Memo, chapter 11 - Hari Terakhir MOS | last part

Alice datang ke pos ekskul Jurnalistik. Pas masuk ke dalam kelas yang jadi pos mereka, Alice langsung dikerumuni oleh para senior.
"Ah ada apa ini? Kenapa kalian mewawancaraiku?" tanya Alice.
"Apa kamu murid baru tercantik itu?" tanya salah satu anak jurnal.
"Mu-murid tercantik?" ucap Alice.
"Katanya kamu sedang mengejar-ngejar laki-laki? Apa dia pacarmu?" tanya anak jurnal yang lain.
"Pa-pacarku?" sahut Alice.
"Kenapa kamu tidak menjawabnya?" tanya anak jurnal yang lainnya lagi.
"A-aku.." ujar Alice jadi semakin panik.
"Sudah-sudah, cukup sampai disitu." kata Ani yang kemudian menghalangi para senior dari ekskul jurnal itu.
"Ada apa disana?" ucap laki-laki yang nampak memegang kamera.
"Sepertinya putri pembawa buku sudah sampai kemari." sahut Chelsea.
"Putri pembawa buku?" ucap laki-laki itu langsung bingung.
"Andri, kau harusnya lebih peka kalau mau jadi wartawan. Biar kamu tak melewatkan sesuatu yang bisa jadi berita." ujar Chelsea.
"Iya, baiklah." sahut laki-laki bernama Andri itu.
"Bisanya ngomong ama orang lain, dianya sendiri begitu. Suka bolos." gerutu Andri.
"Kamu ngomong apa?" tanya Chelsea.
"Oh tidak. Bukan apa-apa kok. Lagi jampi-jampi aja biar selamet." jawab Andri.
Andri menghampiri Alice sambil memegang kamera nya.
"Wah.. dia cocok sekali di kamera." ucap Andri memotret Alice.
"Semuanya minggir, berikan aku jalan!" suruh Rere yang tiba-tiba muncul.
"Mana Chelsea?" tanya Rere pada Andri.
"Dia disana." jawab Andri menunjuk pada Chelsea yang mengetik di laptopnya.
"Hei, apa kamu melihat anak laki-laki terikat dikursi dan dibawa teman-temannya menuju ke mari?" tanya Rere pada Chelsea.
"Pertanyaan macam apa itu? Aku sedang mengetik berita disini. Lagipula orang gila macam apa yang mengikat dirinya sendiri dikursi." ujar Chelsea pura-pura sibuk.
"Aku tak bilang dia mengikatnya sendiri! Itu mustahil. Pasti ada yang mengikatnya kan." sahut Rere.
"Oohh.. jadi siapa yang mengikatnya?" tanya Chelsea memegangi kacamatanya mirip gadis culun.
"Mana aku tahu!" bentak Rere.
"Yah.. harusnya kamu tahu dong. Biar gampang ditulisnya. Padahal berita bagus tuh." gerutu Chelsea.
"Bagaimana aku bisa tahu! Aku ini sedang mengejarnya! Tapi dia hilang gitu aja kayak hantu." jelas Rere.
"Kamu sedang mengejarnya? Kamu suka padanya?" tanya Chelsea.
"Bukan ngejar yang itu maksudnya!" pekik Rere.
"Ah bicara denganmu membuatku bingung." ujar Chelsea mengetik lagi di laptop.
"Harusnya aku yang mengatakan itu!" sahut Rere lalu keluar dari ruangan itu.
Chelsea tampak tersenyum dan membuka software LINE di laptopnya.
"Kau benar Ikhsan, dia bisa bisa lari dari harimau meskipun terikat manis." tulisnya disana.
Ditempat lain, Arya, Fajar dan Digna sampai ditempat yang berbahaya. Ruang laboratorium yang tak lain adalah markas ekskul MIPA.
"Akhirnya ada yang datang juga kemari." ujar seorang senior berkacamata bulat menatap dengan senyuman menyeringai.
"Tersesat kemana kita ini? Alam lain?" ucap Fajar.
