Memo, chapter 34 - Janji dan PR

Arya terkejut melihat ada Ani dihadapannya. Tampak disebelahnya ada sepeda motor jenis scooter matic. Dan saat ini Ani memakai pakaian full maid, tidak setengah-setengah seperti kemarin.
"K-kamu.. sedang apa disini?" tanya Arya.
"Tentu saja menjemputmu kan?" sahut Ani.
"Menjemputku?" ucap Arya.
"Iya, nona muda menyuruhku untuk menjemput anda." jawab Ani.
"Hmm.. tapi aku aneh, kenapa kamu rasanya selalu berganti-ganti kepribadian. Kemarin kamu begitu kasar. Tapi sekarang kamu sedikit lebih lembut." ujar Arya.
"Berganti kepribadian? Apa maksudmu. Aku sama sekali tak mengerti dengan perkataanmu itu." balas Ani.
"Ah ya sudahlah.. kalau begitu aku akan ikut saja. Lagipula jam segini susah kendaraan umum di sekitar sini." kata Arya mendekati Ani.
Arya kemudian naik membonceng dibelakang.
"Jangan coba-coba untuk memelukku!" bentak Ani.
"La-lalu aku harus pegangan kemana?" tanya Arya.
"Tuh kebelakang. Ada kan pegangan disana?" jawab Ani.
"Hahaha.. jadi serasa di GTA San Andreas." pikir Arya sambil tersenyum aneh.
"Sudah siap?" tanya Ani.
"Iya." jawab Arya.
"Oke kalau gitu kita let's go!" ucap Ani kemudian menarik gas nya hingga scooter itu standing sebelum melaju.
"Ini perempuan ekstrim banget dah! Lagipula tahu darimana dia rumahku?" gumam Arya terlihat berusaha pegangan erat supaya tidak jatuh.
Saat sampai di depan gerbang rumahnya Alice, Arya terperangah kagum. Soalnya rumah Alice lebih mirip istana daripada disebut sebagai rumah. Di depan halamannya banyak pepohonan berbaris rapi kemudian ada juga taman bungan yang cukup luas sebelum akhirnya sampai di pintu depan.
"Kita sudah sampai." ujar Ani.
Arya masih melihat-lihat sekitar rumah itu sehingga tidak mendengarkan.
"Hei aku bilang kita sudah sampai, tuan Arya." kata Ani.
"Ah, maaf aku lupa, aku terlalu kagum dengan rumah ini." sahut Arya lalu turun dari scooter.
"Terserah lah.." ujar Ani kemudian melajukan scooter nya ke belakang rumah.
"Eh, tunggu.. aku harus bagaimana?" tanya Arya.
Namun Ani sudah keburu jauh. Pintu depan yang megah itu pun terbuka. Dan terlihat Alice sudah berdiri disana bersama dengan Ani disampingnya.
"Ba-bagaimana bisa?!! Tadi dia kan baru saja kebelakang lewat sana? Kok sudah ada dipintu depan? Teleportasi kah?!!" ucap Arya dalam hati terkejut melihat Ani.
"Selamat datang.." ucap Alice dengan senyuman manis.
Sementara Ani hanya menatap dengan wajah tanpa ekspresi.
"Y-ya.. terima kasih atas sambutannya.." sahut Arya.
"Ada apa ini? Aku kesini karena dia mau mengajariku matematika kan?" gumam Arya bingung.
Alice saat itu mengenakan gaun yang indah layaknya seorang putri. Gaun putih bercorak biru yang serasi sekali dengan warna kulitnya yang begitu putih dan warna maatanya yang kebiruan. Karena Alice memakai gaun seperti itu membuat Arya minder karena dia hanya pakai kaos dan celana olahraga bekas SMP.
"Tidak sopan sekali, memakai pakaian seperti itu di depan nona Alice." ujar Ani.
Mendengar perkataan Ani, Arya pun langsung berkeringat dingin.
"Harusnya kamu pakai yang lebih sopan. Apa kamu tak punya cita rasa akan mode sedikitpun?" sambung Ani membuat Arya jadi semakin pucat.
"Sudah-sudah Ani. Aku tak keberatan dengan pakaiannya kok."kata Alice.
"Tapi nona, dia malah memakai pakaian seadanya gitu sementara nona memakai pakaian nona yang paling bagus." balas Ani.
"Ah, Ani.. kenapa kamu malah mengatakannya.. itu memalukan." ujar Alice dengan panik dan wajahnya terlihat memerah.
"Ma-maaf kalau pakaianku tidak pantas untuk datang kemari. Mau bagaimana lagi, semua pakaian di rumahku tak berbeda jauh dari yang kupakai saat ini." jelas Arya.
"Tapi setidaknya modal dulu nyewa pakaian di butik atau semacamnya." kata Ani.
"Ya aku mana tahu bakalan jadi seperti ini." jawab Arya.
"Lagipula pakaian apapun yang aku kenakan tidak memberikan sebuah pengaruh pada diriku. Aku tetaplah aku. Jadi sebagus apapun pakaian yang aku kenakan jika kamu membenciku maka kamu akan tetap membenciku. Begitu juga sebaliknya.” sambung Arya.
“Ya kamu ada benarnya juga..” sahut Ani.
“Kalau memang Ani tidak suka dengan pakaiannya yang sekarang kenapa tidak kita berikan saja pakaian padanya saat ini?” kata Alice memberikan masukan.
“Tapi nona, disini kan kebanyakan perempuan. Jadi tidak mungkin kita bisa meminjamkannya pakaian.” sahut Ani.
“Tapi kan masih ada pakaian ayah..” jawab Alice.
“Pakaian tuan besar? Apa nona sedang bercanda?” tanya Ani terkejut.
“Tidak, aku serius kok.” jawab Alice.
“Jadi kapan nih kita mulai belajarnya?” tanya Arya meskipun tidak dianggap oleh dua gadis dihadapannya.

