VocaWorld, chapter 7 - Sesuatu Yang Membuatku Tertarik

Ray dan Luka berjalan berdampingan. Mereka berdua tampak berjalan dalam jarak yg terlalu dekat untuk orang yg baru kenal. Ray pun tampak tak keberatan. Atau mungkin bisa dibilang tidak terlalu peduli.
"Kemari, Megurine-san. Lewat sini.." ajak Ray menuju ke sebuah bangku di dekat pohon.
"Mau kemana? Jalannya kan kesana." ujar Luka yg terheran mereka keluar dari jalan dan menuju ke lapangan tengah.
"Bangku kita disana. Bukankah aku bilang kalau kita akan melihat sebuah drama pertemuan tuan putri dan pangeran." jelas Ray sambil menunjukkan bangku itu dengan gerakan kepalanya.
Kemudian Luka pun ikut melompati tempat tanaman bunga di jalan menuju gedung sebelah tersebut. Namun Luka terpeleset menginjak pinggiran tempat tanaman bunga tersebut. Ray pun dengan sigap menyambar dan menangkap tubuh Luka sehingga tak terjatuh.
"Kamu tak apa, Megurine-san?" tanya Ray sambil tersenyum.
"I-iya." jawab Luka agak gugup karena saat ini wajah mereka berdekatan.
"Hati-hati Megurine-san, kalau sampai terjadi apa-apa denganmu, kita takkan bisa melihat keanggunanmu nanti di upacara penerimaan siswa baru. Kamu harus lebih berhati-hati." ujar Ray sambil menuntun Luka menuju ke bangku yg mereka tuju.
Luka tampak malu, dan wajahnya sedikit memerah.
"Aku sudah pernah melihat beberapa anak laki-laki yg berpura-pura keren di depanku supaya mereka dapat perhatianku. Namun dia.. entah kenapa.. di setiap langkahnya.. di setiap katanya. Bisa membuat hatiku berdegup kencang." ujar Luka dalam hatinya.
"Silahkan duduk." ucap Ray mempersilahkan Luka untuk lebih dulu duduk.
"Te-terima kasih." sahut Luka yg kemudian duduk disana.
Ray pun duduk di sampingnya.
"Ray-kun, memangnya kenapa bisa begitu tertarik? Apa pertemuan ini begitu penting?" tanya Luka mulai penasaran.
"Ah, sebenarnya pertemuan ini akan menjadi sebuah langkah besar menuju masa depan kita." jawab Ray sambil melirik ke arah Luka.
"Maksudnya?" ucap Luka tak mengerti.
"Karena ini bukan hanya tentang mereka. Juga bukan tentangmu dan aku saja. Ini tentang kita semua. Karena takdir setiap orang itu terhubung satu sama lain. Apa yg terjadi pada orang lain berpengaruh juga pada kehidupan kita. Jika kita mengabaikan sesuatu yg kecil kita akan kehilangan sesuatu yg besar." jelas Ray.
"Ya, bisa dibilang, bukankah ini langkah awal mereka berdua untuk jadi lebih dekat, begitu pula kita berdua." tambah Ray sambil menoleh ke arah Luka dan tersenyum.
Mendengar hal itu, jantung Luka terasa seperti berhenti. Dia begitu terkejut. Dan juga dia merasa malu, karena ini juga baru pertama kalinya dia mendengar kata-kata seperti itu, dan itu bukan sebuah rayuan.
"Apa maksudnya dengan 'begitu pula kita berdua' barusan? Apa dia hanya mau merayuku supaya aku suka padanya?" gumam Luka dalam hatinya dengan wajah memerah.
"Ah mereka sudah datang." ucap Ray sambil bersandar menyantaikan tubuhnya.
"Bu-bukankah itu Kaito-kun?" ucap Luka.
"Ya, dia adalah sang pangeran." sahut Ray.
"Lalu yg disebelahnya?" tanya Luka yg lalu melihat ke arah Ray.
"Hatsune Miku. Sang Cinderella. Tuan putri yg tersembunyi oleh sejuta misteri. Tidak ada yg tahu kapan dia akan menunjukkan dirinya yg asli." jawab Ray.