"Tidak, sepertinya lebih buruk." sahut Digna.
"Hei, apa yang terjadi disana?" tanya Arya yang membelakangi mereka.
"Tenang saja, kami takkan memberi kalian tantangan yang aneh." ujar senior yang berdiri paling depan itu.
"Aaahh.. syukurlah.." ucap Fajar dan Digna merasa lega.
"Kalian hanya perlu menjadi bahan percobaan kami saja. Kalian pasti akan mendapatkan stempel." sambung senior itu.
"Bahan percobaan?" ucap Fajar terlihat bingung.
"Perasaanku tak enak nih." kata Digna sedikit berkeringat.
"Hei.. bisakah kalian membalikanku?" pinta Arya.
Namun mereka berdua terlalu gugup hingga tak bisa menjawab.
"Baiklah kalau kalian tak mau membalikanku, biar aku minta bantuan yang lain saja." kata Arya.
"Hei botak berkacamata! Balikan aku biar bisa melihat botakmu." ujar Arya.
"Bagaimana kau bisa tahu wujudnya padahal membelakanginya!?" ucap Fajar Digna.
Ternyata benar saja senior itu memang botak mengkilap. Terlihat dia sedikit marah karena hal itu.
"E, Eeehhh?!! Dia beneran botak?!! ujar Arya terkejut.
"Kenapa kau malah ikutan terkejut!" komentar Fajar dan Digna.
"Haha.. kalian pasti bohong. Buktinya disini tidak terang." ucap Arya.
"Kamu kira bohlam bisa terang." sahut Fajar dan Digna.
Senior botak itu nampak marah.
"Gawat dia marah." ujar Fajar.
"Jangan marah senior, daripada menjadikan kami bahan percobaan, kenapa tidak menantang kami adu pengetahuan kimia? Bukankah itu bisa menunjukkan kebolehan senior dan betapa bodohnya kami?" usul Arya sambil mencoba menenangkan senior nya.
"Kau benar juga. Kalau begitu ayo kita adu membuat ramuan!" terima senior menantang Arya dan kawan-kawan.
"Oke. Tapi tolong lepaskan dulu ikatanku. Bukankah kurang jantan melawan orang yang tangannya terikat?" ujar Arya.
Akhirnya salah satu dari anak MIPA memotong tali yang mengikat Arya.
"Bisa kita mulai?" tanya senior botak berkacamata itu.
"Ya." sahut Arya yang ikatannya sudah lepas.
"Hei, apa yang kamu rencanakan? Kenapa kamu malah menantang mereka membuat ramuan?" bisik Digna pada Arya.
"Tenang saja, kalian bisa melakukannya kan? Diantara kalian pasti ada yang jago kimia." ujar Arya.
"Jago kimia? Aku paling bego kalau masalah kimia." jawab Digna.
Arya melihat ke arah Fajar namun Fajar menggelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin!!! Bagaimana ini!!?" ucap Arya sambil memegang kepalanya.
Akhirnya dengan ragu mereka pun terpaksa menerima tantangan anak MIPA. Senior botak itu tampak dengan semangat mencampur-campurkan ramuan. Dia melakukannya dengan cepat dan tepat. Sementara Arya dan kawan-kawan malah tertunduk suram tanpa melakukan apapun.
"Selesai! Ini dia obat pencahar dan obat pengeras feses." ucap senior botak menempatkan dua ramuan di depannya.
"Hahaha.. sepertinya kalian tak bisa membuat apapun. Kalian kalah!" ejek senior itu.
"Kami sudah membuatnya kok. Obat mencret." jawab Arya.
"Hah? Mana?" tanya senior itu.
Arya kemudian mengambil dua ramuan milik senior itu dan meletakannya di mejanya.
"Hei itu buatanku!" protes sang senior.
"Senior mengatakan kalau ini obat pencahar dan pengeras feses kan? Walau semestinya senior menyebutnya pemadat, bukan pengeras." tanya Arya.
"Ya, benar." jawab senior botak.
