benci kamu yang seperti itu!" ujar Luka.
"Tak apa aku harus dibenci sekalipun. Tapi aku tak bisa membiarkan semua orang disekitarku terkena imbas dari perasaan dan emosiku yang egois." balas Ray.
"Orang disekitarnya?" ucap Meiko dalam hati.
Meiko pun teringat akan Rin dan Len. Mereka yang sudah diurus sejak kecil. Dan Miku yang selalu ceria. Bahkan sejak pertama kali ia menemukannya.
"Orang disekitarku?" lanjut Meiko dalam hatinya.
Ray melirik kecil ke arah Meiko.
"Mereka semua yang selalu menghiasi hidupku. Jika aku terus dalam kesedihan ini, bagaimana dengan mereka?" pikir Meiko.
Luka pun ikut menoleh ke arah Meiko.
"Aku adalah pengganti ibu mereka. Aku adalah kakak mereka. Aku tak boleh sedih. Aku harus kuat. Demi mereka." ucap Meiko di dalam hatinya sambil menghapus air matanya.
"Jadi Ray-kun sengaja bertengkar denganku untuk menyadarkan Meiko-chan?" ujar Luka dalam hati melihat wajah Ray.

Sebelumnya, saat Meiko, Dante dan June masih ada diatas gedung akademi Voca.
"Bersiaplah untuk terbakar, tuan dan nona!" ucap June sambil mengangkat lengannya ke atas.
Dante tampak tenang dan malah tersenyum.
"Mau melakukan apa dia? Apa maksudnya dengan terbakar?" ucap Meiko dalam hatinya bertanya-tanya.
"Bingung dengan perkataanku? Biar kujelaskan.." ujar June menggerakan jari telunjuknya.
Muncul beberapa sosok hitam di hadapan Meiko. Namun Dante menembaki mereka dengan api hitam dari instrument nya.
"Jangan jatuhkan dirimu kedalam kegelapan, senpai. Kau bisa diambil alih oleh kegelapanmu nantinya." ujar Dante.
Di area sekitar sekolah, terdengar sebuah alunan musik.
"Haha.. tidak, mestinya kamu bangga, nona. Karena kegelapanmulah aku punya kekuatan ini lagi. Kekuatan untuk memanggil dark sider." tambah June.
June menjatuhkan telapak tangannya, dan disaat yang bersamaan suasana disekitar jadi hitam putih.
"Apa ini?!" ucap June terkejut.
Dante menggunakan kesempatan itu untuk menendang June menjauh dari gedung sekolah.
"Ini adalah melody of silent milik Aniki." jawab Dante.
Dante melompat mengejar tubuh June yang terlempar. Meiko saat itu menjadi hitam putih. Begitu juga seluruh orang di area akademi Voca, kecuali Ray.
"Kuharap kamu tak lupa perintahku, Dante. Saat ini berbahaya melawannya saat punya kuasa atas kegelapan di atas sekolah ini." ujar Ray dalam hati melihat ke jendela.
Kemudian Ray menjadi hitam putih seperti yang lain.
"Hahaha.. kenapa, JB? Belum pernah melawanku dengan kondisi seperti ini kan?" ujar Dante yang melayang diatas JB.
June nampak sedikit pucat. June berjungkir balik dan mendarat lalu berusaha untuk melompat sejauh mungkin.
"Menghadapi tuan Lucifer saat kegelapan tidak banyak itu sama saja dengan bunuh diri." ujar June.
"Kau mau lari dariku, JB!?" kata Dante yang ternyata sudah ada disampingnya.
Nampaknya Dante sudah mengaktifkan dance acceleration nya sejak awal.
"Siaaaallll!!!" teriak June sambil tampak mengepalkan tangan kanannya.
Kegelapan tampak terkumpul sedikit ditangannya. Dan api hitam pun tercipta di tangannya.
"Api hitam?!" ucap Dante terkejut.
June menyerang Dante dengan api hitam itu. Tapi untung saja Dante sempat bertahan. Namun saat api hitam itu lenyap, June menghilang.
"Sialan! Aniki bisa marah kalau sampai tahu ini." gerutu Dante berhenti.
Dante melihat ke segala arah mencari keberadaan June. Tapi sayangnya tidak ketemu.
"Aniki! Aku butuh bantuanmu!" teriak Dante.
Di akademi Voca, Ray dan Luka menuju ke klub penyiaran di ruangan broadcast.
"Permisi, aku Shiro Ray dari OSIS." ucap Arya sambil mengetuk pintu ruang broadcast.
"Ray-kun, kenapa kita kemari?" tanya Luka yang terlihat bingung.
"Oh kamu yang tadi ya? Ayo masuk." ujar seseorang membukakan pintu.
Ray dan Luka pun masuk.
