Memo, chapter 38 - Situasi Tak Terduga
Hari ini Digna mendapatkan pelatihan khusus dari para seniornya. Dia harus menghadapi para seniornya yang menyerang dari segala arah sendirian. Namun tendangan Digna sangatlah cepat sehingga para senior mampu dikalahkan dengan mudah. Saat itu Arya lewat.
"Eh, aku tak tahu ternyata dia sehebat itu." ucap Arya saat lewat di depan pintu.
"Ooh.. Arya. Sedang mau ke ruang ekskulmu?" sapa Digna mendekati Arya.
"Y-ya.. begitulah. Kamu juga sedang latihan kah?" balas Arya.
"Ya tentu saja. Memangnya kamu tidak lihat ya?" jawab Digna.
"Kenapa jawabanmu rasanya ngeselin." gerutu Arya.
"Hmm.. tapi aku terkejut kamu rajin ke ruangan ekskulmu. Kupikir kamu tipe orang yang tidak suka dengan hal yang merepotkan." ujar Digna.
"Ya, mau bagaimana lagi. Aku tak punya pilihan lain. Aku ini laki-laki." jawab Arya.
"Kenapa jawabanmu membingungkan gitu.." kata Digna.
"Satu sama!" ucap Arya.
"Lah tadi itu kau sengaja?!" ucap Digna terkejut.
"Ngomong-ngomong tadi kamu kenapa dikeroyok seniormu gitu? Apa kamu punya masalah dengan mereka? Makanya jadi junior itu jangan cari masalah." ujar Arya.
"Itu latihan. Lagipula aku tidak sepertimu yang selalu bermasalah dengan senior-seniormu. Seperti kemarin sewaktu dengan ketua OSIS." jawab Digna.
"Sudah kubilang kalau itu salah sangka kan? Lagipula masalahnya juga sudah beres." sahut Arya.
"Ehem! Terus, tadi itu latihan apa?" sambung Arya.
"Itu adalah latihan pengambilan keputusan disituasi genting. Mereka sedang menguji kecepatan berpikirku." jelas Digna.
"Hmm.. tujuannya buat apa?" tanya Arya.
"Lah tadi sudah dijelaskan bukan? Supaya aku bisa cepat mengambil keputusan di situasi genting." jawab Digna.
"Tidak, bukan itu maksudku. Tapi tujuanmu berlatih kecepatan berpikir itu untuk apa? Itu tidak terlalu diperlukan dalam bela diri." balas Arya.
"Ya tentu saja, supaya kita bisa melakukan gerakan terbaik untuk mengantisipasi serangan musuh." jelas Digna.
"Kalau begitu bagaimana jika musuh kita menyerang tanpa berpikir? Serangan tidak diduga yang tak bisa terbaca dan cepat." tanya Arya.
"Menyerang tanpa berpikir, itu tidak mungkin." sahut Digna.
"Mau mencoba?" tawar Arya.
"Boleh." terima Digna.
Kemudian Arya langsung menginjak jempol kaki Digna tanpa peringatan sedikitpun. Digna pun melompat-lompat dengans satu kaki karena kesakitan.
"Adududuh.. kenapa kau menginjak kakiku?" tanya Digna.
"Nah itu tadi contohnya. Kamu tak punya waktu berpikir. Itu juga serangan tanpa rencana yang bisa terjadi begitu saja. Jadi.." jelas Arya.
Kemudian Digna membalas menginjak kaki Arya dengan keras. Arya pun kesakitan.
"Kenapa kamu membalas!?" tanya Arya.
"Aku tak mau mendapatkan nasehat dari orang yang sendirinya saja tidak bisa melakukannya." jawab Digna.
"Lah pastinya lah aku tidak bisa. Aku bukan ahli dalam bela diri." sahut Arya.
Dari dalam, guru pembimbing terlihat memperhatikan mereka.
"Oohh.. bukankah itu anak berpakaian ksatria saat MOS waktu itu? Dia menarik juga." ucap guru pembimbing itu.
