Memo, chapter 11 - Hari Terakhir MOS | part 4
Di lapangan tengah, seorang guru dan beberapa senior berpakaian putih berdiri di pinggiran lapang. Mereka adalah dari ekskul taekwondo.
"Apa menurut bapak ini tak terlalu sulit?" tanya seorang senior laki-laki pada guru pembina ekskul taekwondo.
"Menurutku tidak. Ini kan salah satu teknik dasar saja." jawab guru itu.
"Walaupun begitu apa sebaiknya kita lebih permudah lagi. Bisa-bisa nanti para junior jadi pada minder kalau terlalu sulit." saran senior tadi.
"Tidak. Tidak usah. Jika kita permudah itu sama saja kita meremehkan mereka." balas guru itu.
Tak lama datang si tanpa ekspresi menghampiri mereka.
"Maaf, bolehkah aku mencobanya?" tanya si tanpa ekspresi.
"Hah? Oohh.. ternyata ada penantang disini." sahut senior itu.
"Baiklah, silahkan dicoba. Yang perlu kamu lakukan adalah harus mengenai sarung tangan ini." sambung senior itu sambil menunjukan sarung tangan yang dimaksud.
Itu adalah sebuah sarung tangan yanv sering digunakan sebagai bantalan serangan saat latihan. Senior itu mengangkat tinggi tangan kanannya sehingga sarung tangan yang ia kenakan berada sekitar 2 seperempat meter di udara.
"Segitu?" tanya si tanpa ekspresi.
"Ya." jawab senior itu.
Si tanpa ekspresi pun menghela napas.
"Sudah kuduga ini terlalu sulit." ucap senior itu dalam hati.
Lalu dengan cepat si tanpa melangkah mendekat melompat lalu berputar. Dia melakukan tendangan membelakangi senior sambil membungkukan badannya sementara satu kakinya terangkat tinggi ke atas. Dan sarung itu terkena tendangan itu dan terlempar. Sambil berbalik lagi, si tanpa ekspresi mengangkat tangan kanannya dan menangkap sarung tangan yang terlempar tadi dengan santai. Para senior maupun guru pembina terlihat tercengang melihat hal itu.
"Ini." ujar si tanpa ekspresi sambil menyodorkan sarung tangan itu kembali ke senior yang tadi memegangnya.
Senior itu pun menerima sarung tangan itu dengan wajah bengong.
"Ka-kau hebat banget!" ucap guru pembina.
Si tanpa ekspresi menoleh ke arah guru pembina.
"Siapa namamu?" tanya guru pembina.
"Namaku Digna Bayu Hermantyo." jawab si tanpa ekspresi.
"Digna. Nama yang unik. Oke Digna, maukah kau gabung dengan ekskul taekwondo?" tawar guru itu sambil berdiri.
"Hmm.. mungkin akan kupikirkan dulu." sahut Digna.
"Memikirkan apa? Sepertinya sejak awal kamu memang tertarik masuk ekskul taekwondo." ujar Arya yang berdiri dibelakang Digna.
"Apa maksudmu?" tanya Digna menoleh ke arah Arya.
"Aku bisa melihatnya dengan jelas. Di saku belakangmu." jawab Arya.
Digna langsung menghadap ke depan lagi ke arah senior sambil menutup saku belakangnya dengan tangan.
"Tuh benar kan kataku. Ada selebaran ekskul.." kata Arya terpotong karena mulutnya ditutup oleh Digna.
Saat itu para senior melihat selebaran di saku belakang Digna karena Digna membelakangi mereka.
"Itu kan? Selebaran kita?" ucap seorang senior yang memegang sarung tangan tadi.
Digna terkejut mendengar ucapan senior itu.
"Dia pasti sudah merencanakannya. Dia membuatku menutup mulutnya agar aku berbalik." pikir Digna.
Para senior itu senyum-senyum melihatnya. Sementara guru pembina berjalan menghampirinya.
"Nanti temui aku kalau kau sudah memutuskannya. Seperti yang lainnya, kau panggil saja aku pak Bams. Aku akan tunggu keputusanmu. Kami butuh orang sepertimu di ekskul kami." ujar guru pembina itu.
"Baiklah." sahut Digna.
"Mungkin ini ada baiknya juga. Tapi dia cukup menyebalkan." ujar Digna dalam hatinya sambil melirik ke arah Arya.