"Kegelapan. Diatap. Sembunyi." jawab Ray dengan suara pelan pada Luka.
"Hmm.. apa maksudnya itu?" gumam Luka.
Luka pun tampak berpikir.
"Ada apa lagi?" tanya anak klub penyiaran.
"Aku ingin meminta bantuan kalian lagi." jawab Ray.
Ditempat yang lain, Dante mencari-cari keberadaan June. Namun tidak ketemu juga. June saat itu dengan berhati-hati berlari diantara bayangan gedung-gedung.
"Seandainya ada Aniki pasti cepat nih selesainya." gerutu Dante.
Tiba-tiba ponselnya berdering.
"Halo, Aniki!" ujar Dante melalui ponselnya.
"What is Aniki? I don't understand." sahut orang yang berbicara dengan Dante.
"Siapa ini!!? Dari logat dan suaranya, ini bukan Aniki!" ucap Dante terkejut.
"Hey, Arnold! Why are you not answer me? Are you still there?" ujar orang dengan logat orang barat itu.
"Siapa kau!!? Aku bukan bintang film Terminat*r, jadi jangan panggil aku Arnold!!" bentak Dante.
"Sorry, wrong number." kata orang itu menutup panggilan.
"Kenapa disaat genting gini malah ada yang salah nomer." gerutu Dante.
Ponsel Dante kembali berdering saat hendak dimasukan ke sakunya lagi.
"Sudah kubilang aku bukan Arnold!!!" bentak Dante mengangkat panggilan itu.
"Dante, ini aku." ujar suara yang tak asing baginya.
"This is Aniki??!!!" ucap Dante dengan wajah shock.
Ray saat itu berada di ruang penyiaran dan memegang sebuah gitar listrik.
"Segala pakai bahasa Inggris. Ada sesuatu yang terjadi kah?" tanya Ray.
"Se-sebenarnya.. aku kehilangan dia Aniki.." jawab Dante.
"Ya ampun.. baiklah. Kita tunggu saja. Dia akan segera menggunakan seluruh kegelapan yang barusaja muncul tadi. Lalu disaat itulah kita menangkapnya." ujar Ray.
"Ide bagus, Aniki." sahut Dante.
"Dante.. selaraskan nadamu denganku. Aku akan menggunakanmu sebagai perantara." tambah Ray.
"Aku tidak mengerti sih maksudnya.. tapi akan kulakukan." sahut Dante.
Ray pun mulai memainkan beberapa nada yang terangkai menjadi melodi. Dante mengiringi permainan gitar Ray dengan instrument miliknya. Sementara June sedang mengangkat lengannya ke atas dan mengumpulkan seluruh kegelapan ditelapak tangannya. Kemudian dia menempelkan tangannya di dadanya dan June pun seperti tampak kesakitan. Dari punggungnya, keluar ratusan kelelawar hitam yang melesat ke segala arah. Dante melompat ke arah tower telepon disebelahnya. Dia menuju keatas tower sambil tetap memainkan gitarnya. Ratusan kelelawar hitam itu mengarah padanya.
"Haha.. akan kugunakan apiku." ucap Dante.
Namun apinya tidak keluar. Tapi ada sebuah percikan disekitar tubuh Dante. Saat ada kelelawar yang mendekatinya, kelelawar itu meledak tersengat listrik. Begitu pula ratusan lainnya yang mendekatinya.
"Cih, apa maksudnya itu? Bagaimana api hitamku bisa dimusnahkan begitu?" ucap June nampak kesal.
June yang kesal pun kemudian menggunakan semua kegelapan yang tersisa. Dia menggunakan kegelapan itu untuk memanggil sosok besar berselimut api. Raksasa hitam bermata satu mirip dengan seekor naga. Hanya saja sayapnya terlihat layu dan kecil sehingga tampak seperti daun kering yang tinggal rangka nya. June dan monster itu mendekati Dante dengan santainya.
"Maaf sekali, tuan Lucifer. Nampaknya aku akan sedikit melukai anda." ujar June dengan percaya diri.
Dante hanya tersenyum.
"Rasakan ini!" ucap June.
Lalu naga itu tampak hendak menembakan sesuatu. Sesuatu berbentuk bulat hitam dan berapi. Dante memetik senar gitarnya. Dan muncula petir dari atas langit menyambar ke arah raksasa itu. Petir itu memusnahkan sosok tinggi besar itu dalam sekejap. June tampak sangat terkejut.

Kembali ke masa sekarang, Dante pulang bersama Ray.
"Ah, sudah lama sejak kita pulang bersama, Aniki." ujar Dante.
"Bagiku itu baru kemarin, Dante." sahut Ray.
"Aniki mengatakannya seperti pulang bersamaku itu membosankan." tukas Dante.
