VocaWorld, chapter 30 - The Elegant Queen
Hari sabtu malam, tepatnya malam minggu. Di rumah danau, Ray terlihat hendak pergi ke suatu tempat.
"Aniki, mau kemana malam-malam gini?" tanya Dante yg sedang bakar ikan di pinggir danau.
"Aku ada urusan sebentar dengan wakil ketua OSIS." jawab Ray yg terlihat memakai jaket warna hitam nya.
"Eh, mau nge-date atau gimana maksudnya?" tanya Dante sambil senyum-senyum mengejek.
"Tentu saja bukan. Aku tak mungkin memiliki hubungan seperti itu dengannya. Saat ini, tidak diperlukan hubungan seperti itu. Karena akan mengganggu misi kita nantinya." jawab Ray agak kesal.
"Ya-ya.. terserah Aniki saja." sahut Dante.
Sementara itu di kediaman Megurine, di kamarnya Luka tampak gadis berambut pink sedang membenarkan rambutnya. Dia melihat-lihat apa rambutnya tampak acak-acakan apa enggak.
"Ada apa dengan Ray-kun? Dia tiba-tiba mengajakku ketemuan." kata Luka dengan wajah memerah membenarkan poni rambutnya depan cermin.
"Lagipula, jarang sekali Ray-kun menatapku dengan tatapan seserius itu. Apa ada sesuatu yg gawat?" pikir Luka memegang dagunya.
Beberapa hari sebelumnya, saat Ray dan Luka berbicara dekat tangga.
"Jadi, bagaimana? Apa kamu punya waktu akhir pekan nanti?" tanya Ray.
Luka pun menggangguk dengan sedikit malu.
"Bagus. Aku akan ke rumahmu jam 7 malam." ujar Ray tersenyum pada Luka.
"Ba-baik." sahut Luka dengan wajah memerah.
Kembali ke masa kini, Luka terlihat makin gugup. Jam dinding kamar itu menunjukkan sudah pukul 18.59.
"Kenapa denganku? Aneh, ini pertama kalinya jantungku berdegup dengan kencang oleh laki-laki. Padahal biasanya aku tak begitu tertarik pada siapapun laki-laki yg mendekatiku. Tapi kali ini berbeda." ucap Luka tertunduk depan meja riasnya.
Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Itu membuat Luka terkejut, jantungnya semakin berdetak kencang.
"Tidak mungkin tak ada orang dirumah kalau lampunya nyala semua. Pada kemana nih?" ucap Ray yg berdiri depan gerbang rumah Luka.
Lalu muncul seorang maid yg berjalan menghampirinya. Mereka saling bertatapan beberapa saat. Kemudian maid itu balik lagi ke dalam rumah lalu membawa segelas susu.
"Kenapa kamu membawakan susu untukku?" tanya Ray yg agak kesal.
"Hmm.. tak biasanya, bukankah anak kucing suka minum susu?" ujar maid itu.
"Kenapa kamu menyebutku anak kucing?" tanya Ray lagi.
"Soalnya tatapan matamu, suaramu, dan dengan jaket bertudungmu itu, jadi mirip kucing." jawab maid itu tampak tak bisa menahan dirinya melihat Ray.
Ray memang agak mirip kucing, ditambah dengan jaket hitamnya yg selalu ia pakai yg tampaknya kebesaran. Itu terlihat dari telapak tangannya tertutup setengahnya oleh lengan jaketnya.
"Ini susunya ayo minum." ujar maid itu menyodorkan gelas berisi susu itu.
"Jangan perlakukan aku seperti itu!" gerutu Ray walau akhirnya dia menerima gelas itu.
Kemudian Ray memegang gelas itu dengan kedua tangannya, dia meminumnya sedikit-sedikit karena masih panas. Maid itu tampak senang melihat Ray meminumnya.
"Ada apa ini?" tanya Luka yg baru sampai di depan gerbang.
"Oohh.. Megurine-san.." sapa Ray yg terlihat masih memegang gelas dekat mulutnya.
Luka pun tiba-tiba ikut berekspresi mirip maidnya. Ray pun jadi heran melihat mereka.
"Megurine-san?" tanya Ray yg terlihat bingung.
