Posts

Showing posts from January, 2015

Memo, chapter 39 - Rasa Penasaran

Shindy menatap Arya penuh penasaran. Ruang ekskul sastra jadi terasa canggung bagi Arya saat ini. "Kenapa kamu menatapku seperti itu, senior?" tanya Arya mulai risih. "Akhirnya nanya juga. Sudah pasti karena aku penasaran." jawab Shindy. "Sial, aku dijebak." sahut Arya. Tatapan sayu penuh tekanan dari Shindy itu membuat Arya tidak tahan. Dia merasa sangat terganggu dan jadi tidak bisa berkonsentrasi untuk membaca. "Dia pasti sedang menantiku bertanya kalau dia penasaran karena apa." gumam Arya. Tatapan Shindy semakin membuat Arya merasa tertekan. "Sial, sepertinya aku tak punya pilihan lain." sambung Arya dalam hatinya. "Senior memangnya penasaran karena apa?" tanya Arya dengan tersenyum malas. "Kalau ditanya begitu, aku penasaran.. kamu jago dalam bela diri apa?" tanya balik Shindy. "Sudah kuduga.." ucap Arya dalam hati. "Oh itu, aku tak bisa beladiri apapun. Kalau ada sesuatu yang membahayakan nyawak...

VocaWorld, chapter 151 - Cahaya Dan Rahasianya

Semuanya terlihat penasaran dengan alasan Ray tidak ingin bernyanyi. Saat ini mereka pun masih menatap Ray dengan penuh harap akan menjelaskan segalanya seperti biasanya dia menjelaskan setiap masalah yang terjadi. Namun Ray tetap diam dan bersikap biasa saja. "Woy! Bicaralah sesuatu! Paling tidak katakanlah suatu hal!" bentak Miku yang kesal menanti jawaban Ray. "Oh.. aku harus ngomong apa?" tanya Arya dengan polos. "Jangan tanya aku, dasar ngeselin!" bentak Miku. "Terus aku harus tanya siapa?" tanya Ray lagi. "Lah kok malah nanya mesti nanya ke siapa?" sahut Miku. "Terus aku harus nanya ke siapa kalau aku harus nanya ke siapa?" tanya Ray lagi. "Jangan membuatku bingung dasar sialan!" bentak Ray. "Ray-kun, jangan lari terus. Cepat jelaskan kenapa kamu tidak ingin bernyanyi!" suruh Luka sambil tersenyum. "Hmm.. tapi menurutku daripada menyuruhku bernyanyi yang pastinya takkan berhasil, bukankah lebih e...

Memo, chapter 38 - Situasi Tak Terduga

Hari ini Digna mendapatkan pelatihan khusus dari para seniornya. Dia harus menghadapi para seniornya yang menyerang dari segala arah sendirian. Namun tendangan Digna sangatlah cepat sehingga para senior mampu dikalahkan dengan mudah. Saat itu Arya lewat. "Eh, aku tak tahu ternyata dia sehebat itu." ucap Arya saat lewat di depan pintu. "Ooh.. Arya. Sedang mau ke ruang ekskulmu?" sapa Digna mendekati Arya. "Y-ya.. begitulah. Kamu juga sedang latihan kah?" balas Arya. "Ya tentu saja. Memangnya kamu tidak lihat ya?" jawab Digna. "Kenapa jawabanmu rasanya ngeselin." gerutu Arya. "Hmm.. tapi aku terkejut kamu rajin ke ruangan ekskulmu. Kupikir kamu tipe orang yang tidak suka dengan hal yang merepotkan." ujar Digna. "Ya, mau bagaimana lagi. Aku tak punya pilihan lain. Aku ini laki-laki." jawab Arya. "Kenapa jawabanmu membingungkan gitu.." kata Digna. "Satu sama!" ucap Arya. "Lah tadi itu kau sengaja...

