World Archive - Prolog

Namaku adalah Naral Avnain. Seorang penjaga museum biasa yang bisa ditemukan di mana saja. Hari-hariku juga biasa saja, tak ada yang istimewa. Hanya hari-hari membosankan sama seperti biasanya. Seharian aku hanya berjalan-jalan di sekitar museum atau duduk di pos jagaku sambil menonton video-video pendek di situs streaming video pendek Tik-o-Tok.

Sama seperti yang sedang aku lakukan saat ini, duduk di kursi plastik pos jagaku bersantai sambil menyeruput kopi hangat.

“Tak ada yang menarik, kah? Kenapa cuma video joget-joget doang sih? Ini algoritmanya gimana nih? Kacau...” keluhku anehnya sambil tetap saja menonton semua video sampah itu.

Lagipula saat ini museum sepi, buat apa pula aku mesti patroli kan. Lebih baik aku bersantai-santai saja kan. Lagipula tetap dibayar pula, mau kerja atau tidak pun. Asal datang saja tepat waktu dan pulang saat waktunya tiba. Kurang enak apalagi coba. Makanya aku tak mau resign dari pekerjaan ini, meski membosankan.

“Permisi~”

Selain gaji tetap aku juga dapat uang makan dan uang jalan. Ini benar-benar pekerjaan sempurna untukku.

“Permisi, pak penjaga.”

Kurang apa lagi coba. Sudah fasilitas lengkap, ada kamar mandi, kantin, dan ditambah WiFi gratis pula.

“Pak penjaga mesum.”

“Penjaga museum! Yang benar itu penjaga museum!” bentakku menaruh smartphone-ku di meja.

Di hadapanku kini berdiri seorang gadis yang terlihat memiliki dandanan aneh dan warna rambut yang tidak biasa. Sebelah hitam dan sebelah putih. Pakaiannya pun memiliki paduan warna yang serupa yaitu hitam dan putih. Dan ia memakai semacam gaun ala gaun bangsawan eropa abad pertengahan yang dimodifikasi dengan gaya modern.

Mungkin ini yang disebut dandanan goth loli.

“Biaya masuknya adalah 1.000 Guilda untuk orang dewasa, dan 500 Guilda untuk anak-anak” tambahku.

“Oh” sahutnya sambil mengeluarkan sebuah kipas lipat dan membukanya di depan mulutnya sehingga menutupi separuh wajah bagian bawahnya.

Kalau dilihat dari perawakannya, dia mungkin berusia sekitar 15 atau 16 tahun. Anak sekolahan kah? Pasti dia punya tugas sekolah untuk membuat laporan barang kuno atau semacamnya.

“Maaf, tapi daku tak membawa uang.”

“Hah!?” ucapku kaget.

Dia serius tak membawa uang dan berani mencoba berkunjung ke museum? Dia pasti tidak serius kan?

“Maaf, nona. Tapi untuk masuk ke museum, mau museum apapun itu, nona mesti bayar. Tak mungkin nona tidak mengetahui hal sesederhana itu kan?” tukasku dengan nada sarkas.

“Oh, begitu? Maaf, daku biasanya kalau mau masuk, ya tinggal masuk saja. Mau kemana pun itu. Tak ada yang bisa menghalangi daku, wahai tuan penjaga mesum.”

“Penjaga museum...” koreksiku lagi.

Ini anak daritadi typo terus ya. Jangan bilang dia memang sengaja ingin membuatku kesal.

“Pokoknya nona tidak bisa masuk sebelum nona membayar biaya masuknya” tegasku.

“Benarkah? Siapa memangnya yang sanggup menghalangi daku?”

“Siapa lagi? Tentu saja aku! Nona tahu apa pekerjaanku, kan?” bentakku.

“Penjaga mesum?”

“Penjaga museum!” tegasku sambil menggebrak meja.

Sudah kuduga, bocah ini emang sengaja mengataiku sebagai penjaga mesum.

“Tenanglah, penjaga mesum. Engkau tak perlu marah-marah kepada daku. Sejak awal daku memang tak ada niatan untuk masuk museum. Daku hanya berniat untuk menanyakan sesuatu kepada engkau.”

Nah kan, dia bisa mengucapkan kata museum dengan normal. Jadi tidak mungkin dia salah bilang dengan menyebutku penjaga mesum tanpa sengaja.

“Mau nanya apa?” sahutku dengan nada gusar.

“Apa di sini ada artifak bernama Golden Hour?”

“Golden Hour? Apa itu?” tanyaku balik karena bingung tak mengerti apa yang dimaksud oleh bocah ini.

“Itu adalah sebuah Pocket Watch berwarna emas dengan ukiran kupu-kupu emas di bagian tutup depannya.”