Luka akhirnya tersadar lagi.
"I-iya. Maaf, membuatmu menunggu." sahut Luka.
"Ya tak apa kok." jawab Ray tersenyum pada Luka.
"Apa Ray-kun mau membawa gelas itu?" tanya Luka sambil menunjuk gelas yg dipegang Ray.
"Eh, tentu saja tidak." jawab Ray dengan sedikit malu.
Lalu Ray mengeluarkan plastik dari saku jaketnya, dan menuangkan susu ke dalam plastik itu lalu mengikat bagian atasnya. Dia memberikan gelasnya lagi ke maid.
"Ray-kun.." panggil Luka.
"Apa Megurine-san?" sahut Ray menoleh ke arah Luka.
"Apa kamu sudah tahu akan diberi susu dan menyiapkan plastik itu dari rumah untuk wadah susu?" tanya Luka.
"Hah? Apa maksudmu? Plastik ini sebenarnya selalu ada di jaketku. Kalau-kalau aku memancing dan dapat ikan, inu untuk wadahnya." jawab Ray dengan datar.
"Ngomong-ngomong anda mau kemana, Luka-sama?" tanya maid pada Luka.
"Hanya jalan-jalan keluar sebentar." jawab Luka sambil tersenyum.
"Syukurlah.. akhirnya Luka-sama punya pacar juga. Saya kira Luka-sama sudah tak tertarik lagi pada laki-laki." ujar maid itu menangis bahagia.
"Ah cukup, jangan buat aku malu. Ayo kita pergi, Ray-kun.." ucap Luka yg lalu berjalan duluan.
Ray pun mengikutinya dari belakang.
"Hati-hati ya.." ucap maid itu dari kejauhan tampak melambaikan tangan.
"Maaf, Megurine-san. Kita jadi sering dikira memiliki hubungan romantis. Nampaknya aku terlalu dekat denganmu. Apa aku harus menjauh darimu?" tanya Ray yg menyusul Luka.
"Tidak, aku tidak masalah kok dengan hal itu. Ini pertama kalinya ada yg bisa sedekat ini denganku sebagai orang biasa. Jadi, aku tak mau kamu menjauhiku." jawab Luka menoleh ke arah Ray.
"Hmm.. begitu rupanya. Aku sudah menduganya. Keanggunanmu sebagai seorang ratu di sekolah tentu menjadi masalah dalam menjalin sebuah hubungan." sahut Ray yg terlihat mengerti.
"Kamu bisa mengerti walau aku hanya menjelaskan sesingkat itu?" ucap Luka tak percaya.
"Ya, tapi untuk memastikannya, akan aku persilahkan Megurine-san untuk mengatakan semuanya." ujar Ray.
"Ya, bisa dibilang.. aku bersedia jadi tempatmu untuk bercerita. Kamu bisa mengatakan semuanya dengan jujur padaku, jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik." sambung Ray tersenyum pada Luka.
Jantung Luka pun kembali berdetak kencang saat mendengarnya. Wajahnya memerah, walau samar karena gelap.
"Ray-kun, kenapa dia begitu baik padaku? Kenapa dia juga tampak tidak begitu terganggu saat berada di dekatku. Dia selalu berbicara denganku dengan ramah, dia tak pernah merayuku dengan rayuan gombal seperti lelaki pada umumnya, dan dia juga sering membantuku tanpa alasan. Dia benar-benar berbeda." gumam Luka dalam hatinya.
"Hmm.. kalau tak mau cerita juga tak apa sih. Aku takkan memaksamu." ujar Ray.
"Tidak kok, aku akan menceritakannya." sahut Luka tersenyum pada Ray dengan wajah sedikit memerah.
Setahun yg lalu di akademi Voca, saat itu Luka masih kelas 1. Luka masuk ke kelas 1-C yg bisa dibilang kelasnya anak bernilai tinggi. Saat itu Luka memang menjadi bintangnya kelas 1-C. Karena wajahnya yg cantik, suaranya yg bagus dan keanggunan tariannya membuatnya cepat populer. Dia pun berkali-kali di ajak berpacaran oleh laki-laki, tapi tak satupun yg di terima. Lalu pada suatu saat, pada musim gugur. Luka yg sedang berjalan di lorong kelas 2 hendak menemui ketua OSIS tiba-tiba di cegat oleh seorang laki-laki tampan.