"Tapi bagiku ini obat mencret. Caranya pertama pakai ramuan pemadat feses lalu kedua pakai pencahar." jelas Arya.
"Hmm.. kau benar juga. Tapi tetap saja kau kalah. Itu kan ramuanku!" ujar senior itu.
"Senior ingat, ini adu pengetahuan kimia. Bukan meracik ramuan. Karena kimia bukan hanya tentang hal itu, tapi juga tentang mengetahui kegunaan inventasi kita dan bagaimana metode penggunaannya." jelas Arya lagi.
"Dan saat ini, aku membuat metode lain penggunaan ramuanmu ini, senior. Metode yang berbeda kadang menghasilkan kegunaan yang berbeda." tambah Arya dengan tersenyum penuh percaya diri.
Senior itu pun tercengang oleh penjelasan Arya. Akhirnya senior itu menyerah dan memberikan stempel pada Arya dan kawan-kawan. Namun sayang, Arya tidak membawa bukunya jadi pemberian stempel untuknya ditunda.

Arya memutuskan untuk pergi bersama Fajar dan Digna dan menemani mereka mengumpulkan stempel dari satu pos ke pos yang lain. Walau Arya tidak mendapatkannya karena bukunya hilang. Dilain tempat, Alice masih ada di tempat ekskul jurnal. Chelsea yang tampak selesai mengetik beritanya kemudian mencetaknya dan membawanya keluar.
"Ma-maaf senior, bolehkah aku tanya?" ujar Alice saat Chelsea lewat disebelahnya.
"Oohh.. tanya apa?" sahut Chelsea.
"Apa senior melihat seorang laki-laki? Di-dia.. berambut pendek, baik, pintar.. kurasa, dan dia.. ke-keren.." tanya Alice dengan malu-malu.
"Oohh.. kamu mencari ketua OSIS?" sahut Chelsea.
"Bu-bukan! Dia murid baru sepertiku. Dan dia.. memakai pakaian ksatria.." jelas Alice.
"Hmm.. sepertinya aku tahu siapa yang kamu maksud." ujar Chelsea dengan senyuman sensualnya.
"Benarkah?" tanya Alice.
"Ya. Kupikir saat ini dia bersama 2 temannya. Baru saja mereka keluar dari pos ekskul MIPA." jawab Chelsea.
"Dimana itu?" tanya Alice lagi.
"Kamu punya akun LINE? Biar aku chat kan posisi terkini nya." tanya balik Chelsea.
Alice pun memberikan ID LINE nya dengan berbisik di telinga Chelsea. Dan mereka pun berteman.
"Oke, dengan ini aku bisa menghubungimu kapan saja. Dan kupikir saat ini dia masih berada di dekat pos MIPA." ujar Chelsea.
"Terima kasih, senior." ucap Alice lalu berlari ketempat yang dimaksud Chelsea.
"Nona muda, tunggu aku!" ucap Ani mengejar Alice.
Chelsea menuju ke mading dan menempelkan berita yang barusaja dicetaknya. Judulnya nampak sangat jelas dengan tulisan besar, 'Knight of MOS'.
"Sip! Berita terhangat hari ini sudah beres." ucap Chelsea.
Arya terlihat selalu ditempat yang berlainan dengan Alice yang hendak mengembalikan bukunya, dan Rere yang sedang mengejarnya. Chelsea memperhatikan dari kejauhan.
"Haha.. rasanya seperti main pac man." kata Chelsea.
Arya berpisah dengan Fajar dan Digna karena ia mau pergi ke kantin untuk beli minuman dingin, soalnya dia haus. Saat sampai dikantin sialnya dia kembali berpapasan dengan Rere seperti saat sebelumnya. Arya langsung saja lari. Rere mengejarnya dari belakang. Tapi kali ini Arya lari ke arah berbeda karena jalan sebelumnya tertutup oleh kerumunan perempuan.
"Wah.. itu tidak bisa. Kalian harus menyelesaikan syaratnya dulu. Kalian harus mengumpulkan semua stempel, baru boleh minta nomerku." ujar ketua OSIS.