“Jam saku emas dengan ukiran kupu-kupu?” balasku dengan nada bingung.

Ah, yang itu ya. Aku sempat beberapa kali melihatnya sih. Tapi aku tak sudi menjawab pertanyaan bocil yang mengataiku penjaga mesum.

“Tidak, aku tak pernah lihat benda seperti itu seumur hidupku” tambahku.

“Oh, begitu? Kalau begitu daku berterima kasih untuk informasinya” jawabnya sambil mengangkat sedikit ujung roknya dan sedikit membungkuk memberi ungkapan hormat.

“Oh ya, kalau ada perempuan berambut pirang yang menanyakan benda yang sama, tolong engkau jawablah dengan jawaban yang sama dengan itu. Kalau begitu daku pamit” lanjutnya kemudian berbalik dan melangkah pergi.

Untuk apa juga aku menurutimu, dasar bocah. Emangnya aku dibayar olehmu.

Setelah gadis itu pergi, tak berapa lama kemudian datanglah dua orang yang nampaknya ibu dan anak yang kelihatannya sedang berlibur dan mencoba mendatangi museum ini sebagai salah satu destinasi liburan mereka.

“Permisi.”

Ibu itu menyapaku nampaknya hendak menanyakan tarif masuk museum. Jadi lantas saja aku langsung menjawabnya.

“1.000 Guilda untuk orang dewasa, 500 untuk anak-anak” ucapku dengan nada acuh tak acuh.

“Mahal sekali ya...”

Mau bagaimana lagi kan, ini museum paling terkenal di negara ini. Tapi meski begitu, di zaman modern ini, anak-anak mudanya sudah tak lagi ada yang peduli dengan sejarah sehingga jadi sepi begini sekarang.

“Bisa dikurangi tidak?”

“Maaf bu, tidak bisa. Tarif ini sudah ditentukan dari sananya. Saya cuma seorang penjaga di sini” jawabku mencoba sesopan mungkin.

“Mama... aku mau lihat museum, ma~”

“Iya, nak. Bentar, mama mau kasih paham dulu ini kakek-kakek bebal.”

Tolong jaga bahasamu itu jika didepan anakmu, bu. Kalau sampai ia menirumu bisa tidak baik nantinya untuk masa depannya.

“Kasih setengah harga lah, lagian museumnya juga sepi gini. Ada pengunjung tuh jangan ditolak!”

“Saya bukannya menolak pengunjung, madam. Sudah saya bilang saya tidak bisa menurunkan harga karena memang saya hanya bawahan yang hanya sekedar bisa menjalankan regulasi” tegasku sambil berdiri dari kursiku.

“Kyaaa! Mama, dia tidak pakai celana!”

“Dasar kakek mesum!”

Sial, aku lupa kalau aku tidak pakai celana saat ini. Aku sudah terbiasa tak menerima pengunjung akhir-akhir ini sehingga aku malas untuk memakai celanaku lagi setelah dari toilet dan hanya memakai boxer saja seharian. Lagipula akhir-akhir ini panas sekali jadi aku juga kegerahan.

“Dasar tua bangka tidak bermoral! Akan kulaporkan ini ke polisi!”

“T—tunggu sebentar, saya bisa jelaskan” ucapku mencoba untuk memberi penjelasan.

Namun ibu itu tetap mengeluarkan ponsel pintarnya dan mulai menelpon.

“Halo, polisi...”

Tamat riwayatku. Jika aku dipecat karena perbuatan kriminal, aku tidak akan bisa mendapatkan uang pensiun.

Aku hanya bisa pasrah dan menerima nasibku. Beberapa orang polisi pun akhirnya datang dan mulai menanyaiku dengan berbagai macam pertanyaan. Setelah aku mencoba menjelaskan kepada mereka, mereka nampaknya ragu untuk mempercayai perkataanku. Mereka pun memintaku untuk memanggil atasanku.

Tak berapa lama kemudian, atasanku sekaligus manager museum ini datang sambil menggunakan mobil yang sangat mewah. Dan terlihat seorang butler keluar dari mobil itu dan membukakan pintu untuknya.

Atasanku adalah seorang perempuan, anggota dari regu pahlawan di masa lalu, Valnes Ambertal. Seorang perempuan yang sangat cantik yang meski usianya sudah ratusan tahun namun penampilannya tetap sama seperti pada masa primanya.

“Naral, kamu buat masalah apa lagi sekarang?” tukasnya dengan sarkas.

“Kenapa nadamu seperti aku ini sering membuat masalah?” keluhku padanya.

“Bukannya memang selalu begitu” balasnya dengan senyum angkuh.

