VocaWorld, chapter 149 - Kembalinya Pangeran Kegelapan
Seluruh
bagian pinggir Voca Town ternyata terpagar oleh sebuah benteng api yang
menjulang tinggi. Sebuah pesawat terlihat bertengger diatas sebuah puncak
gedung tertinggi di kota itu. Semua lalu lintas darat maupun udara menuju
keluar kota terhenti karena benteng api hitam itu. Satu-satunya jalan keluar
hanyalah dengan lalu lintas air yaitu lewat lautan. Tapi gedung tertinggi tadi
berada dekat dengan sisi pantai. Makanya tidak ada yang berani lewat sana.
Dibawah gedung itu, Miku dan kawan-kawan terlihat menatap ke arah pesawat
dengan wajah terkejut. Soalnya diatas pesawat itu mereka melihat Dante. Ray
menatap tajam ke arah Dante karena marah pada Dante. Sementara Dante hanya
tersenyum dan tidak mengindahkan amarah Ray.
Pagi hari itu di Voca Town, Ray berjalan ke sekolah sendirian. Walau tangan dan kakinya sepertinya patah dan diperban, tapi Ray berusaha untuk sampai ke sekolah. Luka terlihat berlari dibelakangnya berusaha mengejar Ray.
“Ray-kun.. tunggu!” panggil Luka sambil berlari sekuat tenaga mengejar Ray.
Namun Ray tak mau berhenti ataupun menoleh sedikitpun. Dia tetap melanjutkan langkah kakinya.
“Ray-kun.. kenapa kamu tidak mau berhenti!?” panggil Luka lagi setelah dekat dengan Ray dan memperlambat larinya.
“Oh.. Megurine-san, maaf tadi aku tidak mendengarmu.” sahut Ray sambil menoleh.
“Kamu tidak mungkin tidak mendengarku, soalnya Ray-kun itu selalu tahu saat ada orang dibelakangnya.” ujar Luka yang berhasil mengejar Ray.
“Itu tidak benar juga. Soalnya manusia itu selalu ada saatnya untuk lengah, Megurine-san.” sahut Ray.
“Ya, memang benar sih.” balas Luka sambil terlihat berpikir.
Ray berusaha mempercepat langkahnya. Namun sepertinya itu mustahil karena sebelah kakinya patah sehingga harus menggunakan tongkat penyangga.
“Biar aku bantu..” ujar Luka sambil memegang tongkat penyangga itu.
Kemudian Luka mengangkat lengan Ray dan menjadikan tubuhnya sebagai ganti tongkat penyangga kemudian memapah Ray.
“Ray-kun pasti sangat khawatir dengan Dante-kun sampai Ray-kun memaksakan diri untuk sekolah.” kata Luka.
“Ya mau bagaimana lagi. Aku ini seorang kakak saat ini. Meskipun adikku menyerangku dan kemudian pergi, aku tak mungkin tidak mengkhawatirkannya. Apalagi sampai membencinya.” jawab Ray.
Luka tersenyum karena bangga dengan sifat Ray yang pemaaf seperti itu.
“Tapi tadi itu Ray-kun ceroboh dan bodoh sekali. Kenapa Ray-kun nekat pergi ke sekolah padahal tahu kondisi tubuhnya sedang buruk? Bagaimana kalau sampai lukamu terbuka lagi atau tulangnya bergeser dari semestinya? Kamu hanya akan merepotkan yang lainnya.” gerutu Luka.
“Ya maaf kalau begitu, lain kali aku akan meminta bantuan seperti ini jika aku ingin pergi.” sahut Ray.
“Janji?” tanya Luka sambil menatap Ray dengan wajah cemberut.
“Ya.. aku janji.” jawab Ray.
“Baguslah..” ucap Luka sambil tersenyum.
Ray dan Luka sampai di sekolah. Saat itu sekolah masih sepi dan baru mereka berdua yang datang. Saat mereka lewat di depan kelas 1-C, mereka melihat-lihat ke dalam kelas dari pintu depan. Tapi yang mereka cari tidak ada sehingga mereka berdua terlihat kecewa.