Ternyata yang membuat perempuan berkumpul disana itu adalah ketua OSIS. Arya pun berlari menuju ke arah perpustakaan.
"Kenapa dia tidak datang kesini? Padahal dia mendatangi ekskul yang lain." ujar Sindy yang tampak selesai membaca setumpuk buku dihadapannya.
"Mungkinkah aku terlalu berharap?" sambung Sindy sambil menempelkan pipinya di meja melihat isi chat di LINE nya.
Tiba-tiba pintu dibuka dengan keras, seseorang berpakaian ksatria berdiri di depan pintu. Cahaya yang terang membuatnya hanya seperti siluet saja dimata Sindy.
"Ijinkan aku numpang sembunyi di sini!" ujar laki-laki itu masuk ke dalam dengan langkah gagah.
Sindy terpukau melihatnya, dia seperti melihat ksatria sungguhan dari abad pertengahan. Walaupun sebenarnya laki-laki itu adalah Arya.
"Kenapa dia malah bengong? Halo.." ujar Arya berusaha menyadarkan Sindy dari lamunan.
Disaat seperti itu, sosok Rere yang berlari nampak dari jendela. Dia mengerem saat sampai pintu.
"Sindy! Kau melihat dia?" tanya Rere.
Sindy terlihat membaca buku, dan sosok Arya pun sudah tak ada disana.
"Oh Rere, syukurlah kamu sudah mau baca buku." ujar Sindy.
"Aku kemari bukan buat baca buku. Apa kau melihat orang itu?" tanya Rere lagi.
"Orang yang mana?" tanya balik Sindy.
"Itu lho, laki-laki pendek, jelek, hidup, dan menyebalkan itu." jawab Rere.
"Tidak, aku tidak melihat orang dengan ciri-ciri itu datang kemari." balas Sindy sambil tersenyum.
"Oohh.. begitu ya." sahut Rere.
"Tapi tumben sekarang pakai taplak meja, biasanya tidak." sambung Rere saat menyadari ada yang aneh.
"Biar hari ini agak beda aja. Kan kali aja ada junior yang datang." sahut Sindy.
Rere menatap curiga kemudian menyingkap taplak meja itu. Tapi tidak ada apa-apa disana. Hanya ada sepasang kaki Sindy dengan roknya yang panjang hingga menjulur kelantai.
"Sepertinya aku terlalu curiga." gumam Rere.
"Baiklah aku pergi dulu, Sindy. Kalau kau melihat bocah itu segeralah hubungi aku." ujar Rere.
"Ya.." sahut Sindy.
Rere keluar dari ruangan itu dan menutup pintunya.
"Sepertinya aku salah lihat. Mungkin saja dia beloknya bukan kemari." pikir Rere meninggalkan tempat itu.
"Ya ampun daritadi kamu terlalu banyak gerak. Rambutmu membuatku geli tahu." gerutu Sindy dengan manis.
"Apa dia sudah pergi?" tanya Arya yang hanya ada suaranya saja itu.
"Ya, Rere sudah pergi." jawab Sindy.
Sindy pun menyingkapkan roknya dan Arya tampak berjongkok diantara paha Sindy, sementara kaki Sindy menekuk menginjak injakan kaki dikursinya. Jadi kaki yang dilihat oleh Rere sebelumnya adalah kaki Arya.
"Tadi itu berbahaya sekali." ujar Arya dengan wajah memerah.
"Ya, kalau sampai ketahuan Rere, kamu bisa bahaya." sahut Sindy sambil tersenyum.
"Tidak, bukan yang itu maksudnya. Tapi yang tadi." ujar Arya.
"Yang tadi?" ucap Sindy.
"Sepertinya dia terlalu polos untuk mengerti." ujar Arya dalam hati.
Arya pun duduk dikursi dihadapan Sindy.
"Terima kasih untuk bantuannya, senior." ucap Arya.
