Posts

Showing posts from March, 2014

VocaWorld, chapter 34 - Apakah Memang Untuk Uang?

Dante hari itu terlihat sedang semangat. Dia masuk ke ruang klub visual kei sambil membawa gitarnya dan berjalan dengan senyuman diwajahnya. "Senpai! Akhirnya aku mendapatkan uang untuk mendaftar festival itu." ujar sambil membuka pintu. "Apa?" ucap ketua klub itu yg botak dengan badan tinggi besar itu sambil menoleh. Tatapan ketua botak itu terlihat seram ditambah dengan cahaya di ruangan itu yg minim. Hanya ada cahaya ungu dari lampu yg berbentuk lingkaran dengan bintang di tengahnya. "Whooaaa.. maaf ketua, aku baru dapat uangnya hari ini!" sahut Dante ketakutan. Ketua botak pun bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Dante. Dia berjalan sambil melihat ke arah Dante dengan wajah seram. "Dante..." ucap ketua botak dengan suara besar. "Y-ya.." sahut Dante wajahnya keringatan. "Syukurlah.. ayo masuk kita hitung uang hasil ngumpulin kita." ujar ketua botak sambil nepuk punggung Dante dan tersenyum. Dante melihat ke...

VocaWorld, chapter 33 - Pelangi Setelah Badai

Langit di Voca town dipenuhi gelombang riak air. Miku dan Gumi yg sedang berjalan kaki pulang sekolah tak sadar akan hal itu. Mereka malah asik ngobrol. "Gumi-chan kontrakannya kayak gimana sih?" tanya Miku yg penasaran. "Hmm.. tak ada yg istimewa. Yg jelas sempit dan biasa aja. Cuma itu." jawab Gumi. "Yah.. kok kamu betah tinggal di tempat itu?" tanya Miku. "Ya tak apa kan? Yg penting kan bersih." jawab Gumi lagi. "Iya juga sih." sahut Miku. Tanpa mereka sadari, dari gelombang riak air diatas mereka keluar minor. Lalu minor itu mendarat di hadapan mereka. Miku dan Gumi pun terkejut melihatnya. "Minor?! Tapi cuma satu, gampang.." ucap Miku saat melihatnya. "Kamu salah, Miku-chan. Mereka ada dimana-mana." sahut Gumi yg melihat ke sekitar. Ternyata di sekitar mereka sudah ada banyak minor. Banyak sekali, dari mulai di jalanan hingga ke atas gedung. "Sebanyak ini? Bagaimana cara kita mengalahkannya?!!...

VocaWorld, chapter 32 - Tanda Badai

Siang itu, saat istirahat siang di akademi Voca. Luka berjalan cepat menuruni tangga dan segera menuju ke kelas 1-B. "Aku harus menanyakannya pada Miku? Apa maksudnya? Ray-kun itu, dia suka sekali membuatku memutar otak." gerutu Luka dalam hatinya sambil berjalan cepat. Kemudian Luka pun masuk dari pintu depan dan menengok pada meja nya Ray. "Dia tidak ada. Kemana dia?" ucap Luka yg melihat tak ada Ray disana. Lalu ia melihat Miku dan Gumi sedang mengobrol. "Apa harus kutanyakan saja? Tapi, bagaimana kalau dia menanyakan alasannya? Tak mungkin aku menjawab kalau Ray-kun memberi surat aneh dan aku tak tahu artinya." ujar Luka dalam hatinya bimbang. Namun pada akhirnya Luka memberanikan diri dan menghampiri Miku. "Mi-Miku-chan.. bisa bicara sebentar?" tanya Luka dengan sedikit malu. "Luka-oneesama?" ucap Gumi terkejut melihat Luka. "Megurine-senpai? Ada apa?" sahut Miku. "Ada sesuatu yg ingin aku tanyakan." j...