“Mungkin saja dia belum datang. Dia itu orangnya malas bangun pagi.” ujar Ray.
“Ray-kun..” ucap Luka tampak khawatir.
Luka membawa Ray menuju ke kelas 1-B. Setelah mendudukan Ray di kursinya, Luka duduk di depan Ray.
“Kenapa Megurine-san masih disini?” tanya Ray.
“Aku ingin menemani Ray-kun hingga bel masuk.” jawab Luka.
“Apa Megurine-san yakin? Kalau sampai nanti ada yang lihat kita berduaan di kelas, para fans mu bisa ngamuk.” ujar Ray.
“Kalau begitu aku hanya harus melindungi Ray-kun kan. Mereka tak mungkin berani menyerang orang yang aku lindungi, itupun jika mereka benar-benar fans ku.” kata Luka sambil tersenyum.
“Ya.. benar juga.” sahut Ray.
Tak berapa lama Gumi muncul. Dia masuk lewat pintu belakang dengan kepala tertunduk.
“Kenapa kepalamu tertunduk gitu? Sedang mencari uang recehan jatuh kah?” sapa Ray tanpa menoleh kebelakang.
“Oh Shiro Ray kah? Selamat pagi..” sahut Gumi dengan nada datar.
“Selamat pagi juga Gumi-chan..” balas Luka.
“Oh Luka-oneesama kah? Selamat pagi juga..” ucap Gumi tetap dengan nada datar.
“Gumi-chan.. apa terjadi sesuatu?” tanya Luka yang menyadari sesuatu yang aneh.
“Tidak, bukan apa-apa. Mungkin aku hanya kurang tidur.” jawab Gumi sambil berjalan ke tempat duduknya.
Luka menatap curiga pada Gumi. Kemudian dia beralih pada Ray. Dia menatap tajam ke arah Ray sepertinya hendak menginterogasinya.
“Ray-kun.. apa kamu tahu sesuatu tentang hal ini?” tanya Luka dengan suara berbisik.
“Oh.. tentang Megupo-san? Kupikir dia hanya sedang menyalahkan dirinya.” jawab Ray.
“Menyalahkan diri? Karena apa?” tanya Luka.
“Masalah yang sama denganku tentunya.” jawab Ray.
“Tentang Dante-kun juga kah. Memangnya ada apa antara Gumi-chan dengan Dante-kun?” tanya Luka lagi karena merasa penasaran.
“Daripada menanyakan hal itu, lebih baik kita pikirkan bagaimana mengembalikan mood nya.” ujar Ray sambil melihat ke arah Gumi.
“Ya.. baiklah..” sahut Luka.
Tak lama Miku datang dengan kecepatan tinggi berlari di lorong kelas. Dia mengerem tepat di pintu belakang kelas hendak masuk lewat pintu belakang. Namun saat masuk dia tiba-tiba jatuh karena tersandung sesuatu. Wajahnya pun teramplas lantai sampai di belakang tempat duduknya.
“Shiro Ray sialan! Kenapa kamu memalangkan tongkat penyangga mu di pintu belakang!?” bentak Miku terlihat geram sambil bangkit.
“Oh maaf, aku pasti menjatuhkannya saat aku duduk tadi.” sahut Ray dengan wajah biasa saja.
“Jangan bohong! Masa jatuh kok bisa malang tepat di depan pintu gitu!” balas Miku sambil menunjuk-nunjuk Ray.
“Oh tumben kamu pintar. Mestikah kita rayakan hari ini?” tanya Ray dengan nada mengejek.
“Kenapa perkataanmu seperti yang mengatakan kalau biasanya aku ini bodoh!!” ujar Miku semakin jengkel.
“Bukan usually, melainkan always.” sanggah Ray.
“Itu malah lebih parah!” protes Miku.
“Mereka itu kenapa selalu ribut setiap kali ada kesempatan berbicara?” komentar Gumi dalam hatinya sambil memegang keningnya.
“Tapi mereka terlihat lucu disaat seperti itu. Mirip pasangan komedi.” sambung Gumi dalam hati lalu tersenyum.