“Ah...” aku hanya bisa menghela napas atas balasannya itu.

Valnes menghampiri para polisi dan ibu-ibu yang melaporkanku. Terlihat mereka semua berlutut kepada Valnes saat mengetahui kalau yang berada di hadapan mereka adalah salah satu dari anggota regu pahlawan di masa lalu.

“Saat ini aku ingin kalian melupakan masalah ini. Aku akan menggunakan hakku sebagai anggota regu pahlawan untuk kalian supaya tidak lagi mengungkit-ngungkit perihal apapun tentang masalah ini dan melupakannya” pinta Valnes.

“Baik Yang Mulia Priestess Valnes Ambertal” jawab mereka secara serentak.

“Kalau begitu sekarang bubar!” perintah Valnes dengan tegas.

Para polisi pun membubarkan diri dan pergi dari tempat itu.

“Lalu untukmu, sebagai permintaan maaf, kalian boleh masuk museum secara gratis” tambah Valnes sambil menoleh ke arah ibu dan anak di sebelahnya.

“Tidak perlu, Yang Mulia. Melihat Yang Mulia secara langsung saja sudah menjadi hadiah liburan kami yang paling terbaik! Kami sudah merasa sangat bersyukur! Karena itu kami juga mau pamit. Kami harus segera pergi ke destinasi wisata kami selanjutnya” tolak ibu itu.

“Begitu ya, kalau begitu sayang sekali. Kalau begitu semoga wisata kalian lancar dan menyenangkan” ucap Valnes.

“Terima kasih, Yang Mulia Priestess.”

Ibu dan anak itu pun segera pergi setelah membungkuk memberi hormat kepada Valnes.

Seperti biasanya, karismanya sangat tinggi ya.

“Sekarang semua orang sudah pergi, bolehkah aku bertanya sesuatu?” ucap Valnes.

“Mau nanya apa emangnya?” sahutku.

“Kenapa kamu tidak pakai celana?” tanya Valnes.

“Ah itu ya. Sepertinya aku harus menjelaskannya lagi dari awal” ujarku.

****

“Oh jadi kamu tidak pakai celana karena kamu malas untuk memakainya kembali setelah dari toilet. Lalu kamu tidak menyadarinya juga setelah seseorang terus memanggilmu sebagai penjaga mesum. Dan akhirnya kamu berakhir flashing di depan ibu dan anak perempuannya. Tak kusangka kamu memang penjaga mesum” gerutunya mengomeliku.

Aku tak bisa membantahnya, karena aku memang merasa kalau memang ini semua terjadi karena kebodohanku.

Saat ini kami berdua sedang berada di dalam pos jagaku. Valnes saat ini duduk dikursiku sementara aku dipaksa duduk menekuk lutut di lantai yang dingin dan keras.

“Apa aku boleh menanyakan satu pertanyaan lagi?” tambahnya dengan nada jengkel.

“Ya, silahkan, madam” sahutku.

“Kenapa kamu menggunakan penampilan kakek-kakek?” tanyanya dengan nada dingin.

Celaka, aku harus menjawab apa nih?

“Jangan bilang... kamu memang sengaja tidak pakai celana dan dengan penampilan kakek-kakek ini kamu ingin melakukan exhibitionism pada gadis-gadis muda dan ingin melihat reaksi mereka untuk kesenangan seksualmu. Jika memang benar begitu, maka kamu benar-benar menjijikan” tukas Valnes sambil menatapku dengan aura membunuh.

“Tidak! Bukan begitu! Aku tak punya fetish aneh semacam itu!” bantahku dengan sekuat tenaga karena memang itu salah.

“Kalau begitu kenapa?” tanya Valnes lagi.

Aku pun pasrah dan akhirnya mengubah penampilanku kembali ke penampilan asliku.

Seorang pemuda tampan berambut biru kini muncul menggantikan posisi kakek tua yang sebelumnya. Inilah wujud Naral Aprain yang sesungguhnya.

“Kamu harusnya tahu kenapa” jawabku.

“Kenapa?” tanyanya lagi seolah masih tidak mengerti.

Aku malu jika harus menjelaskannya, tapi sepertinya aku tak punya pilihan.

“Itu karena aku terlalu tampan! Memangnya apa lagi? Ditambah patungku terpajang di alun-alun kota ini dan sehingga semua orang pasti akan langsung mengenaliku dan mengerumuniku setiap kali aku menggunakan wujud ini!” tegasku menjelaskan dengan malu setengah mati.

“Lalu kamu pikir patung dengan wajahku tidak ada, gitu? Malahan patungku ada di setiap sudut kota di negara ini. Mereka menjadikan patungku sebagai alat menyembah Tuhan. Kamu pikir aku tidak malu dan kerepotan setiap kali melihat mereka berlutut dan bersujud ke patungku!?” bentak balik Valnes.

