VocaWorld, chapter 20 - Mencari Sebuah Jawaban
Miku dan Kaito sedang berjalan bersama. Mereka berdua hendak ke pusat kota.
"Ka-Kaito-senpai.." panggil Miku dengan malu-malu.
"Ya." sahut Kaito menoleh ke arah Miku.
"Kenapa Kaito-senpai mengajakku jalan bareng? Bagaimana kalau nanti ada teman satu sekolah yg lihat?" tanya Miku.
"Biarkan saja. Lagipula kita cuma jalan bareng doang kan? Gak ngapa-ngapain ini." jawab Kaito dengan tenang.
"I-Iya sih. Tapi kan.." ujar Miku.
"Tenang saja, takkan terjadi sesuatu yg buruk kok. Jadi, jangan terlalu dipikirkan." potong Kaito sambil menepuk kepala Miku.
Miku pun tertunduk karena malu. Miku hanya bisa mengangguk saja saat itu.
Sementara itu, di dalam mobil sedan mewah berwarna hitam, Luka sedang santai.
"Luka-sama, jadi tujuan kita kemana?" tanya sopir.
"Ke stasiun radio Voca FM." jawab Luka sambil menyangga dagunya dengan tangan kirinya.
"Baiklah, Luka-sama." terima sopir.
Luka hanya memperhatikan jalam saja saat itu. Lalu dia pun dikejutkan oleh sosok yg dikenalnya. Laki-laki berjaket hitam yg berjalan tertunduk.
"Ray-kun?!" ucap Luka dalam hatinya.
"Berhenti!" suruh Luka pada sopir.
"Ta-tapi kita kan belum sampai, Luka-sama." tolak si sopir.
"Sudah berhenti saja!" suruh Luka lagi.
"Baiklah, Luka-sama." terima si sopir sambil memberhentikan mobilnya.
Luka pun turun dari mobilnya. Tak lupa dia juga mengambil tas kecilnya dari dalam mobil lalu menutup pintu.
"Megurine-san, tak kusangka kita bisa bertemu disini." ujar Ray yg melihat Luka berdiri di depannya.
"Selamat pagi, Ray-kun.." ucap Luka sambil tersenyum.
"Ya, selamat pagi juga, Megurine-san." sahut Ray.
"Kamu kembali saja ke rumah, aku akan jalan kaki bersama dia." suruh Luka pada sopirnya dan menunjuk ke arah Ray.
"Baik, Luka-sama." terima sopir itu.
Kemudian mobil itu pun pergi meninggalkan tempat itu.
"Megurine-san, ada apakah gerangan sehingga kamu ingin berjalan kaki denganku?" tanya Ray.
"Aku ingin minta bantuanmu, boleh?" jawab Luka meminta bantuan Ray.
"Ya, boleh saja. Kalau ada seorang gadis dalam masalah aku pasti membantunya. Minta bantuan apa?" terima Ray.
Lalu Luka mengambil buku catatan dari tasnya. Ia pun menunjukkannya pada Ray.
"Oohh.. gambar yg bagus. Gambar siapa ini?" puji Ray melihat gambar wajah seseorang di buku tersebut.
Wajah Luka tiba-tiba memerah dan tampak terkejut. Dia langsung membalik ke halaman selanjutnya dan menunjukkannya lagi ke Ray.
"Salah, maksudnya yg ini. Yg tadi lupakan saja." ujar Luka saat menunjukkan halaman yg benar.
"Hmm.. ini ya.." ujar Ray yg tampak tak terkejut melihatnya.
Sementara itu, Miku dan Kaito terlihat sedang berada di tempat yg ramai. Kelihatannya mereka ada di sebuah mall. Miku dan Kaito pun mampir ke sebuah toko baju.
"Bagaimana menurutmu, Kaito-senpai?" tanya Miku saat menunjukkan baju yg ia sedang coba pada Kaito.
"Bagus kok." jawab Kaito.
Di toko itu bukan hanya ada baju perempuan, tapi juga baju laki-laki. Jadi Kaito pun sekalian belanja juga.
"Hmm.. yg mana ya?" ucap Kaito sambil memilih-milih pakaian disana.
Dari luar toko, terlihat Ray dan Luka lewat. Namun Luka menyadari ada seseorang yg dikenalnya di dalam toko. Dia pun menghentikan langkahnya.
"Kaito-kun?" ucap Luka yg melihat Kaito.
