Memo, chapter 11 - Hari Terakhir MOS | part 3

Arya, Alice, Ani, dan si mata sipit terpaksa mengikuti tantangan dari ketua ekskul pramuka, Rikka Miyamoto. Seorang gadis berdarah indo-jepang berparas cantik dan tatapan mata tajam yang terkesan tanpa emosi.
"Kalian saat ini akan menjalani tantangan dari ekskul pramuka. Jumlahnya ada 4 tantangan. Tantangan pertama adalah tes kelincahan. Kedua tes kecermatan. Ketiga tes kecerdasan. Dan terakhir adalah tes kepekaan." ujar Rika sambil berjalan mondar-mandir di depan Arya dan kawan-kawan.
"Sepertinya selain tes yang pertama, semuanya tes tertulis." ujar si mata sipit yang berdiri paling kiri.
"Oke, sekarang sebutkan nama kalian! Dimulai dari kiri! Lakukan!" suruh Rika dengan tegas menghadap ke arah mereka berempat.
"Fajar Hasan Dharmawan." ucap si mata sipit.
"Ani Alistiana." ucap Ani.
"Alice Anastasia." ucap Alice.
"Arya Sastrawardhana." ucap Arya.
Tampak Alice sedikit kaget saat Arya mengucapkan nama lengkapnya.
"Baiklah, sekarang kita mulai dengan tantangan yang pertama. Tes kelincahan." kata Rika.
Dibelakang Rika, Siman dan Karman sudah mempersiapkan beberapa alat.
"Sepertinya ini semacam halang rintang gitu." ujar Arya.
"Tepat sekali. Kalian harus bisa melewati semua rintangan dalam waktu yang sudah ditentukan. Dan paling lambat kalian harus finish sebelum 3 menit 30 detik berlalu." kata Rika sambil menoleh ke arah Arya.
"Tapi disana ada beberapa jenis halang rintang. Rasanya tak mungkin melewati itu semua dalam tiga setengah menit." ujar Fajar.
"Jangan banyak omong dan lakukan saja. Kau harus mencoba dulu sebelum men-judge sesuatu." kata Rika sambil menatap tajam ke arah Fajar.
Fajar jadi grogi dan sedikit takut ditatap seperti itu.
"Peraturannya simpel. Kalian hanya perlu melewati semua halang rintangan itu. Dengan batas waktu tertentu tentunya." tambah Rika.
Fajar dapat giliran pertama. Dia bersiap dan memulai start jongkok. Panjang court halang rintang nya sekitar 100 m dengan 5 rintangan. Rintangan pertama adalah engkle. Ada sekitar 3 baris kotak dengan 40 kolom kota sejauh 20 meter pertama. Ditiap kotak ada 2 jenis simbol. Yaitu simbol O dan X. Rintangan kedua nampak kosong dan hanya ada sebuah kain. Ketiga ada 4 buah gasing kayu yang disimpan setiap 4 meter yang belum diketahui apa maksudnya. Keempat ada egrang. Lalu yang terakhir ada sebuah ban motor bekas yang juga membingungkan kenapa ada disana.
"Oke pertama kalian harus engkle dan hanya boleh menginjak tanda O. Kedua kalian mesti berjalan atau berlari sambil menutup mata kalian. Ketiga kalian putarkan setiap gasingnya dan ke rintangan berikutnya sebelum salah satunya berhenti. Keempat berjalanlah memakai egrang itu. Dan terakhir gelindingkan roda itu, dan harus sesuai jalurnya." jelas Rika menjelaskan setiap rintangannya.
"Haha.. sepertinya mudah " ujar Fajar dengan penuh percaya diri.
Rika memberi aba-aba dan Fajar pun maju. Fajar bermain engkle layaknya shuffle dance. Dia bergaya sok keren. Namun Fajar bisa melewati rintangan pertama dengan cepat. Lalu setelah itu giliran rintangan kedua. Fajar menutup matanya dan dengan percaya diri dia berlari lurus kedepan dan terus kedepan. Setidaknya itulah yang ia bayangkan. Walaupun sebenarnya dia keluar dari lintasan.