“Gumi-chan tersenyum? Tunggu, jangan bilang semua ini rencana Ray-kun?” ucap Luka saat melihat Gumi terlihat sudah membaik.
“Oh ada Megurine-senpai. Kebetulan aku ingin bertanya, tadi kenapa miss call aku?” tanya Miku saat menyadari ada Luka.
“Miss call? Siapa yang miss call?” tanya balik Luka yang malah bingung.
“Lho tadi Megurine-senpai miss call aku kan? Terus kalau yang tadi bukan Megurine-senpai berarti itu..” ucap Miku terlihat wajah memucat.
“Kyaa!! Jangan-jangan itu S*d*ko!!!” teriak Miku ketakutan sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya dia mendongah keatas.
“Hayo lho.. Miku-chan bakalan didatengin lho nanti malam.” goda Gumi.
“Aaa..!! Gumi-chan jangan nakut-nakutin aku dong!” protes Miku sambil menutup telinganya.
“Megurine-san.. dibawahmu..” ujar Ray dengan suara pelan.
Luka langsung melihat ke bawah dan melihat tangan Ray menyodorkan sebuah ponsel yang tak lain adalah ponsel milik Luka. Luka terkejut dan menerima ponsel itu.
“Ini ponselku?! Sejak kapan!? Aku yakin sudah menaruhnya disakuku.” gumam Luka masih terkejut.
Tapi kemudian Luka tersenyum karena sudah mengerti kenapa semuanya bisa terjadi.
Saat istirahat, Ray duduk dengan lesu menanti seseorang membuka pintu belakang kelas dengan keras. Gumi pun selalu menoleh ke arah pintu belakang. Namun seseorang yang mereka tunggu tidak kunjung datang. Saat pintu belakang dibuka, Ray dan Gumi langsung menoleh.
“Wah.. itu Luka-sama.. mau apa dia kemari?”, “Pasti dia mau bertemu dengan Shiro-san. Soalnya Shiro-san kan anggota OSIS.”, “Shiro-san benar-benar beruntung dah..” ucap para siswa yang menyadari kedatanga Luka.
“Ah.. ternyata hanya Megurine-san..”, “Ah.. ternyata hanya Luka-oneesama..” ucap Ray dan Gumi secara bersamaan.
“Kenapa hanya kalian berdua yang kecewa dengan kedatanganku?” komentar Luka sambil menghela napas.
Luka berjalan menghampiri Ray dan kemudian mengajaknya mengobrol. Sementara Gumi kembali melihat keluar jendela menatap langit.
“Oh ya Gumi-chan.. apa kamu tahu, akhirnya Miki bisa berkaraoke dengan Kaido-senpai. Mereka berdua terlihat serasi sekali lho.” ujar Miku mengajak ngobrol Gumi.
“Walau aku sedikit kasihan pada Meisa, karena ternyata rasa sukanya tulus pada Kaido-senpai. Tapi yang namanya saingan kan tidak pandang bulu.” sambung Miku.
“Aku terkejut Miku-chan masih saja ngikutin tuh drama.” sahut Gumi akhirnya menoleh kebelakang juga.
“Iya dong. Drama nya kan best seller musim semi kemarin. Pokoknya best, best, best! Tapi.. kata di website resminya katanya minggu depan drama nya libur tayang dulu. Kenapa ya kira-kira?” ujar Miku.
“Mungkin terjadi kecelakaan dengan salah satu kru nya. Atau jangan-jangan penulisnya sedang sakit. Kalau begitu mungkin libur tayangnya akan lebih lama, dan kemungkinan akan diberhentikan.” ujar Gumi.
“Tidak! Drama nya jangan sampai dihentikan! Kalau begitu aku doakan semoga penulisnya cepat sehat dan bisa menulis lagi. Amin..” ucap Miku langsung berdoa sambil menutup matanya.
“Apaan tuh yang hitam-hitam?” kata Gumi.
“Gumi-chan.. jangan ngintip pantsu ku. Memang kenapa kalau hari ini aku pakai yang hitam?” sahut Miku yang masih menutup matanya.