LINE Dragon Flight Story, chapter 24 - Kerajaan Yang Hilang Dalam Satu Malam

Sore itu jadi sore yang kelabu. Elli menangis disamping tempat tidur ayahnya yang terbaring tak berdaya. Duran dan Rikka tak bisa berbuat apa-apa karena semua itu hanya sebuah kenangan. Mereka hanya bisa menonton dari pojok ruangan. "A-apa yang terjadi dengan ayah!?" tanya Elli pada para tabib. "Maafkan kami, yang mulia ratu Elli. Kami sudah berusaha sebisa kami." jawab salah satu tabib. "Apa maksudnya dengan jawaban kalian barusan!? Aku tidak mengerti sama sekali!" bentak Elli. "Tidak, aku yakin Elli mengerti benar maksudnya itu." ujar Duran saat melihat ekspresi shock penuh kesedihan diwajah Elli. Para tabib menundukkan kepala tanpa mau memberi penjelasan yang mereka anggap akan menyakiti perasaan Elli. "Ayah! Bangunlah ayah! Aku tahu ayah masih hidup saat ini! Aku tahu ayah akan menemaniku hingga aku dewasa nanti! Ayah bangunlah!" pinta Elli sambil berjongkok di samping ranjang ayahnya. Tapi ayah Elli sama sekali tak bergerak. Tubuhn...

Memo, chapter 37 - Sudut Pandang

Arya diam di dalam kelas saat istirahat. Kedua temannya berdiri dari tempat duduknya karena hendak jajan ke kantin. "Mau nitip tidak bro? Kita mau ke kantin nih?" tanya Fajar. "Ah kalau gitu aku nitip doa saja ya." jawab Arya. "Hah? Apaan tuh? Aku serius bro." sahut Fajar. "Aku juga serius. Saat ini aku tidak ada uang, jadi.. ya puasa dulu lah." balas Arya. "Oh.. ya udah. Kalau gitu kita ke kantin dulu ya?" ujar Fajar. "Hah? Kita? Aku kan tidak ikut." kata Arya. "Oh iya, maksudnya kami." sahut Fajar. "Anak muda jaman sekarang sering tertukar antara 'kita' dan 'kami'. Padahal kan beda." komentar Arya. "Sendirinya juga kan anak muda jaman sekarang." ujar Digna. "Hei jangan lupa titipanku ya." sambung Arya. "Lah yang doa tadi?" sahut Digna. "Iya. Doa juga kan penting dalam kehidupan kita." jawab Arya. "Ya-ya-ya.. terserahlah.." balas Digna. Sete...

VocaWorld, chapter 150 - Cahaya Yang Enggan Bernyanyi

Dante berdiri dengan gagah di tepian pesawat memperhatikan kebawah. Disana dia melihat sekumpulan orang menatap ke arahnya yang ia yakini kalau salah satu dari mereka adalah Shiro Ray. Dante langsung melompat turun tanpa ragu. "Instrument: Rainbow Piano." ucap Luka kemudian menembakan beberapa pixie untuk menghalau Dante. Tapi dengan bertumpu pada jendela gedung, dia menambah kecepatannya hingga pixie itu terlewat dan dia mendarat dengan keras sekali di jalanan. Hingga jalanan itu kini terlihat hancur dan membuat sebuah getaran yang kuat. Asap debunya pun sampai hingga ke tempat Miku dan kawan-kawan berdiri. "Kalian kira serangan seperti itu bisa mengenaiku.." ucap Dante dari balik asap debu. Pixie-pixie yang tadi ditembakan Luka mengarah lagi ke arah Dante dari atas. Namun ada api hitam yang dicambukan oleh Dante ke atas dan menghancurkan pixie-pixie tersebut dan menyingkirkan semua asap debu di sekitarnya. "..kalian pasti bercanda." sambung Dante dengan ...

Memo, chapter 36 - PR

Di kelas X-1 terlihat tegang semuanya. Tidak lain karena saat ini adalah pelajaran matematika. "Bro, gimana nih bro? Aku belum ngerjain nih, gimana dong?" tanya Fajar pada Arya. "Ya mau bagaimana lagi. Sekarang kan sudah terlambat mau ngerjain disini juga." jawab Arya. "Yah.. bantuin dong. Oh ya, kamu juga belum kan? Hehehe.. berarti aku ada temannya dong." ujar Fajar. "Kata siapa? Aku sudah kok. Meskipun harus menyusahkan 2 orang perempuan." sahut Arya. "Hah? Menyusahkan 2 orang perempuan? Hmm.. maksudmu ibumu dan kakak perempuanmu ya?" tanya Fajar. "Bukan. Aku tak punya kakak perempuan. Dan juga ibuku kan tidak ada dirumah karena aku tinggal sendirian." jawab Arya sambil tetap melihat ke depan. "Hah?! Terus 2 orang perempuan itu siapa dong!?" ucap Fajar terkejut. "Fajar.. jangan berisik. Apa kamu sudah mengerjakan PR mu?" tanya guru matematika yang sedang duduk di mejanya. Yang lain terlihat mengumpulkan ...