"Kenapa berhenti?" tanya Ray.
"Tidak, tak ada apa-apa." jawab Luka.
"Ya sudah, kita lanjutkan." ajak Ray sambil jalan duluan.
Luka pun mengikuti dari belakang. Mereka berjalan menuju tangga darurat.
"Nampaknya hanya staf dan pihak gedung saja yg bisa naik ke atas." ujar Luka saat melihat tangga itu di blokir dengan rantai.
Tapi Ray tidak mendengarkan dan melangkahi rantai tersebut.
"A-apa yg kamu lakukan, Ray-kun? Kalau ada yg lihat nanti kamu bisa ditangkap." larang Luka.
"Tenang saja, Mall ini sedang ramai jadi petugas keamanannya juga tak akan sadar kok." ujar Ray sambil menyodorkan tangannya.
"Ba-Baiklah.." jawab Luka dengan malu, dia meraih tangan Ray.
Kemudian Luka pun melangkahi rantai itu dengan bantuan Ray, karena saat itu ia mengenakan rok panjang.
Miku dan Kaito kelihatanya sudah selesai berbelanja. Mereka keluar dari toko baju itu sambil membawa tas belanjaan.
"Sini, biar aku yg bawa." ujar Kaito menawarkan bantuan.
"Te-terima kasih.." ucap Miku sambil memberikan tas belanjaannya.
"Jadi sekarang kita mau kemana lagi?" tanya Kaito.
"Hmm.. bagaimana kalau kita keliling-keliling dulu aja?" jawab Miku.
"Ya, boleh juga tuh." sahut Kaito.
Kemudian mereka pun pergi ke lantai 1. Sementara itu di atap, Ray dan Luka melihat bekas ledakan yg belum diperbaiki.
"Terlalu aneh untuk sebuah ledakan gas ditempat seperti ini. Tapi terlalu lemah juga untuk ledakan bom." ujar Luka sambil memperhatikan bekas ledakan yg menghitam.
"Ray-kun, apa benar ini ada hubungannya dengan 3 ledakan misterius itu?" tanya Luka menoleh ke arah Ray yg sedang melihat langit.
"Kalau kita ingin tahu sebuah kebenaran, kita harus menghubungkan semua titik kemungkinan yg ada." jawab Ray.
Luka hanya terdiam saat mendengarnya. Dia hanya melihat Ray yg sedang melihat langit dan rambutnya tertiup angin.
"Apa sudah selesai melihatnya? Kita harus menanyakan pada beberapa saksi untuk memastikannya." ujar Ray yg kemudian melihat ke arah Luka.
"Y-Ya." sahut Luka sambil memalingkan muka.
Wajah luka tampak memerah karena malu.
Di lantai satu, Miku dan Kaito sedang berada di sebuah kedai. Lebih tepatnya kedai soto kudus.
"Hatsune? Boleh aku tanya sesuatu?" ujar Kaito.
"Ya, apa?" sahut Miku.
"Soto itu apa?" tanya Kaito.
"Kaito-senpai tidak tahu?!" ucap Miku terkejut.
"Emang apaan?" tanya Kaito lagi.
"Soto itu makanan khas dari negara Indonesia. Rasanya enak banget. Isinya nasi yg dipadatkan atau disana disebut kupat, terus ada daging ayam, bawang daun, bawang goreng dan berbagai sayuran lain lalu disiram kuah yg wah.. pokok'e maknyos!" jelas Miku dengan ekspresi yg lebay.
"Hehe.. hehe.. begitu ya.." ujar Kaito dengan senyum kepaksa.
"Mbak! Saya pesen soto ayam spesial, jangan lupa bawang daunnya banyakin! Minumnya es teh aja." kata Miku memesan pada mbak pelayannya.
"Kalau mas nya mau apa?" tanya mbak pelayan.
"Soto ayam spesial dan jus jeruk aja." jawab Kaito.
Mbak pelayan pun menuliskan pesanan lalu pergi.
Di cafe seberang, terlihat Ray dan Luka sedang duduk.
"Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan petunjuk?" tanya Ray.
"Hmm.. kata orang-orang penjaga toko di mall ini, mereka mendengar suara ledakan dari atap. Tapi saat petugas keamanan melihat ke atap, ternyata tak ada apa-apa kecuali api dan bekas ledakan." jelas Luka sambil menunduk membaca bukunya.