“Kamu pakai warna hitam? Tumben.. eh tunggu sebentar, aku tidak sedang membahas pantsu-mu. Itu lihat keluar!” balas Gumi.
Miku pun melihat keluar jendela. Dan betapa terkejutnya dia melihat sesuatu yang hitam menjulang tinggi kelangit. Memanjang bagaikan sebuah tirai.
“Cih.. ternyata terjadi juga. Padahal kuharap ini tidak pernah terjadi.” ujar Ray.
“Ray-kun apa itu?” tanya Luka.
“Great Firewall of Darkness, teknik milik Dante yang membuat sebuah pembatas menggunakan api hitam.” jelas Ray.
“Kepada seluruh penduduk Voca Town, aku tahu kalian dapat mendengar ini. Saat ini aku sudah membuat benteng di sekitar Voca Town. Kalian jangan resah, itu adalah pelindung kalian.” ujar Dante walaupun hanya suaranya saja.
“Itu suaranya? Tapi dimana dia?” ucap Gumi dalam hati.
“Kenapa bisa Dante-kun berbicara pada kita semua. Tapi ini bukan dari pengeras suara kan?” ujar Luka.
“Memang bukan. Kamu tahu apa itu gaung kan? Dia menggunakan sebuah alat yang memanfaatkan fenomena itu. Dia menyebarkan suaranya ke segala penjuru dengan cara memantulkannya pada benda padat.” jelas Ray.
“Kalau begitu dia pastinya ada di tempat yang tinggi di tengah kota.” sahut Luka.
“Tepat sekali. Tepatnya diatas sebuah pesawat.” balas Ray.
Di atas gedung tertinggi, di pesawatnya Dante berdiri dengan sebuah mikrofon di hadapannya.
“Mereka menuju kemari, tuan.” lapor June yang memperhatikan menggunakan sebuah teropong.
“The White Light memang hebat. Bisa tahu keberadaanku hanya dari trik yang kugunakan.” ujar Dante lalu kembali menyalakan mikrofon nya.
“Dengan ini aku pangeran kegelapan, Lucifer.. menyatakan kalau Voca Town sebagai wilayah kekuasaanku. Bagi siapapun yang melawanku, tak peduli itu kenal atau tidak. Akan kuhancurkan.” lanjut Dante.
Miku dan kawan-kawan sampai di bawah gedung itu. Ray terlihat kesal dengan Dante.
“Oh.. selamat datang.. The White Light..” ujar Dante menatap dengan senyuman iblis.
To be continued..
Pagi hari itu di Voca Town, Ray berjalan ke sekolah sendirian. Walau tangan dan kakinya sepertinya patah dan diperban, tapi Ray berusaha untuk sampai ke sekolah. Luka terlihat berlari dibelakangnya berusaha mengejar Ray.
“Ray-kun.. tunggu!” panggil Luka sambil berlari sekuat tenaga mengejar Ray.
Namun Ray tak mau berhenti ataupun menoleh sedikitpun. Dia tetap melanjutkan langkah kakinya.
“Ray-kun.. kenapa kamu tidak mau berhenti!?” panggil Luka lagi setelah dekat dengan Ray dan memperlambat larinya.
“Oh.. Megurine-san, maaf tadi aku tidak mendengarmu.” sahut Ray sambil menoleh.
“Kamu tidak mungkin tidak mendengarku, soalnya Ray-kun itu selalu tahu saat ada orang dibelakangnya.” ujar Luka yang berhasil mengejar Ray.
“Itu tidak benar juga. Soalnya manusia itu selalu ada saatnya untuk lengah, Megurine-san.” sahut Ray.
“Ya, memang benar sih.” balas Luka sambil terlihat berpikir.
Ray berusaha mempercepat langkahnya. Namun sepertinya itu mustahil karena sebelah kakinya patah sehingga harus menggunakan tongkat penyangga.
“Biar aku bantu..” ujar Luka sambil memegang tongkat penyangga itu.
Kemudian Luka mengangkat lengan Ray dan menjadikan tubuhnya sebagai ganti tongkat penyangga kemudian memapah Ray.
