VocaWorld, chapter 143 - Festival Budaya (Keputusan Tak Terduga)
Kelas 1-B bersiap di panggung utama yang telah disiapkan dihalaman belakang sekolah. Halaman belakang sekolah memiliki lapangan rumput yang luas. Sebuah lapangan yang biasa dibiarkan saja, kali ini di sulap menjadi tempat sebuah pertunjukkan digelar.
"Kemarin itu entah kita sial atau beruntung. Alat-alat musik kita hilang sebagian. Sehingga kita terpaksa mengubah acara menjadi pertunjukan acapella." ujar ketua kelas 1-B.
"Tapi karena itu kita jadi bisa mendapatkan peran di acara Daylight Party. Entah acara apa itu, tapi sepertinya itu acara yang bagus." ujar wakilnya yang tampak berkacamata.
"Oke, kalian sudah datang. Tapi sungguh menarik sekali. Kalian menang tipis dari klub visual kei. Ditambah lagi tidak ada klub acapella, jadi kalian bisa menggunakannya untuk menarik minat pengunjung. Siapa yang merancanakan hal se-brilliant itu?" sapa ketua OSIS melontarkan banyak pujian.
"Ka-kami tidak merencanakannya. Itu terjadi begitu saja." jawab ketua kelas 1-B yang tak lain adalah Amagai Takuya itu.
Dibanding 2 hari lalu, pakaian Takuya lebih normal hari ini. Karena 2 hari lalu dia memakai pakaian aneh dan hanya tulisan 'ketua kelas' di topinya yang menunjukkan dia itu ketua kelas.
"Terjadi begitu saja? Sebuah keberuntungan kah?" pikir ketua OSIS.
"Apakah disini sudah siap?" tanya Ray yang datang bersama Luka.
"Oh ini dia ketua seksi manajemen artis dan panggung. Seksi yang bertugas perencanaan acara festival budaya tahun ini. Tenang saja disini sudah selesai kok. Dan hasilnya dari 2 hari terakhir sangat mengejutkan. Aku tak menyangka dengan membuat game di setiap acara bisa membuat pengunjung maupun siswa jadi semakin bersemangat." puji ketua OSIS saat melihat kedatangan Shiro Ray.
"Tidak kok. Tanpa bantuan dan kerjasama semua pihak semua ini takkan bisa tercapai." jawab Ray.
"Oh ya aku kemari untuk memberitahukan pada ketua kalau saat ini kita punya tambahan staf." sambung Ray sambil melihat ke arah panggung.
"Tambahan staf?" tanya ketua OSIS.
"Lebih tepatnya sih pemain. Yang perlu ketua lakukan hanya pergi ke ruang broadcasting." jawab Ray.
"Ketua baca ini di pengerasa suara tepat setelah beberapa menit memberi sambutan pada pengunjung saat gerbang dibuka." tambah Luka sambil menyodorkan secarik kertas.
"Oohh.. jadi kamu merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan OSIS. Harusnya aku marah, tapi.. saat ini kami memang sedang butuh bantuan." ujar ketua OSIS menerima kertas itu.
"Oh ya, boleh kami bertama Daylight Party itu apa?" tanya Takuya.
"Daylight Party. Kalian adalah kelas yang ditunjuk untuk memeriahkannya. Bukankah penjelesannya sudah cukup jelas di brosur?" jawab ketua OSIS.
"Singkatnya seperti kata yang ada disana, 'party' yang artinya pesta. Kalian bebas menentukan tema pesta yang dimaksud. Asalkan sesuai dengan waktunya." jelas Ray sambil menaiki panggung.
"Dan karena ini tidak terbatas klub atau apapun, kalian bisa meminta bantuan teman kalian yang dulu lebih memilih klub nya." sambung Ray sambil menoleh ke arah siswa-siswa kelas 1-B yang lain.
"Tapi mesti apa? Kami sudah kehabisan ide dengan semua ini." tanya Takuya.
"Jika terlalu terpaku dengan musik, penonton akan cepat bosan. Kenapa kalian tidak menggunakan unsur yang lain kali ini?" jawab Ray memberi masukan.
"Unsur lain? Seperti apa maksudnya?" tanya Takuya lagi.
