Memo, chapter 11 - Hari Terakhir MOS | part 2

Arya berjalan menuju ke ruang aula. Saat lewat di samping pintu ruangan tersebut, dia mendengar suara teriakan dari dalam.
"Tolong ada kebakaran! Tolong!" teriak seseorang dari dalam.
"Hmm.. ekskul drama ya? Aku sebaiknya tidak ikutan." ujar Arya sambil mempercepat langkahnya.
Kemudian nampak beberapa orang berseragam SMA keluar dari ruangan aula dan berlarian.
"Hei kau, ayo bantu kami!" ujar salah seorang dari mereka.
"Bantu apa?" tanya Arya.
"Tentu saja bantu kami memadamkan apinya!" jawab orang tadi lalu berlari menyusul temannya yang duluan.
Arya yang bingung kemudian menoleh ke dalam ruangan aula. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat diatas panggung tampak sesuatu yang terbakar dan api berkobar makin membesar.
"Beneran kebakaran?!! Kukira cuma akting saja?!" ucap Arya yang terlihat sangat terkejut dibuatnya.
"Apa yang harus aku lakukan? Kalau terlalu lama maka akan makin membesar." pikir Arya.
Kemudian dia melihat ke arah taplak meja dan mengambilnya.
"Hei apa yang kamu lakukan? Jangan seenaknya ambil!" bentak seorang perempuan yang nampaknya seorang senior.
Arya tidak menganggap teguran itu lalu lari keluar.
"Sialan! Mengambil kesempatan didalam kesempitan! Beraninya dia mencuri di saat seperti ini!" ucap senior tadi.
Diluar, Arya langsung menghampiri keran air terdekat dan membasahi taplak meja itu. Kemudian dia kembali ke ruangan aula dan mencoba memadamkan api itu dengan kain basah yang ia bawa. Meskipun butuh waktu, tapi Arya berhasil memadamkannya.
"Akhirnya, berhasil padam juga. Walaupun taplaknya jati hitam-hitam gini." ujar Arya dalam hati setelah menghela napas karena lelah.
"Air datang..!! Padamlah api!!" teriak seorang senior laki-laki yang barusan berlarian keluar.
Senior laki-laki itu tampak membawa ember berisi air dan menyiramkannya tanpa lihat-lihat. Karena api sudah padam, maka saat itu Arya lah yang tersiram air.
"Sial." ucap Arya dalam hati dengan tatapan sayu nampak sedikit kesal.
"A-apinya mana!!!!??" ucap senior itu baru sadar apinya sudah padam.
"Apinya sudah dipadamkan olehnya." jawab salah seorang senior yang masih ada di dalam kelas.
Arya pun berbalik dan menatap sayu ke arah senior yang menyiramnya.
"Ya, aku sudah memad..", "Giliranku!" potong senior lain yang datang dan menyiram Arya lagi.
"..damkan.. nya.." sambung Arya yang kena siram 2 kali.
"Aaaaa?!! Maaf! Kukira kau itu api!!" ujar senior yang menyiram barusan.
"Api apa?!! Darimananya?!!" ucap Arya kesal.
"Apikirin aja sendiri." jawab senior itu.
"Dia ngeselin!!" kata Arya dalam hati.
"Ya sudah kamu ganti saja pakaianmu." ujar senior laki-laki yang pertama nyiram Arya.
"Ganti pakai apa? Aku tak bawa pakaian ganti atau apapun." tanya Arya.
"Disana ada lemari pakaian kostum yang sering kami gunakan saat pentas. Mungkin saja ada yang cocok denganmu." ujar senior itu yang kepribadiannya berubah drastis dari yang tampak konyol jadi dewasa.
"Tapi apa tidak apa-apa aku pakai kostum, nanti bisa dimarahi senior yang lain." sahut Arya.
"Tak perlu khawatirkan hal itu. Aku akan jelaskan pada anggota OSIS." ujar senior itu.