“Ray-kun pasti sangat khawatir dengan Dante-kun sampai Ray-kun memaksakan diri untuk sekolah.” kata Luka.
“Ya mau bagaimana lagi. Aku ini seorang kakak saat ini. Meskipun adikku menyerangku dan kemudian pergi, aku tak mungkin tidak mengkhawatirkannya. Apalagi sampai membencinya.” jawab Ray.
Luka tersenyum karena bangga dengan sifat Ray yang pemaaf seperti itu.
“Tapi tadi itu Ray-kun ceroboh dan bodoh sekali. Kenapa Ray-kun nekat pergi ke sekolah padahal tahu kondisi tubuhnya sedang buruk? Bagaimana kalau sampai lukamu terbuka lagi atau tulangnya bergeser dari semestinya? Kamu hanya akan merepotkan yang lainnya.” gerutu Luka.
“Ya maaf kalau begitu, lain kali aku akan meminta bantuan seperti ini jika aku ingin pergi.” sahut Ray.
“Janji?” tanya Luka sambil menatap Ray dengan wajah cemberut.
“Ya.. aku janji.” jawab Ray.
“Baguslah..” ucap Luka sambil tersenyum.
Ray dan Luka sampai di sekolah. Saat itu sekolah masih sepi dan baru mereka berdua yang datang. Saat mereka lewat di depan kelas 1-C, mereka melihat-lihat ke dalam kelas dari pintu depan. Tapi yang mereka cari tidak ada sehingga mereka berdua terlihat kecewa.
“Mungkin saja dia belum datang. Dia itu orangnya malas bangun pagi.” ujar Ray.
“Ray-kun..” ucap Luka tampak khawatir.
Luka membawa Ray menuju ke kelas 1-B. Setelah mendudukan Ray di kursinya, Luka duduk di depan Ray.
“Kenapa Megurine-san masih disini?” tanya Ray.
“Aku ingin menemani Ray-kun hingga bel masuk.” jawab Luka.
“Apa Megurine-san yakin? Kalau sampai nanti ada yang lihat kita berduaan di kelas, para fans mu bisa ngamuk.” ujar Ray.
“Kalau begitu aku hanya harus melindungi Ray-kun kan. Mereka tak mungkin berani menyerang orang yang aku lindungi, itupun jika mereka benar-benar fans ku.” kata Luka sambil tersenyum.
“Ya.. benar juga.” sahut Ray.
Tak berapa lama Gumi muncul. Dia masuk lewat pintu belakang dengan kepala tertunduk.
“Kenapa kepalamu tertunduk gitu? Sedang mencari uang recehan jatuh kah?” sapa Ray tanpa menoleh kebelakang.
“Oh Shiro Ray kah? Selamat pagi..” sahut Gumi dengan nada datar.
“Selamat pagi juga Gumi-chan..” balas Luka.
“Oh Luka-oneesama kah? Selamat pagi juga..” ucap Gumi tetap dengan nada datar.
“Gumi-chan.. apa terjadi sesuatu?” tanya Luka yang menyadari sesuatu yang aneh.
“Tidak, bukan apa-apa. Mungkin aku hanya kurang tidur.” jawab Gumi sambil berjalan ke tempat duduknya.
Luka menatap curiga pada Gumi. Kemudian dia beralih pada Ray. Dia menatap tajam ke arah Ray sepertinya hendak menginterogasinya.
“Ray-kun.. apa kamu tahu sesuatu tentang hal ini?” tanya Luka dengan suara berbisik.
“Oh.. tentang Megupo-san? Kupikir dia hanya sedang menyalahkan dirinya.” jawab Ray.
“Menyalahkan diri? Karena apa?” tanya Luka.
“Masalah yang sama denganku tentunya.” jawab Ray.
“Tentang Dante-kun juga kah. Memangnya ada apa antara Gumi-chan dengan Dante-kun?” tanya Luka lagi karena merasa penasaran.
“Daripada menanyakan hal itu, lebih baik kita pikirkan bagaimana mengembalikan mood nya.” ujar Ray sambil melihat ke arah Gumi.