"Oh.. Takeshi-senpai, ada apa? Apa ada yg bisa saya bantu?" tanya Luka seperti biasa menunjukkan senyum manisnya.
Orang yg ada dihadapannya kali ini adalah Takeshi Yuusuke. Laki-laki paling populer di sekolahnya. Anak kelas 3 yg mendapat julukan pangeran sekolah saat itu.
"Megurine-chan, seperti biasa kamu selalu sangat cantik. Ijinkan saya untuk mencium tanganmu yg indah ini." ujar Yuusuke yg tiba-tiba meraih tangan Luka dan hendak menciumnya.
Namun Luka menariknya tangannya hingga lepas dari genggaman Yuusuke.
"Maaf, hanya orang yg spesial bagiku saja yg ku perbolehkan untuk melakukannya." sahut Luka sambil mempertahankan senyum manisnya.
Sekilas Yuusuke terlihat kesal, namun kemudian dia tersenyum.
"Hmm.. maaf kalau begitu karena telah bersikap lancang padamu, Megurine-chan." kata Yuusuke yg kemudian memberikan jalan pada Luka.
Para siswa kelas 2 yg ada di lorong itu pun terlihat membicarakan kejadian barusan.
"Dia sombong banget ya?" ujar salah seorang siswi.
"Iya, dia bahkan menolak dicium tangannya oleh Yuusuke-sama. Padahal itu adalah impian setiap gadis disini." sahut siswi di sebelahnya.
"Baru kelas satu aja udah belagu, apalagi kalau udah jadi kelas 2." kata siswi yg lain.
Luka sebenarnya mendengar pembicaraan mereka walau samar, namun ia berpura-pura tak mendengarnya. Saat sampai di kelasnya ketua OSIS, dia pun masuk dan menghampiri ketua OSIS yg terlihat sibuk menulis sesuatu walaupun saat itu sedang waktunya istirahat siang.
"Ketua!" panggil Luka.
"Oh, Megurine-san.. ada apa?" tanya ketua OSIS.
"Masalah festival budaya nanti, bisakah jangan menyuruh saya jadi pemimpin panitianya?" pinta Luka dengan serius.
"Hmm.. kenapa emangnya? Padahal menurutku kamulah yg paling cocok melakukannya." ujar ketua OSIS.
"Kalau masalah kecocokan, bukankah sekretaris OSIS juga cocok. Jiwa kepemimpinannya terlihat menonjol saat di ruang OSIS. Bahkan ketua saja sampai tak bisa nolak kalau diperintahkan olehnya. Kalau ngomong selalu kalah. Dan kalau marahan, selalu ketua yg meminta maaf duluan." jawab Luka.
"Sudah cukup, Megurine-san. Jangan dikatakan semuanya gitu dong. Itu sedikit memalukan." ujar ketua OSIS dengan wajah malu.
"Jadi tolonglah, urungkan niat anda untuk menjadikan saya ketua panitia, ketua." pinta Luka lagi.
"Baiklah, tapi kenapa tiba-tiba? Apa ada alasan khusus?" tanya ketua OSIS tampak curiga.
Luka pun tampak ragu untuk menjawab. Namun dia melihat poster konser penutupan festival budaya yg katanya diadakan dari matahari terbenam sampai tengah malam.
"Hmm.. saya ingin menyanyi." ujar Luka.
"Apa?" tanya ketua OSIS karena tak mendengar dengan jelas.
"Saya ingin ikut dalam konser penutupan festival budaya. Saya sangat ingin bernyanyi disana." jawab Luka.
"Aku lupa kalau kamu memang masih kelas satu. Kamu pasti sangat ingin tampil disana seperti anak kelas satu pada umumnya. Namun aku selalu lupa karena sifatmu yg terlalu dewasa itu. Baiklah, nanti akan kuberikan formulir pendaftaran peserta nya. Dan ikutlah seleksinya di auditorium nanti." ujar ketua OSIS menerima permintaan Luka.
