VocaWorld, chapter 9 - Pekerjaan Apakah Itu?

Satu jam sebelum kejadian di apartement, saat Ray dan Dante meninggalkan gedung auditorium.
"Kita ada kerjaan." ucap Ray.
"Kerjaan?" sahut Dante tak mengerti.
"Ya, kita harus memastikan ketua OSIS tidak akan mengacau lagi. Atau bisa dibilang, kita harus membereskannya." jawab Ray sambil tersenyum.
"Oh begitukah? Jadi maksudnya pekerjaan yg itu. Tapi Aniki, bukankah ini terlalu dini?" ujar Dante tampak kurang setuju.
"Ya, aku juga tak menyangka akan secepat ini melakukannya." sahut Ray sambil menatap langit.
"Namun, mau bagaimana lagi. Kita tak punya pilihan lain." sambung Ray sambil meneruskan langkahnya.
Dante pun mengikutinya dari belakang.
"Lakukan sesuai intruksiku. Dan bawa lah lap atau sapu tangan. Oh ya, aku juga butuh kulit pisang itu." suruh Ray yg kemudian menunjuk kulit pisang di kepala Dante.
"Baiklah." jawab Dante yg lalu melempar kulit pisang itu.
Ray pun menangkapnya. Lalu mereka berdua pun menyelinap kembali ke kelas dan mengambil jaket di tas mereka masing-masing. Ray memakai jaket hitam, sementara Dante memakai jaket putih. Dan mereka juga membawa sebuah headphone dengan warna kebalikan dari jaket mereka. Dan kemudian mereka keluar dari area sekolah secara diam-diam. Mereka berjalan bersama dan berpisah di persimpangan.
"Sesuai instruksi Aniki, sekarang saatnya aku untuk berubah. Hehe.." ujar Dante yg lalu memakai headphone nya.
"Start up!" ucap Dante dan lampu di headphone nya menyala.
"Vocaloid system: on!" ucap Dante yg kemudian lampu di headphone nya berwarna kemerahan, begitu pula warna matanya.
"Power: 50%" ucap Dante lagi sambil menghentikan langkahnya dan memejamkan matanya.
"Let's rock!" teriak Dante yg kemudian di kelilingi api kemerahan.
Warna merah api itu perlahan di bungkus oleh warna kehitaman dan menyatu dengan tubuh Dante. Lalu api itu pun hilang. Dan tampak Dante telah berubah. Jaketnya yg berwarna putih itu berubah menjadi berwarna merah dengan motif api hitam. Headphone nya kini berwarna hitam.
"Wah.. sudah lama juga aku tak merasakannya. Tapi aku tak bisa membuang waktu. Ini saatnya aku beraksi." ujar Dante yg sudah berubah kemudian dia melompat dengan sangat cepat sehingga terlihat seperti menghilang.
Sementara itu tampak Ray sedang membawa sebuah pancingan.
"Semoga dia tidak terlalu berlebihan melakukannya." gumam Ray.
Tampak ada sebuah ledakan di atas gedung sebuah mall.
"Hahaha.. tepat seperti dugaan Aniki. Dia pasti berada di tempat ini." ujar Dante sambil hinggap di sebuah tiang listrik.
Tampak dari atas gedung sosok laki-laki memakai seragam akademi Voca dan bandana OSIS di tangannya.
"Tak kusangka, ketua OSIS akademi Voca punya kekuatan seperti itu. Tapi kalau hanya itu saja, takkan bisa mengalahkanku." ujar Dante sambil bersiap melompat.
Dante melompat sangat cepat, dan dalam sekejap muncul di depan ketua OSIS.
"Dance: Brutal" ucap Dante, lalu cahaya merah kehitaman menyelimutinya.
Dia pun berhasil mendaratkan pukulannya di wajah ketua OSIS. Lalu tidak sampai disitu, Dante terus melancarkan serang bertubi-tubi dengan gaya brutal. Dia menggunakan kepala, sikut, telapak kaki, tepatnya apapun yg tidak biasanya digunakan untuk menyerang dia malah menggunakannya. Namun ketua OSIS mampu menghindari serangan terakhir Dante, dan dia menghindar ke arah sebuah jembatan. Dia mendarat diatas batang besi bagian atas jembatan itu.
"Saat dia mendarat diatas jembatan, kamu harus mesti dibawahnya." ucap Ray dalam ingatan Dante.
Dante mengingat instruksi Ray saat berjalan sebelum berpisah di persimpangan. Kemudian Dante pun mendarat di bagian bawah jembatan sesuai instruksi Ray.
"Lalu melompat tepat ke arah tempat berdiri, tapi coba meleset sedikit." ujar Dante menyamakan perkataannya dengan perkataan Ray dalam ingatannya.
Dante pun melompat ke arah ketua OSIS dan hal itu membuat ketua OSIS menghindar ke belakang.
"Keluarkan instrument, dan lakukan slashing." ucap Dante menyamakan dengan Ray di ingatannya lagi.
"Instrument: Devil Bone Guitar" ucap Dante yg kemudian keluar api hitam yg berputar diagonal.
Dan keluar juga api yg meledak dalam bentuk horisontal. Api yg diagonal menjadi tali, sementara yg horisontal kemudian menghilang dan menjadi gitar listrik.
"Devilish Slash!" teriak Dante sambil memainkan sebuah melodi dan menggoyangkan ujung gitarnya membentuk sabit.
Lalu keluarlah api hitam berbentuk sabit dan melesat ke arah ketua OSIS yg sedang melompat ke belakang. Ketua OSIS pun terkena api hitam itu dan terpental ke sungai yg ada di bawahnya. Akibatnya itu membuat air sungai itu membuat gelombang yg cukup besar.
