VocaWorld, chapter 144 - Festival Budaya (Pembagian Peran)

Acara hari ini nampak berjalan dengan lancar. Semuanya nampak bersemangat mengerjakan peran mereka masing-masing. Hingga acara Daylight Party pun selesai. Miku yang sedang duduk dibelakang panggung pun didatangi oleh Gumi.
"Selamat atas kerja kerasnya.." ucap Gumi sambil duduk disamping Miku.
"Terima kasih.." sahut Miku tampak kelelahan.
"Oh ya Miku-chan, apa aku boleh tanya sesuatu?" tanya Gumi.
"Tanya apa?" sahut Miku.
"Hmm.. itu.. apa Miku-chan punya treasure key Ending Concert?" tanya Gumi.
"Ending Concert? Apaan tuh?" tanya balik Miku sambil memiringkan kepalanya.
"Haha.. sepertinya dia tidak punya." ucap Gumi dalam hati sambil tersenyum malas.
Sementara itu di koridor, Dante berjalan sambil melihat kertas yang ditemukannya.
"Apaan nih? Apa ending concert juga ada treasure key nya? Kupikir itu sudah ditentukan saat pendataan pengisi konser waktu itu." ujar Dante.
"Lagipula, kelas dan klubku poin nya yang tertinggi. Jadi sudah pasti aku akan mengisi acara itu tanpa bantuan treasure key ini." sambung Dante sambil hendak membuang kertas itu ke tempat sampah.
Namun Dante berhenti dan nampak berpikir ulang.
"Tapi.. mungkin lebih baik aku gunakan saja.." tambah Dante sambil tersenyum.
Di belakang panggung, Miku dan Gumi sedang ngobrol. Tapi kemudian Rin dan Len datang menghampiri mereka.
"Yo Miku-nee.. Gumi-nee.." sapa Len sambil melambaikan tangan.
"Rin-chan.. Len-chan.." sahut Miku sambil berdiri dari tempat duduknya.
"Kenapa kalian bisa masuk kemari?" tanya Gumi.
"Kenapa? Tentu saja karena kami menemukan treasure key." jawab Len.
"Tapi.. aku kaget kami bisa ikut serta dalam acara nanti malam." ujar Rin.
"Ya.. tak perlu ada yang dikagetkan. Lagipula penyusun rencana dari acara ini adalah pahlawan legenda, The White Light." sahut Gumi.
"Oh.. benar juga. Ray-niichan memang hebat. Kira-kira apa nanti aku bisa berperan bareng Ray-niichan apa tidak ya?" ujar Rin sambil memegang kedua pipinya dengan tangannya dengan wajahnya yang sedikit memerah.
"Tidak mungkin lah. Bukannya pihak panitia tidak diperbolehkan ikut dalam acara ini?" kata Len.
"Eh beneran? Apa itu benar Miku-neechan?" ucap Rin lalu beralih ke Miku.
"Benarkah?" ucap Miku membuat tampang bodoh.
"Kenapa kamu juga tidak tahu, padahal kamu siswa disini." komentar Gumi dengan senyuman sayu nya.
"Haha.. ya.. begitulah. Panitia memang tidak boleh ikut dalam setiap acara.. mungkin.." tambah Miku.
"Mungkin?" ucap Rin dan Len bersamaan dan membuat ekspresi heran yang sama.

Ray dan Luka sedang berduaan di atap sekolah.
"Nampaknya semuanya berjalan dengan lancar ya, Ray-kun." ucap Luka sambil tersenyum ke arah Ray.
"Ya.. syukurlah semuanya lancar." sahut Ray.
"Tapi tidak aneh semuanya beres, soalnya kan Ray-kun yang mengurus semuanya." tambah Luka.
"Megurine-san, itu kurang tepat." ujar Ray.
Luka melirik ke arah Ray.
"Harusnya Megurine-san bilang 'kita', bukan namaku." sambung Ray sambil tersenyum ke arah Luka.
Luka sedikit terkejut mendengarnya.
"Ya, Ray-kun benar.." sahut Luka sambil balas senyum pada Ray.
Kemudian Dante datang, dia melihat ke arah Ray dan Luka yang sedang berada di pinggir dekat pagar pembatas.
"Enak banget dah Aniki.. disaat yang lain sedang kesulitan dan kebingungan, Aniki malah bermesraan disini dengan wakil ketua OSIS." ucap Dante sambil menghampiri Ray.
"Bermesraan? Siapa yang sedang bermesraan?" tanya Ray membuat ekspresi seperti orang bingung.
"Haha.. Aniki jangan berlagak bodoh. Dilihat dari manapun Aniki dan wakil ketua OSIS ini terlihat sedang bermesraan." jawab Dante sambil menunjuk ke arah Luka.
"Ah.. sudahlah.. ada apa kamu kemari, Dante? Kamu kemari karena ingin menanyakan sesuatu kan." tanya Ray lagi sambil sedikit mendekati Dante.
"Woo.. Aniki memang hebat, bisa tahu tujuanku padahal aku belum bilang apapun." ucap Dante dengan ekspresi kagum.
"Jadi ada apa?" sahut Ray.
"Jadi begini, Aniki. Aku menemukan 3 treasure key Moonlight Opera. Tapi 1 orang hanya mendapatkan 1 peran kan? Terus yang 2 lagi bagaimana?" tanya Dante.
"Hmm.. kalau begitu berikan saja pada orang lain." jawab Ray.
"Eh, memangnya boleh?" ucap Dante sedikit terkejut.
"Ya bolehlah. Kan tidak ada aturan untuk memberikannya pada orang lain." jelas Ray.
"Hmm.. benar juga ya. Kalau begitu ini.. untuk Aniki." ujar Dante kemudian memberikan 2 treasure key pada Ray.
"Hahaha.. biar Aniki saja yang menentukan yang satunya lagi ya. Aku pergi dulu." sambung Dante kemudian pergi menuruni tangga dan kembali ke bawah.
"Dia bermaksud untuk membuatku repot, tapi sayang sekali Dante.. aku sudah tahu siapa yang akan kuberikan ini." ujar Ray dalam hatinya lalu menyodorkan treasure key yang satunya lagi pada Luka.
"Eh, untukku?" ucap Luka saat melihat Ray hendak memberikan kertas itu padanya.
"Ya ambil lah.." sahut Ray.
Luka pun menerima treasure key tersebut, kemudian dia membaliknya untuk melihat peran apa yang ia dapat.
"Mother Fairy." baca Luka.
"Ayo kita segera bersiap-siap, my queen.." ajak Ray sambil berjalan duluan.
"Eh, Ray-kun tunggu.." panggil Luka.