Lalu kemudian saat audisi, Luka mendapat nomor urut yg bisa dibilang hampir paling terakhir.
"Hmm.. mau berapa lama lagi ini?" gerutu Luka yg mulai kesal melihat ke arah jam dinding di auditorium.
Namun kemudian ada yg menyapanya dari arah samping.
"Megurine-chan, ikutan audisi juga ya." sapa Yuusuke yg tiba-tiba menghampiri Luka dan duduk di sebelahnya.
Namun Luka hanya menoleh tersenyum sebentar dan melihat ke arah panggung lagi.
"Hmm.. kamu dingin banget padaku, Megurine-chan. Padahal aku mau menawarkan bantuan padamu." sambung Yuusuke yg terlihat sedikit kesal namun memaksakan tersenyum.
"Bantuan? Bantuan apa?" tanya Luka tanpa menoleh sedikitpun ke arah Yuusuke.
"Ini, aku mendapat nomer urut setelah peserta yg sekarang. Kalau kamu mau, kita bisa duet saja biar bisa satu nomer bersama." jawab Yuusuke tersenyum dengan percaya diri.
"Maaf, aku tiba-tiba kebelet. Jadi aku mau ketoilet dulu bentar. Dan saat kesini nampaknya takkan sempat ikutan audisi lagi kalau nomer urutku setelah ini. Maaf ya.." sahut Luka yg lalu berjalan keluar auditorium meninggalkan Yuusuke disana.
Raut wajah Yuusuke berubah tiba-tiba, dia tampak sangat kesal. Sorot matanya terlihat seperti ingin membunuh.
"Nampaknya menaklukannya, tak semudah yg kubayangkan." ucap Yuusuke dengan suara yg menyeramkan.
Saat itu, Luka sedang berjalan ke toilet. Dia berjalan cepat karena kesal dan lalu masuk toliet. Dia berdiri depan cermin toilet tersebut.
"Ada apa dengan semua laki-laki? Mereka itu kenapa selalu sangat agresif? Menyusahkanku saja.." gerutu Luka karena kesal.
Dalam ingatan Luka, terlihat dia selalu dijauhi oleh murid perempuan kelas 2 dan 3. Memang, hanya beberapa saja yg masih mau berteman dengan Luka. Kebanyakan kelas 1, di kelas 2 dan 3 hanya sebagian kecil yg pernah di tolong oleh Luka saja yg masih akrab dengan Luka. Luka memang anggota OSIS yg bisa tergolong rajin karena sering berkeliling di lorong kelas 1, 2, dan 3. Dan setiap ada yg punya masalah pasti akan dibantu olehnya. Maka tak heran jika ada yg masih respect padanya.
"Laki-laki itu, kenapa mereka selalu saja merayuku? Mengatakan aku cantik, punya suara indah, dance yg menawan. Mereka selalu mengikuti nafsu mereka. Apa tak ada yg benar-benar menyukai sesuatu apa adanya? Apa cinta sejati itu hanya mimpi?" ujar Luka tampak sedih di depan cermin.
Lalu tiba saat festival budaya, Luka lolos jadi penyanyi di konser penutupan festival budaya. Saat ini dia sedang senang, dia jadi salah satu anak kelas 1 yg beruntung lolos audisi itu. Dia berjalan di lorong kelas 1 yg sedang ramai dengan para siswa dan pengunjung luar karena festival budaya.
"Hmm.. nanti aku harus menyanyikan lagu apa ya? Aku masih bingung. Mungkin sesuatu yg membangkitkan semangat. Supaya akhir festival budaya nanti jadi terasa positif." pikir Luka sambil berjalan. Namun dia tiba-tiba menabrak seseorang. Dan mereka pun jatuh bersamaan.
"Aduduh.. sakit." ucap gadis berambut pendek coklat kemerahan yg terduduk di lantai.
"Kamu tidak apa-apa, Meiko." tanya laki-laki berambut biru di sebelahnya sambil membantunya berdiri.
"Maaf, aku tadi sedang melamun. Maaf ya.." ucap Luka yg sudah berdiri lagi lalu membungkukkan badannya.