Memo, chapter 35 - Janji dan PR 2

Hari minggu pagi, Arya masih tertidur dikamarnya. Namun tiba-tiba ada yang mengetuk-ngetuk pintu rumahnya. Suara ketukan yang keras akhirnya membuat Arya terbangun dari tidurnya. "Permisi.. assalamu alaikum.." ucap seseorang dari pintu depan. Dari suaranya sepertinya itu adalah perempuan. Arya bangun dan langsung menghampiri pintu depan. "Ah siapa sih yang bertamu pagi-pagi begini." gerutu Arya yang tadinya mau menghabiskan pagi dengan tidur hingga siang hari. Arya membuka pintu dan melihat ada 2 gadis cantik di depan pintu rumahnya. "Aaaahhh.. silau!!!" ucap Arya saat melihat mereka. Kedua gadis itu duduk di ruang tamu. Yang satu terlihat cemberut, dan yang satu lagi terlihat memperhatikan seisi rumah dengan malu-malu. "Jadi mau apa kalian datang ke rumahku?" tanya Arya pada gadis yang tak lain ada Alice dan Ani itu. "Tidak sopan. Kamu tak tahu cara menerima tamu atau semacamnya ya. Lagipula rumah ini berantakan sekali." sahut Ani deng...

VocaWorld, chapter 149 - Kembalinya Pangeran Kegelapan

Seluruh bagian pinggir Voca Town ternyata terpagar oleh sebuah benteng api yang menjulang tinggi. Sebuah pesawat terlihat bertengger diatas sebuah puncak gedung tertinggi di kota itu. Semua lalu lintas darat maupun udara menuju keluar kota terhenti karena benteng api hitam itu. Satu-satunya jalan keluar hanyalah dengan lalu lintas air yaitu lewat lautan. Tapi gedung tertinggi tadi berada dekat dengan sisi pantai. Makanya tidak ada yang berani lewat sana. Dibawah gedung itu, Miku dan kawan-kawan terlihat menatap ke arah pesawat dengan wajah terkejut. Soalnya diatas pesawat itu mereka melihat Dante. Ray menatap tajam ke arah Dante karena marah pada Dante. Sementara Dante hanya tersenyum dan tidak mengindahkan amarah Ray. Pagi hari itu di Voca Town, Ray berjalan ke sekolah sendirian. Walau tangan dan kakinya sepertinya patah dan diperban, tapi Ray berusaha untuk sampai ke sekolah. Luka terlihat berlari dibelakangnya berusaha mengejar Ray. “Ray-kun.. tunggu!” panggil Luka sambil berlar...

Memo, chapter 34 - Janji dan PR

Arya terkejut melihat ada Ani dihadapannya. Tampak disebelahnya ada sepeda motor jenis scooter matic. Dan saat ini Ani memakai pakaian full maid, tidak setengah-setengah seperti kemarin. "K-kamu.. sedang apa disini?" tanya Arya. "Tentu saja menjemputmu kan?" sahut Ani. "Menjemputku?" ucap Arya. "Iya, nona muda menyuruhku untuk menjemput anda." jawab Ani. "Hmm.. tapi aku aneh, kenapa kamu rasanya selalu berganti-ganti kepribadian. Kemarin kamu begitu kasar. Tapi sekarang kamu sedikit lebih lembut." ujar Arya. "Berganti kepribadian? Apa maksudmu. Aku sama sekali tak mengerti dengan perkataanmu itu." balas Ani. "Ah ya sudahlah.. kalau begitu aku akan ikut saja. Lagipula jam segini susah kendaraan umum di sekitar sini." kata Arya mendekati Ani. Arya kemudian naik membonceng dibelakang. "Jangan coba-coba untuk memelukku!" bentak Ani. "La-lalu aku harus pegangan kemana?" tanya Arya. ...