VocaWorld, chapter 132 - Yang Telah Kembali

Akademi Voca hari itu, Miku mencolek Gumi yang duduk di depannya. Saat itu sebenarnya sedang belajar, tapi sepertinya Miku penasaran akan sesuatu.
"Gumi-chan.. Gumi-chan.. woy.." bisik Miku sambil mencolek-colek pundak Gumi.
"Ada apa sih anak ini daritadi colak-colek terus. Aku kan lagi konsentrasi nih." gerutu Gumi dalam hati yang berusaha belajar dengan serius memperhatikan.
"Gumi-chan.." panggil Miku lagi dengan suara pelan.
Gumi pun menoleh kebelakang dengan ekspresi datar.
"Hai Gumi-chan.." ucap Miku saat Gumi menoleh.
"Gitu doang? Aku pikir apaan." komentar Gumi dalam hati dengan menatap heran.
Gumi kembali melihat ke depan.
"Gumi-chan.." panggil Miku lagi.
"Apaan?" tanya Gumi menoleh kebelakang lagi.
"Hai.." ucap Miku lagi saat Gumi menoleh.
Gumi merasa jengkel. Kemudian menarik kerah pakaian Miku.
"Jangan manggil-manggil aku kalau cuma mau bilang hai doang." ujar Gumi.
"Ta-tapi aku hanya ingin memastikan Gumi-chan sudah menjadi Gumi-chan yang biasanya." sahut Miku.
"Ehem! Kalau kalian ingin ngobrol silahkan diluar kelas." ujar guru yang sedang mengajar saat itu.
"Ma-maaf." sahut Gumi kembali melihat ke depan.
"Jadi dia mengkhawatirkanku. Kupikir dia takkan sadar." ujar Gumi dalam hati.
Ray saat itu melihat dan memperhatikan dari arah bangku nya. Dan ditempat lain, June terlihat sedang browsing internet menggunakan ponselnya.
"Bosan banget. Pesawatnya sedang diperbaiki, jadi aku tak bisa bermain-main di kota lagi. Aku juga sudah mengantarkan pesanan orang itu, tapi orang itu belum mengirimkan bayarannya juga." gerutu June sambil buka-buka situs sosial media.
"Menyebalkan, kenapa pesawat sebesar ini sepi banget!" teriak June sambil berdiri.
Kemudian June membuka pintu gerbang besar. Dan melompat keluar dari pintu itu. Ternyata itu adalah hangar yang ada di dalam sebuah pesawat besar. Pesawat yang menggunakan kamuflase supaya tak terlihat oleh mata manusia ataupun radar. June meluncur dari ketinggian tepat kebawah. Menembus lapisan awan dan terlihat ada lautan dibawahnya.
"Berenang di laut pagi-pagi takkan terasa buruk juga." ucap June bersiap menyelam di laut.
Kemudian June pun nyebur ke laut hingga airnya terangkat cukup tinggi membuat gelombang yang cukup kuat.
"Ah.. untung saja tubuhku dilindungi kekuatan super. Kalau tidak, pasti badanku sudah hancur saat ini." ujar June muncul lagi ke permukaan.
"Tunggu sebentar, ada dimana ini?" ucap June baru sadar di sekitarnya dia tak melihat ada pulau ataupun daratan.
June benar-benar berada ditengah laut. Dia mengapung di lautan yang sangat luas.

Di akademi Voca, Meiko berjalan bersama Kaito ke atap sekolah.
"Hari ini kita kita akan melanjutkan battle masakan kita, Kaito." kata Meiko yang berjalan didepan Kaito.
"Hah, bukannya itu masih 2 hari lagi?" sahut Kaito.
"Aku tidak peduli. Kemarin kita tidak jadi terus tandingnya." balas Meiko berdiri menghadap Kaito di depan pintu keluar.
"Terus memangnya kenapa kalau tidak jadi?" tanya Kaito yang terlihat malas.