"Sudah kubilang untuk tidak berlebihan, tapi tetap saja." ucap Ray yg sampai di pinggir sungai tempat jatuhnya ketua OSIS.
Kemudian beberapa saat kemudian tubuh ketua OSIS terlihat mengambang. Dan Ray pun mengayunkan pancingan itu dengan sekuat tenaga ke tengah sungai, dan kail pancing itu pun menyangkut dibaju ketua OSIS. Lalu Ray menarik ketua OSIS ke pinggiran.
"Nampaknya dia hanya pingsan." ucap Ray yg memeriksa ternyata ketua OSIS masih bernapas.
"Aniki! Bagaimana kerjaku tadi?" tanya Dante yg baru sampai di tempat Ray.
"Berantakan!" bentak Ray sambil menjitak Dante.
"Bukankah sudah ku peringatkan untuk tak terlalu menarik perhatian." ujar Ray dengan menatap tajam ke arah Dante.
"Maaf-maaf, soalnya ini sudah lama sejak aku menggunakan kekuatan ini lagi." ucap Dante sambil tersenyum bodoh.
"Hmm.. begitukah. Baiklah, untuk saat ini kamu akan ku maafkan. Sekarang bawa dia ke apartement nya." suruh Ray.
"Eh, membawanya? Kenapa? Kita biarkan disini saja." tolak Dante.
"Hah? Kamu mau membantah perintahku?" ujar Ray sambil menatap Dante dengan tatapan dingin yg menyeramkan.
"Oke Aniki! Laksanakan!" teriak Dante sambil memanggul tubuh ketua OSIS dan lari meninggalkan tempat itu.
"Oh ya Dante, untuk mengetahui tempat tinggal ketua OSIS, lihat di tempat yg sudah aku tandai. Aku sudah menyelidiki tentangnya." ujar Ray sambil membereskan pancingan.
"Siap, Aniki!" sahut Dante.
Kemudian Dante melihat ada jalur listrik berwarna keperakan dan dia pun mengikutinya. Dan jalur listrik yg ia ikuti perlahan menghilang bertepatan saat dia lewat. Jalur listrik itu mengarah ke apartement. Dante terus berlari dan mengikutinya dan sampailah di lantai atas apartement itu. Terlihat jalur listrik itu berujung di sebuah pintu.
"Jadi itu pintu kamarnya." ujar Dante sambil membuka pintu.
Kemudian Dante masuk dan mencari-cari kamar.
"Salah!" ucap Dante saat masuk kamar mandi.
"Bukan." ujar Dante saat masuk ke dapur.
Namun tiba-tiba ada yg membuka pintu. Dan terlihatlah sesosok gadis.
"Sial, bagaimana ini? Apa aku harus lari? Atau.." ujar Dante dalam hatinya panik.
Namun nampaknya gadis itu ketakutan dan berjalan mundur. Lalu dia terpeleset dan jatuh. Dante terkejut, dan dia mau melihat ke bawah, namun dia harus meletakan tubuh ketua OSIS dulu di kamar. Setelah itu dia berlari menuju ke pintu depan. Saat menginjak becekan, dia ingat sesuatu.
"Aniki, apa yg harus ku lakukan dengan lap ini?" tanya Dante.
"Gunakan untuk mengelap becekan dan bekas sepatu." jawab Ray.
"Hah?! Apa maksudnya?!! Apa hubungannya dengan kerjaan kita?!" ujar Dante yg kaget mendengarnya.
"Sudahlah, nanti juga kamu tahu." sahut Ray.
Itulah yg ada dalam ingatan Dante saat itu, percakapan mengenai instruksi dari Ray.
"Ya ampun, kenapa dia bisa mengetahui semua hal ini?" gerutu Dante sambil kembali ke wujud awal dan membersihkan becekan itu sampai ke bekas sepatu yg ada di depan pintu.
Sedangkan Ray sedang menyiapkan kulit pisang yg ia bawa, dan melakukan tendangan kecil di kulit pisang yg ia letakan untuk membuat bekas terpeleset. Itu sebelum Luka terjatuh. Ray juga mundur ke belakang beberapa langkah.
"Start up! Vocaloid system: on!" ujar Ray saat menggunakan headphone nya.
"Power 100%. Shining!" ucap Ray bertepatan dengan tubuh Luka yg hampir sampai menimpa tubuhnya.
Dan ia berubah dalam sekejap, menangkap tubuh Luka, kemudian menjatuhkan dirinya secara perlahan, dan kembali ke wujud awal.

Dan itulah yg terjadi dari satu jam lalu sampai sekarang. Saat ini Luka dan Ray masuk ke dalam apartement ketua OSIS.
"Nampaknya aku memang berhalusinasi." ucap Luka dalam hatinya saat memeriksa tak ada becekan di pintu masuk.
Kemudian mereka pun masuk ke kamar ketua OSIS.
"Kenapa kita masuk tanpa permisi dulu?" tanya Ray.
"Oh iya, aku lupa." ujar Luka.
"Permisi.. ketua.. apa kamu ada di dalam? Ini aku Luka.." ucap Luka sambil menutup pintu dari dalam.
Kemudian Luka memerika ke kamar, dan mendapati ketua OSIS tertidur di dekat pintu kamar dengan baju basah.
"Sial, Dante nampaknya lupa perintah terakhirku." ujar Ray dalam hatinya.
Luka tampak terkejut dan berlari ke arah ketua OSIS.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】