VocaWorld, chapter 31 - My Queen

Ray dan Luka ada di depan sebuah rumah kecil di lereng gunung. Di depan rumah itu ada kakek dan nenek duduk diatas kursi berhadapan. "Apa maksudmu, Ray-kun?" tanya Luka pada Ray tak mengerti. "Kakek Taka, nenek Toko, tolong mainkan sebuah lagu untuk kami." suruh Ray pada kakek nenek itu. "Baik, Shiro-kun.." sahut kakek nenek itu. Kemudian mereka pun memainkan sebuah musik spanyol menggunakan gitar dan marakas. "Apa kamu sudah mengerti sekarang, Megurine-san?" tanya Ray sambil menghadap ke arah Luka. "A-apa ini? Melodi ini, membuatku teringat akan sesuatu." ucap Luka dalam hatinya saat mendengar alunan musik itu. "Ini adalah lagu pertama yg membuatku bisa melakukan elegant dance." ucap Luka yg teringat masa lalunya. "Kenapa kamu menyuruh mereka memainkan itu, Ray-kun?" tanya Luka. "Bukankah sudah jelas, inilah permintaanku padamu. Ajari aku melakukan elegant dance." jawab Ray. "Ray-kun tidak b...

VocaWorld, chapter 30 - The Elegant Queen

Hari sabtu malam, tepatnya malam minggu. Di rumah danau, Ray terlihat hendak pergi ke suatu tempat. "Aniki, mau kemana malam-malam gini?" tanya Dante yg sedang bakar ikan di pinggir danau. "Aku ada urusan sebentar dengan wakil ketua OSIS." jawab Ray yg terlihat memakai jaket warna hitam nya. "Eh, mau nge-date atau gimana maksudnya?" tanya Dante sambil senyum-senyum mengejek. "Tentu saja bukan. Aku tak mungkin memiliki hubungan seperti itu dengannya. Saat ini, tidak diperlukan hubungan seperti itu. Karena akan mengganggu misi kita nantinya." jawab Ray agak kesal. "Ya-ya.. terserah Aniki saja." sahut Dante. Sementara itu di kediaman Megurine, di kamarnya Luka tampak gadis berambut pink sedang membenarkan rambutnya. Dia melihat-lihat apa rambutnya tampak acak-acakan apa enggak. "Ada apa dengan Ray-kun? Dia tiba-tiba mengajakku ketemuan." kata Luka dengan wajah memerah membenarkan poni rambutnya depan cermin. "Lagipul...

VocaWorld, chapter 29 - Mengalahkan Major

Major yg dijatuhkan oleh Miku dan Gumi dengan susah payah itu bisa bangkit lagi dan kembali berdiri tegak. "Ti-tidak mungkin?!" ucap Gumi terkejut melihat hal itu. "Sebenarnya terbuat dari apa major itu? Serangan tadi itu sama sekali tidak mempan?" ujar Miku yg juga terkejut dan tak percaya. "Tampaknya tubuh major itu seperti sebuah gelembung yg sangat kuat. Itu terlihat dari bentuknya yg kembali semula walau sudah di serang berulang kali. Bukan karena keras, melainkan karena fleksibel." ujar Ray sambil tersenyum. "Maksud aniki?" tanya Dante. "Bisa dibilang, dari lapisannya yg lebih kuat major itu layaknya balon. Untuk memecahkannya kamu harus membuat tekanan didalam meningkat atau kamu harus punya benda yg tajam atau panas." jelas Ray dengan terlihat yakin. Major itu mulai menyerang Miku dan Gumi lagi. Dengan tenaga yg tersisa Miku dan Gumi masih bisa menghindarinya. Namun entah sampai kapan mereka akan begitu, karena mereka hamp...