"Ya, sama-sama. Oh ya, kamu sudah memutuskan ekskul mana yang akan kamu pilih?" tanya Sindy.
"Tidak. Aku tidak tertarik masuk ekskul manapun." jawab Arya.
"Tapi disini kamu wajib masuk salah satu ekskul." ujar Sindy.
"Eh, begitu ya? Yah.. bagaimana dong. Aku tidak tertarik sama sekali masuk ekskul." sahut Arya.
"Bagaimana kalau kamu masuk ekskul ini?" tawar Sindy.
"Emang ini ekskul apaan?" tanya Arya.
"Sastra." jawab Sindy sambil tersenyum.
Arya terkejut mendengar nama ekskul itu.
"Bagaimana? Kamu mau bergabung?" tanya Sindy.
"Ya, tapi boleh kan cuma numpang nama doang?" sahut Arya.
"Tidak boleh!" tolak Sindy dengan cemberut meski masih tampak manis.
"Baiklah, kalau begitu aku akan bergabung. Mohon bimbingannya ya, senior." ujar Arya sambil menggaruk kepala dia tersenyum.
"Ya." sahut Sindy tersenyum dengan anggun.

Arya keluar dari ruangan ekskul sastra, dia berjalan sambil garuk-garuk kepala dan wajahnya sedikit memerah.
"Jadi nanti aku akan satu ruangan terus dengannya? Ampun dah.. tapi sepertinya aku tak perlu khawatir. Nanti pasti ada anggota lainnya." ujar Arya dalam hati.
Dari belakang ada Alice yang tiba-tiba menghampirinya.
"Akhirnya ketemu juga." ujar Alice yang terengah-engah berhenti dibelakang Arya.
"Kenapa lari-larian begitu? Sedang latihan marathon?" tanya Arya setelah berbalik.
"Ti-tidak.. aku.." jawab Alice
"Hah?" sahut Arya yang tak mendengar jelas.
"Ini." ucap Alice sambil menyodorkan buku Arya yang selama ini dia bawa.
"Ini kan bukuku?" kata Arya.
"Haha.. kupikir buku ku bakalan bener hilang dab tidak kembali. Ternyata masih ada orang baik di dunia ini." gumam Arya.
"Ma-maafkan aku." ujar Alice.
"Eh, kenapa meminta maaf?" tanya Arya tidak mengerti.
"Aku menemukannya di ruang ekskul padus, dan aku bertemu denganmu di ekskul pramuka, tapi.. aku malah lupa mengembalikannya." jelas Alice.
"O-oh.. begitu ya. Tidak apa-apa kok. Kamu kan lupa.." sahut Arya.
"Be-benarkah?" tanya Alice.
"Ya, lupa adalah penyakit manusia yang paling sering dialami. Jadi, patut dimaklumi." jawab Arya.
"Tapi kan.." ujar Alice.
"Sudah.. yang penting kan saat ini kamu sudah mengembalikannya. Kamu sudah menebusnya dengan menjaga buku ini dan mengembalikannya dengan tanganmu sendiri. Jadi jangan dipikirkan lagi." ujar Arya sambil mengelus kepala Alice.
"Harusnya yang minta maaf disini adalah aku, karena melupakan bukuku dan membuatmu jadi repot begini." tambah Arya.
"Tidak apa-apa kok, aku tidak repot. Kan kamu lupa jadi.." ucap Alice.
Melihat senyuman Arya dia menyadari sesuatu.
"Jadi dia meminta maaf karena ingin membuatku merasa baikan dan tidak terlalu merasa bersalah lagi." ujar Alice dalam hati.
Alice tersenyum dan Arya pun berhenti mengelus kepalanya. Dibelakang Alice dibalik tiang, Ani mengintip dengan aura membunuh yang pekat.
"Se-sebaiknya aku pergi dari sini." ucap Arya dalam hati setelah menyadarinya.
"Terima kasih ya sudah mau mengembalikan bukuku. Aku mau kembali ke teman-temanku nih. Dah.." pamit Arya yang lalu pergi secepat mungkin.