"Hmm.. baiklah." ujar Arya menerima tawaran senior itu lalu menuju ke belakang panggung ruang aula. Disana ternyata ada sebuah ruangan, tepatnya seperti ruangan ganti. Ruangan aula ini memang sering digunakan juga sebagai panggung pentas beberapa ekskul, terutama ekskul drama. Jadi tak aneh jika dibangung ruang ganti dibelakang panggung.
"Hmm.. harus pakai yang mana nih? Kostumnya hampir semuanya abad pertengahan." gumam Arya saat memandang isi lemari itu.
"Tapi lemarinya banyak juga. Sebenarnya punya berapa kostum sih mereka?" sambung Arya sambil melirik ke kirinya masih ada 4 lemari berjajar.
"Apa kamu bingung memilih pakaiannya?" tanya seseorang dari belakang.
Dari suaranya, itu suara perempuan. Arya kaget dan langsung berbalik.
"Kenapa sekaget itu? Apa kamu tak terbiasa berbicara dengan perempuan?" tanya gadis itu yang ternyata senior yang membentaknya saat mengambil taplak.
"Mau apa kemari?" tanya Arya.
"Sebenarnya aku mau meminta maaf. Aku membentakmu dan mengira kamu mau mencuri taplak mejanya. Aku tidak tahu kamu ternyata mau memadamkan apinya. Sekali lagi maafkan aku.." ujar gadis itu berkacamata itu.
"Tadi kamu bilang tidak tahu kan?" tanya Arya.
"Ya." jawab gadis berambut hitam sebahu itu.
"Kalau begitu tak ada yang perlu kumaafkan. Kamu tidak salah karena kamu tidak tahu. Seandainya kamu tahu aku akan memadamkan apinya, kamu pasti takkan membentakku. Benar begitu kan, senior?" kata Arya.
"Y-ya. Tentu saja aku takkan membentakmu." jawab gadis itu.
"Bagaimana dia bisa setenang itu, bahkan disaat genting seperti tadi? Dia lebih dewasa daripada penampilannya." ucap gadis dalam hati dengan wajah memerah.
Arya mulai membuka lemari kedua.
"Disini malah ada pakaian seperti wayang." ujar Arya.
"Sepertinya yang ini cocok untukmu." kata gadis tadi sambil mengeluarkan pakaian dari lemari pertama.
"Pakaian apa itu?" tanya Arya.
"Knight!" jawab gadis itu tersenyum pada Arya.
"Jangan bilang kamu menyuruhku memakai itu." sahut Arya dengan senyuman aneh diwajahnya.
Dengan terpaksa, Arya pun menerimanya.
"Bisakah kamu keluar dulu. Aku tak mungkin ganti dengan kamu berdiri didepanku." kata Arya tampak sedikit malu.
"E.. aa.. ba-baiklah, aku akan keluar.." ujar gadis itu yang juga malu karena sadar situasinya.
Kemudian gadis itu keluar dari ruang ganti. Dan tiba-tiba datang Rere ke ruang aula.
"Hei anak drama! Apa kalian melihat seorang murid baru kemari?" tanya Rere sesaat setelah masuk.
"Murid baru?" ucap senior yang kedua menyiram Arya.
"Iya, dia pendek, jelek, hidup lagi." jawab Rere.
"Penggambaran macam apa itu tadi!? Gak jelas banget." komentar senior itu.
"Apa kau bilang!?" bentak Rere.
"Ma-maaf!" sahut senior itu tampak ketakutan.
"Maafkan Dion, Rere. Dia memang sering nyeleneh seperti itu. Memangnya ada apa kau mencarinya?" tanya senior yang pertama menyiram Arya.
"Kau tak perlu tahu, Luthfi! Ini urusanku dengan anak baru itu!" jawab Rere dengan wajah kesal.
"Eeh? Sayang sekali.. sejak pagi kami belum dapat seorang pun. Meski ini juga masih pagi sih. Hahahaha.." balas senior bernama Luthfi itu dengan gaya konyol.
"Aku tak percaya! Aku bisa mencium baunya disini!" ucap Rere.