Luka membenarkan rambutnya yg mengganggunya untuk membaca tulisan di buku catatannya. Tiba-tiba terdengar suara perut keroncongan.
"Ray-kun lapar?" tanya Luka yg menyadari kalau itu suara perut Ray.
"Ya, sejak pagi aku belum makan." jawab Ray.
"Kalau gitu kita makan dulu ya." ujar Luka sambil tersenyum.
Luka pun memesan 2 burger keju.
"Megurine-san." panggil Ray.
"Apa?" sahut Luka.
"Bolehkah aku pesan minumnya susu saja?" tanya Ray dengan sedikit malu.
"Di-dia malu-malu? Apa dia sebegitu sukanya minum susu?" ujar Luka dalam hatinya terkejut.
"Y-ya. Ray-kun suka minum susu ya?" tanya Luka.
"Ya. Walau sudah lama sih tidak minum susu lagi, karena tak ada uang. Lagipula aku baru beberapa hari di kota ini." jelas Ray.
"Lho, kamu kalau makan gimana dong?" tanya Luka.
"Ya paling juga makan ikan hasil mancing." jawab Ray.
"Ma-makan ikan? Dia hanya makan ikan dan minum susu? Ku-kucing kah?" ujar Luka bertanya-tanya dalam hatinya.
Luka pun membayangkan Ray punya telinga kucing.
"Waaahhh.. imutnya..!!! Ti-tidak apa yg ku bayangkan? I-ini memalukan.." kata Luka dalam hatinya sambil menempelkan wajahnya di meja karena malu.
"Megurine-san?" ucap Ray sambil memiringkan kepalanya.
Kemudian Luka pun berusaha bersikap normal dan memesankan segelas susu untuk Ray.
"Kaito-kun? Dia bersama siapa?" ujar Luka yg melihat ada Kaito di kedai seberang.
"Kamu melihatnya juga? Kukira kamu kenal gadis itu kan?" sahut Ray.
"Oh iya.. itu Miku-chan." ucap Luka setelah memperhatikan lebih jelas.
"Baguslah, nampaknya mereka lebih dekat sekarang." ujar Ray sambil tersenyum saat melihat ke akraban Miku dan Kaito.
"Dari kata-katamu, seperti kamu saja yg membuat mereka dekat." sahut Luka.
"Tidak juga, aku hanya menggunakan beberapa kemungkinan yg ada." jawab Ray dengan santai.
Di tempat lain, muncul sebuah gelombang suara dan membuat langit beriak seperti riak air terkena tetesan air atau benda kecil yg jatuh. Tepat dibawahnya ada seorang gadis yg menangis dan bersembunyi dibalik pohon.
"Ke-kenapa mereka jahat padaku? Kenapa mereka selalu mengolok-ngolok suaraku?" kata gadis itu sambil menangis.
Dibelakangnya terlihat beberapa gadis yg sedang mencarinya.
"Woy.. serak! Gadis kodok! Pergi kemana kamu?" panggil mereka.
Lalu dari riakan gelombang suara di langit itu keluar sosok hitam seperti asap yg terbang kesana kemari. Setelah beberapa saat sosok itupun masuk ke tubuh gadis yg sedang menangis. Gadis itu pun bangun perlahan, tatapan matanya kosong, dan dia melangkah seperti orang mabuk mendekati orang-orang yg mengejeknya.
"Haha.. akhirnya kamu keluar juga gadis kod.. arrrgghh!!" pekik salah satu dari mereka yg kemudian mengerang kesakitan.
Wajahnya di cengkeram dan diangkat ke atas dengan mudahnya. Melihat temannya seperti itu, mereka pun melarikan diri. Sementara yg di cengkeram wajahnya hanya bisa mengerang kesakitan. Kemudian dilemparnya tubuh gadis yg tadi di cengkeram wajahnya itu ke pohon, dan dia pun pingsan. Gadis yg dirasuki tadi pun berjalan meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, Ray dan Luka sedang berjalan menuju stasiun radio.
"Ada minor rupanya. Tapi saat ini masih belum waktunya. Lagipula aku juga tak bisa meminta bantuan Dante." ucap Ray dalam hatinya.
Setelah berjalan beberapa lama, Ray dan Luka pun sampai di depan stasiun radio. Namun tampaknya stasiun radio itu masih rusak dan belum diperbaiki. Luka masuk ke dalam, sementara Ray menunggu dekat tukang koran.
