LINE Dragon Flight Story, chapter 15 - Kerajaan Merah dan Biru
Di timur pegunungan Grey High Walls, ada sebuah kerajaan besar bernama kerajaan Scarlet. Kerajaan yang dipimpin oleh raja Redd. Seorang raja yang terkenal sebagai jenderal besar dari Arkanesia.
"Yang mulia raja Redd, ada berita penting untuk anda." ujar seorang laki-laki berlutut dihadapan raja Redd.
Raja Redd menghadap ke arah patung dirinya yang berada di belakang singgasananya.
"Katakan padaku, apa berita itu, Rath?" tanya raja Redd.
"Kami berhasil menangkap seorang dragon rider, yang mulia." jawab laki-laki bernama Rath itu.
"Dragon rider kah? Bawa kemari." perintah raja Redd berbalik ke arah Rath.
"Baik, yang mulia." sahut Rath.
Rath pamit keluar dan beberapa saat setelah itu masuk seorang perempuan berambut putih panjang nan indah ke ruangan itu.
"Redd, kenapa kamu tak mengijinkanku pulang ke kerajaanku?" tanya perempuan cantik itu sambil mendekat ke arah raja Redd.
"Saat ini kau adalah istriku. Kau adalah ratu dikerajaan ini sekarang. Aku tak mungkin mengijinkanmu kembali ke sana. Lagipula itu hanya kerajaan kecil yang terpencil." balas raja Redd yang terlihat masih muda itu.
Rambut berwarna merah dengan ikat kepala berhiaskan berlian merah itu terlihat cocok dengan pakaian mewah berwarna merahnya.
"Kerajaanku tidak sekecil itu! Itu adalah kerajaan yang indah. Kamu kan sudah berjanji untuk memulangkanku sebulan sekali!" kata perempuan itu.
Raja Redd turun dari singgasana nya berjalan menghampiri perempuan itu.
"Lithiana, apa kamu berusaha mengancamku? Kau tahu apa akibatnya kan jika mengancamku?" ucap raja Redd sambil memegang dagu perempuan berambut putih bernama Lithiana itu.
Lithiana tampak menurunkan pandangannya dan kehilangan keinginannya. Raja Redd tersenyum.
Di lain tempat, Rikka dan D berlari menyusuri lorong gua yang semakin gelap.
"Jangan jauh-jauh dariku. Nanti kamu bisa tersesat." ujar D menoleh ke arah Rikka yang ada belakangnya.
Cahaya di kristal-kristal itu semakin redup. Sosok D yang ada dihadapannya semakin tak nampak dimata Rikka.
"D kamu dimana?" panggil Rikka berhenti saat semuanya jadi gelap total.
Suasana disana sangat hening, dan semuanya amat gelap hingga tak terlihat apapun.
"D!" panggil Rikka lebih keras sedikit membuat gaung di lorong itu.
Tiba-tiba Rikka merasakan sesuatu menggenggam tangannya. Hal itu membuat Rikka kaget.
"Jangan takut, ini aku. Jangan lepaskan tanganku hingga kita ketempat yang lebih terang." ujar D.
Tangan itu menarik Rikka perlahan. Rikka mengikuti kemana tangan D menariknya. Mereka pun akhirnya sampai di tempat yang lebih terang. Disana ada kristal berwarna biru yang nampak bercahaya.
"Kristalnya tidak bercahaya. Mereka hanya memantulkan cahaya di ujung jalan ini." jelas D saat melihat wajah Rikka terperangah.
"Eh, tapi kenapa biru?" tanya Rikka.
"Kamu akan mengerti saat sampai disana." jawab D.
Mereka pun sampai diujung lorong. Disana mereka menemukan tempat yang sangat indah. Tempat yang hampir semuanya biru. Kecuali bagian tengahnya yang nampak hijau oleh hutan.
"Dan inilah tempat tujuan kita. Kerajaan terindah di timur. Blue Lithium." ujar D.
Rikka tak dapat berkata-kata. Kerajaan itu memang sangat indah. Sebuah lembah tak bersalju diantara beberapa puncak gunung. Dikelilingi oleh es biru yang menjulang tinggi. Hanya dibagian tengah saja sinar matahari dapat masuk dan menyinari ke hutan dibawahnya.
"Bagian tengahnya berlubang, kenapa tak dapat ditemukan dari atas?" tanya Rikka.
"Itu punya jawaban yang mudah. Karena batas." jawab D.
"Batas?" ucap Rikka.
D hanya tersenyum melihat wajah bingung Rikka. Kemudian dia berjalan duluan sebagai pemandu Rikka. Mereka menyusuri tangga menurun ke arah kota. Sebelum sampai dikota memang disisi kiri dan kanan mereka penuh dengan padang rumput dan taman bunga saling berseling.
"Dimana istana nya? Aku tak melihat istana atau apapun di sekitar sini?" tanya Rikka.
"Tak ada istana." jawab D.
Rikka diam menunggu penjelasan.
"Tunggu.. jangan bilang kamu serius mengatakan benar-benar tak ada istana disini." kata Rikka.
"Memang tak ada istana. Ratu mereka tinggal di puri kecil ditengah hutan." sahut D.
"Ratu macam apa yang tinggal di tengah hutan." komentar Rikka.
"Ratu yang menawan. Ratu yang cinta perdamaian." ujar D.