"Wah.. hebat sekali. Give her applause. Ini dia Rere si manusia serigala terakhir." ujar Luthfi.
"Diam!" bentak Rere menunjuk ke arah Luthfi.
Luthfi langsung mengangkat tangannya layaknya orang menyerah. Dan saat itu Arya yang memakai baju jirah knight lengkap dengan helmnya keluar dari ruang ganti.
"Mati dah?!!!" ucap Arya dalam hati shock melihat Rere.
"Siapa dia?" tanya Rere pada Luthfi.
Nampaknya helm yang menutupi seluruh bagian wajah itu membuat Rere tidak mengenali Arya.
"Gawat.. aku tidak bisa bilang kalau dia junior. Ada kemungkinan dia itu orang yang dicari Rere. Bisa-bisa ruangan ini makin hancur aja." ujar Luthfi dalam hati ragu untuk menjawab.
"Kenapa diam saja?" tanya Rere lagi.
"Hahaha.. sebenarnya dia adalah.." jawab Luthfi.
"Adalah?" ucap Rere.
"Adalah.." tambah Luthfi.
"Adalah apa?" tanya Rere.
"Hentai Knight!" sambung Luthfi sambil menjulurkan kedua tangannya ke arah Arya.
"Eeehh?!! Apaan tuh?!!" respon Rere yang tak mengerti maksudnya.
"Jangan bilang kata itu! Entar cerita ini tidak lulus sensor untuk 13 tahun kebawah!" larang Dion.
"Hmm.. benar juga. Kalau gitu *tiiiit* knight!" ujar Luthfi.
"Malah makin parah! Entar dikiranya apa kalau pakai sensor itu." ucap Dion sambil memukul-mukul meja.
"Kalau begitu..", "Sudah cukup! Entar jadi makin amburadul!" potong Dion pada ucapan Luthfi.
"Kalian ini seperti biasa selalu berkelakuan konyol. Jadi siapa sebenarnya dia?" tanya Rere lagi.
Arya pun mendekati Rere dan melompat turun dari panggung. Rere heran dan penasaran kemudian mendekati Arya.
"Hei buka helm mu, cepat!" suruh Rere.
"Hahaha.. membuka helm ku? Itu tak mungkin." sahut Arya.
"Hah? Berani sekali kamu bilang gitu." balas Rere tampak memukul-mukul telapak tangannya sendiri.
"Tentu saja aku berani, karena.. sebenarnya aku tak bisa melepaskan helmku!! Helm ini nyangkut dikepalaku!!" ujar Arya sambil mencoba melepas helmnya yang seperti macet.
"Eeehhh?!! Apaan? Jangan bohong!" bentak Rere tak percaya.
"Aku tidak bohong! Perhatikan baik-baik ini!" ucap Arya sambil memegang helmnya dan menariknya keatas.
Arya terlihat kesusahan untuk melepas helm itu. Arya mengeluarkan seluruh tenaganya dan tiba-tiba terdengar suara seperti kentut. Rere langsung menutup mulutnya dan pipinya memerah.
"Hahahaha.. dia kentut, dia kentut karena berusaha membuka helm nya. Hahahaha.." kata Rere sambil tertawa terbahak-bahak.
"Jangan menertawakanku begitu, aku kan jadi malu." ucap Arya sambil malu-malu.
"Apaan malu-malunya kayak gitu, kayak cewek. Haha.. hahahahaha.. sial perutku sakit kebanyakan ketawa.." ujar Rere masih tertawa.
"Aku mau keluar saja deh. Hahaha.. aku tidak kuat melihat dia. Hahahaha.." ujar Rere sambil keluar ruang aula dan pergi.
"Sepertinya sudah aman." ujar Arya membuka tali pengikat dibagian dagu lalu membuka helm itu.
"Hei, apa yang tadi itu kentut beneran?" tanya Dion.
"Tentu saja bukan. Tadi itu hanya sound effect dari senior berkacamata disana." kata Arya sambil menoleh ke arah gadis berkacamata dibelakangnya.