“Tapi aku lebih kerepotan lagi! Setiap perempuan, mau gadis maupun janda, semuanya selalu menggodaku dan mencoba menjadi istriku!” balasku.

“Oh, kamu pikir orang yang ingin menjadi suamiku tidak ada!? Orang yang mengirimkan lamaran kepadaku itu banyak. Surat lamaran sampai menumpuk mungkin aku bisa membuat sebuah gunung dengan menumpuknya!” balasnya balik.

“Kamu yakin kamu tidak salah sangka? Mungkin saja itu surat lamaran kerja!” tukasku.

“Tch, kamu juga pasti hanya salah paham! Mungkin saja mereka hanya kasihan kepadamu karena terlalu lama menyendiri” tukas balik Valnes.

“Apa kamu bilang!?” bentakku.

“Kenapa? Kamu pikir aku tidak berani!” bentaknya balik.

Aku pun mundur dan mengambil napas panjang untuk menenangkan diriku. Aku harus menjadi yang paling dewasa di sini, atau kalau tidak perdebatan ini takkan pernah selesai.

“Baiklah mari kita kesampingkan masalah ini, terima kasih sudah bersedia datang langsung dan menyelesaikan masalahku” ujarku sambil menggaruk kepalaku meski tidak terasa gatal.

“Tak masalah, sebagai kawan lama kita memang harus saling membantu kan” jawabnya.

“Seperti yang bisa diharapkan dari adik angkatku” balasku.

“Ya, aku memang selalu menjadi adik angkatmu, ya” balasnya sambil tersenyum.

“Tentu saja, kamu selalu akan jadi adik kesayanganku” jawabku sambil mengelus kepalanya.

“Bahkan meski ratusan tahun berlalu, kamu tetap tidak bisa melupakannya ya”

“Hah? Tadi kamu bilang apa?” tanyaku karena merasa mendengar dia mengatakan sesuatu.

“Bukan apa-apa” sahutnya tersenyum lebar.

Aku yakin aku mendengar dia mengatakan sesuatu meski tak begitu jelas terdengar, atau itu cuma perasaanku saja?

Valnes bangkit berdiri dari tempat duduknya. Ia kemudian berjalan menuju ke pintu keluar dan terlihat butlernya dengan sopan membukakan pintu untuknya.

“Lain kali kamu harus lebih berhati-hati lagi. Aku capek harus terus menyelesaikan masalah yang kamu buat” gerutunya sambil berhenti di ambang pintu dan menoleh ke arahku.

“Tenang saja, itu takkan terjadi lagi” jawabku sambil kembali ke wujud kakek tua dan mengelus janggutku.

“Aku ragu tentang itu” balasnya.

“Aku bersumpah takkan membuat masalah lagi... bagaimana? Kamu sudah percaya?” jawabku sambil mengangkat tangan dan mengacungkan kedua jariku ke atas.

“Ya~ ya~ terserahlah...” balasnya sambil melanjutkan langkahnya.

Aku pun berdiri dan memakai lagi celanaku. Aku kembali dan duduk di kursiku yang sebelumnya diduduki oleh Valnes.

“Sial, ini masih hangat bekas duduknya” ucapku sambil menutup wajahku malu.

****

Malam harinya, seperti biasanya museum ini sangatlah sepi. Tidak ada satu orang pun yang mengunjungi museum ini setelah dua pengunjung bermasalah sebelumnya.

“Aku bosan~ tidak adakah hal yang menarik yang akan terjadi malam ini? Setidaknya ada perampokan gitu biar seru” keluhku yang merasa sangat bosan.

Tak lama kemudian, terlihat dari kejauhan datang seorang perempuan berambut pirang yang memakai gaun merah yang memiliki hiasan bunga mawar berwarna senada di bagian pinggang sebelah kirinya. Rambut pirangnya yang panjang terlihat indah terurai seakan mengeluarkan kemilau keemasan. Seorang perempuan yang cantik dan sangat anggun yang nampak terlihat tak wajar jika dibandingkan dengan semua yang ada di sekitarnya.

“Permisi~” ucap perempuan itu menyapaku.

Matanya yang berwarna biru itu begitu indah, dan kini menatap langsung ke mataku.

“Ya, ada yang bisa saya bantu, madam?” sahutku.

“Apa museum ini masih buka?” tanyanya dengan suara yang sedikit mendesah.

Dan kini ia membungkukkan sedikit tubuhnya ke arahku sehingga terlihatlah pemandangan yang menakjubkan di depan mataku saat ini. Belahan dada yang begitu indah memanjang terpajang tepat di arah sudut pandangku.

