Memo, chapter 21 - Pemilihan Ketua Kelas

Pemilihan ketua kelas digelar di kelas X-1. Saat guru menanyakan siapa yang mengajukan jadi ketua kelas, seketika kelas langsung saja hening. Banyak orang disana tapi hanya jangkrik yang bersuara.
"Ada apa dengan semua semangat kalian? Apa ini karena panas? Tidak mungkin. Seharusnya semangat kalian juga terbakar kalau karena panas. Tapi kalian begitu dingin." ujar guru tua di depan kelas.
"Ia punya kemampuan berbicara yang bagus untuk orang yang sudah tua." ujar Digna dengan suara pelan.
"Jangan remehkan orang tua. Mereka sudah hidup lebih lama daripada kita. Mereka tahu lebih banyak dari kita." sahut Arya.
"Nama bapak adalah Ahmad Dahlan. Jika kalian tidak ada yang bersedia mengajukan diri, maka bapak yang akan menunjuk kalian secara acak." ujar pak tua didepan kelas sambil menegakkan badannya.
"YSG dari Bleach kah?!" ucap Arya terkejut saat melihat ternyata badan kakek bernama Ahmad Dahlan itu masih tegak.
"Siapapun yang terpilih akan menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi kelas ini sampai kalian naik kelas" kata pak Ahmad Dahlan.
"Sesuatu? Seseorang mungkin maksud bapak." sahut Arya.
"You noticed it? Well done, son!" ucap pak Ahmad Dahlan melihat ke arah Arya.
"Maaf pak, kenapa tidak mereka berdua saja yang menjadi calon nya? Mereka kan yang tadi bikin ribut." usul salah seorang siswa angkat bicara.
Terlihat yang lain ikut mendukung usulan siswa tadi.
"Jadi kalian ingin memilih orang yang suka ribut, cari gara-gara, urakan, susah diatur untuk menjadi ketua kelas?" sahut pak Ahmad tampak tersenyum, walau sedikit tertutup kumis nya yang mulai memutih.
"Bu-bukan begitu maksudku.." ujar siswa yang usul tadi.
"Y-ya aku tak keberatan sih kalian tunjuk menjadi ketua kelas. Tapi jika aku terpilih, aku mau malas-malasan saja. Jika ada hal apapun, aku akan menyuruh bawahanku saja yang pergi atau melakukannya." ujar Arya.
"Kenapa dia mengatakan hal itu?" ucap Digna dalam hatinya.
Dari bangkunya Shinta menatap tajam ke arah Arya.
"Ayo pilih aku, aku akan korupsi. Semua uang kas kelas akan masuk ke kantongku. Eh, salah. Maksudku keluar dari kantongku aku belikan makanan. Kalian lihat kan aku butuh banyak makanan untuk lebih tinggi." sambung Arya sambil menatap sombong.
"Hah? Mana mungkin aku memilihmu kalau tahu begitu. Lebih baik aku memilih orang yang lebih baik." sahut siswa yang memberi usulan beberapa saat tadi.
"Jadi, jangan pernah menunjuk seseorang untuk menjadi korban. Tapi tunjuklah untuk menjadi pelaku." jawab Arya.
Perkataan Arya membuat seisi kelas bergetar. Namun bukan gempa, karena ini adalah getaran batin didalam hati manusia. Mereka terkejut kata-kata itu terlontar dari anak SMA seperti mereka.
"Anak ini, seperti yang dikatakan kepala sekolah. Dia mengerikan." ujar pak Ahmad dalam hati.
"A-apa yang barusan aku katakan? Sepertinya aku baru saja menginjak ranjau darat." ujar Arya.
"Jadi siapa dari kalian yang ingin mengajukan diri sebagai ketua kelas?" tanya pak Ahmad lagi.
Namun tak ada yang mau mengangkat lengannya ataupun berucap sepatah katapun.
"Tidak ada? Sepertinya kita tak punya pilihan lain." ujar pak Ahmad sambil melihat ke arah papan tulis.
"Kata orang bijak, jangan beri jabatan atau kekuasaan pada orang yang memintanya. Dan hanya satu orang sampai saat ini yang diam dan hanya melihat." ujar pak Ahmad melihat ke arah Digna.
"Eh, aku?" ucap Digna dalah hati.
"Apa menurut kalian dia cocok menjadi ketua kelas kalian?" tanya pak Ahmad yang jelas sekali menunjuk Digna.
"Ya!" sahut para siswa.
Semua siswa disana setuju memilih Digna menjadi ketua kelas. Mereka semua bersorak.
"Kalau begitu telah diputuskan, Digna Bayu Hermantyo menjadi ketua kelas X-1." ujar pak Ahmad.
"Eh, ini bercanda kan? Beneran aku? Tidak mungkin!" ujar Digna dalam hati.
Arya mendekati Digna dan bersalaman dengannya.
"Selamat bro, kamu akhirnya berhasil menjadi ketua kelas." ujar Arya memberi selamat.
"Apa kamu sudah merencanakannya sejak awal?" tanya Digna.
"Ah.. bagaimana ya? Sebenarnya aku juga bingung ini bisa terjadi. Hehe..hehe.." sahut Arya sambil tertawa bodoh.
"Jadi dia semacam sedang mendapatkan keberuntungan tingkat dewa atau semacamnya. Tapi.. sepertinya itu tidak mungkin.." ujar Digna dalam hatinya dengan wajah pucat pasi.
Shinta melihat Arya dengan wajah kagum.
"Dia keren. Ternyata selain jago bermain basket, dia juga bijak. Hebat.." ucap Shinta dalam hatinya melihat tepat ke arah Arya.

Catatan hari ini:
Pilihlah seorang pemimpin bukan sebagai korban, tapi sebagai pelaku. Karena dunia ini bukanlah sebuah game hukuman yang memilih peran dengan sanksi, tapi dunia ini adalah perlombaan dimana semua orang berlomba untuk melakukan yang terbaik.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】