Memo, chapter 2 - Bangun Pagi

Hari ini adalah hari pertama Arya untuk MOS. Kadang bangun pagi bisa jadi masalah karena terlalu ingin bangun tepat waktu. Jam 4 pagi Arya pun bangun. "Aahh.. ini masih terlalu pagi. Kenapa aku bangun lebih awal daripada alarm ku?" keluh Arya yg kemudian kembali memejamkan matanya. Arya pun tertidur lagi. Dan sekitar pukul 5.30 dia terbangun kembali. "Ah.. setengah jam lagi dah, kagok." ucapnya sambil menarik samping sarung nya dan kembali tidur. Jendela terlihat semakin terang oleh cahaya matahari pagi. HP nya Arya berbunyi tanda alarm jam 6 pagi. Namun, Arya tertidur pulas. Dan sekitar pukul 6.40 Arya pun bangun karena alarm tunda HP nya. "Sudah jam berapa sekarang?" ucapnya sambil melihat jam di HP nya. Melihat sudah lewat dari waktu semestinya Arya pun shock. "Apa?!!" ucap Arya yg terkejut ala sinetron. Dia pun meloncat dari kasur dan langsung ke kamar mandi. "Sialan kenapa alarm ku berbunyi pukul 6.40, padahal aku set pukul 6.0...

VocaWorld, chapter 28 - Major

Di rumah Miku, Miku yg sedang nonton drama dikejutkan dengan berita yg memotong acara drama tersebut. "Malam ini di tengah kota muncul raksasa berwarna hitam bermata satu. Raksasa itu mengamuk dan menghancurkan bangunan-bangunan di sekitarnya." ucap reporter di berita tersebut. "Meiko-san, aku keluar sebentar." ujar Miku yg bergegas berlari keluar dan memakai earophoid nya. Miku berlari ke arah kota dan berubah. Setelah berubah dia pun melompat-lompat untuk menambah kecepatannya. Di tempat lain, Ray dan Dante yg sudah dalam keadaan berubah sedang melompat-lompat diatas gedung. "Berapa lama lagi Aniki?" tanya Dante yg tak sabar untuk menghadapi monster itu. "Major ini berada di dekat laut. Sekitar 3 KM lagi. Bersabarlah.." jawab Ray yg berada di sebelahnya. Ray dan Dante pun menambah kecepatannya. Ternyata itu adalah dark sider tipe major kalau menurut dugaan Ray. "Aniki, lihat! Itu gadis berkuncir 2!" ujar Dante yg melihat Miku ...

VocaWorld, chapter 27 - Pelatihan

Miku berlari melesat ke arah gerombolan minor. Dia memakai earophoid yg sejak tadi ada di lehernya. "Start up! Vocaloid system: on! Power: 100% Cheers!" ucap Miku yg kemudian berubah wujud. Dari kejauhan, Ray dan Dante melihat Miku yg sedang bertarung melawan minor. "Aniki, jangan bilang kalau Aniki melatihnya." ujar Dante. "Sayapnya takkan pernah berkembang kalau ia tak pernah belajar terbang." jawab Ray. "Dance: Rolling Girl!" ucap Miku yg kemudian berputar ke kiri. Miku menendang salah satu minor hingga minor itu terpental jauh dan menabrak minor yg lain. Miku menangkap salah satu minor dan memutar-mutarnya menghantam minor-minor yg lain dan kemudian melemparnya ke atas. Lalu Miku melompat menyusul minor itu dan ditendangnya ke bawah. Minor itu pun menghantam para minor lain yg ada dibawahnya dan semuanya pun menghilang. Namun masih tersisa banyak minor yg lain. Miku yg kembali mendarat di tanah kembali di kelilingi oleh minor. Miku pun ...

VocaWorld, chapter 26 - Mimpi Jadi Pahlawan

Di Voca town, tengah hari itu tampak sangat kacau. Kepulan asap terlihat di gedung-gedung dan orang-orang berlarian. Dari balik fatamorgana karena panasnya suhu siang itu banyak sekali minor yg sedang berjalan menuju ke tengah kota. "Aaaaa.. tolong!" ucap orang-orang yg sedang berlari ketakutan. Tiba-tiba ada yg melesat turun dan jatuh ke tengah-tengah kerumunan minor. Saking kerasnya sampai terjadi dentuman sehingga aspal retak dan beberap minor terhempas dan hilang. "Apa itu tadi?" tanya salah seorang yg sedang berlarian yg melihatnya. "Itu adalah pahlawan super, Miku Miku-nyan." sahut orang di sebelahnya. Terlihat gadis berambut twintail berwarna hijau kebiruan berdiri diatas jalan aspal retak. Rambutnya tertiup angin dan dia berpose keren dg menaruh kedua tangannya di pinggulnya. "Aku adalah sang pahlawan, putri ceria yg tersenyum seindah rembulan, Miku Miku-nyan!" ucap gadis itu yg ternyata adalah Miku yg dalam keadaan berubah. "...