“Y—ya, itu sangat terbuka— maksudku ya, kami masih buka” jawabku.

Aku berusaha mengalihkan pandanganku dengan cara menoleh ke arah lain. Namun entah karena gaya tarik apa yang sangat kuat, bola mataku tetap bergulir dan mencoba melihat ke lembah menakjubkan itu lagi.

Tahan, ayo bertahan diriku! Jangan sampai kamu tergoda! Berjuanglah!

“Syukurlah, kupikir aku terlambat. Aku tak bisa kalau tidak hari ini soalnya” ungkapnya.

“Y—ya... syukurlah ya...” balasku.

“Kalau begitu satu pertanyaan lagi, apa di sini memajang artifak bernama Golden Hour?” lanjutnya.

Golden Hour? Bukannya itu adalah hal yang ditanyakan oleh gadis berambut hitam putih itu juga? Kalau tidak salah gadis itu juga menambahkan sesuatu setelahnya.

“Tuan?” panggilnya membuyarkan lamunanku.

Dan ketika fokusku kembali ke dunia nyataku, yang pertama kali terlihat oleh mataku adalah payudara yang begitu besar dengan kulit putih yang nampak begitu mulus yang terbungkus indah oleh gaun merah yang memajang belahan dadanya jadi begitu mengagumkan.

“Y—ya, k—kurasa kami memang memilikinya” jawabku secara reflek karena fokusku teralihkan ke hal lain.

“Baguslah~” sahutnya dengan sensual.

Apa yang barusan aku lakukan!? Kenapa aku malah menjawabnya dengan jujur!? Ini benar-benar memalukan! Hanya karena dada aku kehilangan fokusku!? Meski ini naluriah laki-laki, tapi tetap saja aku harusnya bisa menahan diri!

Aku hanya bisa facepalm untuk menutupi rasa maluku saat ini.

Tapi kupikir ini tidak akan menjadi masalah kan? Tidak jarang juga ada pengunjung yang mengunjungi museum untuk barang yang spesifik, kan?

“Kalau boleh tahu biaya masuknya berapa?” tanyanya lagi.

“1.000 untuk orang dewasa, 500 untuk anak-anak” jawabku menggunakan template biasa.

“Murah sekali~” ujarnya sambil meletakan setumpuk uang dengan pecahan 100 Guilda di atas meja.

“K—kalau begitu silakan tuliskan nama madam di sini” tambahku sambil menyodorkan buku tamu.

Ia pun mulai membungkuk dan menuliskan namanya di buku tamu itu. Sementara aku terus berusaha menghindari untuk melihat ke arah dadanya lagi.

“Oke selesai! Apa dengan ini aku sudah boleh masuk?” ucapnya tampak riang.

“Ya, silakan madam” jawabku.

Ia pun lekas masuk ke dalam museum dengan penuh kegirangan. Bahkan kulihat langkahnya seperti sedang melompat-lompat kecil.

“Ah, rasanya lega sekali. Seperti sesuatu yang besar sudah lewat” ujarku.

Dan tidak, maksudku besar bukan besar yang itu. Dan ini juga bukan perumpamaan sembelit buang air besar.

Bisa dibilang, perempuan tadi itu adalah pengunjung pertama museum ini untuk hari ini, minggu ini, dan sekaligus bulan ini. Ya, setidak-populer itu lah museum saat ini. Aku pun mencoba untuk menengok buku tamu dan membaca nama pengunjung pertamaku ini bulan ini.

“Roselia Watson? Nama yang tidak biasa. Dia pasti bukan berasal dari negara ini” ungkapku ketika membacanya.

Aku menengok ke arah layar yang menampilkan siaran kamera CCTV. Tidak, tentu saja bukan untuk melihat sesuatu yang bukan-bukan. Aku hanya penasaran kenapa dia secara spesifik menanyakan Golden Hour. Benda itu memang artifak yang tak bisa dihancurkan dan waktu yang ditunjukkan oleh jam itu selalu tepat. Tapi hanya itu kegunaannya, tak ada yang istimewa.

Aku pun menemukan keberadaan Roselia. Dan benar saja, dia berada di depan podium yang memajang Golden Hour. Tangannya tampak menyentuh kotak kaca yang melindungi jam saku tersebut. Dan kemudian dia tampak tertawa-tawa kegirangan. Suaranya tak bisa terdengar olehku karena kameranya tidak dilengkapi dengan penangkap suara.

Sebuah pedang tiba-tiba saja muncul entah dari mana dan Roselia memegang pedang itu. Melihat hal itu tentu saja merupakan sebuah redflag yang tampak jelas. Sehingga aku secara reflek berdiri dari tempat dudukku.

