VocaWorld, chapter 21 - Perkiraan Salah

Minggu pagi di kediaman Megurine, Luka terlihat baru bangun tidur. Sambil masih menggunakan baju tidur, Luka berjalan menuju ruang baca. Nampaknya dia masih penasaran dengan perkataan Ray kemarin.
"Tetaplah berada di sisi Hatsune-san, walau apapun yg terjadi." kata Ray dalam ingatan Luka.
"Memangnya apa yg akan terjadi? Apa maksudnya berada di sisi Miku-chan?" ucap Luka sambil duduk di kursi.
Saat hendak membuka buku catatannya, Luka melihat ada koran.
"Koran siapa ini? Aku tak ingat berlangganan koran." ujar Luka merasa heran.
Kemudian Luka membuka beberapa halaman, dan ia pun menemukan sebuah berita yg mengejutkan. Di koran itu ada berita yg menyatakan kalau artis Eichi Sasaki, korban ledakan di stasiun radio yg bisa berada di rumah sakit secara misterius, hari ini saat sadar dia juga kehilangan ingatannya sampai sebulan yg lalu. Ia bahkan tak ingat tentang lagu dalam album barunya. Walaupun amnesia, tapi menurut dokter sama sekali tak ada kelainan pada otaknya.
"Apa ini? Apa mungkin ini ada hubungannya dengan Ray-kun?" ucap Luka setelah membaca artikel tersebut.
Luka saat itu buru-buru membuka buku catatannya.
"Kalau aku sama kan dengan perkataan Ray-kun, berarti kejadian pertama di atap mall, lalu kedua di stasiun radio. Lalu 2 ledakan lain. Ti-tidak mungkin.." ujar Luka sambil menambahkan beberapa penjelasan di diagram hubungan yg ada di buku catatannya.
Luka kemudian menuju ke PC yg ada di ruang baca itu. Dia membuka internet dan mencari sesuatu.
"Ti-tidak mungkin, Ray-kun tidak mungkin dia.." ucap Luka tampak terkejut.
"Tidak, tidak, tidak. Ray-kun pasti punya alasan melakukan itu. Aku harus percaya padanya." ujar Luka sambil mematikan PC itu lagi.
"Akan kupastikan besok." kata Luka sambil berdiri, mengambil buku catatan, lalu berjalan meninggalkan ruang baca.

