VocaWorld, chapter 5 - Percayalah

Suasana di dalam kelas 1-B tampak hening. Hanya ada 3 orang yg baru ada di kelas tersebut. Tidak lain adalah Miku dan Gumi yg berdiri di dekat pintu depan, dan Ray yg sedang duduk di bangkunya dekat pintu belakang kelas.
"Sedang apa kau disini hah?" tanya Miku dengan nada preman.
"Bukankah sudah jelas, kelasku juga disini." jawab Ray dengan santai.
"Ja-jadi kamu satu kelas denganku?!! Tidak mungkin!!! Aku tak mau satu kelas dengan penipu!" teriak Miku tampak kesal.
"Penipu apa maksudnya?" tanya Ray tidak mengerti.
"Miku-chan, bukankah dia sudah jujur. Kelas 1-B benar-benar ada kan?" bisik Gumi.
"Ta-tapi bagaimana kalau dia berbohong kalau kelas kita benar-benar disini. Bagaimana kalau kita mendapatkan kelas yg lain?" jelas Miku dengan berbisik.
"Kalian tenang saja, aku takkan berbohong pada kalian. Apakah tampangku ini tampak seperti seorang pembohong?" ujar Ray sambil menunjuk wajahnya.
"Senyummu itu mencurigakan tahu!" bentak Miku sambil nunjuk ke arah Ray.
"Begitu rupanya. Ya, mungkin saat ini aku memang tersenyum palsu, namun perkataanku tidak." jelas Ray.
"Apa kau bisa menjaminnya?" tanya Miku masih tampak kesal dan menatap tajam ke arah Ray.
"Kalau tidak percaya tunggu saja sampai wali kelas datang dan mengabsen kita." jawab Ray dengan santai.
"Itu sama aja bunuh diri. Kami bisa malu karena salah kelas!" bentak Miku.
"Kalau kalian malu, itu resiko kalian kan?" jawab Ray lagi.
Kemudian Miku berlari ke arah Ray karena tidak tahan menahan kekesalannya. Ray masih tampak santai duduk di kursinya. Miku mencoba meraih kerah baju Ray, tapi kemudian Ray mencondongkan tubuhnya ke belakang sehingga kedua kaki depan kursinya terangkat. Kemudian memutar kursi itu dengan bertumpu pada satu kaki belakang kursi tersebut. Dia berputar ke kanan, masih dalam posisi duduk di kursinya. Hal itu membuat dia dalam posisi membelakangi pintu belakang kelas dan berada di samping Miku.
"Apa?!" ucap Miku kaget.
Kemudian Miku berusaha menyerangnya dari samping. Namun Ray menghindar dengan menundukkan kepalanya lalu menangkap tangan Miku yg hendak mencengkeram lehernya itu dengan tangan.
"Eits!" ucapnya saat menghindar.
Kemudian Ray menarik dan memutar tubuh Miku seperti putaran dansa, sambil ia juga berdiri. Lalu Ray mendudukkan Miku di kursi tempat ia duduk tadi.
"Be cool!" ucap Ray sambil menaruh ke dua tangannya di kedua sisi sandaran kursi untuk mengurung gerak Miku.
Kemudian Ray mendekatkan wajahnya ke wajah Miku.
"Tenang saja, Hatsune-san. Kamu bisa pegang kata-kataku. Dan kalau sampai aku berbohong, kamu boleh ambil jantungku sekarang juga." ujar Ray dengan wajah datar.
Lalu datang lah para siswa kelas 1-B yg lainnya. Mereka masuk lalu kaget melihat apa yg terjadi di kelas itu. Mereka melihat seorang anak laki-laki sedang hendak berciuman dengan gadis manis twintail. Mereka semua memperhatikan ke arah Ray dan Miku. Sementara Gumi melihat dengan wajah malu, dia menutup mulutnya denga kedua tangannya. Menyadari hal itu Miku pun malu dan panik. Lalu berusaha menendang Ray secara spontan. Ray menahannya dengan kedua tangannya. Tapi ia masih terseret ke belakang saking kuatnya tendangan Miku.
"Hyyaaa..!!" teriak Miku saat menendang Ray.
Kemudian Miku pun lari ke arah Gumi dan menariknya ke luar kelas. Kemudian berdiri di lorong di luar kelas 1-B.
"Mi-Miku-chan." panggil Gumi tampak khawatir.
Karena saat itu Miku tampak murung.