"Mau sampai kapan dia disana? Aku jadi tak bisa kemana-mana." gerutu Arya melihat ke arah lapangan olahraga.
Ternyata disana ada Rere yang berdiri diantara lapangan basket dan lapangan volley.
"Hei kau, mau coba juga?" tanya guru pembina bernama Bams itu pada Arya.
"Hah? Aku?" sahut Arya.
"Tentu saja, memang siapa lagi." jawab pak Bams.
"Ya kan mungkin saja.. sesuatu yang ada dibelakangku yang tak bisa kullihat." sahut Arya sambil mengubah ekspresinya dengan kesan horror.
"Memangnya kau pikir aku bisa lihat hantu!" bentak pak Bams.
"Baiklah kalau begitu. Bukankah yang harus kulakukan hanya menyentuh sarung tangannya?" tanya Arya.
"Ya, cukup kenai sarung tangan ini." jawab senior pemegang sarung tangan lalu mengangkatnya tinggi ke atas.
Arya tersenyum lalu melompat biasa.
"Lompatan biasa? Apa yang ia pikirkan?" gumam Digna heran.
Kemudian Arya menepuk sarung tangan itu dengan tangannya dan mendarat lagi. Melihat itu suasana jadi hening sejenak diantara anggota ekskul taekwondo, pak Bams maupun Digna.
"Apa itu barusan?!!!" ucap mereka yang tadi bengong sekarang terlihat shock.
"Kenapa kalian sekaget itu? Bukannya tadi itu benar?" tanya Arya.
"Apanya? Kau harus mengenai nya dengan kaki tahu!" bentak salah seorang senior.
"Lah tadi kan katanya cukup dengan mengenai sarung tangan ini. Tidak disebutkan harus menggunakan kaki atau apapun." jawab Arya.
"Emang bener sih, tapi kan ini ekskul taekwondo." ujar senior yang lain.
"Mau ekskul taekwondo ataupun bukan, karena kalian bilang cukup mengenai sarung tangan itu maka mau pakai tangan atau apapun bisa kan. Aturan yang dijelaskan setelahnya tidak berlaku untuk sesuatu yang dilakukan sebelumnya. Lagipula taekwondo bukan hanya tentang serangan kaki, kalian harus yang lebih tahu tentang itu." jelas Arya memojokkan para senior dengan perkataannya.
Para senior terdiam karena tidak bisa menjawab kata-kata Arya.
"Kalau begitu kamu lulus." kata pak Bams.
"Terima kasih.." sahut Arya.
"Dia menang bukan dengan kemampuan. Tapi dengan kata-kata." komentar Digna dalam hati.
"Ada ribut-ribut apa disana?" ucap Rere melihat ke arah pos ekskul taekwondo.
Tapi sebelum jelas mengarah kesana, kepala Rere terkena sesuatu dari belakang. Dan sebuah bola voli memantul-mantul di hadapan Rere.
"Sialan, siapa barusan itu.." ucap Rere menoleh ke arah asalnya bola.
Dia melihat seorang laki-laki yang kemarin melempar bola ke arahnya. Sepertinya laki-laki itu sedang mengajari melakukan servis pada murid baru perempuan.
"Gawat, kena dia lagi! Ngapain dia berdiri disana!" ucap laki-laki itu mulai panik.
Rere menatap kesal laki-laki itu. Tampak latar api dibelakangnya.
"Lebih baik kabur!" ucap laki-laki itu lalu melarikan diri.
"Woy Agus! Jangan lari!" suruh Rere sambil ngejar laki-laki bernama Agus itu.
Di tempat lain di lapangan basket, Shinta sedang mencoba tantangan ekskul basket drible & shotting.
"Maaf, apa kamu melihat seorang laki-laki berpakaian ksatria lewat sini?" tanya Alice saat Shinta hendak melakukan dribling.
"Hah? Ngapain kamu disana? Ngehalangin aja. Minggir sana!" suruh Shinta yang bolanya lepas karena kagok.
"Hei! Jangan nerobos gitu. Tantangan ini mesti dilakukan seorang-seorang." ujar senior.
"Ma-maaf.." sahut Alice lalu berjalan ke pinggir lapang.
"Nona muda, jangan melakukan hal seperti tadi lagi. Itu berbahaya. Bagaimana jika anda tertabrak." ucap Ani.