Sementara itu, Miku dan Kaito tampak berdiri berdua dan berpegangan tangan. Itu disebabkan mereka habis melarikan diri dari Dante dan kerumunan orang.
"Maaf Hatsune, aku selalu membawamu kedalam masalah." ucap Kaito sambil menggaruk kepala.
"Ti-tidak apa-apa, tapi bisakah senpai lepaskan tanganku sekarang?" pinta Miku dengan wajah malu.
"Oh iya, maaf. Hehehe.." ujar Kaito sambil melepaskan tangan Miku.
"Lagipula, kenapa senpai harus membawaku juga? Bukankah lebih mudah kalau berlari sendiri?" tanya Miku sambil menyatukan kedua telunjuknya dan wajah memerah dia melihat ke arah lain.
"Oh itu? Itu hanya gerak reflek. Aku harus membawa sesuatu yg bisa melindungiku." jawab Kaito dengan polos.
"Ehhh?!! Apa dia menganggapku sebuah tameng atau semacamnya?!" gerutu Miku dalam hatinya sambil membuat ekspresi kaget.
"Tapi sebenarnya alasanku sebenarnya bukan itu sih. Sebenarnya, aku memang sengaja lewat lorong kelas 1 berharap bisa bertemu denganmu." ujar Kaito sambil terlihat sedikit malu.
Hal itu membuat Miku terkejut dan semakin cenat-cenut hatinya.
"Sengaja ingin bertemu denganku, mungkinkah senpai.." ujar Miku dalam hatinya, mulai menduga-duga.
"Ini, aku ingin mengembalikan ini. Nampaknya saat kita bertabrakan di tangga kamu menjatuhkannya." sambung Kaito sambil mengeluarkan satu set kunci, nampaknya itu kunci rumah.
"Whooaaa.. itu.. itu kunci rumahku!" teriak Miku setelah mengodok saku-sakunya memeriksa kunci rumahnya.
Kemudian Miku mengambil kunci itu dari Kaito. Lalu Miku memegang erat kunci itu dengan kedua tangannya memastikan tidak jatuh lagi.
"Oh ya, apakah hanya itu saja?" tanya Miku dengan malu.
"Ya hanya itu kok. Emang kenapa?" jawab Kaito yg lalu bertanya balik.
"Ti-tidak, bukan apa-apa." sahut Miku sambil berbalik membelakangi Kaito karena malu.
Dari bangku taman, Ray tampak tersenyum melihat tingkah laku Miku dan Kaito.
"Hanya itu saja?" tanya Luka mengomentari hal tersebut.
"Ya, hanya itu, mungkin.." jawab Ray.
"Kalau begitu, aku mau pergi dulu ya." ucap Kaito sambil melangkah pergi.
"Se-senpai.." panggil Miku.
Kaito pun berhenti, dan menoleh ke arah Miku.
"Terima kasih banyak." ucap Miku sambil membungkukkan badannya, lalu tegak dan tersenyum ke arah Kaito.
Senyuman Miku saat itu tampak sangat manis sekali.
"Y-ya, sama-sama." balas Kaito sambil melangkah lagi dia pun merasa sedikit malu.
"Nampaknya kamu sudah tahu ini akan terjadi, Ray-kun." ujar Luka pada Ray.
"Tidak juga." jawab Ray.
"Karena aku tak tahu kalau kamu bakalan ingin ikut denganku." sambung Ray sambil melihat ke arah Luka.
"Itu karena kamu berbeda dari yg lain. Aku ingin tahu apa yg membuat orang berbeda seperti dirimu merasa tertarik." jawab Luka.
"Begitu rupanya. Hmm.. nampaknya sebentar lagi saatnya upacara penerimaan siswa baru. Aku duluan ya.." ujar Ray sambil bangkit dari duduknya.
"Hati-hati dijalan.." balas Luka sambil melambaikan tangan dan tersenyum.

Pada saat upacara penerimaan siswa baru di ruangan auditorium, tampak para siswa kelas 1 memenuhi setiap kursi di ruangan tersebut. Ray dan Dante tampak duduk bersebelahan.
"Aniki! Bisakah kau tidak menghilang begitu saja? Kau selalu saja tiba-tiba menghilang." gerutu Dante atas kejadian tadi saat di lorong.
"Ah maaf, aku saat itu ada suatu urusan yg harus ku selesaikan." jawab Ray.
"Ya ampun.. bisakah Aniki tidak terlalu mengurusi masalah yg tak penting."  ujar Dante.
"I'm sorry Dante, I can't do that. Bukannya aku orang yg mencintai kesempurnaan. Aku hanya tak ingin mengabaikan sesuatu yg penting, walaupun itu hanya sesuatu yg kecil." jelas Ray.
"Seperti biasa, Aniki selalu punya jawaban yg keren." komentar Dante.
Tidak berapa lama upacara penerimaan siswa pun dimulai. Setelah beberapa sambutan dari kepala sekolah dan stafnya, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari OSIS.
"Baiklah, sekarang saatnya sambutan dari ketua OSIS kita yg mengagumkan. Bagi ketua OSIS di persilahkan untuk naik ke panggung." panggil MC.
Namun ketua OSIS tak kunjung datang. Dan tampak staf panggung membisikkan sesuatu pada MC di pinggir panggung.
"Aniki, tampaknya ada sesuatu yg terjadi." bisik Dante pada Ray.
"Ya." jawab Ray singkat saja.
"Semoga saja bukan sesuatu yg buruk." gumam Ray tampak sedang memikirkan sesuatu.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】