"Tidak apa-apa kok. Wah.. kamu Megurine-san putri nya organisasi OSIS yg terkenal itu kah?" tanya gadis berambut coklat kemerahan yg tidak lain adalah Meiko.
"Tolong jangan panggil aku putri organisasi OSIS lagi. Itu agak mengganggu.." jawab Luka.
"Kenapa? Bukankah itu terlihat bagus?" ucap Meiko.
Luka menyipitkan matanya karena kesal.
"Sudah-sudah, Meiko. Kalau ia tidak mau disebut seperti itu ya jangan di sebut lagi. Jangan menambah masalah.." larang laki-laki berambut biru yg tentu saja itu Kaito.
"Kenapa, Kaito? Apa kamu takut dihina depan teman-temanmu olehnya." ejek Meiko sambil menatap Kaito.
"Apa maksudmu, Meiko. Jangan mengatakan hal aneh ah." protes Kaito.
Luka yg semakin kesal memutuskan untuk pergi meninggalkan Meiko dan Kaito. Dia berjalan melewati Meiko dan Kaito dengan wajah tertunduk.
"Lihat, apa yg kau lakukan. Dia jadi ngambek kan." ujar Kaito yg melihat Luka sudah meninggalkan mereka.
Meiko hanya menatap Luka dengan heran, dia tak tahu apa yg telah terjadi. Tapi dia tahu kalau Luka sedang dalam masalah dilihat dari reaksinya.
Saat konser pun tiba, dan setelah beberapa lama menunggu akhirnya sekarang giliran Luka untuk bernyanyi. Semua penonton yg kebanyakan adalah murid akademi Voca itu pun bersorak melihat Luka yg tampak cantik mengenakan pakaian berwarna coklatnya. Itu memang pakaian original dari perubahan menggunakan earophoid nya. Luka pun mulai menyanyikan lagunya yg berjudul, 'Luka Luka Night Fever'. Dan alunan musik disco pun dimainkan. Luka mulai menari mengikuti alunan musik itu. Lalu dia pun bernyanyi. Tapi tak disangka setelah Luka selesai bernyanyi, Yuusuke muncul dan tiba-tiba berlutut di depan Luka. Melihat hal itu, lantas penonton pun jadi heboh. Ketua OSIS dan panitia yg menyaksikan dari belakang panggung tampak terkejut.
"Megurine-chan, maukah kamu jadi pacarku?" ujar Yuusuke sambil menyodorkan sebuah bunga mawar.
"Maaf, sudah kubilang kan? Aku tak tertarik pada laki-laki sepertimu." jawab Luka.
Para penggemar Yuusuke pun tampak marah. Terlihat dari barisan penonton, mereka mengamuk dan mulai membuat kerusuhan.
"Megurine-san! Cepat keluar panggung! Sebelum semua menjadi rusuh." suruh ketua OSIS dari belakang panggung.
Kemudian Luka pun langsung lari keluar panggung. Luka pun berdiam di sebuah ruangan. Tempat itu gelap tanpa cahaya, karena itu memang sudah malam hari.
"Megurine-san, kamu tak apa?" tanya ketua OSIS yg tampak khawatir.
"Aku baik-baik saja, ketua." jawab Luka.
Tidak lama datang juga sekretaris OSIS membawa kotak P3K.
"Megurine-san, biar ku lihat keningmu." ucap sekretaris.
Luka memang entah kenapa selalu memegangi kepala sebelah kirinya. Saat ia memperlihatkan keningnya itu, terlihat ada darah mengucur.
"Sejak kapan? Aku tak sadar dia terluka." ujar ketua OSIS.
"Sewaktu kerusuhan. Aku merasakan seperti ada benda keras mengenai kepalaku." jawab Luka.
Kemudian sekretaris OSIS itu pun membalut kepala Luka.
"Sudah selesai. Mungkin ada baiknya kamu pulang aja ke rumah dan istirahat." ujar sekretaris OSIS.
"Baiklah." sahut Luka yg tampak lemas.
Luka pun berjalan menuju gerbang sekolah dengan tertunduk lesu. Di depan gerbang, terlihat Yuusuke sudah berdiri menunggu.
