VocaWorld, chapter 133 - Kepercayaan

Ray dan Luka ada di ruang OSIS bersama anggota OSIS yang lain. Ketua OSIS nampak duduk di tempat duduknya dengan santai.
"Sekarang karena kita punya seksi perencanaan acara, kita tak perlu khawatir lagi tentang festival budaya." ujar ketua OSIS tampak bersantai.
"Anda terlalu bersantai, ketua. Lagipula Ray-kun tidak mungkin melakukan semuanya sendirian." sahut Luka.
"Memang benar. Karena itu aku ingin kamu membantunya, Megurine-chan. Dengan pengaruhmu sebagai ratu disekolah ini, aku yakin kamu bisa banyak membantunya." balas ketua OSIS.
"Hah? Aku? Tidak. Aku tidak mungkin bisa membantu Ray-kun. Aku tidak sebanding dengannya." tolak Luka.
"Tapi kupikir kamu lah yang paling cocok untuk melakukan itu." ujar ketua OSIS.
"Ketua, bolehkah aku bicara." potong Ray.
Ketua OSIS melirik ke arah Ray.
"Aku tak apa kok bekerja sendiri. Aku sudah terbiasa melakukannya. Jadi ketua tak perlu memaksa Megurine-san untuk membantuku kalau dia tidak mau." ujar Ray.
"Kamu yakin?" tanya ketua OSIS.
"Tentu saja." jawab Ray dengan yakin.
Tampakn tak ada keraguan di tatapan matanya.
"Ray-kun.." ucap Luka dalam hatinya.
Disaat yang bersamaan Gumi pulang dan terlihat Dante mengikutinya dari belakang. Gumi berkali-kali menoleh kebelakang karena merasa risih diikuti Dante terus sejak dari sekolah. Gumi mempercepat langkahnya, namun Dante ikut melakukan hal yang sama.
"Kenapa sih dia mengikutiku terus?" gumam Gumi.
Saat sampai di sebuah jembatan, Gumi berbalik ke arah Dante.
"Diam disana! Jangan mengikutiku terus!" suruh Gumi.
Dante pun berhenti dan menatap Gumi dengan ekspresi datar. Mereka saat ini berada di tengah jembatan. Tampak ada angin yang bertiup di senja berlembayung itu.
"Katakan padaku, kenapa kamu mengikutiku terus?" tanya Gumi.
"Aku khawatir padamu. Bagaimana jika hal seperti kemarin terjadi lagi." jawab Dante secara blak-blakan.
"Hah? Tu-tunggu sebentar. Jangan mengatakan sesuatu hal yang aneh." sahut Gumi.
"Aneh? Apanya yang aneh dengan khawatir?" tanya Dante.
"Kamu itu mantan musuhku tahu! Kenapa bisa khawatir padaku?" jawab Gumi lalu bertanya balik.
"Mantan musuh kan. Jadi sekarang kita sudah bukan musuh lagi. Lagipula kata aniki wajar kalau kita khawatir pada seseorang yang berharga." jawab Dante.
Gumi merasa sedikit terkejut juga merasa malu ketika itu. Dengan cahaya langit jingga menyinari juga angin senja yang berhembus seakan meniup semua suara lain dan membuat ketenangan diantara mereka.

Di parkiran sepeda, Kaito mengeluarkan sepeda pink nya sambil celingak celinguk takut ada yang melihat.
"Kaito-senpai!" panggil Miku dari depan.
Kaito kaget dan menoleh ke depan dengan sedikit ragu.
"O-oh.. ternyata cuma kamu, Hatsune." sahut Kaito.
"Cuma aku? Kaito-senpai jahat! Apa coba maksudnya mengatakan hal itu." gerutu Miku sambil mengembungkan pipinya.
"Haha.. maaf. Kupikir kau orang lain." ujar Kaito.
"Harusnya senpai kenal suaraku dong." kata Miku masih tampak kesal.
"Iya-iya, maaf deh. Kamu juga mau pulang ya?" tanya Kaito.
"Iya nih. Tapi malas jalan nih." jawab Miku.
"Sip, dengan ini Kaito-senpai pasti menawarkanku untung mengantarkanku pulang." sambung Miku dalam hatinya.
"Bagaimana kalau Hatsune aku antar pulang?" tawar Kaito sambil menarik sepeda pink nya dari parkiran.