"Kita gabungkan seluruh acara dari 2 hari sebelum nya menjadi satu. Ghost Tea Party Acapella." jawab Ray.
"Ray-kun, kupikir itu sedikit berlebihan. Mana ada yang mau minum teh ditemani hantu menyeramkan?" ujar Luka.
"Siapa bilang hantu nya akan dibuat menyeramkan?" sahut Ray.
Miku dan Gumi terlihat duduk dikelas mereka meski yang lain berada dekat panggung utama.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan, Miku-chan?" tanya Gumi.
"Ini adalah sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang orang lain tak boleh tahu sebenarnya. Tapi.. kamu adalah sahabatku." jawab Miku dengan wajah serius.
Gumi pun jadi serius mendengarkan Miku.
"Sepertinya ini tentang masalah pribadinya. Aku harus mendengarkannya baik-baik, karena aku adalah sahabatnya." ujar Gumi dalam hati.
"Sebenarnya semalam, sewaktu aku membuka internet aku menemukan berita mengejutkan disebuah forum." lanjut Miku.
"Berita tentang apa? Berita 10 tahun yang lalu kah?" tanya Gumi penasaran.
"Iya, berita 10 tahun lalu.." jawab Miku.
"Ternyata benar. Apa itu tentang kejadian yang dilupakan?" pikir Gumi.
"..masa lalu Miki dan Kaido. Sepertinya Miki dan Kaido adalah teman masa kecil dan mereka tidak menyadarinya." sambung Miku.
Mendengar itu Gumi langsung shock.
"Tentang drama itu lagi!!? Kupikir beneran masalah 10 tahun yang lalu!" bentak Gumi.
"Ya ini juga kan tentang 10 tahun yang lalu masa lalu Miki." ujar Miku tampak sedikit takut.
"10 tahun jidatmu lebar! Itu kan cuma fiksi! Lagipula forum nya tidak jelas, jadi pasti cuma teori fans saja! Jadi jangan asal percaya!" balas Gumi.
"Hah?! Masa!!!?" ucap Miku terdengar shock.
"Harusnya aku jangan terlalu berharap tadi." ujar Gumi dalam hati sambil memegang keningnya.
"Tapi apa yang terjadi 10 tahun lalu? Kenapa semua orang ingatannya blank tentang 10 tahun yang lalu?" sambung Gumi dalam hatinya tampak berpikir.
Diatas sebuah pohon, seseorang memperhatikan ke arah Miku. Seorang berjubah hitam memperhatikan Miku dengan seksama.
"Dia adalah orangnya. Tidak salah lagi. Namun, aku takkan bisa lebih dekat lagi. Aku kemari karena suatu hal yang lain." ujar sosok misterius itu lalu menghilang.
Tanpa sepengetahuan sosok itu, Ray berdiri memperhatikan ke arah pohon.
"Benar-benar menarik." ujar Ray sambil bersandar di tiang.
Luka datang menghampiri Ray sambil membawa 2 kotak susu coklat hangat.
"Ini, Ray-kun." ujar Luka sambil memberikan salah satu kotak susu coklat itu.
"Ya, terima kasih." jawab Ray.
Saat itu Kaito dan Meiko sedang berada dekat panggung. Mereka memakai pakaian koki.
"Tiba-tiba didatangi para kouhai dan diminta menjadi juru masak." ujar Kaito sambil garuk kepala.
"Tapi kebetulan sekali. Hari ini bertepatan dengan hari battle masakan kita. Bagaimana kalau kita berlomba kue buatan siapa yang paling enak?" tantang Meiko.
"Ha! Kalau soal membuat kue aku takkan kalah! Aku sudah terbiasa membuat kue, apalagi dengan tema es krim." balas Kaito.
"Oh.. kalau begitu ayo kita buktikan siapa yang lebih baik." sahut Meiko dengan penuh percaya diri.
Kaito dan Meiko tampak saling bertatapan. Tak ada satupun diantara mereka yang mau kalah.
"Entah ini baik atau buruk. Tapi ini adalah rencana Shiro Ray. Dia mendapat pujian dari ketua OSIS, jadi dia pasti hebat." ujar Takuya mengintip ke arah dapur.