"Kenapa kamu tidak semangat gitu? Jangan bilang kamu sudah mulai bosan denganku, hah?" tanya balik Meiko dengan tatapan preman nya.
"Hah? Apa maksudmu?" tanya balik Kaito.
"Ditanya malah nanya balik. Gimana sih!" gerutu Meiko.
"Kau sendiri nanya balik tuh!" sahut Kaito.
"Siapa?" tanya Meiko mulai keluar sifat premannya.
"Apanya?" tanya balik Kaito.
"Oke, kali ini kita sedang menyaksikan battle kalimat tanya antara 2 pasangan yang sedang bertengkar." ujar Ray yang berdiri dibelakang Meiko.
Tampak pintu dibelakang Meiko sudah terbuka.
"Siapa yang kau sebut pasangan!!?" bentak Meiko dan Kaito bersamaan.
"Lihat? Kalian kompak sekali." sahut Ray.
"Sudah-sudah. Kenapa kalian bertengkar disana?" tanya Luka yang ternyata ada disebelah Ray.
"Bukan urursanmu, Megurine-san. Kamu sendiri sedang apa diatap berduaan dengan dia? Kalian pacaran?" jawab Meiko lalu bertanya balik.
"Pa-pacaran? Tidak kok. Aku hanya ketemuan aja. Aku cuma mau balikin jaketnya Ray-kun." jawab Luka dengan sedikit gugup.
"Kalau begitu aku mau kembali ke kelasku. Sampai jumpa sepulang sekolah, my queen." ujar Ray sambil berjalan melewati Meiko dan Kaito.
Luka terlihat melambaikan tangan pada Ray. Meiko hanya menatap curiga ke arah Luka.
"Haha.. aku dicuekin gitu aja." ujar Kaito dalam hati.
Di dalam kelas 1-B darurat, karena kelas 1-B yang lama sedang dalam perbaikan, Miku dan Gumi sedang makan bekal mereka.
"Miku-chan, makanan apa itu?" tanya Gumi saat melihat bekal Miku.
"Ini goreng bawang daun, tumis bawang daun, dan salad bawang daun." jawab Miku sambil menunjuk makanan dikotak makannya satu persatu.
"Kenapa semuanya bawang daun?!! Emangnya enak?!" tanya Gumi.
"Enak dong! Pokok'e maknyos!" jawab Miku.
"Apaan tuh 'maknyos'?" tanya Gumi lagi.
"Masa Gumi-chan tidak tahu maknyos. Itu lho yang sering dikatakan host acara TV yang makan-makan itu." jelas Miku.
"Jadi kamu sering nonton gituan kalau dirumah." ucap Gumi.
"Ya, sambil nungguin drama 'Notice Me, Senpai!'." jawab Miku.
"Lho, masih ada aja itu drama." kata Gumi.
"Iya. Sekarang semakin seru. Miki dan Kaido semakin dekat sebagai teman." ujar Miku.
"Hahaha.. sebagai teman ya.." ucap Gumi dalam hati sambil tersenyum aneh.
"Mereka jadi semakin romantis." sambung Miku.
"Romantis darimananya!? Sudah jelas kena friendzone!" komentar Gumi dalam hati.
"Aniki!" panggil Dante sambil membuka pintu belakang kelas secara tiba-tiba.
Semua orang yang ada dikelas terkejut karena Dante.
"Lho, Aniki tidak ada." ucap Dante menyadari Ray tidak ada ditempatnya.
"Tidak bisakah kalau kamu masuk itu dengan cara orang normal masuk?" gerutu Gumi.
"Maaf, sudah kebiasaan. Hahahaha.." sahut Dante.
"Maaf sudah mengganggu kalian. Permisi.." sambung Dante sambil keluar dari kelas.
"Dasar orang itu." gerutu Gumi sedikit risih.
"Gumi-chan kok tidak malu kalau berbicara dengannya?" tanya Miku.
"Aku kan sudah bilang, aku tak begitu malu jika bicara dengan orang yang akrab denganku." jawab Gumi.