"Ini pertama kalinya ada lelaki lain selain anggota keluargaku yang memegang kepalaku." ujar Alice dalam hati tersenyum bahagia dengan wajah memerah sambil menyentuh bagian yang dipegang Arya barusan.
"Tunggu, apa barusan aku memegang kepalanya?! Kenapa aku jadi dewasa gitu kalau didekatnya. Barusan juga aku mengatakan kata-kata yang tidak biasanya." pikir Arya sambil melihat telapak tangan kanannya.
Beberapa saat kemudian, OSIS mengumpulkan kembali para murid baru dilapangan tengah.
"Hei kamu dapat berapa stempel?" tanya salah seorang murid baru.
"Dikit cuk, cuma 3. Gile aja tuh ekskul drama. Kita disuruh akting dadakan ama mereka tanpa naskah." jawab seorang murid baru di sebelahnya.
"Sama berarti, malah ekskul pramuka tuh yang nyeremin. Bisa muncul gitu aja, dikira dia kuntilanak kali ya." kata murid baru yang bertanya tadi.
"Awas lho, nanti orangnya muncul." ujar Arya dalam hati sambil tersenyum.
Kemudian sebuah ranting kecil jatuh ke kepala murid tadi. Dia pun melihat ke atas. Ternyata Rika sedang duduk diatas dahan pohon menatap dingin pada murid itu. Murid itu terkejut dan langsung melindungi kedua pipinya dan kabur pindah kebarisan lain.
"Lihat apa dia?" ucap murid yang berbicara dengan murid yang barusan pindah barisan.
Arya dan murid itu melihat keatas tapi Rika sudah menghilang.
"Hei bro, sudah ada disini ternyata." sapa Fajar.
"Kami mencarimu ke kantin, tapi malah tidak ada." tambah Digna.
"Haha.. maaf. Tadi itu aku tiba-tiba dikejar harimau." jawab Arya.
"Harimau? Alasan macam apa itu?" komentar Digna.
"Lho itu bukumu ada. Coba aku lihat udah dapat berapa." pinta Fajar.
"Paling isinya sedikit, bukuku kan baru aja balik pas tadi sebelum disuruh kumpul lagi disini." ujar Arya sambil memberikan bukunya.
"Oohh.." sahut Fajar membuka-buka buku itu.
Tiba-tiba Fajar terbengong, begitu pula dengan Digna.
"Hei, ada apa? Kalian kaget ya isinya baru sedikit." tambah Arya sambil tersenyum malu.
Namun Fajar dan Digna tidak bergerak sedikitpun. Arya pun jadi bingung dan mengambil buku itu dari Fajar yang dia mematung.
"Apaan sih isinya sampai kalian shock gitu?" ucap Arya.
Arya pun terkejut melihat isi buku itu. Setempel nya banyak sekali. Berbaris rapi satu sama lain. Semua ekskul tampak memberi setempel dibuku itu. Cuma ekskul sastra saja yang belum.
"Ba-bagaimana bisa?!" ucap Arya.
Di barisan depan ada ribut-ribut, dan membuat Arya menoleh. Ternyata ada Sindy yang berjalan dengan anggun ke arahnya. Kemudian Sindy mengambil buku Arya, memberi setempel dan mengembalikan buku itu. Setelah melempar senyum pada Arya sambil berbalik, Sindy pun pergi. Dan Arya hanya bisa senyum-senyum aneh setelahnya.
"Tadi itu apa!!? Kenapa wakil ketua OSIS memberikan setempel gitu aja!!?" tanya Fajar yang tampak tidak mematung lagi.
"Ma-mana aku tahu! Aku tidak menyelesaikan tantangan apapun darinya!" jawab Arya.
"Tidak mungkin dah!" ujar Fajar.
Tidak lama setelah itu para senior OSIS tampak sudah berkumpul semua di depan. Ketua OSIS pun berbicara di depan.
"Oke, sekarang dengan ini dinyatakan batas waktu pengumpulan setempel, berakhir.." ucap ketua OSIS.