"Malah sebaliknya, aku terlalu mengingatnya dengan jelas sehingga terasa baru kemarin." balas Ray.
"Jadi memang semembosankan itu kah?" tanya Dante.
"Kamu bodoh ya, Dante. Maksudku itu, aku tak mungkin melupakan segala hal tentang adikku." jawab Ray.
"Eh, begitu ya? Kenapa tidak ngomong daritadi?" gerutu Dante.
"Bukannya aku sudah ngomong." kata Ray dalam hati.
Di ruangan klub light music, Miku, Gumi dan Kaito sedang membicarakan sesuatu. Tiba-tiba Meiko datang.
"Tega sekali kalian memulai rapat tanpa diriku." ucap Meiko dengan tatapan mata kesal.
"Rapat? Rapat apa?" tanya Kaito.
"Kau pikir aku buta, Kaitobego! Kulihat disini kau sedang rapat dengan mereka." jawab Meiko.
"Rapat apaan sih maksudmu!? Aku tidak ngerti!" ujar Kaito.
"Mungkin maksud Meiko-chan itu merapat." jelas Luka yang sudah berdiri di ambang pintu.
"Megurine-san?" ucap Meiko.
"Megurine?!" ucap Kaito.
"Selamat sore, klub light music." sapa Luka sambil tersenyum.
"Mau apa kau kemari, Megurine?" tanya Kaito.
"Kaito-kun harusnya jangan galak begitu. Bad Kaito.. bad Kaito.." ucap Luka.
"Lah aku dikira gukguk." kata Kaito.
"Aku kemari diutus oleh Ray-kun." ujar Luka.
"Diutus?!!" ucap Miku.
"Dari semua kata yang ada kenapa kamu pilih kata itu coba?" komentar Meiko.
"Hmm.. kalau begitu, aku kesini dikirim oleh Ray-kun." ujar Luka.
"Dikirim?" ucap Kaito.
"Luka-oneesama kepalanya terbentur sesuatu kah?" ujar Gumi-chan.
"Aku mendapatkan misi dari Ray-kun untuk datang kesini." lanjut Luka.
"Kenapa semuanya mesti berkaitan dengan agen rahasia?!!" protes Kaito.
"Agen rahasia???" ucap Miku yang bingung sedari tadi.
"Itu lho, diutus, dikirim, dapat misi kan biasanya berkaitan dengan agen rahasia." jelas Kaito.
"Beneran!!??" ucap Miku terkejut.
"Kenapa kamu menggunakan kata-kata itu, Megurine-san?" tanya Meiko.
"Tak ada alasan khusus kok. Hanya saja kata itu terdengar keren saja." jawab Luka.
"Terdengar keren? Jawaban yang tidak biasa dari Luka-oneesama." ujar Gumi.
"Apa itu karena dia?" tanya Meiko.
Luka tersenyum dengan wajah sedikit memerah.
"Pantas saja." kata Meiko.
Terlihat pipi Meiko memerah saat mengatakannya.
"Jadi siapa diantara kalian yang akan ditunjuk sebagai utusan kalian di festival budaya nanti?" tanya Luka.
"Lagi-lagi pakai kata utusan." komentar Kaito.
"Atau mungkin kalian berempat akan nyanyi bersama atau tampil sebagai band?" tambah Luka.
"Aku! Aku! Aku!" ucap Miku sambil mengacungkan lengannya.
"Aku ingin menyanyi duet dengan Kaito-senpai!" sambung Miku.
"Oohh.. duet ya. Begitu rupanya.." ujar Meiko menatap tajam pada Kaito.
"Ah.. itu bisa aku jelaskan.. sebenarnya.." ucap Kaito dengan grogi.
Meiko menatap tajam ke arah Kaito.
"Gawat dah.. habislah aku. Bisa kena pukulan maut berapi nih hari ini." ujar Kaito dalam hatinya.
"Kaito-senpai mengatakan dia mau mengajariku cara berduet. Jadi kami harus tampil berdua sebagai latihan." tambah Miku.
"Oohh.. begitu.." sahut Meiko.
"Y-ya... begitulah.. hahahaha.." ujar Kaito tertawa bodoh.
"Kenapa tidak mengatakannya sejak awal!" bentak Meiko.
"Ah, aku takutnya kau marah. Tahu sendiri kan kau itu gampang ngambek." ujar Kaito sambil menggaruk wajahnya dengan telunjuknya.
"Setidaknya ngomong apa gitu! Jangan diam begitu, dasar bego!" ujar Meiko sambil berdiri dan membuang muka.
"Sepertinya kesalah pahaman disini sudah teratasi. Apa ini bagian dari rencanamu juga, Ray-kun?" gumam Luka sambil tersenyum.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】