"Kenapa mereka belum menyetopku? Ini sudah lebih 100 meter nih. Ampun dah.." gerutu Fajar yang terus berlari.
"Bagaimana dengan dia?" tanya Siman pada Rika.
"Ikuti saja. Nanti juga dia nabrak. Terus bawa lagi kemari." suruh Rika.
"Baik ketua." sahut Siman lalu menyusul Fajar.
"Giliranmu!" ujar Rika menatap Ani.
Ani maju ke depan dan bersiap. Ani pun berlari dan melewati setiap rintangan dengan mudah. Lalu dia mencapai finish dengan cepat.
"1 menit 24 detik. Bagus sekali." puji Rika.
Ani pun bangga dengan dirinya kemudian melihat kw arah Alice.
"Ani hebat banget!" ucap Alice.
"Oke, sekarang untuk giliran berikutnya batas waktunya adalah waktu yang barusan." ujar Rika.
Arya dan Alice pun terkejut.
"Ke-kenapa? Kenapa begitu?" tanya Ani.
"Karena kamu membuat catatan waktu lebih cepat daripada batas waktu yang ditentukan. Dan dalam lomba apapun, yang selanjutnya maka harus memecahkan waktu yang dipecahkan oleh orang sebelumnya." jelas Rika.
Ani pun memegang kepalanya dan terlihat menyesal.
"Harusnya aku tidak usah cepat-cepat finish tadi. Sekarang aku membuat nona muda kesulitan. Bodohnya aku." gerutu Ani pada dirinya sendiri dalam hati.
"Sepertinya ini akan menjadi semakin sulit saja." kata Arya sambil tersenyum aneh.
"Sekarang kamu! Bersiaplah!" ujar Rika menunjuk ke arah Alice.
Alice terlihat gugup dan takut. Dia melangkah kedepan dengan ragu. Dalam pikirannya dia berpikir kalau dia takkan berhasil.
"Gadis itu.. sepertinya dia tidak percaya pada dirinya sendiri." gumam Arya saat melihat ekspresi Alice.
"Oy! Bolehkah aku bertanya?" panggil Arya pada Alice.
Alice menoleh pada Arya.
"Seberapa cepat catatan waktumu saat lari 100 m?" tanya Arya.
"Eu.. aku? Ka-kalau lari 100 meter aku.. aku.. kupikir sekitar 7 - 9 detik." jawab Alice.
"Kalau begitu cukup. Lariku sekitar 5 - 6 detik. Kecuali untuk lari jarak jauh. Pasti waktunya melar karena staminaku memang buruk." ujar Arya dalam hati.
"Ya sudah, larilah lurus dan jangan hiraukan rintangan nya." kata Arya.
"A-apa tidak apa-apa?" tanya Alice.
"Ya! Coba lakukan saja!" jawab Arya.
Alice pun mengambil start jongkok dengan sedikit ragu.
"Yakinlah pada dirimu sendiri. Kerahkanlah seluruh kemampuanmu! Tunjukanlah kalau kamu memamg bisa!" ucap Arya memberi semangat.
"Benar juga. Aku tak boleh terlalu bergantung pada siapapun. Aku harus bisa melakukan semuanya sendiri!" ucap Alice dalam hati dan ekspresi wajahnya berubah dari ragu jadi yakin.
Alice berlari tanpa menghiraukan semua rintangan yang ada. Dia berlari terus hingga garis finish.
"7 detik! Hebat.." ujar Rika melihat stopwatch nya.
Alice senang mendengarnya.
"Tapi sayangnya itu tak bisa diterima.." sambung Rika.
Alice terkejut.
".. karena barusan itu.. kamu curang!" ucap Rika sambil menunjuk ke arah Alice.
Tapi tiba-tiba tangan Rika ditahan oleh seseorang.
"Kamu?! Sejak kapan?" ucap Rika terkejut.
"6,98 detik. Hampir saja. Sepertinya aku harus banyak berolahraga lagi." ujar Arya tampak ngos-ngosan dan memegang lengan Rika.