"Isma?" ucap Luthfi.
"Ya, tadi aku meniup kulit lenganku untuk membuat sound effect kentut karena kulihat dia menggeram seperti hendak buang air." jelas gadis bernama Isma itu.
"Hebat, seperti biasa kamu selalu punya inisiatif dalam hal seperti ini." ujar Luthfi.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Pinjam kostumnya dulu ya. Bajuku masih kugantung diruang ganti karena basah." ujar Arya pada Luthfi.
"Oh, silahkan.." sahut Luthfi.
Kemudian Arya pun pergi dari ruang aula.
"Sial aku lupa untuk memberi stempel pada bukunya!" kata Luthfi setelah Arya pergi.
"Ya ampun, kenapa baru ingat sekarang." komentar Dion.

Arya berjalan menuju halaman belakang sekolah. Disana dia duduk dan istirahat bersandar pada sebuah pohon.
"Cape banget. Mesti berpikir keras beberapa kali dalam sehari." ujar Arya sambil menarik napas panjang.
Dia melihat ke arah sebuah tenda yang ada di halaman belakang sekolah.
"Tenda? Tenda apa itu?" ucap Arya saat melihat tenda itu.
"Itu tenda ekskul pramuka." ujar seorang laki-laki berdiri disebelah kanan Arya.
"Keren bukan? Itu buatan kami." ujar laki-laki yang berdiri disebelah kiri Arya.
Arya terdiam sejenak dan tak mengatakan apapun.
"Sejak kapan kalian disana!?" ucap Arya melompat dan berdiri lalu berbalik karena terkejut.
"Jangan membuatnya takut, dia tamu pertama kita." ucap seorang gadis dibelakang Arya.
"Whoa! Bagaimana bisa kamu ada dibelakangku tiba-tiba!? Hantu kah?!" ucap Arya kembali terkejut dan berbalik lagi.
Gadis itu tanpa ekspresi itu pun menampar Arya.
"Kenapa malah menamparku!?" tanya Arya.
"Tidak sopan. Mengatakan pada seorang gadis kalau dia hantu." ujar gadis itu.
Mereka bertiga mengenakan pakaian pramuka lengkap. Mereka bertiga tampak mengepung Arya.
"Ada apa ini?" tanya Arya yang merasakan sesuatu yang tak beres.
Sementara itu di ruangan aula.
"Kita tak tahu namanya siapa. Bagaimana kita akan memberikan stempel pada bukunya nanti?" ucap Luthfi.
"Aku sudah lihat di pakaiannya, namanya Arya Sastrawardhana." sahut Isma.
"Wah.. hebat. Kamu cekatan juga Isma." kata Dion.
"Ma-maaf.. aku ingin menanyakan sesuatu." panggil seseorang dari pintu depan yang terbuka.
Luthfi dan yang lainnya menoleh ke arah pintu depan.
"A-apa para senior melihat seorang..", "Cantik banget!!!" ucap para anggota ekskul drama memotong perkataan gadis itu.
Ternyata itu Alice yang terlihat membawa sebuah buku berwarna biru muda. Dion melompati meja dan berlari ke arah Alice.
"Maukah kamu gabung dengan ekskul drama?" tawar Dion sambil memegang tangan Alice.
"Eh, tidak.. aku.." sahut Alice yang jadi gugup.
"Kamu cantik banget, mirip seorang putri. Begitu pula keanggunanmu, begitu menawan. Kami butuh gadis sepertimu untuk bermain drama bersama kami." ujar Dion menggenggam lengan Alice.
"Ta-tapi aku.. kesini bukan untuk.." sahut Alice makin gugup dan panik.
Tiba-tiba Dion menerima tendangan dari seseorang yang masuk dengan cara melompat. Tendangan tepat diwajah itu mementalkan Dion.
"Jangan berani menyentuh nona muda!" bentak seorang gadis yang tak lain adalah pelayan Alice.
"Nona muda kemari bukan untuk mengikuti challenge kalian, ataupun untuk gabung ekskul drama. Beliau kemari untuk mengembalikan buku seseorang." jelas Ani.