“[Teleportation]!”

Aku mengaktifkan sihir teleportasi dan berpindah langsung ke tempat Roselia berada.

Namun ketika lokasi Roselia telah muncul menggantikan lokasiku sebelumnya di penglihatanku, kotak kaca Golden Hour telah pecah. Dan jam saku itu telah berada di genggaman tangan kirinya.

“Kamu terlambat, Alan Nirvana.”

Kata-kata itulah yang menyambut kedatanganku disertai senyuman yang menyeringai yang tersungging di bibirnya.

“Madam, tolong letakan lagi artifak itu. Dengan begitu, aku akan menganggap kalau ini tidak pernah terjadi, dan tidak akan ada masalah antara kita” ujarku.

Aku mencoba untuk menyelesaikan ini dengan cara baik-baik.

Tapi tunggu sebentar, apa barusan dia menyebut nama asliku? Aku tidak pernah menyebutkan namaku. Baik penampilanku maupun nama diseragamku adalah palsu dan hanya samaran. Mengetahui nama asliku adalah mustahil. Skill penyamaranku adalah skill tingkat tinggi. Sementara nama samaranku juga terdaftar sebagai nama resmi di negara. Untuk mengetahuinya adalah hampir tidak mungkin untuk orang biasa.

“Pasti saat ini kamu kebingungan bagaimana bisa aku mengetahuinya. Jawabannya sebenarnya mudah. Karena aku adalah seorang Watson” jawabnya seolah menjelaskan sesuatu.

Meskipun aku masih tidak mengerti.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Ya, bukan masalahku juga sih kamu tidak mengerti. Lagipula aku malas untuk menjelaskannya. [Late Hour]” jawabnya sambil mengacungkan pedangnya ke arahku.

“[Appraisal] [Status]” aku mengatifkan dua skill penganalisis sekaligus.

Namun hal yang mengejutkanku terjadi.

“Apa maksudnya ini!?” ucapku tak percaya.

Tak ada apapun.

Tak muncul apapun.

“Kamu mencoba menganalisis seorang Watson? Sungguh sangat bodoh. Dasar dungu, skill dan sihir itu takkan mempan dan tak berpengaruh terhadap seorang Watson. Hanya authority satu-satunya yang bisa mempengaruhi kami” jelasnya dengan tatapan yang merendahkanku.

Anti terhadap sihir dan skill ya. Itu cukup merepotkan. Karena skill analisa tak bisa digunakan, aku jadi tak bisa mengetahui kelebihan dan kelemahannya. Aku kekurangan informasi, ini akan menyulitkanku untuk menanganinya.

“Kenapa kamu mencoba mencuri Golden Hour?” tanyaku dengan penuh waspada.

“Mencuri? Kamu salah paham. Aku hanya mengambil kembali” jawabnya dengan yakin.

“Mengambil kembali? Apa maksudmu? Benda itu adalah milik kawan kami! Itu adalah warisannya! Warisan dari orang yang sangat penting untuk kami! Jadi jangan membual dengan mengatakan kalau kamu hanya mengambilnya kembali! Itu bukan milikmu!” tegasku.

“"Kami"? Hahahaha! Mungkin maksudmu adalah kamu sendiri! Bukankah dia yang kamu maksud adalah cintamu yang bertepuk sebelah tangan karena dia keburu mati? Dia memang yang paling penting untukmu, tapi belum tentu untuk yang lain!” balasnya menertawakanku.

Aku pun merasa kesal dan geram karena dia seolah menertawakanku dan kawan-kawanku. Hubungan dan ikatan antara kami bukanlah sebuah lelucon yang patut ditertawakan.

“Berani sekali kamu menertawakan ikatan antara kami, Roselia Watson. Aku tak tahu kamu siapa dan datang dari mana? Tapi jika kamu berani mengolok-ngolok hubungan diantara kami, maka aku takkan tinggal diam. Apalagi kamu mencoba mencuri peninggalan dia” ungkapku sambil mengepal penuh rasa amarah.

Rasa haus darah dan rasa ingin membunuh bergejolak dalam diriku. Aku pun membuka penyamaranku dan menggunakan wujud asliku kembali.

“Oh, jadi ini penampakan asli sang pahlawan legendaris Alan Nirvana. Lumayan tampan juga. Kalau kamu bersedia, mungkin kamu bisa menjadi peliharaanku” tawarnya dengan senyum seolah yakin aku akan menerimanya.

“Hanya dalam mimpimu! [Summon: Holy Sword Clearance]!!!” ucapku dengan lantang.

Partner-ku pedang suci yang selalu menemaniku, akhirnya aku memanggilmu lagi setelah sekian lama. Mohon bantuannya lagi, kawan lama.