Ditangan kirinya, Arya memegang handphone nya dengan penghitung waktu stopwatch tampak dilayar nya.

Arya menahan tangan Rika yang hendak menunjuk ke arah Alice.
"Apa yang kamu lakukan, bocah?" tanya Rika menatap tajam ke arah Arya.
"Aku hanya menghentikan senior dari menuduh orang lain curang." kata Arya.
"Tapi dia memang curang! Kamu juga!" sahut Rika.
"Tidak. Kami mematuhi peraturan yang senior sebutkan. Kami 'melewati' setiap rintangannya. Bukankah begjtu?" ujar Arya sambil melepaskan tangan Rika.
"Tapi bukan begitu maksudku! Kamu bodoh ya?" bentak Rika.
"Bukan begitu gimana? Bukankah sudah jelas tadi senior bilang 'melewati'? Ya kami 'lewati" saja. We skip that all, isn't that clear enough?" jelas Arya.
"Aaahh.. wakatta. Aku akan membiarkan kalian berdua saat ini." ujar Rika mengerti maksud penjelasan Arya.
"Sepertinya ini juga kesalahanku karena menggunakan kata itu. Tapi bagaimana dia bisa mengetahui celah seperti itu dan menggunakannya melawanku?" kata Rika dalam hati sedikit bingung.
"Baiklah saatnya untuk kalian menjalani tantangan kedua." lanjut Rika.
"Tapi yang satunya lagi belum kembali kan." ujar Arya.
"Tenang saja dia akan segera menyusul." sahut Rika.
"Kemana?" tanya Arya.
"Ke neraka. Tentu saja ke tantangan selanjutnya dasar bodoh!" kata Rika.
Kemudian mereka dibawa ke tempat dimana ada beberapa tongkat kayu, kain, tali, dll.
"Tantangan kalian selanjutnya adalah kalian harus mendirikan sebuah tenda. Semakin sedikit alat yang kalian gunakan maka semakin bagus nilainya." ujar Rika.
"Tenda? Gawat dah, aku tidak bisa membuat tenda." pikir Arya.
Alice melihat ke arah Arya yang sedang tersenyum grogi.
"Berbeda dengan sebelumnya, kalian boleh membuat sebuah tim dengan orang lain." tambah Rika.
"Ini dia! Ini saatku untuk menebus kesalahanku pada nona muda. Aku harus membantunya membuat tenda." ujar Ani dalam hati.
"Nona mud.." ucapan Ani terpotong saat melihat Alice mendekati Arya.
"Anu.. bolehkah aku satu tim denganmu?" tanya Alice pada terlihat malu.
"Satu tim denganku? Benar juga, mungkin dia bisa membantuku." pikir Arya.
"Oh boleh!" jawab Arya.
"Beneran?" tanya Alice tampak gembira.
"Ya." sahut Arya.
Ani pun geram dibelakang Alice. Arya langsung merinding melihat Ani yang nampak seperti mau memakannya saja. Tidak lama Fajar datang bersama Siman.
"Haha.. walau nyasar sepertinya aku lulus karena kekerenanku." ujar Fajar.
Tantangan kedua pun dimulai, ujian kecermatan dalam membuat tenda. Mereka langsung mengumpulkan bahan yang hendak mereka gunakan.
"Jadi sekarang bagaimana lagi?" tanya Alice pada Arya saat selesai mengumpulkan bahan.
"Tentu saja kita langsung buat tenda nya kan." sahut Arya.
"Bagaimana caranya?" tanya Alice lagi terlihat bersemangat.
"Tunggu sebentar, jangan bilang kamu tidak bisa membuat tenda." ujar Arya.
"Me-memang tidak. Aku sama sekali belum berkemah sebelumnya." jawab Alice sambil tampak malu.
"Eeehhh?!!" ucap Arya kaget.
"Aduh.. kalau gini caranya sama saja bohong. Aku harus segera memikirkan sesuatu." pikir Arya sambil garuk-garuk kepala.
"Ha! Ketahuan dia, ternyata dia memang ingin memanfaatkan nona muda! Kurang ajar tuh anak." ucap Ani dalam hati.