“Ya.. baiklah..” sahut Luka.
Tak lama Miku datang dengan kecepatan tinggi berlari di lorong kelas. Dia mengerem tepat di pintu belakang kelas hendak masuk lewat pintu belakang. Namun saat masuk dia tiba-tiba jatuh karena tersandung sesuatu. Wajahnya pun teramplas lantai sampai di belakang tempat duduknya.
“Shiro Ray sialan! Kenapa kamu memalangkan tongkat penyangga mu di pintu belakang!?” bentak Miku terlihat geram sambil bangkit.
“Oh maaf, aku pasti menjatuhkannya saat aku duduk tadi.” sahut Ray dengan wajah biasa saja.
“Jangan bohong! Masa jatuh kok bisa malang tepat di depan pintu gitu!” balas Miku sambil menunjuk-nunjuk Ray.
“Oh tumben kamu pintar. Mestikah kita rayakan hari ini?” tanya Ray dengan nada mengejek.
“Kenapa perkataanmu seperti yang mengatakan kalau biasanya aku ini bodoh!!” ujar Miku semakin jengkel.
“Bukan usually, melainkan always.” sanggah Ray.
“Itu malah lebih parah!” protes Miku.
“Mereka itu kenapa selalu ribut setiap kali ada kesempatan berbicara?” komentar Gumi dalam hatinya sambil memegang keningnya.
“Tapi mereka terlihat lucu disaat seperti itu. Mirip pasangan komedi.” sambung Gumi dalam hati lalu tersenyum.
“Gumi-chan tersenyum? Tunggu, jangan bilang semua ini rencana Ray-kun?” ucap Luka saat melihat Gumi terlihat sudah membaik.
“Oh ada Megurine-senpai. Kebetulan aku ingin bertanya, tadi kenapa miss call aku?” tanya Miku saat menyadari ada Luka.
“Miss call? Siapa yang miss call?” tanya balik Luka yang malah bingung.
“Lho tadi Megurine-senpai miss call aku kan? Terus kalau yang tadi bukan Megurine-senpai berarti itu..” ucap Miku terlihat wajah memucat.
“Kyaa!! Jangan-jangan itu S*d*ko!!!” teriak Miku ketakutan sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya dia mendongah keatas.
“Hayo lho.. Miku-chan bakalan didatengin lho nanti malam.” goda Gumi.
“Aaa..!! Gumi-chan jangan nakut-nakutin aku dong!” protes Miku sambil menutup telinganya.
“Megurine-san.. dibawahmu..” ujar Ray dengan suara pelan.
Luka langsung melihat ke bawah dan melihat tangan Ray menyodorkan sebuah ponsel yang tak lain adalah ponsel milik Luka. Luka terkejut dan menerima ponsel itu.
“Ini ponselku?! Sejak kapan!? Aku yakin sudah menaruhnya disakuku.” gumam Luka masih terkejut.
Tapi kemudian Luka tersenyum karena sudah mengerti kenapa semuanya bisa terjadi.
Saat istirahat, Ray duduk dengan lesu menanti seseorang membuka pintu belakang kelas dengan keras. Gumi pun selalu menoleh ke arah pintu belakang. Namun seseorang yang mereka tunggu tidak kunjung datang. Saat pintu belakang dibuka, Ray dan Gumi langsung menoleh.
“Wah.. itu Luka-sama.. mau apa dia kemari?”, “Pasti dia mau bertemu dengan Shiro-san. Soalnya Shiro-san kan anggota OSIS.”, “Shiro-san benar-benar beruntung dah..” ucap para siswa yang menyadari kedatanga Luka.
“Ah.. ternyata hanya Megurine-san..”, “Ah.. ternyata hanya Luka-oneesama..” ucap Ray dan Gumi secara bersamaan.
“Kenapa hanya kalian berdua yang kecewa dengan kedatanganku?” komentar Luka sambil menghela napas.
Luka berjalan menghampiri Ray dan kemudian mengajaknya mengobrol. Sementara Gumi kembali melihat keluar jendela menatap langit.