"Buku? Buku siapa?" tanya Luthfi.
"Mmmhh.. disini tertulis.. Nama: Arya Sastrawardhana." jawab Alice.
"Tunggu, coba ulang lagi namanya." pinta Luthfi.
"Arya Sastrawardhana." ujar Alice.
Luthfi menoleh kearah Isma. Isma mengangguk.
"Kemarikan buku itu, aku mau coba lihat." pinta Luthfi.
Alice pun memberikan buku itu kepada Luthfi. Kemudian Luthfi membuka-buka buku itu lalu menyetempelnya.
"Eh? Kenapa senior tiba-tiba memberi stempel di buku itu?" tanya Alice merasa heran.
"Kami berhutang stempel padanya. Tapi dia pergi dan kami lupa meminta bukunya." jawab Luthfi.
"Maksudmu pemiliknya pernah kemari sebelumnya?" tanya Alice lagi.
"Iya. Beberapa menit sebelum kedatanganmu dia pergi." jawab Luthfi.
"Ini, berikanlah padanya. Aku yakin saat ini dia dihalaman belakang sekolah." ujar Luthfi sambil mengembalikan buku berwarna biru muda itu pada Alice.
"Kenapa senior bisa tahu dia ada dihalaman belakang?" tanya Alice.
"Karena aku tahu dia sedang dikejar seseorang." jawab Luthfi.
Alice pun pamit dan pergi menuju halaman belakang. Dion masih terbaring dilantai dan matanya tampak berputar-putar kena tendangan Ani tepat di wajahnya.

Didalam tenda anak ekskul pramuka, Arya terikat dan tiduran di dalam tenda tersebut.
"Hahaha.. jadi aku diculik nih ceritanya. Ampun dah.." ucap Arya dalam hati.
Tak ada gunanya kamu mencoba melepaskan diri. Itu simpul mati. Kamu takkan bisa membukanya. Semakin kamu menariknya semakin kuat ikatannya." jelas seorang senior perempuan dengan wajah tanpa ekspresi yang sudah ada dalam tenda.
"Whoa! Kenapa kalian selalu mengejutkanku. Bagaimana kalian melakukan hal itu?" tanya Arya.
Senior itu diam saja.
"Lagipula kenapa aku diikat seperti ini?" tanya Arya.
"Agar kamu tidak kabur." jawab senior itu dengan singkat.
"Maksudnya?!!!" balas Arya tidak mengerti.
Senior itu diam lagi.
"Cih bagaimana ini. Kakiku juga diikat, aku tak bisa lari. Paling cuma lompat-lompat saja." pikir Arya.
"Sekarang kamu tinggal disini, sampai banyak yang datang baru kamu aku lepaskan. Nanti aku kasih stempel. Tenang saja." ujar senior itu.
"Hah? Jadi aku harus diam disini terikat sampai ada yang datang?! Bagaimana jika tidak ada yang datang!?" tanya Arya.
"Ya kamu mesti disini sampai waktu nya habis. Terikat.. sendirian.." jawab senior itu dengan tatapan tajam.
Arya ketakutan dan wajahnya shock.
"Jadi aku harus terikat gini selama berjam-jam?!!" pekik Arya dalam hati.
"Tapi tak apa sih, aku sudah cape jalan-jalan terus." tambah Arya.
Lalu datang si mata sipit ke halaman belakang sekolah.
"Haha.. setelah beberapa ekskul aku taklukan giliran ekskul pramuka. Hahaha.." ujar si mata sipit.
"Selamat datang..", "Di tenda tantangan.." ucap dua orang senior laki-laki berpakaian pramuka yang tiba-tiba muncul di belakang si mata sipit.
"Waaaaaaaaa....!!!!" teriak si mata sipit terkejut sampai terperanjat dan lari ke halaman belakang menjauh gedung sekolah lalu berbalik.
"Se-se-sejak kapan kalian ada disana?!!" ucap si mata sipit.