Arya sudah berganti pakaian. Saat itu dia mengenakan setelan jas serba coklat dengan celana yang juga berwarna coklat. Sementara kemejanya berwarna coklat tua dengan dasi berwarna coklat muda. Dan pakaian itu terlihat sangat cocok dengannya.
“Wah.. kamu cocok sekali memakainya. Ukuran tubuhmu pasti tidak beda jauh dengan ayahku.” ujar Alice.
“Y-ya.. sepertinya kamu cocok mengenakannya.” tambah Ani sedikit malu-malu setelah melihat hasilnya.
“Apa ini? Aku serasa jadi Chocolate Boy setelah mengenakannya.” pikir Arya sambil tersenyum malas.
“Kalau ditambah dengan ini pasti lebih bagus.” ujar Ani yang memasangkan sebuah topi berwarna coklat di kepala Arya.
“Wah.. bagus sekali. Ani memang hebat kalau dalam hal fashion!” puji Alice dengan wajah memerah karena sangat pas sekali.
“N-nah.. sekarang kamu coba bergaya..” pinta Ani.
“Bergaya? Maksudnya bergaya gimana?” tanya Arya.
“Ya bergaya layaknya model lah! Masa gitu aja tidak ngerti sih!” bentak Ani.
“Lah kenapa malah jadi coba-coba baju? Kapan mulai belajarnya nih?” ujar Arya dalam hati.
“Aku tidak tahu bagaimana caranya bergaya. Aku ini orang yang suka melakukan apapun apa adanya tanpa harus banyak gaya dan semacamnya.” ujar Arya sambil memegang tepian topinya dan menurunkannya sedikit.
Arya memasukan tangannya yang sebelah lagi ke saku celana.
“Jadi.. maaf saja, aku ini memang tidak punya cita rasa terhadap mode fashion, nona maid.” sambung Arya sambil melirik ke arah Ani dengan tatapan serius.
“I’m melted!!??” ucap Alice dan Ani bersamaan dengan wajah terkejut penuh kebahagiaan.
“Ada apa dengan mereka? Apa aku melakukan sesuatu yang aneh?” gumam Arya sambil memiringkan kepalanya karena heran.
“Dia.. dia.. benar-benar seorang pangeran..!!” ucap Alice dalam hatinya.
Karena tidak kuat, akhirnya Alice pun pingsan.
“Nona Alice.. bertahanlah nona Alice! Nona Alice!!!” teriak Ani di pandangan Alice yang semakin memudar.
Semuanya tampak gelap saat ini. Tapi kemudian ada suara yang sampai kepadanya.
“Maafkan aku. Sepertinya karena aku memakai pakaian ini kamu jadi pingsan.” kata suara Arya.
“Itu kan suara..” ucap Alice dalam hatinya.
“Sebaiknya aku pergi saja. Sepertinya kamu tidak akan bangun jika ada aku. Karena itu, kita belajarnya lain kali saja ya. Maafkan aku juga karena pulang sebelum kamu bangun. Kalau begitu sampai jumpa lagi..” ujar suara Arya.
“Tidak, ini bukan salahmu.. aku akan bangun.” ucap Alice.
“Jangan pergi!” kata Alice sambil membuka matanya.
“Nona Alice!! Syukurlah anda sudah bangun..” ucap Ani langsung memeluk Alice.
Ternyata Alice sudah berada di ranjangnya. Dia melihat ke kiri dan ke kanan tapi tidak melihat keberadaan Arya.
“Ani, dimana dia?” tanya Alice.
“Dia sudah pulang. Baru saja..” jawab Ani.
Mendengar jawaban Ani, Alice langsung melompat dari kasurnya dan berlari keluar. Dia menuruni tangga dengan cepat dan memburu pintu depan.
“Nona.. tunggu aku!” panggil Ani mengikuti dibelakang Alice.
Alice langsung membuka pintu depan sekuat tenaga berharap Arya masih berada dibalik pintu depan. Tapi ternyata tidak ada siapa-siapa disana.
“Aku terlambat.. gagal sudah semuanya. Aku juga tidak tahu nomor telpon nya.” ujar Alice sambil ngos-ngosan tampak sedih.
Arya saat itu sudah berjalan di trotoar pinggir jalan raya.
“Tak kusangka aku bisa menemukan jalan pintas di pagar belakang. Meskipun jalan itu sepertinya hanya bisa dilewati oleh anak-anak. Padahal tadinya aku ingin lompat pagar.” ujar Arya sambil berjalan.
“Tunggu sebentar.. berarti tubuhku tidak ada bedanya dengan anak-anak?!!!” sambung Arya dengan wajah shock.


Catatan hari ini:
Sesuatu yang sederhana itu lebih indah daripada sesuatu yang mewah. Karena suatu yang sederhana bisa jadi indah dan mewah, tapi sesuatu yang mewah tidak pernah bisa menjadi sederhana.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】