"Hahaha.. aku memang jenius. Dengan begini aku tak butuh tali. Tali hanya untuk orang bego." ujar Fajar tampak hanya mengambil tongkat kayu dan kain saja.
Kemudian mereka pun mulai membuat tenda mereka masing-masing. Beberapa menit berlalu. Dan mereka baru setengah jadi. Lalu sekitar 20 menit berlalu akhirnya mereka berhasil menyelesaikan tenda mereka.
"Haha.. lihatlah betapa bagusnya tenda milikku." ujar Fajar.
Tenda milik fajar tampak sangat rapi, meski tanpa tali sedikitpun.
"Aku yakin aku yang akan menang. Akan kubuktikan kalau aku lebih baik dari laki-laki itu pada nona muda." ujar Ani dengan wajah tampak yakin.
Tenda milik Ani juga sangat rapi. Mirip tenda yang dikerjakan oleh anggota ekskul pramuka.
"Ah.. melelahkan." ucap Arya duduk ditanah.
"Ya cape juga. Tapi menyenangkan. Ini pertama kalinya aku mendirikan tenda." balas Alice yang juga duduk ditanah.
"Oke, ini saatnya penilaian." ujar Rika.
Pertama adalah tenda milik Fajar. Dia membuka kain dan ada banyak sekali tongkat kayu berjajar.
"Dia menancapkan tongkat kayu ini ditanah dan membuat rangka dinding yang kokoh." pikir Rika saat membuka kain itu.
Kemudian dia membuka kain satu-persatu hingga yang keempat. Rika pun mulai menyadari sesuatu.
"Ini tenda apa penjara?!! Kenapa semua jalan masuknya tertutup?!!" komentar Siman dan Karman yang mengikuti Rika.
Rika menghampiri Fajar dan menatapnya dingin.
"Bagaimana? Keren kan? Itu tenda versi tahun 2014." kata Fajar dengan bangga.
Rika pun menampar Fajar.
"Eh?! Apa maksudnya yang barusan?!" protes Fajar.
"Bangunlah nak, kamu pasti masih bermimpi." sahut Rika berjalan menjauh tanpa menghiraukan Fajar.
"Hah!!!?" ucap Fajar.
"Salahmu sendiri tidak bisa membedakan tenda dan kurungan. Lagipula dimana jalan masuknya?" tanya Siman.
"Tentu saja dari atas." jawab Fajar keyakinannya kembali.
"Dari atas?! Bagaimana caranya masuk dari atas? Kalian pikir kita anggota ekskul pramuka bisa terbang?" sahut Karman kaget.
"Pake flying fox lah. Masa tidak ngerti juga." jawab Fajar.
"Benar juga.. itu cara masuk tenda yang keren." kata Siman yang memahami hal itu.
"Tapi tunggu, terus bagaimana cara kita keluar dari sana?" tanya Karman.
"Oh iya, bagaimana cara keluarnya ya?" sahut Fajar yang tampak baru kepikiran.
"Hah?!! Jadi kamu tak memikirkan cara keluarnya?" tanya Siman.
"Hahaha.. aku tidak kepikiran sejauh itu soalnya." jawab Fajar tertawa bodoh.
"Maksudnya sesudah kita masuk dengan cara yang keren kita tidak bisa keluar lagi?!! Orang bego macam apa yang terjebak di tendanya sendiri!!" pekik Karman.
"Hahaha.. tentu orang bego dari ekskul pramuka." ucap Fajar tanpa berpikir.
Kemudian dia kena tampar lagi oleh Rika. Kali ini hingga Fajar terbakar dan terputar di udara.
"Tidak sopan!!!" ucap Rika.
"That's Death Slap?!!" ucap Siman dan Karman melihat Fajar terbakar kemudian tak sadarkan diri.
Sekarang giliran Ani yang tenda nya dinilai. Tenda Ani sangat rapi dan dilihat dari manapun tampak seperti tenda yang didirikan oleh sekelompok anggota pramuka.
"Hebat. Yang ini sangat rapi. Sempurna." ujar Ani.