Aku menggenggam pedang berwarna platinum itu dengan kedua tanganku.

“Apa kamu tidak penasaran kenapa aku bilang kalau aku hanya mengambil kembali?” tanya Roselia kepadaku masih dengan senyum penuh keyakinannya.

“Apa memangnya? Sekarang aku sudah memegang pedang suci. Skill dan sihir juga tidak berpengaruh kepadaku” jawabku.

“Ya, itu memang benar. Tapi apakah pedang suci bisa menghancurkan Golden Hour?” tanyanya lagi.

“...”

Aku tak bisa menjawab apapun.

“Jawabannya adalah tidak. Dan aku yakin kamu juga sudah tahu itu. Golden Hour tak bisa dihancurkan dengan cara apapun. Seolah ini bukan berasal dari dunia ini. Dan tebakanmu memang benar. Ini memang tidak berasal dari dunia ini. Juga bukan dari duniaku. Ini adalah pusaka luar biasa yang berada di luar logika manusia” jelas Roselia.

“Kamu terlalu banyak bicara, serahkan kembali itu padaku!” bentakku sambil melompat ke arahnya.

Tubuhku melesat lurus dengan kecepatan tinggi ke arahnya, lalu aku mengayunkan pedangku menebaskannya ke arah lengan Roselia. Aku mencoba untuk memotong pergelangan tangannya.

Sebuah tebasan diagonal ke kiri atas kulesatkan. Namun tidak ada siapa pun di sana. Tebasanku hanya membelah udara kosong.

“A—apa yang terjadi!?” ucapku terkejut.

“Dan itulah, salah satu kemampuan Golden Hour.”

Aku menoleh ke arah datangnya suara itu.

“S—sejak kapan kamu ada di sana?” tanyaku pada Roselia.

Roselia yang saat ini sedang berdiri bersandar ke sebuah tiang hanya tersenyum seolah mengolok-olokku dalam hatinya.

“Tch, itu takkan terjadi lagi! Aku akan mengenaimu sekarang!” tegasku.

“Oh silakan. Silakan coba sebanyak apapun yang kamu mau” jawabnya dengan santai.

“Haaaaaaa!!!”

Aku kembali melompat dan melesat kali ini dengan lebih cepat lagi dan menebaskan pedangku. Kali ini aku tak menahan diriku, aku tak lagi hanya mengincar tangannya, melainkan tubuhnya.

“Apa!?” ucapku kembali terkejut.

Kali ini pun, lagi-lagi aku hanya menebas udara kosong beserta tiang dan membelahnya. Tiang itu pun terbelah sangat mudah bagaikan tahu dan akhirnya atap yang ditopangnya pun roboh bersama tiang tersebut.

“Wah-wah... daya potong pedang suci memang tak bisa diremehkan” bisik Roselia yang kali ini muncul dari belakang.

Dia memegang pundakku dan menempelkan dadanya ke punggungku.

“Menyingkir dariku!” bentakku sambil berbalik.

Aku mencoba menebasnya lagi namun lagi-lagi dia tidak ada di tempat yang seharusnya dia berada.

“Aneh sekali, bukankah kamu menyukai dadaku. Bukannya harusnya kamu senang?” gerutunya dengan nada seolah bingung.

Bagaimana cara dia melakukannya? Teleportasi? Tapi harusnya aku bisa mendeteksi aktivasi sihir teleportasi darinya jika memang dia menggunakan sihir teleportasi. Kalau begitu bagaimana caranya dia bisa berpindah tempat secepat itu tanpa menggunakan sihir teleportasi?

Aku benar-benar kebingungan dan pusing.

“Ini mulai membosankan. Aku akan meladenimu, hanya dengan Hour of Arrival. Bagaimana?” tawarnya sambil menguap.

“Terserah!” bentakku kembali melaju ke arahnya.

Aku menebaskan pedangku ke arahnya, dan kali ini dia tidak menghilang. Melainkan dia hanya menghindarinya. Dia menghindari setiap tebasanku dengan santai. Dia menghindar hanya dengan gerakan minim di saat-saat akhir sebelum tebasanku mengenenainya seolah dia adalah seorang ahli beladari.

“Apa hanya ini kemampuanmu?” ucapnya mengejekku.

“Diam!” bentakku sambil terus mencoba menebasnya.

Namun setiap tebasanku tidak ada satu pun yang mengenai tubuhnya. Malahan ruangan museum mulai hancur berantakan dan barang-barang di dalamnya terlempar dan terpental ke segala arah akibat pertarungan kami. Atau lebih tepatnya akibat tebasanku yang gagal mengenai target.