"Maaf. Aku hanya ingin segera mengembalikan buku ini." jawab Alice terlihat menyesal.
"Ya sudah kita tunggu disini saja. Kali aja dia ke sini. Laki-laki kan biasanya suka ekskul olahraga." sahut Ani.
"Y-ya." sahut Alice.
"Ngomong-ngomong bukunya mana non?" tanya Ani.
"Eh? Iya mana nih? Eeeh?" ucap Alice mencari-cari buku itu di setiap saku pakaiannya.
"Mungkinkah aku melupakannya di tempat ekskul pramuka?" sambung Alice.
"Ah nona muda.. kalau begini tidak akan ketemu-ketemu tuh pemilik buku." kata Ani.
"Ayo kita kembali.." ajak Alice pada Ani.
Di pos ekskul taekwondo, Arya berdiri dan menoleh ke tempat ia melihat Rere sebelumnya.
"Dia sudah pergi? Yes!" ucap Arya dalam hati.
"Hei kamu, siapa nama.. mu.." ucap senior ekskul taekwondo.
Dia melihat ke arah Arya, tapi Arya sudah tak ada disana.
"Dia itu ninja ya? Bisa hilang gitu aja." komentar senior tadi.
"Tapi itu artinya dia punya kemampuan lain selain yang ia ketahui." sahut pak Bams sambil tersenyum.
"Maksud pak Bams?" tanya senior itu.
"Dia punya kemampuan lain tapi dia tak menyadari hal itu." jelas pak Bams.
"Tapi lagipula, kenapa dia memakai pakaian ksatria seperti itu?" tanya senior itu lagi.
"Apa kalian tidak mendapat pesan dari ekskul drama. Mereka bilang akan ada seorang ksatria dari para murid baru yang akan menggetarkan hari terakhir MOS ini." jawab pak Bams.
"Lah kupikir itu salah satu lelucon si Luthfi itu." ujar senior itu.
"Jadi dia punya pengaruh seperti itu? Tapi sepertinya dia tak menyadarinya." pikir Digna.
"Hei polos, ada disini kau rupanya." sapa Fajar yang datang ke pos itu.
Digna menoleh ke arah Fajar.
"Kamu mau apa kemari?" tanya Digna.
"Dingin bener. Tentu saja mau nguji kemampuan silatku. Lihat ini." jawab Fajar.
Kemudian Fajar memperagakan beberapa jurus silat cina yang malah terlihat aneh saat dilakukan olehnya.
"Bagaimana? Aku hebat kan?" sambung Fajar dengan percaya diri.
Para senior juga guru pembimbing hanya bisa tersenyum aneh melihat peragaan tadi.
"Lihat wajah mereka seperti mengatakan, 'bah ini anak jago banget dah, kalau aku melawannya pasti kalah nih. Gawat nih..', lalu yang disana, 'dia jenius nya kebangetan, bisa pensiun dini nih aku.'." ujar Fajar.
"Apaan? Jangan seenaknya men-dubbing perkataan hati orang. Sudah jelas-jelas dari ekspresi mereka tidak mungkin berkata seperti itu." gerutu Digna.
"Sudahlah jangan suka membalikan fakta." sahut Fajar sambil berbalik dan berlagak sok keren.
"Otakmu tuh yang kebalik." balas Digna.
"Tunggu sebentar, itu bukunya siapa di sakumu?" tanya Digna yang melihat buku berwarna biru muda di saku belakang Fajar.
"Ini? Ini punya seseorang yang tertinggal di ekskul pramuka." jawab Fajar mengambil dan memperlihatkan buku itu.
"Buku itu rasanya aku kenal." gumam Digna.
Kemudian dia ingat saat berbicara pada Arya saat event tanda tangan kemarin.
"Itu buku anak yang barusan." ujar Digna.
"Anak yang barusan?" ucap Fajar tidak mengerti.
"Benar juga, kita lupa menanyakan nama dan bukunya. Kita belum memberi stempel untuknya." ujar pak Bams.
"Kau yakin itu buku anak yang tadi?" tanya pak Bams pada Digna.
"Ya, aku kenal betul bukunya." jawab Digna.
Pak Bams tidak melihat kebohongan ataupun keraguan dalam ucapan Digna. Walau sebenarnya lebih bisa dibilang tak ada ekspresi.
"Sini biarkan aku melihatnya.." pinta pak Bams pada Fajar.