"Lihatlah nona muda, aku lebih pantas jadi tim mu dibanding dia." ujar Ani dalam hati sambil melirik ke arah Alice.
Kemudian Rika menuju ke arah tenda nya Arya dan Alice.
"Tenda macam apa ini?" komentar Rika saat melihat tenda berbentuk kerucut itu.
"Itu mirip rumah suku indian di Amerika." tambah Siman.
"Ini memang tenda yang terinspirasi dari rumah suku indian." jawab Arya.
"Tapi kenapa kamu buat yang seperti ini?" tanya Karman.
"Karena jika membuat tenda yang biasa, pasti kami sudah kalah oleh yang disana itu. Jadi kami buat yang berbeda supaya kalian menilai tanpa membandingkan dengan yang sudah ada." jelas Arya.
Semuanya terkejut mendengar penjelasan Arya itu.
"Anak ini.. berbahaya juga otaknya." ucap Rika dalam hati.
Rika pun memeriksan bagian dalamnya.
"Bagus juga. Sederhana tapi bagus. Sepertinya kalian juga lulus." ujar Rika.
Arya merasa lega bisa lulus, sementara Alice tampak sangat bahagia.
"Jadi begitu ya.. kemampuan hebatku malah membahayakan nona muda. Tapi dia melindungi nona muda dan bisa membuat nona muda tampak sangat senang seperti itu. Aku benar-benar tidak berguna." ujar Ani dalam hatinya sambil tertunduk lesu.
Dia melihat Arya seperti ksatria dan Alice seperti seorang putri. Meskipun sebenarnya Arya memang memakai kostum ksatria meski tanpa helm.
"Jadi sepertinya hanya satu orang yang tidak lulus." ucap Rika.
"Kupikir tidak begitu. Karena aturannya pun mendirikan tenda, dan tidak dikatakan tenda itu harus layak huni atau tidak." ujar Arya.
"Jadi maksudmu aku harus meluluskannya karena saat itu aku katakan kalau kalian hanya harus 'mendirikan' tenda?" tanya Rika sambil membuat isyarat tanda kutif dengan kedua tangannya.
"Ya." jawab Arya.
"Hmm.. kupikir ucapanmu cukup beralasan juga. Baiklah kalai begitu. Aku luluskan kalian semua." balas Rika.
"Aku lulus?! Yeaaaaahhh!! I'm genius!!!" ucap Fajar yang tiba-tiba saja bangun dari pingsannya.
"Tunggu, kenapa aku melakukan hal merepotkan seperti tadi? Apa aku terbawa suasana?" pikir Arya.

Giliran tantangan ketiga yaitu tantangan kecerdasan. Mereka semua disuruh memasuki tenda milik senior. Kemudian dari luar tampak Rika menyalakan laptop dan proyektor yang ditembakam ke tenda. Dan terdapatlah gambar ke kain tenda itu. Kemudian dipilihlah sebuah gambar yang nampaknya sebuah kode.
"Sandi kotak kah?" ucap Arya saat melihat gambar itu.
"Oohh.. itu mudah. Tulisan disana adalah 'praja'." sahut Fajar.
Semua orang menoleh ke arah Fajar karena kaget.
"Ada apa?" tanya Fajar saat semua orang melihat ke arahnya.
"Benar!" ucap Rika.
Kemudian gambarnya ganti. Kali ini terlihat garis zig zag panjang dan pendek.
"Sandi rumput kah?" ucap Arya.
"Sandi rumput?" sahut Fajar bingung.
"Iya, itu kemungkinan sandi rumput. Perlu kode morse untuk membuat atau memecahkannya." jawab Arya.
"Aku akan mencari kode morse di google, biar mudah." sambung Arya mengeluarkan ponselnya.
"Tidak perlu, jawabannya gampang kok. Itu tulisannya 'muda'." kata Fajar.
"Benar!" sahut Rika.
Semuanya pun kembali menoleh ke arah Fajar.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Fajar.
Kemudian Rika memutar suara sekumpulan nada monoton panjang dan pendek.
