Memo, chapter 29 - Masalah

Arya kembali ke kelasnya meskipun saat itu sebenarnya masih istirahat. Di depan kelasnya ternyata ada Alice yang berdiri di depan pintu. Dan seperti biasanya Ani selalu berada di dekatnya. Arya tak mau berpikiran macam-macam dan cuek saja masuk kedalam kelas.
"Tidak sopan sekali kamu tidak mengacuhkan majikanku." ujar Ani.
"Dia berbicara padaku? Hmm.. rasanya tidak mungkin." pikir Arya tanpa menoleh kebelakang.
"Aku sedang berbicara denganmu saat ini. Apa kamu tidak dengar?" sambung Ani.
Namun Arya tetap berjalan menuju tempat duduknya karena mengganggap kalau Ani bukan berbicara padanya.
"Arya Sastrawardhana!" panggil Ani.
Mendengar namanya dipanggil, baru Arya mau menoleh ke arah Ani.
"Aku tak tahu kamu orangnya sesombong itu sampai-sampai tidak mau menyahut pada perkataanku sebelumnya." ujar Ani menatap tajam ke arah Arya.
"Sombong? Kupikir kamu salah sangka. Soalnya bagaimana aku tahu kamu bicara padaku kalau kamu ngomongnya dibelakangku. Ditambah kamu dan aku kan belum kenal, jadi aku tak mungkin berpikiran kalau kamu sedang berbicara denganku. Jadi lain kali kalau mau orang yang kamu kurang kenal menyahut pada ucapanmu, setidaknya panggil namanya kalau kamu tahu, atau kalau tidak colek atau pegang pundaknya. Walau sebaiknya berbicara saat kalian bertatap muka, bukan saat saling membelakangi." jelas Arya.
Alice terlihat kagum dengan perkataan Arya yang memojokkan Ani.
"Aku tak menyangka malah aku yang diceramahi, padahal yang membuatku kesal itu kamu." gerutu Ani.
"Jadi ada apa?" tanya Arya berbalik ke arah Alice dan Ani.
"Majikanku ingin berbicara padamu." jawab Ani.
Arya sedikit terkejut dengan jawaban Ani.
"Ada apa antara dia dan gadis cantik itu?", "Apa dia pacarnya?", "Gadis itu cantik banget..", "Jangan-jangan dia sudah melecehkan gadis itu?" terdengar perkataan teman-teman sekelasnya ke telinga Arya.
Arya merasa risih saat mendengar omongan-omongan dari teman-teman sekelasnya itu.
"Kalau begitu, bagaimana jika di tempat lain saja. Kupikir ini suatu yang pribadi, jadi bukankah kita butuh privasi." usul Arya.
"Ya.." sahut Alice terlihat malu.

Alice dan Arya berjalan menuju ke depan perpustakaan. Ani mengikuti mereka dari kejauhan karena khawatir Alice diapa-apakan oleh Arya.
"Dia mengikutiku ya? Tapi aku tak bisa protes, soalnya itu tugasnya untuk menjaga majikannya kan." gumam Arya menoleh kebelakang.
Saat sampai di depan perpustakaan Arya pun berhenti.
"Disini jarang lewat orang, jadi.. mau bicara apa tadi?" tanya Arya.
"Ah aku.. aku ingin tahu.." jawab Alice dengan ragu-ragu dan tangannya terlihat mengankat ponselnya di depan wajahnya.
"Ingin tahu apa? Kalau kamu nanya jawaban PR matematika aku takkan menjawabnya. Soalnya aku juga belum mengerjakan." sahut Arya.
"Tidak, kalau masalah PR matematika aku sudah selesai." jawab Alice.
"Eh, beneran sudah selesai!?" ucap Arya terkejut.
"Y-ya.." jawab Alice lagi.
"Kalau begitu bolehkah aku melihat, eh.. maksudku tolong beri tahu caranya." ujar Arya.
Alice menganggukan kepalanya tanda mau.
"Terima kasih.." tambah Arya sambil memegang pundak kiri Alice dengan tangan kanannya.
Kemudian Arya pergi untuk kembali ke kelasnya. Dan saat Arya sudah menghilang dari penglihatan, Alice baru tersadar sesuatu.
"Aaaa!! Aku lupa menanyakan itu!!" teriak Alice dalam hati.
"Nona Alice, apa nona berhasil mendapatkan yang nona inginkan?" tanya Ani mendekati Alice.
"Tidak. Aku lupa menanyakannya. Tapi.." jawab Alice tampak kecewa.
"Tapi apa?" tanya Ani lagi.
"Tidak, bukan apa-apa." jawab Alice lalu tersenyum.
Ani merasa aneh dengan ekspresi Alice. Dari kejauhan, sambil memegang ponsel tampak gadis berkacamata memperhatikan mereka.
"Kamu memang selalu menarik menjadi berita, ksatriaku." ujar gadis itu.
Di perjalanannya kembali ke kelas Arya terlihat berjalan sambil melihat kebawah karena memikirkan sesuatu.
"Jadi dia yang melecehkan ketua OSIS kita? Dia tidak terlihat seperti orang hebat dimataku." ujar seorang senior laki dihadapannya.
Mengetahui ada yang menghadangnya, Arya berhenti dan menaikan kepalanya untuk melihat ke arah 3 orang senior yang tampak seperti preman itu.
"Ada apa dengan tatapan itu? Kau mau ngajak ribut ya, hah?" ujar senior laki-laki yang kedua.
"Maaf, mataku begini karena kebanyakan main game LINE Rangers semalam." jawab Arya.
"Hah! Jangan banyak omong, ayo ikut kami ke belakang kalau berani." tantang senior yang ketiga.
Arya menghela napas nya seperti malas dengan ketiga senior itu.

Catatan hari ini:
Menghindar dari masalah takkan menyelesaikan masalah tersebut. Seberat apapun masalah yang datang pada kita, hadapilah dan selesaikan dengan jalan yang terbaik yang kita bisa.

Comments

Popular posts from this blog

World Archive - Prolog

World Archive - Chapter 1 【Barong and The Blacksmith】

World Archive - Chapter 2 【A Rising of The Hero of Liberation】