Memo, chapter 31 - Berbagi

Di ruang ekskul sastra, terliha Arya duduk sambil membaca buku. Sindy saat itu sedang sibuk merapikan buku di rak buku.
"Ku dengar kamu melecehkan ketua OSIS, apa itu benar?" tanya Sindy.
"Kenapa senior masih menanyakannya? Bukankah ketua OSIS sudah memberitahukannya kalau itu adalah berita keliru?" tanya balik Arya.
"Aku sudah tahu kok, cuma aku mau ngetes kejujuranmu saja." jawab Sindy.
"Jika senior minta aku untuk jujur, maka jujur saja saat ini aku gugup sekali satu ruangan dengan senior. Apa sampai akhir kita hanya akan berdua saja?" tanya Arya sambil melirik Sindy.
"Tapi itu bagus kan? Artinya kita hanya akan berduaan saja saat mengikuti kegiatan apapun." sahut Sindy tersenyum pada Arya.
"Bagus bagi senior, tapi tidak bagus untuk jantungku." balas Arya melihat lagi ke arah bukunya.
"Oh ya, kamu suka cerita genre apa?" tanya Sindy.
"Apa saja, yang penting menarik untuk dibaca." jawab Arya.
"Kamu orangnya tidak suka pilih-pilih ya.." sahut Sindy sambil duduk di tempat duduknya.
"Buat apa memilih salah satu jika bisa memilih semuanya." balas Arya.
"Oohh.. apakah itu motto mu? Sepertinya menarik." ucap Sindy sambil tersenyum.
Sindy membuka laptopnya dan mengetikan sesuatu disana.
"Apa yang sedang senior tulis?" tanya Arya penasaran.
"Rahasia." jawab Sindy.
"Kenapa senior suka sekali rahasia-rahasiaan?" tanya Arya.
"Karena.. itu menyenangkan.." jawab Sindy.
"Haha.. begitu rupanya." sahut Arya tertawa malas.
Kemudian datang Rere tanpa disangka-sangka.
"Hoi Sindy.. ayo kita makan. Tadi siang kamu belum makan siang kan?" ajak Rere mendekati Sindy.
"Maaf, saat ini aku sedang sibuk." sahut Sindy.
"Ayolah.. kamu jangan lupa makan. Kalau sampai sakit bagaimana?" bujuk Rere.
"Sebentar.. aku lagi sibuk nih." sahut Sindy.
"Hei Sindy.. jangan bilang kamu sedang.." tukas Rere.
"Tidak kok aku sedang main game doang." jawab Sindy.
"Mana ada main game dengan mengetik di keyboard. Ditambah mainnya pakai MS. Word gitu. Tidak mungkin lah." ujar Rere tidak percaya.
"Ada." sahut Sindy.
"Game apa?" tanya Rere.
"Gamemana aku aja dong." jawab Sindy.
"Itu mah gimana." ujar Rere.
"Gimana apanya?" sahut Sindy.
"Itu tadi sanggahan, bukan pertanyaan!" bentak Rere.
"Lah kalau sanggahan jangan dikasih tanda tanya dong." kata Sindy.
"Siapa yang ngasih tanda tanya! Kalau ngomong begini mana bisa ada tanda tanya nya!" sahut Rere.
"Ya ampun senior ini pintar sekali bermain kata. Bahkan bisa membuat senior Rere kesal gitu. Tapi membuat kesal itu kurang baik lho." komentar Arya.
"Kau sendiri begitu!" bentak Rere pada Arya.
"Eh?" ucap Arya sambil memiringkan kepalanya.
"Jangan berpura-pura bodoh." sambung Rere.
"Kalau memang mau makan kenapa tidak disini saja? Aku sedang malas bangun dari tempat dudukku saat ini." saran Sindy.
"Memangnya boleh?" tanya Rere.
"Boleh. Memangnya siapa yang larang." jawab Sindy.
"Oohh.. bagus dah. Aku malas jika makan diluar. Mana yang lain sudah pada pulang." ujar Rere membuka bekal makan siangnya.
"Sepertinya cuma aku saja yang tidak bawa bekal disini." ujar Arya dalam hatinya menyembunyikan wajah dibalik buku.
"Ini, aku bagi setengah. Biar kamu tidak bengong. Entar kalau kesambet malah kita yang repot." ujar Rere sambil memeberikan sebagian bekalnya.
"Kalau begitu aku juga. Tidak adil rasanya kalau cuma Rere yang membagi bekalnya." tambah Sindy membagikan sebagian bekalnya juga.
"Hahaha.. terima kasih." sahut Arya.
"Ada apa sebenarnya dengan mereka? Membagi bekalnya dengan orang yang belum mereka kenal benar. Sebenarnya seberapa baik mereka." pikir Arya.
"Aku jadi terharu.." sambung Arya sambil mengusap matanya dengan lengan bajunya.

Catatan hari ini:
Berbagi memang hal yang indah, tapi tetap harus di batasi oleh rasa malu dan kebijakan hati.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】