"Morse. Ini kode morse." ucap Arya.
"Karana." ucap Fajar.
"Benar!" sahut Rika.
"Cepat banget!" ucap Arya dalam hati.
Mereka menoleh lagi ke arah Fajar.
"Ada apa dengan kalian sebenarnya?! Kenapa kalian selalu melihat ke arahku setiap kali aku menjawab pertanyaan?" protes Fajar.
"Tidak, kami hanya aneh saja kamu bisa menjawab semuanya." jawab Arya.
"Hah? Memang menurutmu aku bodoh!" bentak Fajar.
Kemudian mereka pun disuruh keluar oleh para senior.
"Yang tadi itu sebenarnya untuk apa? Itu bukanlah tes kecerdasan. Itu lebih ke tes wawasan." tanya Arya.
"Kamu menyadarinya. Ya itu memang tes wawasan.
Kamu terbukti memberi petunjuk pada yang lain, sehingga yang bermata sipit itu bisa menjawabnya." jelas Rika.
"Te-terus bagian mana yang tes kecerdasannya?" tanya Alice.
"Hanya orang yang cukup cerdas yang menyadari hal itu lalu menanyakannya. Bukankah begitu?" ujar Arya.
"Ya, tepat sekali." sahut Rika.
"Tentu semua orang akan menanyakan hal itu. Iya kan?" kata Arya lalu melihat ke arah Alice.
"Y-ya.." sahut Alice.
"Kalau begitu kalian lulus." ujar Rika.
Rika pun pergi bersama Karman dan Siman sambil tersenyum.
"Mereka pergi? Bukannya ada 1 lagi?" ucap Arya.
"B-benar juga. Apa mereka lupa?" sahut Alice.
"Haha.. biarin aja. Kan bagus kalau mereka lupa." tambah Fajar.
Ani hanya diam saja saat itu.
"Hmm.. benarkah begitu? Kupikir ada yang aneh." ujar Arya dalam hati.
"Ani? Ada apa? Daritadi kamu diam saja." tanya Alice menghampiri Ani.
"Maafkan aku.. aku malah membuat nona kesulitan tadi. Harusnya aku membantu nona muda. Tapi.. aku malah memperburuknya. Maafkan aku.." ucap Ani tampak sedih dengan kepala menunduk.
"Ti-tidak kok. Tadi aku sangat gembira. Ini pertama kalinya aku sesenang ini." sahut Alice.
"Tapi itu saat nona muda bersama laki-laki itu. Saat bersamaku nona tidak pernah seperti itu." tukas Ani.
"Tidak, aku senang kok saat bersama Ani. Beneran.." jawab Alice.
"Nona bohong!" bentak Alice.
"Saat menjadi rival atau lawan, kita tak punya pilihan lain selain memberikan perlawan terbaik yang kita bisa. Jika kita mengalah, itu sama artinya kita meremehkan kemampuan lawan atau rival kita. Itu sama saja dengan melecehkan lawan kita. Daripada menang karena lawan kita mengalah pada saat kita berusaha mati-matian, bukankah lebih baik kalah disaat lawan kita benar-benar berusaha menang dari kita. Walau sebenarnya lebih baik kita menang sih disaat sama-sama sudah berusaha." ujar Arya menatap ke arah langit.
Ani tercengang mendengarnya. Begitu pula dengan Alice.
"Oh maaf, aku sedang berbicara sendiri." tambah Arya sambil berjalan meninggalkan mereka.
Fajar hanya bengong karena tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh mereka sejak keluar dari tenda.
"Oke kalian kumpulkan buku kalian. Akan kuberi stempel." suruh Rika keluar dari Tenda.
Mereka pun mengumpulkan buku mereka.
"Yang satu orang lagi mana?" tanya Rika.
"Ah.. ini bukunya." sahut Alice memberikan buku berwarna biru muda.
"Kenapa bisa ada padamu?" tanya Rika.
Alice pun tersentak.
"Aaaa!!! Aku lupa mengembalikan bukunya!!!" ucap Alice dalam hati.

Bersambung ke part 4..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】