VocaWorld, chapter 141 - Festival Budaya (Penyerangan)

Hari kedua festival budaya akademi Voca dimulai. Dante terlihat berjalan dengan semangat menuju ke kelas 1-B untuk menemui Ray.
"Aniki!" ucap Dante sambil membuka pintu belakang. Namun tidak ada siapa-siapa disana.
"Lah Aniki pagi-pagi begini pergi kemana? Kok tidak ada. Oh iya, aku lupa saat ini saatnya Club Strike!" ujar Dante sambil menutup pintu.
Dante berjalan kembali ke arah kelasnya.
"Tunggu sebentar, Aniki kan tidak ikut klub mana pun. Terus kemana aku harus mencarinya." gumam Dante baru menyadarinya sambil garuk kepala.
Sementara itu di ruang klub light music, Miku, Meiko dan Kaito sudah dalam mode perubahan. Namun mereka men-set power nya pada 0% supaya aman. Dan diantara mereka hanya Gumi yang pakaiannya berbeda dengan biasanya. Dia memakai customization mirip dengan dandanan kemarin.
"Gumi-chan kok pakaiannya serem gitu?" tanya Miku kaget.
"Ini karena kemarin ada yang berhasil menemukan secret path dan menyelesaikan semua challenge. Jadi sekarang aku harus memenuhi permintaan orang itu." jelas Gumi.
"Jadi ada yang berhasil menemukannya?" tanya Meiko.
"Ya." jawab Gumi.
"Eh, apa itu?" tanya Miku yang bingung.
"Hah? Jangan bilang kamu tidak tahu. Setiap kelas kan punya secret challenge. Dan yang berhasil menyelesaikan challenge boleh meminta satu hal pada pemberi challenge." jelas Meiko.
"Eh, memangnya ada ya yang begitu?" tanya Kaito.
Meiko pun cemberut mendengar perkataan Kaito.
"Jadi dia berhasil menyelesaikan challenge lalu meminta Gumi-chan memakai pakaian itu hari ini?" tanya Miku.
"Iya. Dia memintaku untuk terus memakainya hingga festival budaya berakhir." jawab Gumi.
"Siapa orang itu? Apa kami mengenalnya?" tanya Meiko.
"Ti-tidak. Bukan siapa-siapa kok. Bisakah kita ganti topik lain?" sahut Gumi dengan malu dan panik.
"Kenapa Gumi-chan jadi malu gitu? Apa dia pacarmu?" tanya Miku yang juga penasaran.
"Bu-bukanlah!" jawab Gumi.
"Dia adalah Dante-kun, adik dari Ray-kun." ucap Luka yang tiba-tiba muncul di depan pintu ruang klub light music.
Miku dan yang lainnya terperanjat kaget karena Luka tiba-tiba saja ada didepan mereka, padahal mereka tidak melihat kedatangannya.
"Semakin lama kamu jadi semakin mirip dia ya. Muncul tiba-tiba seperti itu." ujar Meiko.
Luka tampak tersenyum mendengar ucapan Meiko.
"Mau apa kemari, Megurine?" tanya Kaito.
"Ada yang harus aku sampaikan pada kalian." jawab Luka.
"Apa itu?" tanya Meiko.
"Kalian mendapat tugas dari Ray-kun di festival hari kedua ini. Ray-kun mengatakan kalau akan ada mata-mata musuh yang hadir bersama para pengunjung. Tugas kalian adalah mengawasi setiap pengunjung dan jangan sampai ketahuan." jawab Luka.
"Wooohhh.. jadi kita akan menjadi agen rahasia gitu?" tanya Miku tampak tertarik.
"Ya seperti itulah." sahut Luka.
"Special agent Miku Hatsune, codename 001 siap membantu!" balas Miku sambil memberi hormat ala tentara.
"Kebanyakan nonton film James Bond nih anak." komentar Kaito.
"Jadi kapan kita mulai?" tanya Miku yang tiba-tiba pakai tuxedo dan kacamata hitam.
"Bagaimana kalau sekarang?" sahut Luka.
"Baiklah. Ayo Watson! Kita pergi!" ujar Miku menoleh ke arah Gumi.
"Kenapa jadi ke Sherlock Holmes!?" protes Gumi.
Miku dan Gumi pun keluar dari ruangan.
"Apa tidak apa-apa membiarkan mereka pergi?" tanya Meiko.
"Tenang saja. Ray-kun sudah tahu ini akan terjadi." jawab Luka.
"Orang itu monster ya." sahut Kaito.
Disebuah apartement, June tampak mondar-mandir dengan wajah yang terlihat kesal.
"Kurang ajar tuh The White Light! Gara-gara dia aku jadi kena marah. Aku tak tahu di kostumku sudah ada pelacak dan penyadapnya yang berguna mengumpulkan informasi. Tapi dia membuatku menyerahkan kostum itu dan bahkan membuatku lupa untuk apa aku kesana. Sialan!" gerutu June.