"Bagaimana rasanya? Sakit bukan? Itu adalah balasanku untuk kemarin." ujar Yuusuke.
"Apa maksudmu?" tanya Luka.
"Jangan pura-pura, kamu sudah menolakku kemarin!" bentak Yuusuke.
Kemarin, sore hari Yuusuke kembali mencegat Luka. Di berdiri di depan gerbang sekolah.
"Seperti biasa, anda selalu sangat cantik, tuan putri." ucap Yuusuke.
"Mau apa lagi?" tanya Luka dengan nada kesal.
"Biarkan saya mengantar anda sampai ke rumah." ujar Yuusuke sambil menunjukkan sebuah mobil ferrari yg terparkir depan sekolah.
"Maaf, aku sudah punya jemputan sendiri." tolak Luka.
"Tapi, bukankah mobil ini lebih bagus? Ini akan menambah pamormu kalau mengendarai mobil sport yg mahal." bujuk Yuusuke.
"Mobil apapun, harga berapapun sama saja kan. Yg penting bisa buat transportasi. Ngapain buang duit banyak kalau sama aja kegunaannya dengan yg murah." jawab Luka.
"Hmm.. iya juga sih." ujar salah seorang murid yg menyaksikan itu.
"Ada benarnya juga sih. Bego banget kalau buang uang kalau fungsinya sama aja." kata teman disebelahnya.
Mendengar komentar itu Yuusuke jadi agak kesal.
"Nampaknya aku tak bisa melakukannya di restoran perancis itu, kalau begitu akan ku lakukan disini." ujar Yuusuke.
Lalu Yuusuke mendekatkan dirinya dengan Luka. Yuusuke menyentuh dagu Luka dan tersenyum.
"Maukah, kamu jadi pacarku?" ucap Yuusuke sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Luka.
Kemudian Luka pun menamparnya.
"Aku tak menyangka kamu semenjijikan itu, Takeshi-senpai. Jadi kamu mengira bisa membeli hatiku dengan diantar mobil mahal dan makan di restoran mewah? Jangan bercanda! Aku sudah punya semuanya. Jangan kamu pikir semua perempuan itu murahan! Tidak semua hati bisa dibeli dengan uang. Aku tak akan pernah tertarik dengan laki-laki sepertimu." ucap Luka dengan menatap tajam ke arah Yuusuke. Itulah saat pertama Yuusuke ditampar seorang perempuan. Kembali ke masa sekarang, Yuusuke tampak kesal sekali.
"Kalau kamu sudah tahu di tolak kenapa tadi kamu mencobanya lagi tadi di panggung? Atau kamu terlalu bodoh untuk tahu itu adalah sebuah penolakan." tanya Luka.
"Wanita sialan, berani sekali menyebutku bodoh! Tadi itu aku lakukan dengan sengaja untuk membuat popularitasmu jatuh." jawab Yuusuke dengan kesal.
Luka hanya bisa diam saat mendengarnya.
"Hahaha.. kalau kamu mau popularitasmu kembali, kamu harus menjilat sepatuku. Layaknya anjing yg minta belas kasihan tuannya." ucap Yuusuke.
"Aku takkan pernah menuruti perkataanmu. Aku bukanlah tipe perempuan murahan seperti yg kau pikir." tolak Luka.
"Kalau begitu aku akan berikan sedikit paksaan." ujar Yuusuke sambil hendak meraih kepala Luka.
Namun tangan itu di tahan oleh seseorang. Laki-laki berdiri tegak diantara Yuusuke dan Luka terlihat tersenyum.
"Wah.. wah.. ada apa ini? Kerusuhan artis setelah pertunjukan? Apa perlu kupanggil panitia kemari?" ucap laki-laki itu.
"Dia, sejak kapan dia disana? Perasaan sebelumnya dia tidak ada disana." ujar Yuusuke bertanya-tanya dalam hatinya.
"Bercanda.. tenang saja. Takkan ku panggil panitianya. Karena aku sudah memanggilnya sebelum aku kesini. Kalian sudah mendengarnya bukan, panitia." ujar laki-laki itu.
Dan ternyata memang dibelakang Luka sudah ada Meiko, Kaito, para panitia, sekretaris OSIS dan ketua OSIS.