Di dalam Luka menemukan ada sebuah lubang aneh di dinding.
"Lubang ini tak mungkin terjadi karena sebuah ledakan. Tapi tak mungkin di jebol oleh seseorang, kecuali dia superman." ujar Luka sambil memperhatikan dinding yg berlubang itu.
Kemudian dia pun keluar dari gedung stasiun radio itu dan menghampiri Ray.
"Bagaimana?" tanya Ray.
"Hmm.. terlalu janggal untuk ledakan bom, dan terlalu aneh untuk ledakan gas. Mungkin kita harus ke tempat selanjutnya." jawab Luka.
"Oke, ayo kita pergi." sahut Ray dan ditangannya tampak sebuah koran yg ia beli.
Di taman, Miku dan Kaito sedang duduk di sebuah bangku. Mereka tampaknya sedang beristirahat.
"Kita istirahat disini dulu, Hatsune. Kita pulang kalau sudah agak sorean deh." ujar Kaito.
"Iya, Kaito-senpai. Kakiku juga pegel karena tadi keliling-keliling di mall." sahut Miku.
"Kamu tinggal dimana? Mungkin nanti aku bisa mampir." tanya Kaito tiba-tiba.
Miku pun terkejut dan ia pun jadi gugup menjawabnya.
"E-eh?! Ka-Kaito-senpai mau mampir? Ke rumahku?" ucap Miku tak percaya.
"Ya, sekalian nganterin belanjaan ini kan." jawab Kaito.
Wajah Miku pun memerah dan jantungnya berdegup dengan kencang. Dia ragu untuk menjawab.
"Hatsune? Ada apa? Kok diam saja." tanya Kaito.
"Aku mau ke toilet dulu." ucap Miku sambil berlari ke arah toilet taman.
Di dalam toilet, Miku hanya berdiri saja melihat cermin.
"Bagaimana ini? Kaito-senpai mau mampir ke rumah. Kalau Meiko-san sampai melihat aku membawa laki-laki ke rumah bisa bahaya. Bisa-bisa terjadi perang dunia 3." ujar Miku ngomong sendiri dan nampak bingung.
Tiba-tiba muncul sosok perempuan di cermin itu selain Miku. Tatapan matanya tampak kosong. Dia berusaha memukul Miku, namun Miku yg menyadari itu berhasil menghindar.
"Kyaa!" teriak Miku sambil menghindari pukulan yg mengenai cermin hingga pecah itu.
"Kenapa dia? Kenapa dia menyerangku? Tangannya berdarah seperti itu, tapi dia tidak terlihat kesakitan? Ada apa ini?" ujar Miku dalam hatinya.
Gadis itu pun meraih kerah baju Miku lalu melempar Miku ke dinding.
"Kenapa kamu menyerangku? Apa aku pernah melakukan kesalahan padamu?" tanya Miku pada gadis itu.
Namun gadis itu sama sekali tak menjawab. Dia hanya diam dan menatap Miku dengan tatapan kosongnya.
"Oh iya, aku membawa earophoid. Mungkin aku harus menggunakannya" ujar Miku yg lalu mengeluarkan earophoidnya dari dalam tasnya.
Lalu Miku pun memakainya.
"Start up! Vocaloid system: on! Power: 100%. Cheers!" ucap Miku yg kemudian berubah.
Ray dan Luka yg kebetulan lewat dekat taman, melihat ada Kaito sedang duduk.
"Kaito-kun, sedang apa dia disana?" ucap Luka.
Ray yg melihat Kaito sendirian, kemudian merasakan sesuatu yg tak beres. Lalu ia menarik tangan Luka. Melalui pepohonan, dia menyusup dibelakang Kaito.
"Ray-kun?" ucap Luka saat tangannya ditarik dan diajak berlari.
"Di-dia memegang tanganku. Tangannya bersentuhan dengan tanganku." ucap Luka dalam hatinya.
Kemudian mereka pun sampai di belakang toilet taman. Lalu tiba-tiba dinding toilet itu jebol. Dan tubuh Miku terlempar, namun Miku masih bisa berdiri walau terseret beberapa langkah.
"A-ada apa ini?" tanya Luka yg tak mengerti apa yg terjadi.
Dari asap debu jebolnya tembok, muncul sosok gadis.
"Ray-kun ada apa ini?" tanya Luka.