"Sejak kapan? Sudah daritadi kami disini." ujar senior perempuan.
"Aaaaaa!!! Kuntilan.." sebelum menyelesaikan kata-katanya, si mata sipit kena tampar senior itu.
"Tidak sopan!" kata senior itu.
"Anu.. maaf mengganggu.." ucap Alice yang datang kesana.
"Cantiknya.. siapa dia!??" ucap para senior melihat Alice.
Para senior pun berlari ke arah Alice.
"Maukah kamu jadi anggota kami? Pramuka kekurangan anggota soalnya. Lihat saja. Cuma kami bertiga." pinta senior laki-laki yang pertama.
Tampak dibajunya ada nama, Siman Simajuntak.
"Kami butuh seseorang sepertimu jadi anggota. Supaya banyak yang masuk ke ekskul pramuka." ujar senior laki-laki yang kedua.
Dibajunya ada nama, Karman Tridaksa.
"Jadi dengan kata lain kalian mau memanfaatkan nona muda?" ujar Ani yang ternyata ada dibelakang Alice.
Para senior itu menoleh ke arah Ani. Ani terlihat tersenyum menyeramkan.
"Menyeramkan.." ujar kedua senior itu.
"Mati!!!" pekik Ani kemudian menyerang para senior itu membabi buta.
Siman dan Karman pun lari ke arah senior perempuan yang nampak berdiri dengan santai. Ani melompat hendak menyerang mereka bertiga.
Apa?!" ucap Ani yang meyadari senior perempuan yang didepannya ternyata menghilang.
"Teknik rahasia, simpul pengikat iblis!" ucap senior perempuan yang sudah ada dibelakang Ani.
Ternyata saat itu tubuh Ani sudah terikat oleh tali tambang yang ujungnya dipegang oleh senior perempuan itu.
"Hebat! Ketua memang hebat!" ujar Siman.
"Seperti biasanya sangat menakjubkan." tambah Karman.
"Mereka menyeramkan! Ekskul pramuka macam apa ini?!! Sepertinya aku tak bisa menaklukan tantangan mereka." pikir si mata sipit saat melihaf kejadian itu.
"Aku cuma mau bertanya, kenapa selalu jadi begini akhirnya." gumam Alice yang nampak sedih.
"Siman, Karman, cepat lepaskan ikatan orang yang ada di dalam tenda dan bawa kemari." suruh senior perempuan itu.
"Baik ketua." sahut mereka berdua.
"Sebaiknya aku gunakan kesempatan ini untuk melarikan diri. Bodo amat dengan stempel, yang penting selamat." ujar si mata sipit dalam hati sambil mengendap-endap.
Tapi sepertinya senior perempuan itu menyadarinya.
"Sial, lari saja dah!" ucap si mata sipit langsung lari saat senior perempuan itu menoleh padanya.
"Takkan kubiarkan!" ucap senior perempuan yang nampak berlari dan melompat kesamping lalu melempar jerat.
Jerat yang dilemparnya berbentuk 2 bandul yang tersambung oleh sebuah tali. Lemparan jerat itu pun membuat si mata sipit terjatuh karena kedua kakinya terjerat dan langsung terikat dengan kuat.
"Takkan kubiarkan satu orang pun lari dari tantangan kami. Sekali kamu masuk wilayah singa, maka siap-siap lah untuk diterkam." ujar senior perempuan yang tampak dibajunya ada nama Rika Miyamoto.
Arya dibawa keluar dari tenda oleh Siman dan Karman. Dia terkejut melihat Ani tepat saat keluar dari tenda.
"Eh?" ucap Arya sambil tersenyum aneh.
"Ternyata ada kau. Pantas saja aku dan nona muda kena sial." ujar Ani saat melihat Arya.
"Haha.. kamu kira aku ini semacam pembawa sial kah?" sahut Arya.
"Selamat datang di tenda tantangan ekskul pramuka. Bersiaplah menerima tantangan berat dari kami." ucap Rika dengan tatapan yandere.

Bersambung ke part 3..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】