"Se-sejak kapan kalian disana?" tanya Yuusuke yg terlihat terkejut.
"Sudah sejak tadi. Kami bahkan mendengar tentang kau yg sengaja masuk ke panggung untuk mengacaukan konser, atau lebih tepatnya untuk mengganggu Megurine-san." jawab ketua OSIS.
"A-apa?" ucap Yuusuke tak percaya dengan apa yg telah terjadi.
Akhirnya Yuusuke pun dibawa oleh panitia yg sebagiannya adalah guru. Dan mereka pun pergi ke ruang BP. Sementara disana hanya tinggal Luka, Meiko, dan Kaito.
"Kamu tak apa, Megurine-san?" tanya Meiko tampak khawatir.
"Kami mendengar kamu di serang preman dari seorang anak, jadi kami bergegas kemari." sambung Kaito.
"Aku tak apa kok.." jawab Luka tertunduk lesu.
"Syukurlah.. oh ya, masalah waktu itu.. aku minta maaf. Karena perkataanku telah menyinggung perasaanmu." ucap Meiko malu-malu.
"Ya, tak apa. Aku sudah biasa." jawab Luka.
"Kamu gadis yg kuat ya, Megurine-san. Daripada seorang putri, mungkin kamu lebih bisa disebut seorang Ratu. Ratu yg elegan." ujar Meiko.
"Ratu? Emang Megurine nyanyiin lagu TTM. Perasaan di video klip nya gak ada tuh?" ucap Kaito.
"Hah? Apa maksudmu? Kamu kebanyakan nonton channel Indonesia ya? Lagipula itu tahun berapa?!!! Sekarang Ratu udah bubar tahu!!!" bentak Meiko.
"Hahaha.. maaf, kukira mereka masih ada. Lagipula aku nonton di yusuf." jawab Kaito.
"Yg bener tuh youtube dasar bego!" balas Meiko dengan kesar dan keluar logat preman nya.
Luka pun tertawa kecil melihat tingkah Meiko dan Kaito. Dan sejak saat itulah mereka bertiga berteman.
Kembali ke cerita sebenarnya, Luka telah menceritakan semuanya. Dia yg selalu di dekati laki-laki karena pesona nya, selalu dibenci perempuan karena kecantikannya, dan sulit berteman karena perbedaan sosial yg terlalu jauh. Semuanya serba salah, seperti buah simalakama. Hanya Meiko dan Kaito saja yg tak terpengaruh semua hal itu.
"Kupikir, mereka berdua memang benar-benar mirip api yg berkobar dan senantiasa memanaskan situasi yg hampir membeku." ucap Ray saat memikirkan Meiko dan Kaito.
"Ada apa, Ray-kun?" tanya Luka.
"Tidak, tak ada apa-apa. Oh ya, kita hampir sampai." sahut Ray.
Mereka berdua sampai di sebuah rumah di lereng gunung. Disana ada kakek nenek yg memainkan gitar dan marakas.
"Kakek Taka, nenek Toko. Lama tak berjumpa." ucap Ray dengan ramah pada mereka.
"Oh, Shiro-kun kah? Lama tak jumpa.." sahut nenek Toko.
"Siapa dibelakangmu itu, Shiro-kun?" tanya kakek Taka.
"Dia adalah Queen." jawab Ray.
"Dia ratu?! Terima sembah sungkem saya ratu.." ucap nenek Toko sambil bersujud pada Luka.
"Bodoh! Dia itu bukan ratu yg itu. Maksud Ray itu dia itu yg nyanyi lagu TTM." sambung kakek Taka.
"Mereka udah bubar!!!" bentak nenek Toko sambil menendang kakek Taka.
"Mereka itu kenapa?" tanya Luka pada Ray terlihat heran dengan tingkah kakek nenek tersebut.
"Mereka emang agak somplak otaknya. Jangan di pikirkan.." jawab Ray.
"Oh ya, maksudmu meminta bantuan itu apa maksudnya?" tanya Luka penasaran.
"Nah.. itulah alasannya aku membawamu kemari.." jawab Ray sambil tersenyum.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.