"Ini ulah Dark Sider. Mereka merasuk ke jiwa yg jatuh dalam kegelapan dan mengendalikan tubuhnya. Dan nampaknya ini jenis minor." jelas Ray.
"Ma-maksudnya?" tanya Luka lagi.
"Ya, bisa dibilang, inilah jawaban misteri yg kau cari, Megurine-san." jawab Ray.
"Dari balik semak, Ray dan Luka memperhatikan Miku dan gadis itu.
"Apa yg harus aku lakukan? Apa aku lakukan dance saja? Tapi bagaimana kalau dia terluka?" ujar Miku dalam hatinya, dia merasa cemas.
Gadis itu melompat dan berusaha menghantamkan kakinya ke Miku. Namun Miku berguling menghindar dan hantaman kaki itu hanya mengenai tanah.
"Di-dia serius. Kelihatannya dia berusaha membunuhku. Aku tak punya pilihan lain." ujar Miku dalam hati.
"Dance: Rolling Girl." ucap Miku.
Kemudian di sekitar tubuh Miku mengeluarkan cahara putih ke hijau biruan. Miku pun melesat ke arah gadis itu lalu berputar ke kiri hendak menyiku gadis itu. Namun gadis itu menunduk, dan Miku pun langsung menyerang denga kakinya. Sambil berputar ke kiri dia melakukan gerakan menendang dengan kaki kanan sambil menyeret kakinya di tanah. Namun gadis itu bisa menghindar dengan melompat. Saat gadis itu ada di udara, dengan bertumpu menggunakan tangannya, Miku menyerang dengan melakukan spin kick. Tubuh gadis itu pun terlempar dan terseret ditanah. Lalu dari tubuh gadis yg tidak sadarkan diri itu keluar sosok hitam bermata satu. Miku yg mengenal sosok itu lalu berlari dan melompat lalu menendang sosok itu hingga berlubang tembus ke belakang. Sosok minor itu pun hilang.
"Yang tadi itu?" ucap Luka.
"Ya, itulah Dark Sider, jenis minor." sahut Ray.
"Ayo kita pergi." ajak Ray.
Ray dan Luka pun pergi meninggalkan tempat itu.
Miku menghampiri tubuh gadis itu. Dan gadis itu pun mulai sadarkan diri.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Miku.
"Kamu siapa? Ada dimana aku?" tanya gadis itu yg tampaknya tak ingat dengan kejadian tadi.
"Dia kelihatannya tak ingat dengan apa yg ia perbuat. Mungkin karena ia dikendalikan oleh monster tadi." gumam Miku dalam hati.
"Ah, tadi kamu pingsan disini. Lalu saat aku ke toilet aku menemukanmu." jawab Miku.
"Oohh.. begitu ya." ucap gadis itu sambil berdiri.
Setelah berterima kasih pada Miku, kemudian gadis itu pun pergi. Miku kembali ke wujudnya semula, mengambil tasnya dan lalu menghampiri Kaito.
"Kaito-senpai.." panggil Miku pada Kaito yg tertidur di bangku karena menunggu terlalu lama.
"Oh sudah selesai ke toiletnya? Lama banget." ujar Kaito saat bangun.
"Iya, maaf. Biasalah perempuan.." jawab Miku.
Kemudian mereka pun pulang bersama.
Ray dan Luka memutuskan untuk menghentikan penyelidikan karena mereka sudah menemukan jawabannya. Luka pun mengajak Ray ke rumahnya.
"Nampaknya kamu tidak terkejut melihat rumahku? Apa kamu sudah tahu sebelumnya?" tanya Luka.
"Hmm.. bisa iya, bisa juga tidak." jawab Ray.
"Kenapa jawabanmu seperti itu?" gerutu Luka.
"Itu karena, aku baru melihatnya dari luar. Belum bisa dikatakan kalau aku mengetahui sesuatu, kalau aku belum tahu luar dan dalamnya." jelas Ray.
"Jawabanmu selalu punya makna yg dalam ya, Ray-kun." puji Luka.
Kemudian Luka pun mempersilahkan Ray masuk.
"Selamat datang, Luka-sama." ujar para maid.
Luka pun mengajak Ray ke ruang baca. Disanalah luka semalam merumuskan hubungan kejadian ledakan misterius.
"Ray-kun, silahkan duduk." ujar Luka.
"Terima kasih." sahut Ray sambil duduk.