"Tapi aku juga takkan bisa kembali kesana dengan cara yang sama seperti kata orang itu. Lalu bagaimana aku bisa menyelesaikan misiku?" lanjut June sambil tetap bolak-balik di dalam kamarnya.
"Oh benar juga, kalau aku tak bisa kembali kenapa aku tidak bayar orang saja untuk kesana? Haha.. aku memang jenius." ujar June sambil berhenti bolak-balik.
June pun memenuhi ruangan itu dengan gema suara tertawanya. Nampaknya dia puas dengan ide yang didapatkannya.

Ray sedang berdiri dekat pagar pembatas atap bangunan kelas. Ia melihat seluruh wilayah akademi Voca dari sana. Dengan senyuman diwajahnya ia perlahan meninggalkan atap. Sambil berjalan menuruni tangga dia mengetik sesuatu di ponselnya. Kemudian dia memasukannya kembali ke sakunya. Di tempat lain, Miku sedang berjalan dengan setelan tuxedo nya dan tampak diincar selongsong peluru.
"Dor!" ucap Miku sambil menodong kearah selongsong peluru itu.
"Kenapa aku harus melakukan hal seperti ini?" gerutu Gumi yang tampak melihat Miku melalui sebuah sedotan.
"Hehehe.. kan biar mirip yang di film-film agen rahasia itu lho." sahut Miku sambil tertawa bodoh.
"Terus kita mesti apa sekarang? Festivalnya kan belum dimulai saat ini. Jadi masih sepi." balas Gumi bertanya pada Miku.
"Hmm.. ya kita tunggu saja. Aku yakin mereka takkan menyadari kita jika seperti ini." ujar Miku sambil duduk disebelah Gumi.
"Mana mungkin lah? Dandanan kita mencolok gini. Apalagi kamu tuh. Kelihatan mencurigakan banget." kata Gumi.
"Gumi-chan kurang gaul nih. Di film-film agen rahasia pakaiannya gini kok. James Pyon pakaiannya gini tuh." sahut Miku.
"Yang benar itu James Bond! Lagipula kan itu film. Kalau dikehidupan nyata, mana ada agen rahasia pakai pakaian mencolok gitu." balas Gumi.
"Kalian kelihatannya sudah sangat siap melakukan tugas kalian." ujar Ray yang berjalan mendekati Miku dan Gumi.
Lobi yang masih sepi itu hanya ada mereka bertiga saja yang ada disana.
"Shi-Shiro Ray?!" ucap Gumi.
"Bagaimana menurutmu? Apa aku cocok mengenakan ini?" tanya Miku pada Ray.
Ya, kamu terlihat bagus mengenakannya.. sepertinya.." jawab Ray.
"Kenapa pakai 'sepertinya' segala? Kayak yang tidak yakin gitu!" protes Miku.
"Aku yakin kok. Yakin sekali kalau kamu sepertinya memang bagus memakainya." sahut Ray.
"Cih, kamu mengesalkan!" bentak Miku.
"Kenapa kamu kesal, Hatsune-san? Aku serius mengatakannya. Kamu memang sepertinya bagus jika memakainya, tapi akan lebih bagus jika kamu pakai kostummu sendiri. Karena itulah dirimu, itulah kecantikanmu." jelas Ray.
Miku langsung kaget dengan wajah sedikit memerah.
"Kalian bersikaplah biasa. Jangan terlalu memperlihatkan kalau kalian sedang mengawasi. Good luck!" ucap Ray lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Tak lama datang Dante sambil siap dengan instrument nya. Dia lewat bersama para seniornya di klub visual kei. Dante berhenti saat melihat ada Gumi disana.
"Maaf, senior duluan saja. Aku ada sedikit urusan." pinta Dante.
Para senior pun akhrinya pergi duluan dan meninggalkan Dante. Sementara Dante tampak menghampiri Gumi. Gumi membuang muka saat menyadari Dante mendekat ke arahnya.
"Kenapa dia malah kemari?" gumam Gumi sambil tampak tak peduli pada Dante.
"Yo, Angin Senja." sapa Dante.
Tapi Gumi tak menjawab.
"Sepertinya kau marah padaku karena permintaanku kemarin ya? Haha.. maafkan aku kalau gitu. Aku terlalu execited pada dandananmu kemarin." sambung Dante.
Namun Gumi masih diam dan tak mau bicara.
"Dia beneran marah padaku ya?" pikir Dante.
"Eh, adiknya Shiro Ray! Kenapa kamu meminta Gumi-chan berpakaian seperti sekarang? Bukankah kamu bisa meminta yang lain saja?" bentak Miku.
"Ahahahaha.. aku tak tahu, mungkin karena aku terlalu terkagum saat melihatnya begitu. Dia terlihat begitu manis saat mengenakannya. Apalagi yang hasil custom yang sekarang. Jadi terlihat sangat cocok." balas Dante sambil garuk-garuk kepala.
"Manis darimana! Dia jadi terlihat serem tahu!" jawab Miku.
"Kalau dia memang tidak menyukainya, dia bisa melepasnya sekarang juga dan kembali ke kostum yang biasa." ujar Dante.