Fajar memberikan buku itu dan pak Bams menyetempel nya.
Arya menuju ke lapangan basket dan melihat Shinta melakukan shooting. Shooting Shinta masuk dengan mulus.
"Bolehkah aku mencobanya lagi?" tanya Shinta.
"Ini sudah yang ke 20 kali. Tidak cape apa?" gerutu senior yang duduk di sebuah kursi.
"Tapi saat setiap memasukan bola, rasanya seperti 'tuing' dan 'blong' gitu." jawab Shinta.
"Perumpamaan macam apa itu.." komentar senior itu.
"Boleh ya? Boleh ya?" pinta Shinta dengan wajah memelas.
"Tapi sekarang giliran yang lain. Lihat yang ngantri sudah banyak." tolak senior itu.
"Mana?" tanya Shinta memiringkan kepalanya.
Ditempat yang ditunjuk senior itu terlihat tak ada siapapun.
"Lah.. pada kemana mereka?!!" ucap senior itu kaget.
"Sepertinya mereka pada pergi karena bosan kelamaan nunggu." ujar seorang senior perempuan.
"Begitukah, manager." sahut senior laki-laki itu.
"Karena tidak ada yang lain, berarti aku boleh dong ngulang lagi?" kata Shinta.
"Tidak." tolak senior itu.
"Kenapa?" tanya Shinta.
"Karena dia penasaran ingin mencoba juga." jawab senior itu sambil menunjuk ke arah Arya yang lewat di samping lapang basket.
"Hah, aku?" sahut Arya menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Ya, kamu. Ayo kemari." suruh senior itu.
Arya pun mendekat dengan sedikit ragu.
"Segera ke tengah lapangan. Dan.. tunggu sebentar.. kenapa kamu pakai pakaian seperti itu?" tanya senior itu baru menyadari pakaian Arya yang berbeda dari yang lain.
"Kapten, dia adalah orang yang dimaksud oleh Luthfi dari ekskul drama." bisik manager.
"Oohh.. bilang dong dari tadi." balas senior itu dengan berbisik juga.
"Ini.. bisa kujelaskan.." ujar Arya dengan gugup.
"Tidak perlu dijelaskan. Segera ketengah lapangan." suruh senior itu.
"Hah?" ucap Arya yang merasa heran.
Arya pun ke tengah lapangan.
"Sekarang ambil bola itu dan dribling menuju ke dekat ring dan lalu shooting." perintah senior itu.
"Ta-tapi aku tidak bisa." jawab Arya.
"Kenapa tidak bisa? Kamu bahkan belum mencoba." tanya senior itu.
"Maksudku, aku tak mungkin melakukannya sendiri. Bagaimana kalau berdua dengannya?" ujar Arya menunjuk ke arah Shinta.
"Tidak bisa, kamu harus melakukannya sendiri." kata senior itu.
"Tapi basket kan permainan tim. Tak mungkin dilakukan sendiri." jawab Arya.
"Memang. Tapi kemampuan individu itu penting. Kamu harus bisa memasukan angkamu sendiri pada saatnya nanti." balas senior itu.
"Kalau begitu kita tinggal percaya pada teman kita. Lagipula apa gunanya kemampuan individu kalau sampai tidak bisa menyesuaikan dengan kemampuan tim dan malah merusak tim tersebut." sanggah Arya.
Senior yang merupakan kapten tim basket itu pun terkejut mendengarnya.
"Dari fisiknya, aku ragu dia pemain basket. Tapi dia bisa tahu hal semacam itu darimana?" ucap senior itu dalam hati.
"Kapten, sebaiknya kita luluskan saja dia. Dia bisa tahu hal itu, itu artinya dia lebih mengetahui tentang basket daripada yang bisa memasukan bola ke ring." ujar manager.
"Tidak, mendengar hal itu membuatku bersemangat untuk membuatnya membuktikan perkataannya." ujar senior itu sambil berdiri dari tempat duduknya.
Senior itu ternyata sangat tinggi. Mungkin tingginya sekitar 190-an. Semua senior yang berada di sekitar situ tampak memperhatikannya.
"Siapa yang bisa membuat Yahya berdiri dari tempat duduknya?" tanya ketua OSIS yang kebetulan lewat.
"Perasaanku tidak enak tentang hal ini." ujar Arya dalam hati dengan tersenyum grogi.
Bersambung ke part 5..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.