"Lho, jadi Gumi-chan sudah akrab dengannya?" tanya Miku lagi.
"Eh, tidak kok. Aku tak mungkin akrab dengan dia!" tolak Gumi dengan wajah memerah.

Dibawah naungan pohon, Ray duduk sambil melihat sesuatu di ponselnya. Dia menekan-nekan tombol di ponselnya itu.
"Ketemu." ucap Ray sambil sedikit tersenyum.
Ray terlihat membuka sebuah situs sosial media. Disana tertulis Six June dengan foto musang sebagai avatar nya. Namun sebelum Ray membuka info di profil Six June, bel berbunyi.
"Mungkin sebaiknya aku lanjutkan nanti saja." ucap Ray setelah mendengar bel masuk.
Ray pun buru-buru masuk ke dalam kelas.
"Habis darimana dia? Tumben baru masuk setelah bel." ujar Miku dalam hatinya.
"Eh, kenapa aku malah seperti mengkhawatirkannya?!!!" pekik Miku dalam hati kesal pada dirinya sendiri.
Ray menoleh ke arah Miku saat itu.
"Dia sepertinya tak perlu ku khawatirkan saat ini. Aku harus konsentrasi pada pergerakan orang itu." ujar Ray sambil kembali melihat kedepan menunggu kedatangan guru.
Di dermaga Voca Town, seorang laki-laki berambut coklat tampak turun dari sebuah kapal nelayan.
"Untung saja ada perahu lewat. Dan kebetulan juga mengarah ke kota ini. Aku memang beruntung." ujar laki-laki yang tak lain adalah June.
June berjalan dengan keren meninggalkan dermaga.
"Stop! Berhenti disana!" suruh seorang bapak pada June.
June berhenti dan menoleh kebelakang.
"Bayar dulu biaya naik kapalnya." suruh bapak itu.
"Eh lho, kok bayar?" tanya June.
"Tentu saja, bukannya kau sudah janji untuk bayar?" jawab bapak itu.
"Lah kapan saya bilang gitu?" tanya June.
Kemudian bapak itu memutar rekaman suara June.
"Tolonglah pak nelayan, antarkan saya ke daratan terdekat. Nanti saya bayar deh." terdengar suara June dari ponsel bapak nelayan itu.
"Eehhh?!! Aku tak menyangka nelayan punya HP juga! Dan lebih bagus lagi dari punyaku?!" ucap June lebih kaget melihat ponsel bapak itu.
"Ayo cepat sini bayar! Kalau tidak bayar.." ancam bapak itu.
"Tidak! Jangan cincang-cincang aku untuk umpan hiu!" teriak June ketakutan.
"Hah? Siapa juga yang mau melakukan hal seperti itu! Lagipula kami tidak mancing hiu!" bentak bapak itu marah.
"Lalu?" tanya June.
"Aku hanya ingin bilang, kalau kau tidak bayar setidaknya menikahlah dengan putriku. Kau tampan, kelihatannya bagus untuk memperbaiki keturunan." jawab bapak itu.
"Emang putrimu seperti apa?" tanya June.
"Tuh!" sahut bapak itu menunjuk ke arah samping June.
Terlihat seorang gadis gemuk dengan wajah mirip babi berjalan sambil membawa ember.
"Ebusyet! Aku lebih baik jadi pakan hiu daripada menikah dengannya??!!" ucap June terlihat shock.
"Apa kau bilang?" sahut bapak itu terlihat geram mendengar perkataan June.
"Kabur!" ucap June lalu lari sekuat tenaga.
"Woy tunggu! Jangan lari!" suruh bapak itu sambil mengejar June.
Di kapal lain, terlihat gadis pirang berambut ikal panjang baru turun dari kapalnya.
"Jadi ini kota tempat dimana The White Light tinggal? Terlihat cukup berbeda dari beberapa tahun yang lalu." ucap gadis itu sambil menatap ke arah pusat kota.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】