“Perlukah aku menutup mataku untuk sedikit memudahkanmu?” ejeknya lagi.

Dan ia benar-benar memejamkan matanya. Aku pun semakin kesal. Namun anehnya dia tetap bisa menghindari setiap seranganku dengan sempurna.

Aku tidak mengerti. Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana cara dia melakukannya? Setiap hal yang terjadi pasti ada penjelasannya. Namun yang terjadi di depan mataku ini, bagaimana caraku mencari penjelasannya? Lagipula aku pun tak punya waktu untuk memikirkannya.

“Jika serangan biasa tidak bekerja, maka gunakanlah serangan area luas!” ucapku dengan lantang.

“Rasakan ini! [Explode Fire]!!!” lanjutku.

Sebuah ledakan yang besar pun tercipta dan menghancurkan gedung museum beserta area di sekitarnya. Asap membumbung tinggi dan suara sirine mulai terdengar dari kejauhan.

“Yes, berhasil!” ucapku dengan yakin.

Namun dari balik asap, berjalan keluar sosok perempuan cantik berambut pirang yang memakai gaun merah.

Itu adalah Roselia Watson yang sama sekali tak tergores sedikitpun.

“Apa kamu bodoh? Sudah kubilang sihir dan skill tidak bekerja pasa seorang Watson” ujarnya dengan ekspresi lelah dan kecewa.

“Uwaarrgghh... aku lupa itu! Dasar bodoh! Kenapa aku tidak sadar sejak tadi!? Aku menghancurkan gedung museum dengan sia-sia!” gerutuku kesal dan menyesal.

“Sudah lah. Aku sudah tidak mood” ujarnya kemudian terdengar bunyi klik.

Dan seketika semuanya seolah diputar mundur dengan sangat cepat dan kini kami kembali berada di gedung museum yang masih utuh.

“Madam, tolong letakan lagi artifak itu. Dengan begitu, aku akan menganggap kalau ini tidak pernah terjadi, dan tidak akan ada masalah antara kita” ujarku.

Aku mencoba untuk menyelesaikan ini dengan cara baik-ba—

“M—madam...?” ucapku saat sadar ada sebuah pedang yang menembus dadaku dari depan, dan aku sama sekali tak menyadarinya.

Sejak kapan?

“Maaf, kamu harus mati sebelum kamu tahu apapun di waktu ini. [Early Hour]” ucapnya lalu mencabut pedangnya dari dadaku.

Tubuhku pun terjatuh lemas di lantai.

“Sayonara~ pahlawan legendaris” lanjutnya kemudian pergi berjalan melewatiku.

Tidak, aku tidak boleh mati. Golden Hour adalah peninggalannya. Aku harus mendapatkannya kembali.

“[Gift of The Phoenix: Self-Ressurection]!”

Meski hanya bisa digunakan sekali, aku bisa bangkit dari kematian kembali ke kondisi prima dengan skill ini.

“Aku sudah tahu kamu akan menggunakannya, dan aku sudah membunuhmu lagi untuk itu” ujar Roselia tanpa menoleh sama sekali dan terus berjalan.

“Apa!? Itu tidak mu—ARGGHH!!”

Aku mau mengatakan tidak mungkin, tapi tiba-tiba saja darah keluar dari mulutku. Leherku tergorok dan kedua tangan dan kakiku terpotong-potong terpisah dari tubuhku.

Kapan dia menyerangku? Darimana datangnya serangan itu? Aku tidak tahu. Mau seberapa keras pun kuberpikir aku tetap tak menemukan jawabannya. Dan sebelum sempat memikirkan apapun lagi, semuanya menjadi gelap.

Maafkan aku, Sofia. Aku tak bisa menjaga peninggalanmu.

Dan selamat tinggal semuanya. Selamat tinggal Valnes. Sepertinya, kakakmu ini akan meninggalkan dunia ini lebih dulu.

Selamat tinggal...

...

..

.

Kegelapan pun menelan kesadaranku.

“Padahal itu harusnya mungkin tidak terjadi jika saja engkau mau menuruti perkataan daku. Tapi ya~ mungkin ini yang memang seharusnya terjadi. Mungkin ini yang terbaik. Dan engkau jangan khawatir, karena daku akan mengabadikan semuanya dalam catatan ini.”

Seorang gadis berambut hitam putih melihat dari kejauhan sambil tersenyum.

Dia tampak menulis sesuatu di sebuah buku yang memiliki sampul sebelah putih dan sebelah hitam dengan logo mata di kedua sampulnya dengan warna yang saling bertolak belakang.

Setelah selesai menulis, gadis itu pun menutup bukunya.

“Kisah dirimu akan abadi, di World Archive” lanjutnya sambil tersenyum.

****

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】