"Yes! Lihat kan, aku takkan kalah dari Shiro Ray kalau masalah strategi." ujar Miku dalam hati tapi mempertahankan ekspresinya.
"Boleh." sahut Miku menerima tawaran Kaito.
"Kaito hari ini antar aku ke.." ucap Meiko berjalan menuju parkiran dan hendak keluar gedung sekolah.
Namun Meiko berhenti saat melihat Kaito membonceng Miku. Meiko memperhatikan dan bersembunyi dibalik pintu keluar.
"Playboy sialan! Dia sekarang menggoda Miku-chan nih pasti. Takkan kubiarkan!" ucap Meiko dengan suara pelan merasa kesal.
Saat Meiko hendak menghampiri mereka tiba-tiba dia terhenti.
"Rasanya aku lebih memilih memboncengmu daripada Meiko. Dia sering melakukan hal aneh padaku." ujar Kaito tanpa tahu Meiko ada di belakangnya.
"Hal aneh?" tanya Miku yang juga tak tahu ada Meiko di dekatnya.
"Ya.. bagaimana menjelaskannya ya.. pokoknya dia sering menyiksaku dah." jawab Kaito lalu mengayuh sepedanya.
Kaito pun pergi bersama Miku meninggalkan Meiko yang wajahnya tampak gelap saat ini. Meiko berjalan ke arah gedung sekolah dengan kepala menunduk.
"Kamu tidak apa-apa?" terdengar suara laki-laki.
Suara itu pun menyadarkan Meiko.
"Ka-kamu?!" ucap Meiko saat melihat sosok laki-laki di hadapannya.
"Apa telah terjadi sesuatu? Kamu tampak murung, Sakine-san." tanya Ray.
"Ah, tidak kok. Tidak terjadi apa-apa." jawab Meiko sambil tersenyum.
Ray terdiam sejenak dan menatap mata Meiko beberapa saat.
"Ada apa?" tanya Meiko.
"Oh iya, aku kesini untuk mengingatkanmu tentang rencana fetival budaya nanti. Kamu anggota klub light music kan? Jadi aku ingin menawarkan kalian untuk ikut dalam setiap acara yang akan diselenggarakan oleh OSIS. Bagaimana?" jelas Ray.
"Festival budaya ya? Hmm.." sahut Meiko.
"Kamu tidak perlu menjawab sekarang. Silahkan bicarakan dulu dengan anggota yang lain. Jawaban paling lambat yang akan diterima oleh OSIS adalah sampai 2 hari sebelum festival budaya." tambah Ray.
"Lalu kapan festival budayanya akan diselenggarakan?" tanya Ray.
"10 November." jawab Ray.
"Tanggalnya kok beda dari tahun kemarin?" ucap Meiko heran.
"Tentu saja beda, karena saat ini aku yang merencanakan semuanya." jawab Ray.
"Maaf sudah mengganggumu, kalau begitu sampai jumpa dilain waktu. Aku harus menanyai klub yang lain." pamit Ray sambil berbalik lalu berjalan meninggalkan Meiko.
"Sakine-san menyembunyikan sesuatu. Sepertinya ada hubungannya dengan Shion-san." kata Ray dalam hati.

Di dalam ruang OSIS, Luka membereskan mejanya yang berantakan oleh kertas dokumen.
"Sekarang nampaknya kau menyesal mengatakan hal itu padanya, Megurine-chan." kata ketua OSIS.
Luka wajahnya sedikit murung saat itu.
"Tapi dia kasihan juga ya. Kalau memang benar dia selama ini melakukannya sendirian, berarti selama ini dia selalu sendirian. Lalu kemana kedua orang tuanya? Kemana teman-temannya yang lain?" ujar ketua OSIS.
Luka pun langsung berhenti dan terdiam saat mendengarnya.
"Ray-kun.." ucao Luka dalam hati.
Disaat itu Ray berjalan dari satu ruang klub ke ruang klub lain. Memberitahukan rencana festival budaya pada setiap klub yang ia singgahi. Walau kebanyakan sudah pada pulang jadi harus mengulanginya besok di waktu yang lebih awal pastinya.
"Saat ini selesai. Sisanya akan kulakukan besok. Matahari sudah terbenam saat ini." ujar Ray melihat keluar jendela dan langit sudah nampak gelap.