Catatan hari ini:
Sesuatu yang tak terduga lebih sulit dihadapi daripada yang sudah terencana. Karena rencana bisa hancur oleh sesuatu yang terduga tersebut.
"Eh, aku tak tahu ternyata dia sehebat itu." ucap Arya saat lewat di depan pintu.
"Ooh.. Arya. Sedang mau ke ruang ekskulmu?" sapa Digna mendekati Arya.
"Y-ya.. begitulah. Kamu juga sedang latihan kah?" balas Arya.
"Ya tentu saja. Memangnya kamu tidak lihat ya?" jawab Digna.
"Kenapa jawabanmu rasanya ngeselin." gerutu Arya.
"Hmm.. tapi aku terkejut kamu rajin ke ruangan ekskulmu. Kupikir kamu tipe orang yang tidak suka dengan hal yang merepotkan." ujar Digna.
"Ya, mau bagaimana lagi. Aku tak punya pilihan lain. Aku ini laki-laki." jawab Arya.
"Kenapa jawabanmu membingungkan gitu.." kata Digna.
"Satu sama!" ucap Arya.
"Lah tadi itu kau sengaja?!" ucap Digna terkejut.
"Ngomong-ngomong tadi kamu kenapa dikeroyok seniormu gitu? Apa kamu punya masalah dengan mereka? Makanya jadi junior itu jangan cari masalah." ujar Arya.
"Itu latihan. Lagipula aku tidak sepertimu yang selalu bermasalah dengan senior-seniormu. Seperti kemarin sewaktu dengan ketua OSIS." jawab Digna.
"Sudah kubilang kalau itu salah sangka kan? Lagipula masalahnya juga sudah beres." sahut Arya.
"Ehem! Terus, tadi itu latihan apa?" sambung Arya.
"Itu adalah latihan pengambilan keputusan disituasi genting. Mereka sedang menguji kecepatan berpikirku." jelas Digna.
"Hmm.. tujuannya buat apa?" tanya Arya.
"Lah tadi sudah dijelaskan bukan? Supaya aku bisa cepat mengambil keputusan di situasi genting." jawab Digna.
"Tidak, bukan itu maksudku. Tapi tujuanmu berlatih kecepatan berpikir itu untuk apa? Itu tidak terlalu diperlukan dalam bela diri." balas Arya.
"Ya tentu saja, supaya kita bisa melakukan gerakan terbaik untuk mengantisipasi serangan musuh." jelas Digna.
"Kalau begitu bagaimana jika musuh kita menyerang tanpa berpikir? Serangan tidak diduga yang tak bisa terbaca dan cepat." tanya Arya.
"Menyerang tanpa berpikir, itu tidak mungkin." sahut Digna.
"Mau mencoba?" tawar Arya.
"Boleh." terima Digna.
Kemudian Arya langsung menginjak jempol kaki Digna tanpa peringatan sedikitpun. Digna pun melompat-lompat dengans satu kaki karena kesakitan.
"Adududuh.. kenapa kau menginjak kakiku?" tanya Digna.
"Nah itu tadi contohnya. Kamu tak punya waktu berpikir. Itu juga serangan tanpa rencana yang bisa terjadi begitu saja. Jadi.." jelas Arya.
Kemudian Digna membalas menginjak kaki Arya dengan keras. Arya pun kesakitan.
"Kenapa kamu membalas!?" tanya Arya.
"Aku tak mau mendapatkan nasehat dari orang yang sendirinya saja tidak bisa melakukannya." jawab Digna.
"Lah pastinya lah aku tidak bisa. Aku bukan ahli dalam bela diri." sahut Arya.
Dari dalam, guru pembimbing terlihat memperhatikan mereka.
"Oohh.. bukankah itu anak berpakaian ksatria saat MOS waktu itu? Dia menarik juga." ucap guru pembimbing itu.
Catatan hari ini:
Sesuatu yang tak terduga lebih sulit dihadapi daripada yang sudah terencana. Karena rencana bisa hancur oleh sesuatu yang terduga tersebut.
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.