"Kita sudah menyiapkan hiburan di panggung. Sepertinya kita sudah siap. Hanya tinggal memaggil artis kelas 1-B, Hatsune Miku dan Megupo Gumi." sambung Takuya.
"Biar aku saja yang panggil mereka." ujar wakil ketua kelas.
Di suatu tempat di Voca Town, June tampak berlutut pada seseorang yang berdiri didepannya. Tempat itu tidak terkena cahaya matahari sehingga wajah orang itu tak nampak jelas. Yang nampak hanya dia menggunakan celana hitam dan sepatu hitam. Karena June tepat dibawahnya, jadi bagian atas orang itu hanya seperti siluet karena langit yang begitu cerah.
"Maafkan saya tuan! Tolong kembalikan pesawat saya saat ini juga! Saya benar-benar membutuhkannya!" pinta June sambil bersujud.
"Tapi kau belum melakukan perintahku dengan benar satupun. Aku tak mungkin memberikan pesawatnya padamu. Lakukan dulu perintahku. Tangkap Shiro Ray, kekuatannya sudah tak ada saat ini. Masa begitu saja tidak bisa." ujar orang itu.
"Dia memang tak punya kekuatan, tapi dia punya sesuatu yang lebih menakutkan dari kekuatannya. Otaknya itu, dia lebih cerdas dari anda." jelas June sambil kembali berlutut setelah sujud.
"Apa kamu barusan bilang dia lebih pintar dariku!!?" bentak orang itu.
"Ti-tidak, maksud saya..", "Cukup! Mulai sekarang menyingkirlah dari hadapanku! Aku akan memberikan pesawatmu itu! Tapi mulai sekarang kamu bukan bawahanku lagi. Kucabut kontrakku darimu." potong orang itu pada perkataan June.
"Tidak! Kumohon jangan cabut kontrak nya. Saya butuh kekuatannya, tolong jangan!" sahut June sambil kembali bersujud mendekat ke kaki orang itu.
"Kalau begitu lakukan saja perintahku. Kali ini aku punya rencana lain." jawab orang itu.
"Rencana lain?" ucap June bingung.
"Ya, Shiro Ray memang tak punya kelemahan di dirinya. Tapi lain jadinya jika itu orang lain." tambah orang itu.
"Ya iyalah Shiro Ray memang bukan orang lain. Gimana sih?" ujar June.
"Kau diam saja bodoh!" kata orang itu.
Di akademi Voca, acara sudah dimulai. Ray dan Luka memperhatikan dari atap sekolah.
"Kamu selalu bisa membuat semuanya berjalan lancar, Ray-kun." ujar Luka.
"Ya, memang. Tapi kadang selalu ada kejutan setiap waktu. Dan satu-satunya yang dapat mengalahkan orang yang cerdas adalah orang yang bodoh. Karena orang bodoh tak perlu sebuah rencana. Mereka spontan. Tapi bukan uhuy." kata Ray.
"Hahaha.. apa maksudnya yang terakhir itu." komentar Luka sambil tersenyum aneh.
"Tapi tenang saja. Selama kamu disampingku, aku tak terkalahkan." sahut Ray melirik ke arah Luka sambil tersenyum.
Luka membalas senyum Ray, dan pipinya terlihat sedikit memerah.
Acara Ghost Tea Party Acapella terlihat sukses. Mereka didatangi banyak pengunjung. Apalagi banyak hantu-hantu kawaii yang jadi pelayan. Dan dipanggung terlihat Miku bernyanyi di iringi paduan suara acapella sebagai instrument nya.
"Kepada semua siswa dan pengunjung. Kami punya pengumuman penting. OSIS dan panitia acara ini telah menyebar 'treasure key' di semua penjuru sekolah. Itu adalah kunci menuju hadiah yang tertulis di 'treasure key' tersebut. Jadi siapapun yang mendapatkan 'treasure key' tersebut harap serahkan pada anggota OSIS yang berjaga di pos yang tersebar di sekolah." ujar ketua OSIS melalui pengeras suara.
"Wah.. hebat. Kita dapatkan 4 treasure key." ucap Len yang sedang makan sambil nonton Miku bernyanyi.
"Tapi yang 2 lagi apa nih maksudnya?" ucap Rin sambil melihat kertas bertuliskan 'Treasure Key: Moonlight Opera' dan dibelakangnya ada tulisan 'brother' dan 'sister'.