Duran saat ini terbang bersama Moonlight. Mereka terbang menuju utara.
"Mau kemana kita, nona?" tanya Moonlight.
"Kita harus mencari makanan." jawab Duran.
"Tapi tenang saja, naga itu bisa berpuasa berbulan-bulan tanpa makan." kata Moonlight.
"Bukan buat kalian, tapi buatku. Aku lapar banget." ucap Duran.
"Eh?! Tapi kan kamu bisa menyuruhku berburu." ujar Moonlight.
"Tidak. Aku tidak mau. Aku tak mau membakar daging dekat dengan Elli. Bagaimana kalau nanti dia mencair dan mati." tolak Duran.
Moonlight pun mengerti setelah mendengar perkataan Duran. Di tempat lain, Torn terllihat masih menjaga tubuh Elli.
"Oi Torn.. kamu tidak apa-apa tidak tidur?" tanya Bonar.
"Aku sudah terbiasa tidak tidur. Aku dilatih untuk menjaga majikanku 24 jam. Aku sanggup tidak tidur sama sekali selama 3 bulan. Jadi, jangan khawatir." jawab Torn.
"Naga kerajaan memang menakjubkan." puji Bonar sambil keluar dari gua.
"Terus bagaimana dengan majikanmu? Kamu yakin dia tidak ditipu oleh bocah itu?" tanya Torn.
"Jangan remehkan nona Rikka. Walaupun dia masih muda, namun kemampuannya sebagai alchemist sudah ditingkat yang melebihi tingkat normal untuk usianya." jawab Bonar.
"Dia tahu apa yang dia lakukan, dan dia mengerti bagaimana hasil dan akibatnya." tambah Bonar dengan yakin.
Tiba-tiba ada bayangan melewati mereka. Torn dan Bonar terkejut dan melihat ke atas.
"Apa itu?!" ucap Torn.
Dan masih banyak bayangan lagi yang lewat setelah itu.
"Itu.. wyvern.." ucap Bonar.
"Naga? Ada 2? Aku memang beruntung. Aku takkan kalah olehmu, Rath. Akan kutunjukkan pada yang mulia raja Redd, kalau aku lebih cocok jadi komandan pasukan wyvern daripada kau." ucap seseorang yang berbaju jirah lengkap sambil mengendarai wyvern.
"Semuanya! Serang kedua naga itu!" perintah orang itu pada pasukannya.
Setelah berputar-putar diatas langit, para pasukan wyvern itu melesat turun ke arah Torn dan Bonar.
"Hati-hati! Gerakan wyvern sangat cepat. Mereka itu seperti kelelawar raksasa!" ucap Bonar memperingatkan Torn.
"Oke, tenang saja! Aku sudah terbiasa menghadapi kecepatan!" sahut Torn.
Beberapa wyvern melesat ke arah Torn, sisanya ke arah Bonar. Torn mampu mengatasi para wyvern itu, tapi kelihatannya Bonar lah yang malah kewalahan.
"Awas!" ucap Torn melihat salah satu pengendara wyvern hendak menghujamkan tombaknya pada Bonar.
"Fire ball!" Torn menembakkan bola api tepat saat Bona menghindar dengan menunduk.
Bola api itu mengenai pengendara wyvern itu hingga terpental dari wyvern nya.
"Sial, mereka kuat juga." gerutu pemimpin para pengendara wyvern itu yang masih diatas memperhatikan.
"Tunggu, disana ada sesuatu." sambung orang itu melihat sesuatu berkilau dibawah.
Itu adalah pantulan cahaya matahari ketubuh Elli yang membeku.
"Wah.. tadi itu hampir saja. Untung saja kamu mengingatkan." ucap Bonar.
"Harusnya kamu lebih hati-hati. Padahal kamu yang mengingatkanku kalau mereka itu cepat, tapi malah kamu sendiri yang kepayahan." ujar Torn.
Kemudian terdengar suara dari belakang Torn. Salju terlempar ke punggung Torn. Torn langsung menoleh kebelakang, dan betapa terkejutnya dia saat mengetahui tubuh Elli menghilang.
"Disana!" ucap Bonar melihat seekor wyvern terbang dengan kecepatan tinggi ke barat lalu keatas dan berbalik ke timur dengan sangat cepat.
Torn terlihat sangat geram, dan langsung terbang ke mengejar wyver itu.
"Tunggu, Torn!" ucap Bonar.
Para wyvern yang dijatuhkan oleh Torn dan Bonar ternyata bisa kembali terbang. Bonar yang melihatnya langsung terbang mencoba memperingatkan Torn. Para wyvern itu mengincar Torn dari belakang.
"Kembalikan tuan putri!" teriak Torn.
Tapi bagi ksatria wyvern itu hanya mendengarnya sebagai raungan biasa. Tanpa disadari Torn dibelakangnya melesat dengan cepat para wyvern yang lain. Kemudian para wyvern itu menusukan tombak mereka ke sayap Torn. Torn masih bisa mengibaskan sayapnya melempar dua pengendara wyvern. Namun yang lain kembali mengincar sayapnya. Mendapat serangan sebanyak itu Torn pun akhirnya jatuh. Sayapnya tertusuk 5 tombak yang membuatnya tak bisa terbang lagi.
"Tooorrrrnnn!!!" teriak Bonar.
Para wyvern itu pun terbang meninggalkan Torn dan Bonar.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.