Gumi mulai sedikit melirik ke arah Dante.
"Aku juga sudah senang saat ini. Aku senang melihatnya bersedia memenuhi permintaanku meskipun hanya sementara. Kalau begitu, aku pergi dulu. Dah.." ujar Dante berpamitan.
"Dasar dia itu. Meminta hal yang aneh hanya untuk kesenangannya. Mirip dengan kakaknya yang ngeselin itu." gerutu Miku.
Gumi tampak sedikit tercengang mendengar kata-kata Dante sebelumnya.

Luka dan Ray bertemu di bangku dibawah pohon. Mereka duduk berduaan dipagi yang sedikit dingin itu.
"Megurine-san, mendekatlah kemari.." ujar Ray.
"Ada apa?" tanya Luka tak mengerti maksudnya.
"Sudah, kemari saja." pinta Ray.
Luka pun merapatkan tubuhnya ke tubuh Ray. Ray kemudian membagi jaketnya dan menyelimutkan sebagian jaketnya ketubuh Luka. Sehingga saat ini jaket Ray tampak menutup tubuh mereka berdua dari rasa dingin pagi itu.
"R-Ray-kun!?" ucap Luka terkejut dan malu.
"Terima kasih mau menemaniku. Aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu, Megurine-san. Kupikir aku akan menjalani hidupku ini tanpa ada yang bisa mengerti tentangku. Tapi setelah bertemu denganmu, aku jadi mengerti. Kalau didunia ini masih ada yang mau berusaha mengerti meskipun itu hal yang tampak mustahil dimengerti." ujar Ray sambil melihat ke atas.
Mendengar hal itu Luka jadi tidak bisa berkata apa-apa. Luka hanya bisa terperangah karena melihat sisi lain dari Ray yang belum pernah dilihatnya. Luka pun menyandarkan kepalanya dibahu Ray.
"Aku juga sangat bersyukur bertemu dengan Ray-kun. Aku sangat bahagia." ucap Luka sambil tersenyum.
Daun-daun berjatuhan tertiup angin. Ray dan Luka tampak tidak terganggu. Mereka berdua larut dalam dunia mereka sendiri. Waktu semakin berlalu. Meiko dan Kaito terlihat memberikan sentuhan akhir untuk ruang klub mereka. Dante dan para seniornya mempersiapkan panggung diatap sekolah. Lalu ruang auditorium sedang dihias oleh para anggota OSIS.
"Jadi sekarang saatnya menyebar tikus-tikusku! Hahaha.." ucap June dari atap sebuah bangunan melihat akademi Voca dari kejauhan.
"Kuharap kau tidak lupa dengan janjimu." ujar sosok berjubah dari belakang.
"Whoa! Kenapa kau selalu mengagetkanku!" bentak June kaget karena kedatangan sosok itu.
"Aku hanya ingin mengingatkanmu. Batas waktumu hampir habis." ujar sosok itu.
"Tenang saja. Rileks. Aku sedang punya misi disini. Kalau sampai gagal lagi aku takkan diijinkan mengambil pesanan majikanmu itu." kata June.
"Aku tak peduli dengan itu. Pokoknya saat batas waktunya habis, aku akan mengambilnya. Meskipun nyawamu juga akan ikut terambil." ujar sosok itu lalu menghilang.
"Berisik. Kau tidak pantas mengancamku. Aku sedang sibuk disini." ujar June.
Tampak beberapa sosok manusia berjalan ke arah akademi Voca dengan tatapan kosong. Jumlah mereka sekitar 20 orang. Mereka semua menyusup diantara pengunjung yang tampak sudah mengantri.
"Hari ini terlihat lebih ramai ya." ujar Len yang juga sedang mengantri.
"Tentu saja. Saat ini akan banyak hiburan, berbeda dengan kemarin. Setiap klub akan menyerang dengan menghibur setiap pengunjung yang datang." jelas Rin.
"Oohh.. jadi itu alasan disini tertulis Club Strike." sahut Len sambil melihat brosur yang ia bawa.
"Aku penasaran kira-kira apa yang akan ditunjukan oleh Ray-niichan ya?" ucap Rin dengan mata berkilauan.
"Eh Rin, kau lupa ya. Ray-nii kan anggota OSIS. Jadi tak mungkin dia ikut menghibur pengunjung." ujar Len.
"Hah? Yah.. padahal aku ingin lihat Ray-niichan nyanyi." sahut Rin tampak kecewa.
Tak jauh dari situ, Kamui juga sedang mengantri. Beberapa orang dengan tatapan kosong lewat disampingnya.
"Perasaan ini?!" ucap Kamui tampak menyadari sesuatu.
"Pasti karena aku belum mandi pagi tadi." sambung Kamui sambil menciumi ketiaknya memeriksa bau atau tidak.
Orang-orang disekitarnya pun langsung menutup hidung mereka. Saat gerbang dibuka, para pengunjung pun masuk kedalam. Dan Festival Budaya akademi Voca hari kedua pun dimulai.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】