VocaWorld, chapter 25 - Persiapan

Saat pulang sekolah hari itu, Miku, Gumi, Meiko dan Kaito sedang ada di ruangan klub. Tapi tiba-tiba speaker pun berbunyi. "Kepada Miku, Gumi, Meiko dan Kaito, diharap menghadap wakil ketua OSIS di ruang serbaguna. Sekali lagi kepada Miku, Gumi, Meiko dan Kaito diharap segera menghadap wakil ketua OSIS di ruang serbaguna." kata orang lewat speaker itu. "Ada apa lagi ini? Kenapa dia memanggil kita lagi?" ucap Kaito setelah mendengar pengumuman itu. "Kalau begitu kita samperin aja biar jelas." sahut Meiko. Lalu mereka berempat pun menuju ruang serbaguna. Dan mereka mendapati Luka sedang berdiri di dekat jendela. "Megurine, ada apa tiba-tiba memanggil kami?" tanya Kaito. "Jangan langsung marah, ayo duduk dulu." sahut Luka dengan santai. Kemudian mereka berempat pun duduk dengan di kursi yg sudah di sediakan sebelumnya. Kemudian Luka menurunkan layar putih, dan menutup semua jendela dengaj tirai. Ruangan pun jadi gelap. "Saat i...

VocaWorld, chapter 24 - Cahaya Menembus Waktu

Pagi yg cerah di akademi Voca, saat ini adalah pergantian jam belajar. Di kelas 1-B, Miku dan Gumi sedang ngobrol sambil nunggu guru datang. "Gumi-chan, kemarin drama nya seru banget ya?" ujar Miku. "Jangan bilang itu drama 'Notice Me, Senpai' lagi." gerutu Gumi. "Hmm.. memang kenapa? Kemarin kan episode nya seru banget. Walau Miki nya ternyata gak jadi ngajak Kaido-senpai kencan. Kapan sih Kaido-senpai bakal nyadar? Bikin greget aja.." ujar Miku. "Hehe.. begitukah?" sahut Gumi sambil senyum kepaksa dan melirik ke arah lain. Lalu tiba-tiba pintu kelas dibuka. Lalu masuk lah guru yg memakai kaca mata hitam, rambut ikal panjang dan memakai ikat kepala mirip rocker. "Hallo everyone! Namaku Candil-sensei! Guru paling rock di akademi ini!! Yeah!!!" ujar guru yg bernama Candil itu dengan nada tinggi. "Whoa.. apaan nih? Rasanya telingaku seperti terkena gelombang kejut." komentar salah seorang murid. "Telingaku p...

VocaWorld, chapter 23 - Serpihan Memori

Saat pulang sekolah, Luka terlihat sedang berdiri dekat gerbang sekolah. Tidak berapa lama Ray terlihat sedang berjalan menuju gerbang. "Ray-kun.." panggil Luka sambil melambai ke Ray. "Ada apa dengannya? Kukira dia akan membenciku setelah mengetahui semuanya." gumam Ray sambil berjalan. "Ada apa, Megurine-san?" tanya Ray saat sampai di depan Luka. "Ayo kita pulang bareng." ajak Luka. "Hah?" ucap Ray terlihat heran. "Ayo, soalnya ada yg mau aku bicarakan denganmu." sahut Luka. Kemudian akhirnya mereka pun pulang bersama. Meleka berjalan bersampingan. "Jadi, apa yg mau kamu bicarakan? Bukankah kamu sudah mengerti semuanya, Megurine-san?" tanya Ray. "Ya memang aku sudah mengerti tentang apa yg Ray-kun katakan. Tapi, ada satu yg tak ku mengerti." jawab Luka sambil tertunduk. "Apa itu?" tanya Ray. "Kalau memang tujuanmu itu memusnahkan Dark Sider, kenapa kamu harus meledakan dan studio...