"Aroma itu, sepertinya aku pernah menciumnya di suatu tempat. Tapi dimana?" gumam Miku dalam hatinya dengan wajah memerah karena masih malu dengan kejadian tadi.
Miku tampak menaruh tangannya di dadanya, tepat di jantungnya yg berdetak begitu kencang.
"Miku-chan?" panggil Gumi lagi.
"A-apa, Gumi-chan?" sahut Miku saat tersadar sambil berusaha tersenyum.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Gumi.
"Tidak, tak apa kok." jawab Miku sambil tersenyum.
Beberapa saat kemudian terdengar bunyi bel. Dan tampak para guru yg menjadi wali kelas sudah terlihat menuju ke kelasnya.
"Kalian berdua sedang apa berdiri disini? Kenapa tidak masuk saja?" tanya guru yg nampaknya jadi wali kelas 1-B.
Dia seorang perempuan yg cantik dan berambut pirang panjang dan di ikat ke belakang.
"Ano, sebenarnya kami tidak tahu kelas kami." jawab Gumi.
"Eh, kok bisa? Bukannya daftar pembagian kelasnya sudah di tempel di mading?" tanya guru itu tidak percaya.
"Ya, kami salah lewat pintu masuk, lalu keburu bel. Jadi tidak sempat lihat mading." jawab Gumi.
"Gumi-chan.." panggil Miku.
"Tenang Miku-chan, serahkan padaku." sahut Gumi sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ya ampun, coba sebutkan nama kalian. Biar aku cek apa ada di absen kelasku." pinta guru itu.
"Namaku.. Megupo Gumi." jawab Gumi.
"A-aku Hatsune Miku." sambung Miku.
"Hmm.. sebentar.." ujar guru itu sambil melihat-lihat di buku absen yg ia bawa.
"Ada. Kalian dari kelasku ternyata." ucap guru itu saat menemukannya.
"Ah syukurlah.." ucap Miku dan Gumi tampak lega.
"Ayo masuk. Kita akan melakukan perkenalan kelas." suruh guru itu.
"Oke, sensei." sahut Miku dan Gumi.
Kemudian mereka pun masuk ke dalam kelas. Miku dan Gumi pun duduk di tempat yg tersisa. Tepatnya yg paling belakang dekat jendela.
"Namaku Kana Yoshino, aku adalah wali kelas kalian."
"Baiklah, selamat datang di akademi Voca. Bagaimana perasaan kalian saat datang ke akademi ini?" tanya guru itu memberi sambutan.
"Mantap dah, sensei!" jawab salah seorang murid.
"Akademi ini fasilitasnya lengkap banget. Ada auditorium juga." jawab yg lainnya.
"Sensei saya mau tanya!" teriak Miku dari belakang.
"Ya, Hatsune-san." sahut Yoshino-sensei.
"Kenapa kelas A dan B nya ada di ujung? Kami jadi bingung." tanya Miku.
"Hmm.. hal itu biar dijelaskan oleh yg duduk di belakang sana." jawab Yoshino-sensei sambil menunjuk ke arah Ray.
"Aku? Kenapa mesti aku?" ujar Ray.
"Karena tadi pagi kamu lah yg datang paling dulu ke kelas ini. Ditambah lagi nampaknya kamu sudah tahu letak kelasnya sejak awal karena lewat tangga yg paling dekat dengan kelas. Bagaimana kamu menjelaskannya?" tanya Yoshino-sensei.
"Ya ampun, bukankah itu mudah saja. Ini sekolah musik, jadi kupikir kelasnya akan di urutkan berdasarkan tangga nada." jawab Ray.
"Tangga nada itu do re mi fa sol la si, kan?" ucap salah seorang siswa.
"Nada do re mi fa sol la si itu sama dengan c d e f g a b." jawab Ray.
"Oohhh.." ucap semua siswa baru mengerti.
"Ja-jadi dia sudah tahu dari awal. Di-dia hebat.." puji Gumi dalam hatinya.
"Jawaban yg bagus, Cool Guy!" ujar Yoshino-sensei.
"Kalau dia tahu dari awal, kenapa dia tidak memberitahukan pada kita?" ujar Miku.
"Bukankah itu salah kita sendiri yg lari sebelum ia sempat mengatakannya." sahut Gumi yg duduk di depannya.
"Benar juga, kami lari begitu saja. Nampaknya aku sudah berburuk sangka padanya." ujar Miku dalam hatinya.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】