Di kontrakannya pun Gumi langsung menjatuhkan diri ditempat tidurnya. Wajahnya nampak memerah saat itu.
"Apa maksudnya dengan orang yang berharga. Apa yang ia maksud itu aku?" ucap Gumi.
"Kenapa aku malah seperti berharap begitu? Itu tidak mungkin kan. Dia pasti hanya menganggapku teman kok. Tidak lebih." sambung Gumi sambil menutup dirinya dengan selimut.
Dante saat itu berada di jalan setapak menuju ke danau.
"Kenapa aku mengatakan hal seperti itu? Kata-kata itu tiba-tiba saja keluar dari mulutku. Pasti karena aku terlalu banyak bicara dengan Aniki hingga jadi terbiasa dengan kata-kata bijak seperti tadi." pikir Dante berjalan menyusuri jalan setapak itu.
Tak lama terlihat rumah danau tempatnya tinggal bersama Ray.
"Masih gelap. Jadi Aniki belum pulang? Tidak biasanya. Apa ada sesuatu terjadi?" gumam Dante yang melihat lampu di rumah itu belum menyala.
Ray berjalan pulang dengan santai. Dan ditengah jalan ia dicegat oleh seseorang.
"Musang-san kah? Lama tak jumpa. Bagaimana dengan pesawatnya? Sepertinya belum diperbaiki sedikitpun." sapa Ray pada sosok itu.
Sosok itu adalah June yang tersenyum pada Ray dengan senyuman menyeringai nya seperti biasa.
"Jadi kamu tahu kalau pesawatku rusak dan sedang diperbaiki. Benar-benar hebat, The White Light." puji June.
"Tapi, bagaimana kau bisa sesantai itu bertemu dengan musuh sementara kekuatanmu sedang habis? Entah itu sifat yang wibawa atau sebuah kesombongan." sambung June sambil mendekat.
"Itu bukan sebuah kesombongan, itu kepercayaan." ujar Ray.
Terdengar suara permainan piano. June melihat ke kiri dan ke kanan mencari dari arah mana asalnya suara piano itu. Tapi kemudian beberapa cahaya warna-warni melesat ke arahnya. June menghindari cahaya-cahaya itu lalu melompat ke atas tiang listrik.
"Apa itu?!" ucap June.
"Itu adalah hasil dari kepercayaanku. Rasa percaya akan teman-temanku yang akan datang melindungiku." jawab Ray.
Dari belakang Ray, Luka yang dalam keadaan berubah terlihat berjalan mendekati Ray.
"Sepertinya hari ini hari keberuntunganmu." ucap June lalu melompat kabur.
"Jadi kamu hanya menganggapku teman?" tanya Luka.
"Ya.." jawab Ray.
Luka merasa sedikit kecewa mendengarnya.
"..teman hidup." sambung Ray.
Luka langsung terkaget malu karena mendengar sambungan perkataan Ray itu. Sementara Ray mengirim email kepada Dante. Di rumah danau, Dante menerima email dari Ray.
"Dante, aku akan pulang sedikit terlambat. Kalau mau makan, bakar saja ikan yang kutangkap pagi tadi. Ikannya aku gantung di kamarku." baca Dante.
"Ah, Aniki itu. Sekarang dia jadi nempel pada wakil ketua OSIS itu." gerutu Dante setelah membaca email dari Ray.
Kembali ke tempat Ray, Ray menyimpan lagi ponselnya ke saku.
"Ayo kita pulang, ini sudah terlalu malam." ajak Ray.
Luka pun mengikuti Ray tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Sementara itu June berjongkok di atas sebuah jembatan.
"Kenapa aku pergi katamu? Sudah jelas kan karena aku bosan menunggu. Kelamaan tahu! Aku harus menunggu di pesawat tanpa awak sendirian. Horror banget. Mana ada pesanan orang itu lagi." ujar June melalui ponselnya.
"Hah?! Oke deh.. aku akan tinggal disini sementara waktu. Kuharap rencanamu kali ini berhasil." sambung June melalui ponselnya.
Kemudian June menutup ponselnya.
"Bagaimana dia bisa seyakin itu akan terjadi sesuatu di kehidupan The White Light?" gumam June.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】