Memo, chapter 20 - Kelas Dan Panas

Matahari bersinar dengan teriknya siang itu. Membuat ruang kelas X-1 menjadi sebuah sauna dadakan. Telihat setiap buku mengepak bagaikan sayap burung, dan jumlahnya banyak sekali.
"Panas banget, ampun dah! Kenapa sih kelas ini tidak pakai AC?" gerutu Fajar.
"AC mahal bro. Lagipula beli listriknya juga pasti makin boros nantinya." sahut Arya terlihat keringatan.
"Tapi setidaknya sediakan kipas angin buat disaat seperti ini." balas Digna.
"Kipas angin berbahaya. Bagaimana kalau sampai jatuh dan terjadi final destination disini?" jawab Arya.
"Kamu terlalu banyak nonton film." sahut Digna.
"Iya ya, bagaimana kalau sampai itu terjadi." ujar Fajar tercengang dan tampak khawatir.
"Dia mempercayainya? Dasar penggemar film." komentar Digna dalam hati.
"Terlebih lagi, kenapa kamu bisa sesantai itu dicuaca sepanas ini?" tanya Digna pada Arya.
Diantara mereka bertiga, cuma Arya saja yang tidak kipas-kipas dengan buku dan malah terlihat santai saja. Seperti tak terganggu dengan panasnya meskipun keringat bercucuran.
"Ya.. kapan lagi kita bisa sauna gratis kan? Kalau masuk spa kan mahal.." jawab Arya sambil duduk santai.
"Oohh.. benar juga. Sauna gratis. Aku suka gayamu, bro!" kata Fajar yang ikut bersantai.
"Kalian tahu itu berbahaya kan? Bagaimana kalau sampai kalian dehidrasi dan mengering karena panas matahari saat ini. Kemudian tubuh kalian terbakar hangus." ujar Digna.
"Itu hanya terjadi dalam film. Jangan terlalu banyak nonton." balas Arya.
"Kau percaya hal semacam itu? Dasar penggemar film." tambah Fajar.
"Mereka mengambil kalimatku?! Entah kenapa aku merasa kalah!" ujar Digna dalam hati dengan mata gelap.
"Ayo bro, kita sauna. Mumpung gratisan." ajak Fajar.
"Iya. Mengeluh takkan membuat suasana menjadi baik." bujuk Arya.
"Tidak, terima kasih." tolak Digna tetap memilih menggunakan bukunya sebagai kipas darurat.
"Lebih baik aku diam saja, daripada entar jadi makin panas." gumam Digna.
"Selamat siang anak-anak.." sapa seorang guru masuk kedalam kelas.
Guru laki-laki yang tampak sudah tua dan berjalannya pun membutuhkan sebuah tongkat.
"Siapa dia? Penjaga sekolah?" tanya Fajar pada Arya.
"Sepertinya bukan. Mungkin dia wali kelas kita." jawab Arya.
"Wali kelas? Tahu darimana?" tanya Digna.
"Tuh!" ucap Arya.
"Tuh mana?" tanya Digna melihat ke depan lagi.
"Tuhan saja yang tahu." jawab Arya.
"Jangan bercanda!" bentak Digna sambil menggebrak meja.
"Hei kalian berdua yang duduk di meja pojok. Maju kedepan." suruh kakek itu pada Arya dan Digna.
"Celaka, kita pasti akan dihukum." ujar Digna maju ke depan dengan Arya.
Arya dan Digna pun sampai dihadapan kakek itu.
"Kalian sepertinya yang paling bersemangat diantara yang lainnya meskipun saat ini sedang panas. Jadi, bisakah kalian bantu saya saat ini hingga bel berbunyi." ujar kakek itu pada Arya dan Digna.
"Sudah kuduga kita dihukum. Gara-gara dia nih." gerutu Digna melirik ke arah Arya.
"Ya, tentu saja. Saya dengan senang hati akan membantu. Terima kasih.." sahut Arya.
"Hei, kenapa kamu malah berterima kasih?" tanya Digna dengan berbisik.
"Memang aku harus menjawab apa?" jawab Arya dengan sebuah pertanyaan.
"Benar juga, tidak mungkin menjawab dengan kata kasar atau makian. Beliau adalah guru kami, dan beliau juga orang tua." gumam Digna tampak berpikir.
"Kalau begitu dimulai dari membantuku menulis di papan tulis." ujar kakek itu.
Arya dan Digna pergi menghampiri meja guru dan mengambil spidol.
"Baiklah, semuanya perhatikan ke depan. Hari ini kita akan mulai memilih ketua kelas. Silahkan, siapa yang bersedia mengajukan dirinya?" tanya kakek itu.

Catatan hari ini:
Kita akan tahu manfaat setiap kejadian yang terjadi pada kita, jika kita selalu melihat dari sisi baik dan positifnya.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】