VocaWorld, chapter 29 - Mengalahkan Major

Major yg dijatuhkan oleh Miku dan Gumi dengan susah payah itu bisa bangkit lagi dan kembali berdiri tegak.
"Ti-tidak mungkin?!" ucap Gumi terkejut melihat hal itu.
"Sebenarnya terbuat dari apa major itu? Serangan tadi itu sama sekali tidak mempan?" ujar Miku yg juga terkejut dan tak percaya.
"Tampaknya tubuh major itu seperti sebuah gelembung yg sangat kuat. Itu terlihat dari bentuknya yg kembali semula walau sudah di serang berulang kali. Bukan karena keras, melainkan karena fleksibel." ujar Ray sambil tersenyum.
"Maksud aniki?" tanya Dante.
"Bisa dibilang, dari lapisannya yg lebih kuat major itu layaknya balon. Untuk memecahkannya kamu harus membuat tekanan didalam meningkat atau kamu harus punya benda yg tajam atau panas." jelas Ray dengan terlihat yakin.
Major itu mulai menyerang Miku dan Gumi lagi. Dengan tenaga yg tersisa Miku dan Gumi masih bisa menghindarinya. Namun entah sampai kapan mereka akan begitu, karena mereka hampir mencapai batasnya.
"Bagaimana ini? Kita takkan pernah bisa mengalahkannya kalau hanya menghindar terus." ujar Miku.
"Aku tak tahu, kakiku sudah tak sanggup lagi melaukan dancing Happy Rabbit milikku." sahut Gumi yg terlihat kelelahan.
Namun major itu menyerang mereka lagi. Miku dan Gumi pun menghindar ke arah yg berlawanan. Mereka berpencar, membuat kedua lengan major terbuka lebar.
"Kesempatan!" ucap Miku yg kemudian melompat ke tengah.
Ray yg menyadari sesuatu langsung memakai tudung jaketnya.
"Haaa..!!" teriak Miku yg melompat ke arah major.
Namun tiba-tiba Miku di dorong oleh seseorang dan ia pun terlempar kembali ke belakang.
"Kenapa dia menyerangku?!" ucap Miku dalam hati yg melihat lelaki berjaket biru.
Dalam sudut pandang Miku, ia melihat lelaki itu hendak tergencet dua telapak tangan major. Dan kemudian terhimpit kedua tangan raksasa itu. Miku terkejut melihatnya, ia hanya berjongkok diatas pasir menyaksikan hal itu.
"Apa barusan dia.. menyelamatkankum?.." ucap Miku terlihat kaget.
"Tadi itu hampir saja.." ucap lelaki yg tidak lain adalah Ray itu di sebelah Miku menghadap ke belakang.
"Di-dia?! Sejak kapan dia disana?!! Bukankah tadi dia terhimpit tangan major? Tadi juga, aku tak melihatnya, saat ia tiba-tiba mendorongku. Aku baru sadar saat sudah jauh." ujar Miku dalam hatinya terkejut melihat lelaki yg mendorongnya sudah ada di sampingnya.
Miku tak tahu itu Ray karena memakai tudung jaket sehingga wajahnya tak terlihat jelas.
"Jangan terlalu nafsu. Walau kalian sangat ingin mengalahkannya kalau kalian gegabah bisa-bisa kalian yg tamat." ujar Ray tanpa berbalik sedikit pun.
"Kalau kelamaan juga kami bakalan K.O!" gerutu Miku.
"Kalau begitu satu saran dariku, gabungkan dance kalian. Rolling Girl dan Happy Rabbit." sahut Ray dengan tenang.
"Bagaimana menurutmu, Gumi-chan?" tanya Miku melihat ke arah Gumi.
"Ya, patut di coba. Mungkin kakiku masih sanggup melakukannya sekali lagi." jawab Gumi.
"Terima kasih ba.." ucap Miku menoleh ke arah lelaki berjaket biru itu namun dia sudah tidak lagi di tempatnya.
"Eh kemana dia?" ujar Miku mencari-cari lelaki itu.
"Sudahlah, ayo kita mulai saja." kata Gumi yg mulai bersiap-siap.
Gumi mundur beberapa lompatan ke belakang. Kemudian melakukan start jongkok lagi dan berlari sekuar tenaga ke arah Miku.