Keesokan harinya, di sekolah saat istirahat makan siang. Miku dan Gumi berjalan menaiki tangga ke kelas 2.
"Kenapa Gumi-chan? Kamu tampak lesu gitu." tanya Miku yg melihat Gumi kelihatan cemas.
"Ti-tidak ada apa-apa kok." sahut Gumi sambil berusaha tersenyum.
"Hmm.. benarkah? Syukurlah kalau begitu.." balas Miku tampak lega.
"Oh ya, Miku-chan. Kenapa kita ke lorong kelas 2?" tanya Gumi.
"Hmm.. aku mau bergabung dengan klub light music. Jadi saat ini aku mau minta formulirnya ke kenalanku." jawab Miku.
"Eh, kenapa tiba-tiba?" ucap Gumi.
"Hehehe.. tak ada yg spesial kok. Cuma kan disekolah ini kita diharuskan ikut sebuah klub." sahut Miku sambil memasuki ruang kelas 2-C.
"Meiko-san.." panggil Miku dari pintu kelas.
"Oh Miku-chan. Mau apa kemari?" sahut Meiko sambil menghampiri Miku.
"Aku mau gabung klub light music-mu dong." jawab Miku.
"Wah.. benarkah? Bagus dong." ucap Meiko saat mendengarnya.
"Jadi Hatsune mau gabung klub kita?" tanya Kaito yg juga menghampiri Miku dan Gumi.
"Ya, bukankah ini kabar bagus. Karena, setelah para kelas 3 lulus, kami pasti kekurangan anggota. Karena saat ini kami belum ada anggota kelas 1. Kelas 2 pun cuma aku dan Kaito doang." ujar Meiko.
"A-ano.. apa aku juga boleh masuk klub light music?" tanya Gumi sambil mengangkat tangan.
"Wah.. Gumi-chan ingin ikut juga ya. Baguslah, jadi kita bisa bareng-bareng terus." ucap Miku tampak senang.
"Boleh kok. Malah itu lebih bagus, karena saat ini kita jadi punya anggota yg cukup untuk mempertahankan klub light music." jawab Kaito.
Di lorong, terlihat Kamui sedang berjalan sambil membawa sebuah kotak makan yg dibungkus kain.
"Ya ampun, Kaito-dono tidak samurai banget. Kenapa dia sampai lupa kotak makan nya?" gerutu Kamui.
Tidak lama kemudian dia sampai di depan kelas 2-C.
"Rasanya aku pernah melihatnya di suatu tempat." ujar Kamui saat melihat Gumi.
"Eh, kenapa kau kemari lagi, Gakupo?" tanya Kaito yg menyadari ada Kamui.
"Apa-apaan Kaito-dono ini? Kenapa anda melupakan kotak makan ini. Padahal anda susah-susah masak pagi-pagi." gerutu Kamui.
"Maaf, aku benar-benar lupa." sahut Kaito.
"Ooh.. jadi kamu melupakan kotak makan itu?" ujar Meiko yg tiba-tiba saja terlihat marah.
"Ti-ti-tidak, bukan begitu kok. Aku tidak sengaja melupakannya. Beneran dah.." jawab Kaito tampak ketakutan.
"Jangan banyak alasan!" bentak Meiko sambil memukul Kaito.
Meiko dan Kaito pun tampak berkelahi, walau lebih terlihat Kaito lah yg dipukuli.
"Meiko-san, tunggu. Jangan pukuli Kaito-senpai." ujar Miku berusaha memisahkan mereka.
"Tolong jangan berkelahi dikelas, Meiko-chan, Kaito-kun." ujar Luka dari arah lorong, tepat dibelakang Kamui.
"Luka-oneesama." ucap Gumi.
"Senang bertemu dengan anda, nona ma.." ucap Kamui yg kemudian di pukul Luka ke samping karena menghalangi.
"Kalian bisa mengganggu yg lainnya. Jadi dimohon berhenti berkelahi." tambah Luka sambil tersenyum.
"Tapi Megurine-san, dia yg mulai duluan." tolak Meiko sambil nunjuk Kaito yg saat ini tampak babak belur dibawah Meiko.
"Meiko-chan, Kaito-kun, ayo ikut ke ruang OSIS. Kamu juga, Miku-chan." suruh Luka.
"Eh, kenapa aku juga?" tanya Miku.
"Sudah, ikut saja." jawab Luka.
Kemudian Luka pun membawa Meiko, Kaito, dan Miku ke ruang OSIS.
"Aduh.." keluh Kamui sambil berdiri lagi.
"Megu, kenapa kamu tampak cemas?" tanya Kamui pada Gumi.
"Tak ada apa-apa, Gaku-gaku.." sahut Gumi.
"Jangan panggil saya begitu lagi. Panggil saya, Gakupo-sama." pinta Kamui.
"Dalam mimpimu." jawab Gumi dengan kesal.
Lalu Gumi berlalu pergi meninggalkan Kamui.
"Nampaknya Kaito-dono melupakan kotak makan nya lagi." ujar Kamui melihat ke arah kotak makan.

Di dalam ruang OSIS, Luka sedang menginterogasi Miku, Meiko dan Kaito.
"Kalian tahu kenapa kalian aku bawa kemari?" tanya Luka.
"Karena berkelahi?" jawab Meiko.
"Tidak, sebenarnya itu hanya alasan saja. Tujuan sebenarnya, aku ingin menanyakan sesuatu pada Miku." jelas Luka tampak serius.
"Menanyakan sesuatu padaku?" ucap Miku tampak bingung.
"Ya, kemarin aku melihat semuanya, saat dibelakang toilet taman. Tolong jelaskan, bagaimana bisa kamu menggunakan earophoid untuk bertarung?" tanya Luka.
"A-apa maksudmu, Luka-senpai?" ucap Miku tak tahu harus jawab apa.
Miku terlihat sangat terkejut dan bingung, iya tak menyangka ada yg melihatnya saat itu.
"Megurine-san, apa maksudnya ini? Earophoid untuk bertarung? Tak mungkin." protes Meiko.
"Sebaiknya tanyakan saja pada Miku. Pasti dia tahu sesuatu, dia merahasiakan sesuatu dari kita semua." balas Luka sambil menyipitkan matanya menatap ka arah Miku.
"Tidak, aku tak merahasiakan apapun kok. Aku hanya melakukan apa yg suara dikepalaku perintahkan." jawab Miku dengan khawatir.
"Suara dikepala?" ucap Luka tak percaya.
"Beneran, aku tidak bohong. Suara dikepalaku menyuruhku melakukan sesuatu dan tiba-tiba aku punya kekuatan." jelas Miku.
"Kenapa kamu menanyai Miku-chan seperti itu Megurine-san?" protes Meiko.
"Aku tak punya pilihan lain. Karena ku kira, dia ada hubungannya dengan kejadian beberapa hari kebelakang." jawab Luka.
"Maksudmu kejadian ledakan misterius itu?" tanya Kaito.
"Ya. Semuanya itu, berhubungan. Aku telah menyelidikinya." jawab Luka lagi.
Kaito dan Meiko hanya bisa terdiam mendengarkannya.
"Ti-tidak! Itu bukan perbuatanku!" teriak Miku yg lalu lari keluar dari ruang OSIS.
"Miku-chan!" panggil Meiko saat melihat Miku lari.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】