"Kumpulkan buku kalian di kakak-kakak OSIS yang akan berkeliling diantara kalian. Dan kita akan lihat siapa yang akan mendapatkan hadiah dari OSIS, beserta hadiah bonusnya." ujar ketua OSIS.
Beberapa anggota OSIS berkeliling dan mengumpulkan buku dari para murid baru. Setelah selesai para anggota OSIS pun kembali ke depan. Mereka memeriksa satu-persatu dari semua buku itu.
"Hei nampaknya kita sudah punya pemenangnya disini." ujar ketua OSIS saat seorang anggota OSIS memberikan salah satu buku.
"Bro, itu bukumu tuh, Bro." ujar Fajar.
Arya tampak keringatan dan wajahnya sedikit pucat.
"Kenapa kamu tampak ketakutan gitu?" tanya Digna.
"Ya, harusnya kamu bangga dong bisa menang." tambah Fajar.
"Enya, muhun, leres pisan. Jadi bangga yeuh abdi, bangga uihna." sahut Arya dengan bahasa sunda.
"Hahaha.. ngomong apa kamu?" komentar Fajar dan Digna dengan wajah lesu.
"Kepada yang namanya Arya Sastrawardhana, diharap maju kedepan!" suruh ketua OSIS.
Arya terkejut dia dipanggil secepat itu, meskipun bukan oleh yang Maha Kuasa, tapi tetap saja itu membuatnya sedikit takut. Dengan ragu Arya melangkahkan kakinya kedepan. Dia berjalan dengan perlahan menuju ke hadapan ketua OSIS.
"Jadi ini dia sang pemenang kita. Mengejutkan sekali dia bisa mengumpulkan semua setempel dalam waktu singkat. Silahkan terima hadiahmu." ujar ketua OSIS.
Sekretaris OSIS menyodorkan hadiah yang dimaksud.
"Isinya pasti satu pack buku, sebuah pulpen, sebuah pensil, dan sebuah penghapus." terka Arya saat memegangnya.
"Dan sesuai janji, karena berhasil mengumpulkan semua setempel. Maka, kamu boleh meminta nomer HP dari salah satu anggota OSIS." tambah ketua OSIS.
"Awas saja kalau kau sampai berani minta nomernya Sindy." ujar Rere memperhatikan dari jauh dengan mata penuh kekesalan.
"Kira-kira siapa ya yang dipintai nomor olehnya? Aaaahh.. aku jadi penasaran.." ucap Sindy dengan semangat.
Arya pun kemudian menunjuk ke orang yang ia inginkan nomor HPnya. Ketua OSIS pun kaget dan heran, dan yang lainnya tampak begitu terkejut, sementara Sindy hanya seperti tak menyangka gitu. Senior yang kebetulan lewat pun terlihat shock. Rere juga terkejut karena telunjuk Arya ternyata mengarah padanya.
"Aku?! Kenapa aku?!" ucap Rere.
"Sudahlah Rere, berikan saja." perintah ketua OSIS.
"Tapi kan.." sahut Rere.
"Rere.." sebut Sindy sambil tersenyum.
Melihat senyumam itu, Rere pun jadi pucat.
"Oke-oke.. sinikan HP mu." suruh Rere meminta HP Arya.
Arya memberikan HP nya. Rere menuliskan nomornya disana dan memberikan lagi HP Arya.
"Tunggu, coba katakan padaku kenapa kau ingin nomerku?" tanya Rere.
"Karena, aku begitu penasaran tentangmu.." jawab Arya.
"Haha.. rayuan seperti itu tidak mempan padaku." sahut Rere.
"Hah? Siapa yang bilang itu rayuan?" ujar Arya.
Mendengar itu Rere hanya tersenyum kaget dan wajahnya memerah. Arya kembali ke barisannya. Sindy tertawa kecil melihat ekspresi Rere.
"Dia tertawa?!" ucap ketua OSIS dalam hatinya saat melihat Sindy.

See you next chapter..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】