"Mungkin nanti kita bisa tanyakan ke anggota OSIS." jawab Len.
"Hmm.. ide bagus." sahut Rin.
Di koridor kelas, Kamui terlihat berjalan menghampiri pos anggota OSIS.
"Nona OSIS yang manis, saya menemukan ini. Kira-kira apa yang saya dapatkan?" tanya Kamui dengan tampang keren dan penuh kilauan.
"Ka-Kamui-sama.." ucap gadis OSIS penjaga pos itu terkejut dengan wajah memerah.
"Jadi apa maksudnya tiket yang saya dapat itu nona manis?" tanya Kamui lagi sambil lebih mendekatkan wajahnya.
"I-ini adalah treasure key. Kamui-sama bisa mendapatkan apa yang tertulis di bagian belakangnya pada acara yang tertulis dibagian depannya." jawab gadis itu dengan malu-malu.
"Oh lalu apa yang saya dapatkan?" tanya Kamui memegang dagu gadis itu.
"Sing with Someone." jawab gadis OSIS itu dengan wajah semakin memerah.
"Maksudnya?" tanya Kamui dengan suara lembut.
"Ka-Kamui-sama bisa memilih bernyanyi dengan siapapun diacara Ending Concert." jawab gadis itu.
"Oohh.. kalau begitu aku memilih bernyanyi dengan.." ucap Kamui sambil berdiri membelakangi gadis itu lalu terlihat seperti sedang berpikir.
Gadis OSIS itu bersiap menuliskannya dibuku.
"Ini kesempatanku duet dengan Luka-tan." pikir Kamui sambil tersenyum.
Lalu ada yang menepuk pundak Kamui. Kamui menoleh kearah orang yang menepuk pundaknya.
"Megu." ucap Kamui.
Gadis OSIS langsung menulisnya di bukunya. Ternyata yang menepuk pundak Kamui adalah Gumi.
"Sedang apa kamu disini?" tanya Gumi pada Kamui.
"Tentu saja menikmati festival." jawab Kamui.
"Benarkah?" tanya Gumi menyipitkan matanya.
"Kenapa tidak percaya?" tanya balik Kamui.
"Mana mungkin aku percaya. Aku sama sekali tidak melihatmu datang ke depan panggung." jawab Gumi.
"Se-sebenarnya Kamui-sama kemari untuk menukarkan treasure key yang dia temukan." tambah gadis OSIS.
"Eh, treasure key? Jadi apa yang dia dapatkan?" tanya Gumi pada gadis OSIS.
"Menyanyi bersamamu." jawab gadis OSIS.
"Eeehhh?!! Benarkah!!?" ucap Kamui dan Gumi bersamaan kagetnya.
"Kenapa kamu juga kaget!?" bentak Gumi pada Kamui.
"Tentu saja kaget, kan belum disebutin tapi kok bisa sama kamu." jawab Kamui.
"Ta-tadi bukannya nyebutin nama dia." ujar gadis OSIS menunjuk ke arah Gumi.
"Eh, tadi itu hanya manggil saja. Batalkan! Cepat hapus lagi!" suruh Kamui.
"Maaf, Gakupo-san. Apa yang sudah ditulis tak dapat dibatalkan." ujar Ray datang bersama Luka.
"Eh?! Tapi aku tak bisa nyanyi dengannya. Aku tidak mau!" tolak Gumi.
"Maaf Gumi-chan, permintaan dengan treasure key itu absolut. Kecuali ada orang lain yang meminta Gumi-chan untuk bernyanyi bersamanya. Maka Gumi-chan punya hak untuk memilih." jelas Luka.
"Ta-tapi siapa yang mau menyanyi bersamaku?" ujar Gumi.
"Takdir, siapa yang tahu. Ayo, Megurine-san." kata Ray lalu pergi lagi bersama Luka.
Ditempat lain, Dante menemukan kertas di balik pintu loker sepatunya.
"Ending Concert?" ucap Dante melihat kertas itu.
To be continued..
Comments
Post a Comment
Gunakanlah bahasa yang baik dan benar juga dengan kata-kata yang sopan dan bertanggung jawab.