"Dance: Happy Rabbit!" teriak Gumi saat mulai berlari.
"Dance: Rolling Girl!" teriak Miku.
Kemudian dia memegang tangan Miku, dan memanfaatkan momentum kecepatan larinya dia pun berputar bersama Miku.
"Inilah gabungan dance kami, Dance: Bunny Girl Twister!!!" teriak Miku dan Gumi bersamaan.
Kemudian Gumi melempar Miku ke arah major. Efek dari putaran dan kecepatannya bertambah, dan dengan sekuat tenaga Miku pun menendang perut major itu. Saking kuatnya tendangannya perut major itu sampai menekuk dan kulit perut dan punggung saling bersentuhan. Sementara bagian kepala dan kaki semakin membesar akibat tekanan.
"Masih belum! Haaaaaaa...!!!" teriak Miku yg masih berputar dan melakukan tendangan dengan kaki yg satunya lagi.
Hal itu pun membuat major itu terbelah. Bagian atas dan bawah tubuhnya terpisah. Dan tubuh major itu pun menghilang. Sementara tubuh Miku jatuh ke laut.
"Miku-chan.." ucap Gumi dengan lemas.
Gumi terlihat sangat kelelahan, dan sekarang dia hanya berlutut diatas pasir.
"Gumi-chan, bantu aku.. kepalaku pusing.." ucap Miku yg mencoba berenang.
Matanya terlihat berputar-putar karena pusing berputar dengan kecepatan tinggi. Gumi pun akhirnya menghampiri Miku dengan sisa tenaga yg ada.
"Nampaknya sudah selesai. Ayo pulang, Dante." ajak Ray yg berbalik melompat pergi.
"Baik, Aniki!" sahut Dante yg mengikuti dari belakang.

Ke esokan harinya, Miku tampak lemas sekali di kelas.
"Selamat pagi, Miku-chan.." ucap Gumi yg juga tampak lemas.
"Selamat pagi.." sahut Miku meletakan dagunya di meja tampak malas.
"Apa kamu masih pusing, Miku-chan?" tanya Gumi yg duduk di bangkunya.
"Ya, tadi aja waktu jalan ke mari aku nabrak tiang listrik, nabrak pintu, dan bahkan nyenggol meja berulang kali. Gumi-chan sih itu kenapa kakinya gemetaran gitu?" jawab Miku yg bertanya balik.
"Kakiku rasanya lemas banget dan sakit semua. Seperti selesai squat jump seribu kali." jawab Gumi.
"Hmm.. begitukah? Bagus dong, entar kakinya berotot." ujar Miku.
"Bagus apanya? Bisa-bisa aku gak bisa diejekin kalau kakiku berotot. Entar di bilang menyeramkan." sahut Gumi.
Sementara itu di dekat tangga, Ray dan Luka sedang mengobrol.
"Apa yg kemarin itu benar tipe major, Ray-kun?" tanya Luka di hadapan Ray bersandar di dinding.
"Ya, nampaknya itu salah satu dari tipe major." jawab Ray.
"Salah satu?" ucap Luka.
"Ya, karena major dikhususkan untuk serangan fisik, maka harusnya ada yg lebih kuat lagi nantinya." sahut Ray.
"Begitu ya.." ujar Luka mulai berpikir lagi.
"Oh ya, Megurine-san. Apa kamu punya waktu akhir pekan nanti?" tanya Ray tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan itu jantung Luka langsung dag-dig-dug. Wajahnya pun semakin memerah.
"Me-memangnya mau apa?" tanya Luka terlihat kesal walau pipinya memerah.
"Hmm.. coba tebak!" suruh Ray sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Luka.
Namun Luka hanya diam saja karena malu.
"A-aku harus menjawab apa? Aduh.. aku bingung." ucap Luka dalam hatinya.
"Biar gampang aku kasih clue. Kata kuncinya, 'help'." sambung Ray yg kembali menjauhkan wajahnya.
"Hmm.. Ray-kun mau minta tolong maksudnya?" tanya Luka.
"Ya. Ada sesuatu yg harus kubahas denganmu. Hanya.. denganmu.. Megurine-san.." jawab Ray yg tiba-tiba jadi sangat serius.
Tatapan Ray menunjukkan kalau itu adalah sesuatu yg penting.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】