“Oh ya Gumi-chan.. apa kamu tahu, akhirnya Miki bisa berkaraoke dengan Kaido-senpai. Mereka berdua terlihat serasi sekali lho.” ujar Miku mengajak ngobrol Gumi.
“Walau aku sedikit kasihan pada Meisa, karena ternyata rasa sukanya tulus pada Kaido-senpai. Tapi yang namanya saingan kan tidak pandang bulu.” sambung Miku.
“Aku terkejut Miku-chan masih saja ngikutin tuh drama.” sahut Gumi akhirnya menoleh kebelakang juga.
“Iya dong. Drama nya kan best seller musim semi kemarin. Pokoknya best, best, best! Tapi.. kata di website resminya katanya minggu depan drama nya libur tayang dulu. Kenapa ya kira-kira?” ujar Miku.
“Mungkin terjadi kecelakaan dengan salah satu kru nya. Atau jangan-jangan penulisnya sedang sakit. Kalau begitu mungkin libur tayangnya akan lebih lama, dan kemungkinan akan diberhentikan.” ujar Gumi.
“Tidak! Drama nya jangan sampai dihentikan! Kalau begitu aku doakan semoga penulisnya cepat sehat dan bisa menulis lagi. Amin..” ucap Miku langsung berdoa sambil menutup matanya.
“Apaan tuh yang hitam-hitam?” kata Gumi.
“Gumi-chan.. jangan ngintip pantsu ku. Memang kenapa kalau hari ini aku pakai yang hitam?” sahut Miku yang masih menutup matanya.
“Kamu pakai warna hitam? Tumben.. eh tunggu sebentar, aku tidak sedang membahas pantsu-mu. Itu lihat keluar!” balas Gumi.
Miku pun melihat keluar jendela. Dan betapa terkejutnya dia melihat sesuatu yang hitam menjulang tinggi kelangit. Memanjang bagaikan sebuah tirai.
“Cih.. ternyata terjadi juga. Padahal kuharap ini tidak pernah terjadi.” ujar Ray.
“Ray-kun apa itu?” tanya Luka.
“Great Firewall of Darkness, teknik milik Dante yang membuat sebuah pembatas menggunakan api hitam.” jelas Ray.
“Kepada seluruh penduduk Voca Town, aku tahu kalian dapat mendengar ini. Saat ini aku sudah membuat benteng di sekitar Voca Town. Kalian jangan resah, itu adalah pelindung kalian.” ujar Dante walaupun hanya suaranya saja.
“Itu suaranya? Tapi dimana dia?” ucap Gumi dalam hati.
“Kenapa bisa Dante-kun berbicara pada kita semua. Tapi ini bukan dari pengeras suara kan?” ujar Luka.
“Memang bukan. Kamu tahu apa itu gaung kan? Dia menggunakan sebuah alat yang memanfaatkan fenomena itu. Dia menyebarkan suaranya ke segala penjuru dengan cara memantulkannya pada benda padat.” jelas Ray.
“Kalau begitu dia pastinya ada di tempat yang tinggi di tengah kota.” sahut Luka.
“Tepat sekali. Tepatnya diatas sebuah pesawat.” balas Ray.
Di atas gedung tertinggi, di pesawatnya Dante berdiri dengan sebuah mikrofon di hadapannya.
“Mereka menuju kemari, tuan.” lapor June yang memperhatikan menggunakan sebuah teropong.
“The White Light memang hebat. Bisa tahu keberadaanku hanya dari trik yang kugunakan.” ujar Dante lalu kembali menyalakan mikrofon nya.
“Dengan ini aku pangeran kegelapan, Lucifer.. menyatakan kalau Voca Town sebagai wilayah kekuasaanku. Bagi siapapun yang melawanku, tak peduli itu kenal atau tidak. Akan kuhancurkan.” lanjut Dante.
Miku dan kawan-kawan sampai di bawah gedung itu. Ray terlihat kesal dengan Dante.
“Oh.. selamat datang.. The White Light..” ujar Dante menatap dengan senyuman iblis.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.