Mereka pun duduk di kursi yg bersebelahan dan dipisahkan meja kecil.
"Kamu tahu kenapa aku mengajakmu kemari?" tanya Luka.
"Ya, kamu mau menginterogasiku tentang hal tadi. Tapi aku takkan memberikan jawaban langsung. Aku hanya akan menjelaskan satu kali tentang hubungan setiap kejadian dengan Dark Sider." jawab Ray.
"Ke empat kejadian beberapa hari yg lalu adalah ulah Dark Sider. Mereka mengambil alih singer berbakat dan hendak mengacaukan kota ini. Yg pertama berhasil ku hentikan, tapi yg kedua agak terlambat dan sudah mulai tersebar. Jadi aku harus memusnahkan hingga ke pucuk terakhirnya." jelas Ray.
"Aku tidak mengerti." ujar Luka.
"Pikirkan terus. Kamu punya banyak waktu untuk berpikir." sahut Ray.
"Ray-kun, siapa kamu sebenarnya? Apa hubunganmu dengan semua kejadian ini?" tanya Luka.
"Kamu akan segera tahu. Jika aku beritahu sekarang, maka tak akan seru."
jawab Ray sambil tersenyum.
"Oh ya, Megurine-san. Satu saran untukmu, tetaplah di sisi Hatsune-san walau apapun yg terjadi, my queen." ucap Ray.
Ray kemudian berdiri dan meninggalkan Luka. Dia keluar dari rumah Luka dan pulang.
Sementara itu Miku dan Kaito sudah sampai di rumah Miku.
"Aku pulang.." ucap Miku.
"Selamat datang.." sahut Meiko sambil nongol dari dapur.
"Me-Meiko?!!" ucap Kaito saat melihat Meiko.
"Eh, abang ojek sepeda, maksudku Kaito. Mau apa kau kemari?" tanya Meiko saat tahu itu Kaito.
"Kalian saling kenal?" tanya Miku.
"Tentu saja, aku dan abang ojek sepeda ini, maksudku Kaito adalah teman satu kelas sejak kelas 1 SMA." jawab Meiko.
"Sudah kubilang jangan panggil aku abang ojek sepeda kan?!!" bentak Kaito.
"Ngomong-ngomong, mau apa kau kemari?" tanya Meiko.
"Aku hanya membawakan belanjaan Hatsune." jawab Kaito.
"Hah?! Apa? Jangan bilang kalau kau merayu Miku-chan dan mengajaknya kencan, hah.." ancam Meiko dengan gaya premannya.
"Ti-tidak kok. Kami hanya kebetulan bertemu dijalan." jawab Kaito.
"Benarkah itu, Miku-chan?" tanya Meiko pada Miku.
"Ya, beneran kok." jawab Miku.
"Baguslah kalau gitu." sahut Meiko.
Kemudian Kaito pun meletakan tas belanjaam milik Miku, lalu pulang.
"Tunggu Kaito." panggil Meiko sebelum Kaito melewati gerbang.
"Ada apa lagi sih?" sahut Kaito dengan agak risih.
"Ini untukmu. Aku tahu kamu tak sempat belanja bahan masakan karena menemani Miku belanja." ujar Meiko sambil menyodorkan kotak makan.
"O-oh.. terima kasih ya.." ucap Kaito sambil menerima kotak makan itu.
"Oh ya Kaito.." panggil Meiko lagi.
Kaito pun menoleh sekali lagi.
"Jangan lupa kembaliin kotak makannya." kata Meiko sambil menatap tajam ke Kaito.
"Hehe.. tentu saja. Memang kau pikir aku ini orang macam apa?" ujar Kaito dengan senyum kepaksa.
Kemudian Kaito pun pergi, dan Meiko kembali masuk ke dalam rumah.
Sesampainya di rumah Kaito memakan makanan dari Meiko itu bersama Kamui.
"Kaito-dono, ini masakan siapa? Rasanya lebih enak dari masakanmu." komentar Kamui.
"Ya, ini enak sekali." sahut Kaito sambil tersenyum.
Di tempat Ray dan Dante, tampak mereka berdua asik memancing.
"Bagaimana dengan misimu, Dante?" tanya Ray.
"Nihil. Dia samasekali tak keluar rumah. Kalau Aniki?" jawab Dante.
"Berjalan dengan sangat baik." sahut Ray.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.