Di belakang panggung, Miku, Gumi, Rin, Len, Meiko, Kaito dan beberapa anggota OSIS sedang berkumpul. Lalu ketua OSIS maju kedepan untuk berbicara.
"Moonlight Opera akan dimulai sekitar jam 7 malam. Kita punya waktu sekitar 4 jam untuk latihan. Naskah drama akan segera dibagikan kepada kalian yang mendapat peran. Sambil menunggu pemeran lain datang kemari, kalian bisa menghabiskan waktu dengan latihan dan menghapal naskah." kata ketua OSIS.
Kemudian ada anggota OSIS yang membagikan beberapa lembar kertas kepada Miku dan kawan-kawan.
"Saat ini kami dari OSIS selaku panitia takkan mendapat peran dan hanya akan bertugas sebagai petugas panggung, peralatan, rias, dsb. Kecuali jika ada sebuah peran yang tidak terisi." sambung ketua OSIS.
"Maaf aku baru datang. Aku punya treasure key. Peranku adalah pelayan." ujar Dante yang tiba-tiba datang ke belakang panggung.
Kedatangan Dante sedikit mengagetkan Miku dan yang lainnya. Gumi pun menatap jengkel pada Dante.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Angin Senja?" tanya Dante saat sampai dihadapan Gumi.
"Tidak, aku hanya heran kamu bisa menemukan treasure key." jawab Gumi mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Haha.. apa maksudmu, Angin Senja? Kamu meremehkanku ya? Aku bahkan mampu menemukan 4." kata Dante dengan penuh kebanggaan.
"Eeeehhh!!??" ucap Gumi dan yang lainnya terkejut mendengarnya.
"A-apa katamu? Kamu dapat 4 treasure key?" tanya ketua OSIS.
"Ya.. mau bagaimana lagi, aku ini orangnya memang beruntung. Pertama aku menemukannya sewaktu tak sengaja mengobrak-ngabrik tempat sampah karena tak sengaja membuang kunci gitarku. Kedua, saat aku ketoilet dan terpeleset jatuh karena lantai licin terus melihat melihat kertas dibawah wastafel. Ketiga di halaman depan sewaktu aku tertidur dibawah pohon dan melihat kertas tertempel dibelakang bangku. Dan keempat aku menemukannya di loker sepatuku." jelas Dante menceritakan kejadian dia menemukan semua treasure key nya.
"Sepertinya yang ke 4 mencurigakan." ujar Gumi dalam hatinya sambil tersenyum aneh.
"Lalu bagaimana dengan peran lainnya kalau banyak treasure key jadi milikmu?" tanya ketua OSIS.
"Tenang saja.. aku sudah memberikan peran yang lain pada Aniki." jawab Dante.
"E-ehhh??!!!" ucap ketua OSIS dan para anggota OSIS terkejut mendengarnya.
"Kamu memberikannya pada kakakmu? Tapi dia kan.. panitia.." ujar ketua OSIS.
"Tapi dengan treasure key, larangan jadi tak berarti, ketua OSIS." ujar Ray sambil masuk bersama Luka.
"Shi-shiro Ray.. tapi kan panitia tidak boleh.." ucap ketua OSIS.
"Ya.. bukankah aku sudah mengatakan padamu, siapapun yang menemukan treasure key bisa mendapatkan apapun yang tertulis treasure key tersebut." jelas Ray memotong perkataan ketua OSIS.
"Benar juga.. sepertinya memang sejak awal kamu sudah merencanakan semuanya, Shiro Ray-kun." ujar ketua OSIS tersenyum kagum.
"Jadi senpai juga mendapat peran, Megurine-senpai?" tanya Miku menghampiri Luka.
"Ya.. begitulah.." jawab Luka sambil tersenyum.
"Luka-oneesama jadi apa?" tanya Gumi.
"Aku jadi ibu peri." jawab Luka.
"Hah?" ucap Kaito dan Meiko dengan kaget.
"Memangnya ini cerita apa ada ibu peri nya segala?" tanya Kaito.
"Hmm.. kupikir ini semacam opera tentang keluarga kerajaan, sepertinya aku salah." ujar Meiko tampak berpikir.
"Ini tentang Cinderella dan Romeo." kata Ray menoleh ke arah mereka.
Mendengar perkataan Ray, Miku dan yang lainnya terdiam dan tampak seperti loading dalam permainan.
"Apaaaaa??!!!" ucap Miku dan kawan-kawan terlihat sangat terkejut.

To be continued..

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】